Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Pesta Anniversary


__ADS_3

Alan diam saja sepanjang perjalanannya ke toko buku, Sesekali Ima bertanya kegiatan sehari-hari Alan dirumah maupun di kampus.


"Tadi rapatnya gimana Kak?" Ima menoleh memandang wajah tampan Alan yang sangat ia kagumi.


"Biasa aja." Begitulah jawaban yang selalu Alan lontarkan, singkat dan padat. Sebenarnya ia kasian pada Ima, tapi ia tak mau Ima berharap lebih padanya.


"Kak Alan! Bisa tolong menepi di sana sebentar."


Ima langsung turun sesaat setelah mobil Alan berhenti. Ia menghampiri seorang wanita dengan setelan Rok hitam kotak-kotak yang sedang berjongkok di depan motornya. "Aya!....motor kamu kenapa?"


Ya! Wanita itu adalah Aya, ia menoleh sedikit terkejut melihat Ima yang sudah berdiri di sampingnya, ia sedikit melebarkan pandangannya tidak ada Alan syukurlah begitu pikirnya. Yang sebenarnya Alan tidak ikut turun dia sedang menunggu di dalam mobil.


"Gak tau ini Ma, kayaknya mogok." Aya sedikit berecak kesal.


"Kamu mau kemana Ay?....tumben udah dandan Cantik mau kencan ya?" Goda Ima.


"Gak lah, aku mau ke pesta 40 Hari Anniversary Jadinya temen aku." Jelas Aya, memang sore itu Cika mengundangnya menghadiri Pesta Anniversarynya dengan Romi di Cafe milik Romi. Dan Aya mau menghadirinya karena kata Cika Alan tidak diundang entah karena apa Aya juga tidak tahu.


"40 hari?....aneh banget." Ima mengeryit.


Aya tertawa, "Hahaha, gak tau tu temen aku dua-duanya aneh....40 hari aja diperingati kayak memperingati orang meninggal ya?"


Ima ikut tertawa mendengar penjelasan Aya. Saat meraka tengah asik tertawa, suara seseorang membuat tawa mereka berhenti.


"Lama banget!...Ada apa sih?"


Aya sedikit berjingkrak kaget, buru-buru ia menunduk dan menutupi wajah dengan satu tangannya.


"Ini Kak, Aya....eh maksudku Raisha motornya mogok, katanya dia mau ke pesta anniversary temennya."


Alan menatap Wanita yang kata Ima adalah Raisha yang artinya Aya dari bawah hingga ke atas, apa benar ini Aya? Hingga saat Aya mendongak sambil tersenyum canggung ia jadi benar-benar yakin wanita yang ada di depannya adalah Aya.



Dan saat Alan melihat baju yang Aya kenakan ia terbelalak. Ya! Itu adalah baju yang ia belikan kemarin. Aya terlihat sangat cantik sekaligus manis dengan baju itu. Hingga tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka dengan mata yang tidak berkedip. Dengan make up tipis, rambut tergerai dengan pita hitam di rambutnya membuatnya sungguh mempesona.


Hingga tepukan di pundaknya membuatnya kembali sadar. "Menurutmu gimana Kak?....apa kita anterin dulu aja Raisha?"


"Memang kamu mau ke pesta anniversary siapa?" Tanya Alan menatap Aya penuh selidik dan mengabaikan pertanyaan Ima.


"Cika sama Romi....di Cafe Romi." Aya menjawabnya lirih hingga hampir tidak terdengar.


"Sialan!.... beraninya mereka tidak mengundangku!" Sungut Alan. Alan menjauh dan tampak menghubungi seseorang lewat teleponnya.


Ima yang mendengar umpat Alan, sedikit bingung hingga Aya berbisik dan menjelaskan kalau teman satu kost Aya yang bernama Cika berpacaran dengan teman dekat Alan yaitu Romi.


Setelah perdebatan sengit di sinilah Aya berada. Duduk manis di kursi belakang mobil Alan, tadi setelah Alan selesai dengan telfonnya ia memutuskan untuk pergi juga ke Cafe Nando tapi Aya bersikeras tidak ingin ikut mobil Alan, ia Lebih baik pesen Ojol daripada menjadi obat nyamuk yang dibakar api cemburu. Ima yang sudah tidak tahan akhirnya turun tangan untuk membujuk Aya. Tentu saja berhasil karena Ima sudah memasang wajah memelasnya yang selalu saja berhasil membuat Aya luluh.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, karena hawa di dalam mobil masih dalam mode pertarungan sengit antara Aya dan Alan. Ima pun enggan untuk bersuara karena tahu akan keadaan yang awkward hingga suara notifikasi dari posel Aya terdengar begitu nyaring.


Manusia salju : Kamu terlihat begitu cantik dengan baju itu.

__ADS_1


Aya sedikit mengerjapkan matanya melihat pesan dari Alan, walaupun Alan tidak lagi dingin, tapi ia tidak punya niat untuk mengganti nama dikontak HPnya. Setelah melihat pesan itu Aya menyimpan lagii ponselnya, ia sama sekali tidak berniat membalasnya.


Pesan kedua terkirim, Aya mengabaikannya lagi. Hingga puluhan deringan notifikasi pesan terus berdatangan.


"Pesan dari Siapa sih Ra?.....dari tadi bunyi terus...gak kamu balas mungkin penting!"


Aya mendengus kesal, dengan malasnya akhirnya ia membuka pesan yang ternyata isinya sama semua. Aya berdecak sambil mengetikkan sesuatu.


Manusia salju : Cepat balas! Kenapa gak dibalas?


Alan dengan senyum yang mengembang membuka ponselnya yang bergetar.


Pemilik Hatiku : Hey!...kau salah kirim ya? kirim gombalan murahanmu itu pada cewek yang duduk di sebelahmu saja!


Alan tersenyum senang ia merasa ada kecemburuan yang tersemat di pesan yang Aya kirim.


Aya bisa melihat dengan jelas Ima yang sedang mencuri pandang ke arah Alan. Sedangkan orang yang diperhatikan malah sibuk menyetir sambil memegang ponselnya.


Ting!


Bunyi notifikasi ponsel yang Aya ketahui siapa pengirimnya.


Manusia salju: Harusnya kau memakai baju itu hanya untuk jalan dengan ku, bukan malah untuk hal yang tidak penting!


Aya memutar bola matanya jengah, "Mas nya yang nyupir!.... kalau mau mati jangan ngajak-ngajak, bisa lihat tidak peringatan yang ada di sana!"


Aya menunjuk plakat peringatan untuk tidak berkendara sambil bermain ponsel.


"Barusan kau bilang apa?....Supir?!" Alan sedikit meninggikan suaranya, sebenarnya yang membuat dirinya marah bukan itu, tapi panggilan yang Aya sematkan seolah dia ini orang lain.


"Bisa tidak ngasih tahunya gak usah nyolot?" Alan memperingatkan.


"Siap juga yang nyolot?...aku bia__"


"Udah-udah, kalian ini kenapa sih....tiap ketemu selalu saja bertengkar!" Ima akhirnya menjadi penengah.


"Dia tu yang mulai!" Gerutu Aya, kemudi membuang muka ke jendela mobil bibirnya juga sudah mengerucut, Aya sungguh sangat kesal, setelah motornya mogok ia malah terjebak di sini, rasa sebalnya kian bertambah saat melihat Ima mengusap lengan Alan, mungkin Ima sedang menenangkan Alan, tapi entah kenapa itu membuatnya sangat tidak nyaman, mungkinkah ia cemburu tapi Aya sungguh gengsi mengakuinya.


Beberapa saat hening ,Aya sedikit tersentak saat tiba-tiba merasakan genggaman di tangannya, Ternyata ulah tangan Alan. Bisa-bisanya lelaki ini mengambil kesempatan selagi tangan kirinya memegang kemudi, tangan sebelah kanan terjulur ke belakang.


Aya yang awalnya kesal dan marah setelah di perlakukan seperti itu oleh Alan, tentu langsung luluh. Sudut bibirnya sedikit tertarik. Ia tidak menolak sentuhan dan genggam tangan yang Alan berikan. Membuat lelaki itu menyunggingkan senyuman juga.


Aya merasakan gelagat tidak beres ketikan tangan yang semula menggenggam tangannya berpindah ke pahanya kemudian bergerak seperti mengelus-elus. Dicubitnya dengan keras tangan nakal itu.


"Aawww!" Teriak Alan yang langsung menarik tangannya sambil mengibas-ngibaskannya.


"Kenapa Kak?" Ima tampak keheranan.


"Gak papa, tadi di gigit semut." Sahutnya cepat.


"Coba aku lihat."

__ADS_1


Alan yang awalnya ingin menolak tiba-tiba mengurungkan niatnya, ia mengambil kesempatan untuk memanas-manasi Aya. Ia langsung menyodorkan tangannya yang sudah menjadi korban cubitan Aya.


Aya memutar bola matanya jengah, "Apa dia bilang?....semut?..awas saja kau!" Batin Aya, kemudian memejamkan matanya agar tidak melihat adegan meniup-niup tangan yang membuat hatinya kepanasan.


Melihat tidak ada reaksi dari Aya, Alan langsung menarik tangannya untuk kembali bertengger di setir kemudi.


Sesampainya di Cafe, Aya langsung pergi duluan meninggalkan Alan dan Ima.


"Cikaaaa!..." Teriak Aya langsung berlari memeluk Cika, mereka berpelukan dengan erat layaknya Teletubbies. Nando dan Alan yang baru masuk hanya bisa menggeleng-geleng.


Cika menelisik penampilan Aya yang tidak biasa setelah ia melepaskan pelukannya, "Wah... ternyata temanku bisa cantik juga."


Aya mendengus kesal, "Enak saja! Udah cantik dari orok nih!"


"Entar deh, aku kenalin sama salah satu pengunjung biar gak jones muluk!" Cika langsung tertawa saat melihat reaksi Aya yang langsung cemberut.


Alan yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin menarik tangan gadis yang Cika sebut Jones itu dan memberikannya lebel hak milik Alan.


Aya mengedarkan pandangannya seperti tengah mencari seseorang, "Cari siapa Ra?" Tanya Cika setelan meredakan tawanya.


"Cari ustadz yang nanti bakal mimpin do'a tahlil."


Sontak Cika langsung memukul punggung Aya, "Memang ini acara buat orang meninggal apa!" Sungut Cika.


"Lha....40 harian kan?" Tanya Aya polos.


"40 hari Anniversary jadian aku Raishaaa...!" Cika langsung berubah ke mode merajuk. Aya langsung tertawa saat aksi balas dendamnya berhasil.


"Mita mana?"


"Belum dateng, mungkin masih di jalan....ini siapa Ra?" Tanya Cika Saat ia melihat seorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya tengah berdiri di samping Alan.


"Oh... kenalin ini Aya, sahabatku sekaligus pacarnya Alan." Ima langsung mengulurkan tangannya setelah Aya memperkenalkan dirinya pada Cika.


"Hmm??" Cika sedikit terkejut, wajahnya tampak cengo, tapi kemudian ia langsung tersadar kembali. Tangannya menjabat tangan Ima sambil tersenyum canggung.


Tidak lama datang Mita di susul seorang lelaki di belakangnya yang tak lain adalah Asher.


"Wah bener-bener kamu Nan, ...si Sultan Kw aja kamu undangan, sedangkan aku sahabatmu sendiri gak!" Protes Alan setelah melihat kedatangan Asher yang ia sebut Sultan Kw, Alan menatap Nando tajam bak laser yang siap melubagi tubuhnya. Kini mereka sudah duduk di meja yang sudah di jadikan satu.


"Bukan gitu..., sebenarnya... aku mau ngundang kamu ...tapi sama Anisa adekmu itu kagak dibolehin, katanya sih kamu sibuk kencan." Nando menjelaskan sedikit terbata.


Tidak lama Romi pun datang bersama dengan Anisa yang langsung terkena amukan dari Alan. Romi yang sudah mengetahui perihal Ima dari Anisa kini menatap Alan dengan senyum mengejek. Dirinya merasa masih punya kesempatan untuk mendekati Aya lagi, walaupun tidak sekarang karena Anisa yang terus menempel padanya.


Aya merasa berada di tempat yang salah, bagaimana tidak dirinya duduk paling ujung sendirian diantara para pasangan di sisi kanan dan kirinya. Ia kira Lila akan ikut datang tapi ternyata tidak. Kata Nando Lila sedang berada di luar kota jadi tidak bisa datang.


"Kalin benar-benar ya, tega banget sama aku....tau gitu aku tadi bawa Aris aja ke sini." Ujar Aya sebal.


"Ngapain?!" Sahut Alan dan Romi bersamaan.


"Widih barengan!....jodoh kayaknya." Celoteh Aya yang langsung menimbulkan gelak tawa. Sedangkan yang ditertawakan hanya saling pandang sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


Bersambung.....


Maaf ya lama nunggu upnya, aku baru ngerasa nih kenapa novel-novel baru yang eh tiba-tiba hiatus dan udah gak up lagi, ternyata godaan penulis baru itu banyak lho, apalagi yang baru belajar nulis kayak aku...dari mulai tiba-tiba mager nulis, sampe ide tiba-tiba hilang kena angin malam....Doain ya aku bisa selesaikan novel ini... doanya lewat Like, komen dan jangan lupa Vote.... hehehe


__ADS_2