
Aya sedikit bernafas lega karena dari pagi hingga menjelang pulang kuliah ia sama sekali tidak bertemu dengan Alan.
"Mau pulang?" Tanya Romi yang tiba-tiba berjalan beriringan denganya.
"Iya nie Rom." Jawab Aya Masih sambil berjalan.
"Bareng aku aja, motormu kan dibawa Alan." Tawar Romi sambil melirik Aya.
"Bener Rom? Bisa-bisanya dia bawa motorku seenaknya, menangnya dia siapa?! Awas nanti kalau aku bertemu dengannya Aku akan___!"
"Akan apa?" Terdengar suara sahutan bersamaan dengan tangan seseorang yang merangkul lehernya.
Dengan gugup Aya menoleh ke asal suara. Saat itu juga wajah Aya dan Alan begitu dekat. Entah kenapa wajahnya terasa panas jantungnya pun berdetak lebih cepat.
"Perasaan apa ini? Mungkinkah??.... Tidak mungkin pasti ini perasaan takut karena kepergok mengumpati dia dan karena kejadian tempo hari." Batin Aya sedang bertarung dengan perasaannya sendiri.
"Akan apa tadi kau bilang?" Ulangannya lagi.
"Akan.... berterima kasih tentunya.... Karena gue gak perlu khawatir motorku di curi." Jawabnya sedikit gugub kemudian menundukkan kepala.
"Al sudah... Lepaskan tanganmu dari lehernya!" Romi memaksa menurunkan tangan Alan yang merangkul leher Aya. "Ayo kita pulang!" Ajak Romi menarik tangan Aya.
"Iya Rom." Jawab Aya.
Tapi langkah kaki Aya tertahan karena tangan yang satunya ditarik Alan.
"Dia akan pulang bersamaku!" Tangannya mencengkeram kuat tangan Aya. "Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan nama?"
"Sejak kemarin!" Jawab Aya singkat. Entah kenapa jawaban Aya membuat emosi Alan tiba-tiba memanas, tanpa ia sadari ia menarik tangan Aya. Dan terjadilah peristiwa tarik menarik tangan Antara Alan dan Romi, semuanya tidak mau kalah sampai terdengar teriakan.
"Aduh!!...sakit!!..... Kalian pengen bikin tangan gue putus ya?" Teriak Aya.
Romi yang tidak tega melihat Aya kesakitan akhinya mengalah. "Lepaskan dia Al ! Biarkan dia memilih mau pulang dengan siapa!." Aya menoleh ke arah Romi kemudian tersenyum.
"Kalau kamu pulang bersamanya motormu tidak akan pernah kembali." Sahut Alan sambil tersenyum licik.
Dan tentunya ancaman itu berhasil membuat Aya sekarang berada dalam satu mobil dengan Alan. "Aku kira sudah bisa lepas dari amukan singa ini, ternyata malah masuk kedalam kandangnya." Gumamnya dalam hati.
Alan memutar radio di mobilnya membuat suasana yang tegang menjadi lebih santai. Terdengar sebuah lagu yang tengah populer "I Like You So Much, You'll Know It" adalah judul lagu itu dinyanyikan Ysabelle Cuevas.
I Like your eyes, you look away when you pretend not to care
(Aku suka matamu, kamu palingkan wajah seolah tak peduli)
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
(Aku suka lesung pipi di sudut senyumanmu)
I like you more, the world may know but don't be scared
(Aku sangat menyukaimu, dunia mungkin tahu tapi jangan takut)
Coz I'm falling deeper, baby be prepared
(Karena perasaanku semakin dalam, sayang bersiaplah)
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell
(Aku suka bajumu, aku suka jarimu, begitu juga aroma tubuhmu)
__ADS_1
To be your favorite jacket, just so I could always be near
(Aku ingin jadi jaket favoritmu agar bisa terus dekat denganmu)
"Kenapa Jaket yang kuberikan tidak kau pakai?" Tanya Alan, salah satu lirik yang tersemat di dalam lagu itu seperti sudah mengingatkannya.
"Oh...aku malu memakainya, itukan jaket loe, nanti di kira gue ngambil punya loe." Jawab Aya, pandangannya masih menatap ke jalan.
"Terus buat apa ku kasih ke kamu, kalau malah gak kau pakai!" Alan berdecak kesal.
Aya langsung menoleh menatap Alan, "eh...inget ya? Itu kan gak gratis, udah dituker sama jaket punya gue!" Aya mengingatkan, mulutnya sudah mengerucut.
Alan malah tertawa, "iya...iya." Alan langsung mentonyor kepala Aya.
"Aiiishh.... kebiasaannya kumat lagi!" Batin Aya. "Asal loe tau, jaket yang loe kasih selalu gue pake tidur jadi gak usah khawatir."
Tak sadar sudut bibir Alan tertarik ke atas, "Emang aku peduli?!"
"Loe itu bawaannya selalu bikin kesel orang kepana sih?" Tanpa sadar Aya melayang ke kepala Alan dan langsung mentonyor.
"Berani ya kamu?!" Alan menoleh dan menatap tajam ke arah Aya
"Eh...maaf gue gak sengaja." Aya gelagapan dan langsung menyatukan kedua tangannya di dada menunduk menyesal.
Tapi tiba-tiba Alan tertawa terbahak-bahak, "sudah lama aku gak ngerjain kamu." Dan Aya hanya bisa berdecak kesal kemudian membuang muka ke jendela mobil.
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Sahut Alan dan membuat Aya langsung menoleh padanya.
Aya sedikit menarik nafas, "Maafin gue, seandainya gue tahu loe dan Kak Lila saudara, gue gak bakal ngelakuin hal bodoh seperti itu."
"Sudahku maafkan." Jawabnya singkat. Dan mobil tiba-tiba berhenti.
"Kita mau ngapain ke sini Al?" Tanya Aya masih memandang tulisan di banner tempat itu.
"Mau tidur!....Ya mau beli kue lah!" Alan langsung masuk dan diikuti Aya di belakangnya.
Aya hanya memandang kue yang berjajar di etalase, wajahnya seperti tengah mencari sesuatu yang diinginkannya.
Setelah Alan bicara pada penjual kue ia langsung menghampiri Aya, "kamu gak pengen beli sesuatu?" Tanya Alan.
"Mbak ada macaroon?" Tanya Aya pada penjual.
"Maaf tidak ada mas." Jawab si penjual.
"Kalau cheese cake?" Tanya Aya lagi dan jawabnya pun sama tidak ada.
"Ya sudah gak jadi!" Sahut Aya singkat.
"Gak ada Al yang gue pengen."
"Kamu ada-ada aja, itukan kue-kue mahal, mana ada di sini." Bisik Alan.
"Lha katanya disuruh pilih kue yang gue pengen, ya harus pilih yang mahal lah, kan loe nanti yang bayarin." Jawab Aya.
"Siapa bilang, ya bayar sendiri lah!" Alan langsung beranjak keluar setelah menerima Box kue pesanannya.
"Dasar pelit!" Aya langsung menendang kakinya ke udara setelah melihat punggung Alan menjauh. Ternyata Alan melirik sekilas kelakuan Aya kemudian tersenyum.
Kini mereka sudah sampai di kediaman Alan, "yuk masuk!"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Aya mengunjungi rumah Alan, kalau dari tempat kostnya rumah Alan hanya terlihat balkon bagian belakang rumah. Tapi sekarang ia bisa melihat bagian depan Rumah Alan, Aya begitu takjub rumah Alan tidak sebesar rumahnya, rumah tiga lantai dengan arsitektur modern itu sungguh memanjakan mata, Sangat nyaman dan asri pasti membuat penghuni rumah betah tinggal di sini.
"Ayo masuk! Kamu mau berdiri di situ terus." Sahut Alan dari pintu rumahnya.
"Loe tinggal sama siapa aja Al?" Tanya Aya setelah masuk ke dalam rumah Alan.
"Biasanya sama Mama sama adek, tapi sekarang adekku tinggal di asrama."
"Mana nyokap loe?" Tanya Aya lagi sudah duduk di ruang tamu.
"Mungkin Belanja atau arisan, yuk naik!" Ajak Alan beranjak naik ke tangga.
Aya hanya memandang Alan yang akan naik ke lantai dua. Tentunya ia tidak akan mau berada di kamar Alan. "Ayo! Kamu gak mau ngambil poster punya adekmu?"
"Oh iya sampe lupa!" Gumam Aya sambil menepuk jidat dan akhirnya mau tidak mau ia ikut naik dan masuk kamar Alan. Kamar cowok tentunya maskulin, temanya masih modern, terdapat kasur di bagian tengah dan dindingnya yang sebagian dari kayu, tentu ada sebuah balkon dengan pintu kaca yang besar, di sana juga ada ruangan mirip ruang kerja tapi full kaca sehingga bila masuk kesana tetep bisa melihat kamar dan seluruh isinya, seperti tidak ada sekat.
Alan menaruh tasnya dan melemparkan begitu saja jaket yang ia kenakan, ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi. "Al mana barang adek gue!" Teriak Aya.
"Itu di bawah meja!" Teriak Alan dari dalam kamar mandi.
Aya langsung mencarinya, benar saja di sana ada papper bag, setelah mengambilnya dan mengecek isinya masih lengkap Ia bermaksud keluar tapi saat melihat ke arah balkon timbul rasa penasaran. Memang dari arah sana ia bisa melihat lantai atap tempat tinggalnya jaraknya sangat jauh dan tidak mungkin bisa melihat kegiatan yang dilakukan di sana. Saat hendak berbalik ia melihat teropong di meja, ia pun langsung mencobanya. Betapa terkejutnya ia melihat Cika yang tengah menjemur pakaian. "Sialan bisa-bisanya dia ngintip orang pake ini, dasar otak mesum!"
"Siapa yang otak mesum?" Suara dari belakang Aya membuatnya menoleh. Aya melihat Alan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aaaaaaa....." Aya berteriak dan langsung berlari melewati Alan menuju pintu keluar.
"Dia itu kenapa?" Alan berbalik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bisa-bisanya dia bertelanjang dada di depanku! Sudah dua kali dia menodai mataku ini." Gumam Aya sambil turun dari tangga. Saat turun ia melihat ibu Alan baru saja masuk dengan membawa belanjaan yang banyak di tangannya. Aya berinisiatif membantu Anita.
"Eh... Kamu Asher kan?" Tanya Anita setelah memberikan tas belanjaan pada Aya.
"Iya Tante, ini di taruh di mana tan?"
"Di dapur aja nak, Alan di mana?" Tanya Anita saat melihat Asher hanya sendirian.
"Tadi sih barusan mandi Tan, mungkin sebentar lagi turun." Jawab Aya sambil mengeluarkan bahan-bahan makanan dan membantu memasukkan ke dalam kulkas.
"Aduh..... Alan gak bilang kamu mau dateng, jadi Tante gak masak, mana gak ada makanan sama sekali di rumah." Ujar Anita sedikit kecewa.
"Tidak usah repot-repot tante." Aya tersenyum pada Anita. "Bagaimana kalau kita masak aja Tan, mumpung udah hampir waktunya makan malam, nanti Asher bantuin."
"Kamu mau bantuin tante?" Dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Kita masak yang gampang aja ya? Tumis kangkung sama ayam." Anita mulai mengeluarkan bahan yang akan di masak dan mulai mencucinya.
Aya melihat wajah ibunya Alan seperti tampak letih. "Tante duduk aja, biar Asher yang masak tante kelihatan capek Banget." Aya menyuruh Anita untuk duduk dan ia juga memberikan air minum pada Anita.
"Memangnya kamu bisa masak nak?"
"Bisa Tan, saat kegiatan Mapala kemaren aku yang masak, kata temen-temen masakanku kayak makanan dari hotel bintang Lima." Jelas Aya sambil tertawa.
Dari arah samping Anita bisa melihat betapa cekatannya Aya memotong dan membumbui masakannya, tidak perlu waktu lama. Dua jenis makanan sudah terhidang di meja makan Ayam saus wijen dan Cah kangkung.
Bersambung.....
Terimakasih sudah setia membaca novelku, jangan lupa tinggalkan like dan komen, vote juga boleh banget biar aku makin semangat
__ADS_1