
Di rumah sakit...
Alea duduk di samping ranjang di mana Alena sedang terbaring lemah. Seorang adik yang sangat ia rindukan kini sudah berada di depan matanya. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan. Awalnya Alea percaya tidak percaya bahwa gadis yang terbaring lemah itu adiknya.
Tapi setelah melihat kalung yang dikenakan gadis itu membuat Alea nyakin, bahwa gadis ini adalah Alena adiknya. Sebuah kalung Couple yang diberikan oleh Ayah mereka sewaktu kecil dulu, dimana kalung tersebut tertulis nama mereka masing- masing di sertai tanggal lahir.
Alea menatap sedih tubuh yang terbaring itu. Hatinya terasa di iris- iris saat mengetahui kondisi sang Adik.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Bagaimana luka- luka itu berada di tubuhmu? Siapa yang melakukannya?..."
Alea menggenggam tangan Adiknya. Alea teringat perkataan dokter tadi. Bahwa adiknya kelelahan secara fisik dan mental.
[Apa itu sebabnya tadi Alena ingin menenggelamkan diri ke laut?] Batin Alea.
Dokter juga mendapati banyaknya memar di sekujur tubuh Alena. Dan saat Alea mengecek sendiri memar yang di maksud oleh dokter, dirinya begitu terkejut.
"Apa selama ini hidupmu sangat menyedihkan? Apa kau selalu di siksa? Tapi siapa yang menyiksamu?.." Alea menatap Adiknya dengan mata yang tergenang air mata tetapi tajam menusuk.
__ADS_1
"Jika benar seseorang telah menyiksamu seperti ini, aku yang akan membalasnya Alena... aku akan mencari siapa yang telah membuatmu seperti ini Alena dan membalas perbuatannya, aku bersumpah atas itu..."
Alea menggenggam tangannya dengan kuat lalu menghapus air mata yang tumpah di pipinya.
Alea menatap kalung yang dikenakan oleh Alena. Ia ingin mencari tahu dan membalas dendam kepada orang yang telah membuat adiknya seperti sekarang. Cara satu- satunya adalah menjadi Alena. Walaupun sangat berisiko, tapi hanya dengan cara itulah ia bisa masuk dan mengetahui kehidupan yang Alena jalani selama ini.
Alea melepas kalung yang dikenakan Alena lalu menukarnya dengan kalung miliknya. Alea menukar semua yang Alena kenakan saat itu dengan miliknya. Mulai dari tas beserta isinya, sepatu, anting hingga ke seragam sekolah. Terakhir, Alea akan menukar ponsel miliknya dengan milik Alena.
Sebelum menukar ponselnya, Alea mengirim pesan ke Ibunya. Mengabari dimana keberadaannya dan kondisinya sekarang, yang tentunya yang ia maksud dengan kondisinya adalah kondisi Alena yang terbaring di salah satu rumah sakit di kota ini.
Setelah mengabari Ibunya, Alea memasukkan ponselnya ke dalam tasnya yang sudah ia serahkan kepada Alena. Alea lalu menatap Adiknya lalu mencium kening adiknya sebelum keluar dari ruangan itu. Alea menyuruh suster untuk menjaga adiknya selama Ibunya belum datang.
Setelah beberapa detik perpikir, Alea akhirnya menghubungi nomor Ibu Alena.
"Saya berada di rumah sakit XXX bisakah Ibu datang menjemputku?.."
Setelah memberi tahu keberadaannya saat ini, sambungan telepon pun terputus. Alea hanya bisa berharap Ibu yang merawat Alena selama ini datang dan menjemputnya. Karena jika tidak, bagaimana ia bisa pulang ke rumah Alena. Lingkungan ini terlalu baru untuknya. Ia harus segera menyusaikan diri segera.
__ADS_1
Dengan cara mengetahui siapa orang yang telah merawat Adiknya selama ini. Rasanya ia akan sangat berterima kasih pada orang itu karena telah merawat adiknya dengan baik. Tapi Alea tidak akan berterima kasih begitu saja jika pelaku yang membuat Adiknya mendapatkan luka- luka itu adalah orang terdekat dari Alena.
Beberapa saat menunggu, seorang wanita berumur kurang lebih 40 tahunan datang menghampiri Alea dengan tergesa- gesa dan langsung memeluk Alea. Di wajahnya tergambar jelas raut kekhwatiran.
"Sayang kau kenapa bisa di sini? Kau sakit? Kita ke dalam dokter harus memeriksamu!.." Wanita bernama Sarila itu berdiri dengan menggenggam tangan Alea agar mengikutinya masuk ke gedung rumah sakit.
"Tidak.. Tidak! Bu, aku sudah bertemu dokter. Aku hanya kelalahan, Ibu tidak perlu khawatir..." Cegah Alea. Di dalam masih ada Alena. Sarila duduk kembali, ia menatap putrinya masih dengan raut kekhwatiran yang sama.
"Beneran? Kamu sudah bertemu dengan dokter? Kamu hanya kelelahan? Tidak ada yang serius?" Tanya Sarila masih dengan raut wajah khwatir. Alea mengangguk.
"Iya Maa.." Sarila memeluk Alea dengan sayang, ia belum menyadari jika yang bersamanya sekarang bukanlah Alena, putri yang selama ini ia rawat melainkan kembarannya. Alea yang di peluk dengan penuh kasih sayang dari Sarila menatap Sarila yang tampak dari sudut matanya mengalir sesuatu. Apa ia menangis? Tanya Alea.
"Alena?" Panggil Sarila lembut.
"Iya..." jawab Alea seadanya. Ia masih merasa canggung dengan Sarila lakukan saat ini. Apalagi memeluknya seperti sekarang dan menangis. Alea selalu tidak tega jika melihat orang tua menangis.
"Jangan menyembunyikan sesuatu, apapun itu dari Ibu ya? Jika kamu sakit katakan sakit! Ibu akan melakukan apapun untuk kamu.. Apapun itu!.." Alea yang mendengar ucapan Sarila merasa tersentuh dan terharu. Ia bersyukur ternyata Ibu angkat Alena selama ini sangat menyanyangi Alena. Alea bisa melihat kesungguhan dan ketulasan itu dari Sarila.
__ADS_1
Alea sempat berpikir jika yang menganiaya adiknya itu adalah orang terdekat Alena. Namun, saat bertemu dan melihat bagaimana wajah khwatir dan perlakuan dari Sarila tadi membuat Alea sedikit luluh. Tapi, Alea belum bisa mengeluarkan Sarila dari kandidat tersangka penganiayaan Adiknya.
Alea membalas pelukan Sarila lalu mengangguk. Ia harus berpura- pura menjadi Alena. Alea yang tidak mengetahui tingkah dan sifat Alena bagaimana selama ini bagaimana? Hanya bisa memberi respon pada setiap orang yang berinisiatif padanya. Jika orang itu merasa aneh dengan tingkahnya berarti selama ini tidak melakukan itu. Tapi tentu saja, Alea akan melakukannya dengan sangat hati- hati agar tidak menimbulkan kesan mencurigakan.