
Alan keluar dari toilet dengan senyum yang merekah, tangannya memegang erat tangan Aya. "Al lepasin tangan gue!" Bisik Aya penuh penekanan.
Alan menoleh ke belakang sambil tersenyum, Aya berjalan setengah terseret karena tarikan tangan Alan. Aya terus berusaha melepaskan genggaman tangan Alan.
Tiba-tiba Alan berhenti, "Oke akan aku lepasin tapi ada syaratnya!"
"Apaan?" Tanya Aya penasaran.
"Kamu harus pulang sama aku!" Alan tersenyum menyeringai menatap Aya yang tampak terkejut.
"Motor gue?" Tanya Aya.
"Gampang, bisa dititipin satpam atau biar nanti di anterin ke rumahmu sama orang-orang ku," Alan memberikan penawaran.
"Gak...usah Al, dititipin ke satpam aja!" Aya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Alan tersenyum penuh kemenangan, ia juga langsung melepaskan pegangan tangannya. "Cepetan jalannya!"
"Dasar tukang perintah!" Gumam Aya Sam berjalan lebih cepat.
"Besok jangan lupa bawakan aku bekal makan siang," ujar Alan ketika sudah masuk ke dalam mobil.
Aya menatap Alan heran, "Maksud loe?"
Alan menghela nafas dengan kasar, "Mulai hari ini kamu dilarang membawakan bekal untuk Romi, kamu hanya boleh membawa bekal untukku mulai besok!"
"Bilang apa sing loe? Gue gak paham?" Aya tertawa mengejek.
"Apa perlu aku ulangi?" Alan sedikit tidak sabar.
"Ya...ya, gue ngerti?" Jawabnya, "Bilang aja mau makan gratis, ternyata ni anak pelit juga, apa emang kere sampe makan aja minta gue." Gumamnya yang masih bisa di dengar Alan.
"Apa kamu bilang? Kere?" Tanya Alan.
"Iya kere....Kere itu temennya Kiri,... saudara sepupunya Kanan." Sahut Aya menahan tawanya.
"Emang aku ****! gak ngerti yang namanya kere, kere itu gak punya uang kan?" Sahut Alan.
"Udah tau nanya!"
"Pokonya awas kalau sampe aku lihat kamu bawain bekal buat Romi! Motor kamu bakal aku sita!" Ancam Alan sambil menoleh sebentar.
"Dasar, masih saja menyebalkan!" Batin Aya. Menatap kesal kearah Alan sambil mengerucutkan bibirnya.
Alan yang melihat tingkah Alan merasa gemas, ia langsung mengacak-acak rambut Aya, "ih apaan sih loe? Gue gak suka rambut gue diacak-acak!" Protesnya, pipinya menggembung sambil menatap tajam ke arah Alan saking kesalnya.
Alan beralih memencet hidung mungil nan mancung itu. "Bagaimana bisa laki-laki ini mengemaskan sekali." Batin Alan.
Aya tergelak dan langsung membuang mukanya yang sudah memerah, setelah itu Aya melirik Alan, satu sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Kamu beneran mau turun di sini?" tanya Alan setelah berhenti di post penjagaan. Aya langsung mengangguk.
"Kenapa sih kamu gak pernah mau aku anterin sampe rumah?"
__ADS_1
Aya memutar bola matanya berusaha untuk berfikir, "Nenek gue galak, dia gak mau orang asing datang kerumahnya." Jawab Aya memberikan alasan.
Alan hanya menautkan alisnya, "Aneh banget nenekmu?"
Aya langsung keluar dari dalam mobil kemudian berlari ia tidak mau lelaki itu bertanya lebih banyak.
"Kebiasaan... ngucapin terima kasih kek!" Alan sedikit kesal tapi tak dipungkiri bibirnya terus menyunggingkan senyuman.
***
"Sore....Ma," Alan memeluk dan mencium pipi Anita sesaat setelah ia sampai di dapur.
Anita langsung memutar badannya, melihat ekspresi wajah Putranya yang tidak biasa. "Wah.... sepertinya putra kesayangan Mama hari ini sedang bahagia ya?"
"Bisa Mama lihat sendiri!" Jawabnya sambil tersenyum.
Anita memutar bola matanya, "Coba Mama tebak, pasti kamu sedang jatuh cinta?"
"Mungkin." Jawab Alan singkat.
Anita mengerutkan keningnya, "Atau... kamu punya pacar baru?" Tanya Anita Lagi.
"Bisa jadi."
"Kamu ya?!" Anita langsung mencubit pinggang putranya dengan gemas, Alan meringis dan sebelum ibunya melayangkan serangan yang kedua ia langsung berlari kemudian menoleh pada ibunya sambil tertawa.
Anita menatap kepergian putranya dengan senyum yang mengembang, "Semoga kali ini dia tidak tersakiti lagi." Batin Anita.
Mentari sudah tenggelam beberapa jam yang lalu, membuat Alan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya langsung menuju balkon, ia mencoba merenggangkan otot dan pikirannya.
Sesaat ia tampak menatap bangunan yang sudah beberapa kali membuatnya penasaran. Tapi kini bukan itu yang ada di pikirannya, tapi peristiwa saat ia memergoki Aya yang sedang mengumpatinya sesaat setelah ia menggunakan teropong miliknya.
"Kira-kira sedang apa si kumis lele itu?" Batin Alan yang kemudian langsung mengambil ponsel dan menghubunginya.
***
Malam ini Aya tengah duduk bersama Cika dan Mita di gazebo depan kamar mereka sambil menonton TV, beberapa kali mereka tampak tertawa sesekali juga mereka tampak menangis. Ternyata mereka sedang menonton drama Korea yang saat ini diputar di salah satu TV swasta.
"Padahal sudah beberapa kali nonton ini, tapi selalu saja adegannya bikin baper, apalagi saat Kapten Yoo si jin mengikat sepatunya Kang mo yeon, rasanya pengen ngikut nyodorin sepatuku." Sahut Cika yang langsung dapat pukulan di punggungnya dari Aya dan Cika.
Mereka tertawa bersama, tingkah nyeleneh dari Cika selalu saja membuat mereka terhibur, bisa menghilangkan stress setelah seharian kuliah.
"Ra...ada telfon ni, dari manusia salju!" Sahut Mita sambil menyodorkan ponsel Aya yg tergeletak di sampingnya.
Aya langsung menyambar ponsel itu, Cika yang mulanya ingin menguping jadi mengurungkan niatnya karena Aya yang langsung menyingkir dan masuk ke dalam kamar.
Aya hanya mengerutkan keningnya sambil memandang nama yang menghubunginya kemudian berdehem, "Halo...ada apa Al?"
"Ya....gak ada apa-apa." Jawab Alan dari seberang telepon.
"Ya udah gue tutup kalo gitu." Aya hendak menutup telfonnya tapi ia urungkan saat mendengar sahutan dari dalam telfon.
"Eh... tunggu jangan di tutup!.... memangnya gak boleh terlfon pacar?"
__ADS_1
"Idih...bilang apa lo barusan?" Aya ingin memastikan yang barusan ia dengar.
"Iya pacar, mulai hari ini kamu pacar ku!"
"Loe gila ya Al, cewek di dunia ini masih banyak Al, loe bisa pilih yang loe mau kenapa harus gue? apa kata orang coba..."
"Sudah, tidak usah pedulikan kata orang-orang, kita jalani saja....toh orang tidak akan ada yang tau, kalau kamu gak kasih tau..!" Alan menjelaskan. "by the way lagi ngapain?" Sebelum Aya memberikan tanggapan Alan langsung mengalihkan pembicaraan.
Aya hanya membuang nafas, "Nonton TV!" Sebenarnya ada rasa bahagia di hati Aya, tapi entah kenapa lebih besar rasa gengsinya.
Percakapan dua orang itu lumayan lama dari pada biasanya, intinya Alan mengingatkan akan makan siang besok yang harus Aya bawakan untuknya bahkan ia memilih sendiri menu makanannya. Alan juga mengingatkan untuk tidak dekat-dekat Lagi dengan Romi. Tak lupa Alan mengucapkan selamat malam dan kecupan singkat lewat telepon yang saat ini membuat wajah Aya memerah seperti tomat.
"Apaan sih ni orang." Gumamnya setelah menutup telepon, tanpa ia sadari bibirnya terangkat membentuk senyuman.
Sebelum ia memutuskan untuk tidur ia lebih dulu mengirimkan pesan untuk Romi, kalau mulai sekarang ia tidak bisa membawakan bekal untuk nya lagi, dengan alasan. Dia dimintai Alan untuk menemaninya makan siang. Romi yang notabene merupakan seorang pria yang penyabar dan lembut tentu tidak masalah. Aya sempat kagum dengan sosok Romi yang begitu pengertian, tanpa ia harus menjelaskan secara rinci Pria itu langsung memahaminya.
Pagi hari suasana kampus begitu ramai, para mahasiswa berlalu lalang saat Aya keluar dari dalam mobil Alan. Iya tadi pagi Alan menjemput Aya lagi tentu tidak di kostnya tapi di tempat kemarin Aya minta di turunkan.
Alan langsung melingkarkan satu tangannya di leher Aya.
"Apaan loe Al... lepas! Geli gue." Protes Aya.
"Udah kamu diem aja, tu lihat yang lain juga kayak gini ....gak ada masalah tu." Memang beberapa mahasiswa yang lewat banyak yang merangkul temannya. Jadi pemandangan seperti itu sudah biasa, tapi bukan itu masalahnya wajah Alan yang terlalu dekat dengannya membuat jantung Aya serasa ingin keluar dari tempatnya, apalagi mencium bau parfum maskulin Alan, entah kenapa membuat wajahnya memerah, dan itu sangatlah terlihat.
Sebelum Alan menyadarinya, "Al gue mau ke toilet sebentar."
"Ayok, aku juga mau ketoilet..." Sahut Alan.
"Ngapain?"
"Ya kencing lah, masak mau tidur!" Jawab Alan yang langsung merubah arah langkanya menuju toilet.
Aya yang mulai panik, langsung menghentikan langkahnya. "Kenapa berhenti?" Tanya Alan.
"Emmhh...gak jadi ke toilet gue!" Jawab Aya dengan wajah yang masih panik.
Tiba-tiba Aya menemukan ide agar bisa lepas dari Alan. "Bentar Al itu di punggung loe Apaan?"
"Apa emang?" Alan langsung melepaskan rangkulannya dan menoleh ke belakang punggungnya. Karena sulit menjangkau tentu saja ia meminta tolong pada Aya.
"Ih....ada ulet di punggung loe!" Aya berbohong.
"Mana?!" Alan mulai panik. "Gue geli banget sama ulet bulu, cepet singkirin!" Teriak Alan.
Aya yang mulanya hanya iseng justru jadi tau, ternyata seorang Alan yang pemarah dan sering menyebalkan itu takut dengan yang namanya ulet bulu. Sebisa mungkin Aya menahan tawanya.
"Makanya loe diem aja, jangan gerak-gerak. ...kalau perlu merem!" Perintahnya yang ternyata langsung dituruti Alan. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan Aya langsung kabur meninggalkan Alan yang masih setia mematung dengan mata terpejam.
Beberapa menit tak ada suara orang di balik punggungnya membuat Alan Curiga. Ia langsung menoleh dan tidak mendapati Aya di belakangnya.
"Sialan! Aku dibohongin! Awas habis kamu nanti!" Alan langsung pergi dengan perasaan kesal.
Bersambung......
__ADS_1
Maaf sudah tiga hari ini tidak update, karena badan kurang Fit, semoga habis ini bisa terus update lagi, jangan lupa tinggalkan like dan koment ya macacihhhhh...