Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Main Tebak-Tebakan Receh


__ADS_3

Ternyata Alan tidak memesan makanan berat ia hanya memesan makanan ringan seperti omlet, kentang goreng dan tentu tak lupa cake yang jadi makanan favoritnya.


Alan tengah mencocol kentang goreng dengan saus.


"Kalau lagi makan kentang kayak gini aku jadi ke ingetan seseorang."


"Siapa?" Tanya Aya cuek sambil menyuapkan omlet ke dalam mulutnya.


"Ada sih seseorang, dia itu takut banget sama darah, jadi waktu liat darah di tanganku aku bilang aja itu saus tomat tinggal di cocol sama kentang, eh dia malah marah katanya di hutan mana ada kentang goreng."


Dan itu berhasil membuat Aya tersedak omlet yang hampir masuk ke dalam kerongkongannya.


"Hati-hati kalo makan.." Alan menyodorkan minum dan mencoba menepuk-nepuk punggung Aya. Di balik itu Alan tersenyum puas, ia jadi tau kalau Aya masih mengingat hal itu.


"Mau tau gak siapa orangnya?" Pancing Alan.


"Gak!...gak penting!" Aya berusaha bersikap cuek, walaupun sebenarnya hatinya kini tengah berbunga-bunga, saat tau Alan masih mengingat detail peristiwa dulu.


"Yuk main tebak-tebakan, nanti yang kalah di sentil jidatnya!" Ajak Alan sambil menaikkan kedua alisnya.


"Oke siapa takut!" Aya nampak bersemangat, keduanya mulai suit untuk menentukan siapa yang akan duluan.


"Yes, gue duluan." Aya nampak berfikir sebentar. "Telor - telor apa yang bisa buat jalan?"


"Itu mah gampang...jawabannya Telortoar." Ucap Alan Sambil tersenyum menang. Sedangkan Aya sudah bersiap untuk dijitak. Alan juga gak main-main ia menyentil kepala Aya dengan keras hingga Aya meringis kesakitan tapi kemudian ia sendiri yang mengusap dan meniup-niupnya. Tentu sikap Alan berhasil membuat Aya salah tingkah bahkan mukanya sudah memerah.


"Sekarang aku,... Siapa pemain bola yang rajin pengobatan tradisional?" Ganti Alan yang mengajukan tebakannya.


"Mungkin Cristiano Ronaldo?"


"Salah... jawabannya David Bekam." Sahut Alan.


"Itu Beckham... Bambang!." Aya langsung mendengus kesal.


"Udah ganti ya namanya?" Tanya Alan polos, melihat itu malah membuat Aya tertawa terbahak-bahak. Alan tertegun sesaat melihat Aya tertawa lepas, entah kenapa hatinya menghangat dan bahagia.


"Ksatria-ksatria apa yang populer di Jakarta?" Aya mengajukan pertanyaan setelah ia menerima hukuman tentunya. Kali ini tampaknya ia sangat percaya diri kalau Alan tidak akan bisa menebaknya.


"Heemm.... mungkin ksatrian baja hitam."


"Salah.. jawabannya ksatria Bajaj hitam." Sahut Aya percaya diri.


"Itu kan sama!"


"Gak lah, loe tadi jawabnya baja ya? Bukan bajaj!" Kilah Aya.


"Sama itu! cuma tinggal ditambahi huruf 'j' dibelakangnya." Alan masih tidak terima.

__ADS_1


"Sini jidat loe...mau gue sentil!" Aya sudah membuat ancang-ancang tapi dengan cepat Alan mengelak.


"Weeekk....gak kena." Alan menjulurkan lidahnya sambil tertawa mengejek. Aya hanya bisa mendengus kesal.


"Sekarang aku!" Alan mencoba meredam tawanya. "Apa bedanya Sarung sama Kotak?" Alan menatap Aya dengan senyum tipis.


"Ya beda lah, sarung kan terbuat dari kain biasanya untuk sholat, kalau kotak itu benda yang berbentuk kotak biasanya berfungsi untuk menaruh sesuatu, terbuat dari kardus atau kayu." Aya menjelaskannya dengan panjang kali lebar.


Sedangkan Alan menanggapinya dengan tertawa kecil. "Salaaaah....Kalau sarung itu bisa kotak-kotak tapi kalau Kotak tidak bisa sarung-sarung." Alan langsung tertawa mendengar jawabannya sendiri.


"Haahh!... jawaban macam apa itu!" Teriak Aya yang langsung mendapat tatapan tajam dari para pengunjung yang lain, karena teriakan Aya yang keras mengusik ketenangan mereka.


"Sini jidat mu!" Dengan terpaksa Aya menerima sentilan dari Alan.


"Aawww!" Aya meringis kesakitan.


"Hahaha...sakit ya? Sini Bambang tiupin.." Goda Alan sambil tertawa tangannya terangkat ingin meraih kepala Aya, tapi dengan cepat Aya menjauh. Ia tidak mau salah tingkah lagi seperti sebelum-sebelumnya dan berakibat baper yang berkepanjangan.


"Udah main tebak-tebakannya gue mau pulang!!" Aya langsung beranjak berdiri tapi Alan menariknya lagi untuk duduk.


"Wiih... Kayak cewek aja ngambekan!" Alan menatap Aya penuh selidik, ia ingin tau reaksi Aya.


"Eng... enggak lah, siapa yang.. ngambek?.?.gu..gue cuma males aja, dari tadi kalah mulu, bisa-bisa jidat gue pulang-pulang benjol." Aya menggapinya sedikit terbata-bata.


Alan tersenyum miring, "Satu lagi deh, kalau kamu berhasil jawab selain dapat nyentil jidat gue yang mulus ini, besok aku traktir makan deh." Alan memberikan penawaran, sebenarnya itu hanya alansannya saja agar besok ia bisa berduaan lagi dengan Aya.


"Kenapa kunang-kunang sering keluar pada malam hari?"


Mata Aya langsung berbinar dan itu dapat di tangkap jelas oleh kedua mata Alan. "Gampang banget itu mah...ya karena kalau siang kunang-kunang ngecash lampu dulu buat malam hari agar bersinar." Senyum mengembang tercetak di bibir Aya.


Dan tentu saja Alan langsung mengganguk sambil tersenyum.


"Siap-siap ya? Loe mau gue sentil." Aya langsung bersiap sambil fokus memandang kening Alan yang akan menjadi sasarannya.


Cletak!


"Aduhhh...sakit bangeett!" Keluh Alan sedikit berteriak. Sebenarnya Ia hanya berpura-pura kesakitan.


Reflek Aya langsung mendekat, meraih kepala Alan mengusapnya dengan lembut sambil meniupnya. Sedetik kemudian mata mereka bersitatap dua pasang bola mata itu memancarkan tatapan penuh cinta hingga mereka merasa waktu berjalan dengan begitu lambat, mungkin ini yang dimaksud kalau sudah cinta dunia serasa milik berdua.


Yang pertama memutuskan kontak mata adalah Aya, ia merasa sudah melakukan kesalahan, merasa sudah menghianati ima. Ia takut semakin tidak bisa mengontrol perasaannya pada Alan.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka hingga tiba-tiba Alan menghentikan mobilnya.


"Lho... kok berhenti!" Aya mengedarkan pandangannya melihat di mana Alan menghentikan mobilnya.


"Turun dulu! aku mau ambil barang bentar." Alan keluar dari dalam mobil kemudian menutup pintunya. Aya hanya menurut ia mengikuti langkah Alan dari belakang hingga ia masuk ke sebuah Mall, di perjalanan Alan sempat membeli Ice Coffee Latte untuk dirinya dan juga Aya.

__ADS_1


Hingga akhirnya Alan berhenti di sebuah toko perhiasan dan aksesoris anak muda, tokonya begitu besar dengan gaya minimalis tapi kekikinian terlihat juga beberapa anak muda tampak membeli ataupun sekedar mencuci mata.


Alan berbicara pada salah satu pegawai laki-laki mereka tampak berbincang serius. Karena bosan menunggu, akhinya Aya pergi melihat-lihat aksesoris kalung yang terpajang di etalase ia tampak tersenyum memandang salah satu kalung yang menarik perhatiannya.


"Mbak ini harganya berapa ya?" Tunjuk Aya.


"Buat pacarnya ya mas? Sebentar saya tanyakan dulu." Pegawai wanita itu tersenyum. Aya hanya mengangguk perlahan menanggapi pertanyaan mbak-mbak pegawai. Wanita itu kemudian beranjak pergi sambil membawa kalung yang ditunjukkan Aya.


Ternyata sedari tadi Alan memperhatikan gerak-gerik Aya dari kejauhan, masih sambil berbincang.


"Maaf mas, ternyata kalungnya sudah ada yang pesan." Ucap pegawai wanita itu tampak menyesal.


"Ya udah... gak papa mbak." Aya tersenyum masam kemudian beranjak bergi. Ia hendak menghampiri Alan yang berdiri sendirian. Dari kejauhan Aya menangkap beberapa sorot mata para pengunjung yang rata-rata wanita yang tengah menatap Alan penuh kagum, sepertinya mereka tengah mengagumi ketampanan Alan. Aya mengakui lelaki seperti Alan memang mempunyai daya tarik yang kuat hanya berdiri sambil membawa minuman di tangannya saja serasa seperti melihat iklan minuman hingga membuatnya tertarik ingin lebih lama menikmati pemandangan itu dan ikut menikmati minumannya.



"Ssrruuuutt!!".. Aya menyeruput minumannya sendiri kemudi langsung membuangnya.


"Wah sepertinya aku harus memperingatkan ima masalah ini, kelihatannya dia harus lebih ekstra menjaga Alan dari tatapan para wanita-wanita centil seperti mereka semua." Batin Aya yang malah tampak seperti peringatan untuk dirinya sendiri.


"Udah Al?"


Saat Alan mau menjawab pegawai laki-laki yang tadi berbicara dengan Alan menghampiri mereka. "Ini Boss pesanannya." Laki-laki itu menyodorkan paper bag kecil pada Alan yang langsung menerimanya.


"Oh..., pasti Alan mau kasih hadiah ke ima." Batin Aya, entah kenapa hatinya terasa sakit mengetahui hal itu.


Sesampainya di post penjagaan tempat biasanya Aya turun, Alan tampak ikut turun juga bersama dengannya. Aya tampak mengerutkan keningnya. Ia berharap semoga Alan tidak memaksa untuk iku ketempat tinggalnya.


Tiba-tiba Aya tertegun ketika melihat Alan mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang ia beli tadi dan langsung memakaikannya di tangan Aya. Ternyata Alan membeli sebuah gelang berwarna hitam berbahan kulit dengan hiasan Steel berwana perak. Sesaat ia teringat sesuatu dan langsung terbelalak.


"Ini..?!" Aya menatap heran pada Alan.


"Iya, ini tanda kepemilikan...jadi kamu termasuk bagian terpenting dalam hidupku, dan kamu tidak boleh pergi dariku." Setelah mengatakannya Alan mengusap lembut kepala Aya, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Aya masih mematung tak percaya, hingga suara Alan membuyarkan lamunannya. "Gelang itu di pesan khusus, gak bisa di lepas kalau bukan aku sendiri yang melepaskannya." Alan tersenyum menyeringai kemudian terdengar suara deru mobil yang menjauh. Aya hanya bisa melongo di tempatnya.


Aya menatap langit-langit kamarnya setelah merebahkan dirinya di kasur sambil senyam-senyum sendiri. Selama perjalanan pulang ia terus mengulas senyum,bahkan sekarang ia tengah tertawa kecil sambil bergulir ke kanan dan ke kiri.


Ia masih ingat dengan jelas kata-kata Alan "Kamu termasuk bagian terpenting dalam hidupku" kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Membuat hatinya berbunga-bunga.


Ia menatap lekat gelang yang melingkar di tangan kirinya, gelang itu mirip seperti punya Nando dan Romi tapi berbeda di bagian tali kulitnya, punya Aya terdapat dua tali yang di kepang masing-masing, memberikan kesan manis sekaligus keren pada si pemakai. Sepertinya gelang itu dipesan khusus agar tampak cocok dipakai laki-laki maupun perempuan.


Aya tiba-tiba menjadi takut dengan perasaannya sendiri, akankah ia masih bisa membangun tembok pembatas antara dirinya dan juga Alan. Atau malah terikat kuat seperti gelang yang ia pakai.


Bersambung.....


Maaf up nya malem, ini aja aku usahain buat tetep melek matanya, soalnya ngantuk banget. itu tak kasih bonus foto ya biar like, koment dan votenya makin kenceng... hehehe macacihhhhh....

__ADS_1


__ADS_2