
######
Aya merebahkan diri di ranjang kecil miliknya, tempat ternyaman melepas lelah setelah melalui hari-hari barunya kuliah.
"Syukurlah hari ini berjalan dengan lancar, semoga besok juga sama" Gumamnya sambil memandang langit-langit kamar.
Malam itu Aya,Mita dan Cika sedang berkumpul di gazebo. Aya menujukkan kemahirannya memainkan gitar yang baru saja ia beli saat pulang dari kampus.
"Widih...gitar baru Ra? emang bisa main?" Tanya Cika sambil mengunyah cemilan ditangannya.
"Buat apa aku beli kalau gak bisa" Aya mulai memetik gitarnya.
"Coba Ra ...bisa gak lagunya Taxi yang Hujan Kemarin?" Mita menantang.
"Ih.... Kak Mita sukanya lagu-lagu galau" sahut Cika.
"Biarin!" Mita menjulurkan lidahnya.
Aya menatap kedua temannya, terkekeh lucu dengan perdebatan yang kerap terjadi antara kedua orang itu tapi entah kenapa Aya suka karena merasa terhibur. Ia mulai memetik senar gitarnya. Mencoba memainkan lagu request Mita.
Kemarin ku dengar/Kau ucap kata cinta
Seolah dunia/Bagai dimusim semi
Kau datang padaku/Membawa luka lama
Ku tak ingin seolah/Semua seperti dulu
***Reff**:
Tak ingin lagi rasanya ku bercinta
Setelah ku rasa perih*
* (Cika ikut bernyanyi dengan suara cemprengnya, yang langsung mendapat bungkaman tangan Mita "udah kamu diem aja, suaramu merusak liriknya" bisik Mita ditelinga Cika.
Aya tersenyum sambil terus bernyanyi.
Kegagalan ini membuat ku tak berdaya
**
Tak dapat lagi rasanya ku tersenyum
Setelah kau tinggal pergi
Biar ku sendiri tanpa hadirmu kini lagi
Aya mengakhiri lagunya dan langsung mendapat tepuk tangan dari Cika dan Mita.
"Keren Ra, suaramu bagus" Mita memberikan jempolnya.
"Iya Ra, kamu harus bersyukur jarang-jarang bisa dapat pujian dari Miss pelit kata macam Kak Mita" Cika langsung mendapatkan tonyoran di kepalanya oleh Mita."Udah pernah ikut ajang pencarian bakat? aku yakin kamu pasti langsung lolos."
Aya hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa? Bakat kamu sayang banget kalau gak dikembangkan."
"Bener itu kata Kak Mita,aku yakin kamu bisa jadi artis terkenal bahkan mungkin bisa go internasional, secara wajah cantik, body ok suara gak perlu diragukan lagi." Ucap Cika menggebu-gebu.
"Pengen juga sih Cik, tapi gak dikasih ijin sama ortu."
"Orang tua kamu kolot banget ya?"
"Bisa dibilang begitu, ortu aku itu gak suka kalau aku sampai masuk TV apalagi terkenal. Mereka gak mau kalau kehidupan pribadinya di expos dan jadi tontonan banyak orang. Kan kalau aku terkenal otomatis keluargaku juga jadi sorotan. Mungkin karena mereka merasa kurang nyaman atau mungkin demi kebaikan aku juga" Aya mencari alasan yang tepat atas pertanyaan Mita. Setelahnya Aya hanya menatap kedepan dengan tatapan kosong,
Tebakan Mita dan Cika tepat sekali. Karena itulah cita-cita Aya, ia ingin menjadi seorang penyanyi sampai-sampai ia rela ikut les vokal dan beberapa alat musik demi mengasah bakat dan hobinya itu, tapi apalah daya karena latar belakang keluarga yang tidak boleh sembarang ter expos juga menjadi penghalang. Aya sangat paham, itu semua dilakukan papanya demi kebaikan dirinya sendiri agar dirinya aman. Begitu besar kekhawatiran dan rasa sayang dari kedua orang tuanya hingga kadang membuatnya malah merasa tertekan.
Setelah cukup lama hening terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Ternyata ibu yang punya tempat kost.
"Maaf bu karena kami berisik jadi mengganggu ibu dibawah" Aya merasa tidak enak.
"Oh tidak kok. Tadi ibu mendengar ada yang bernyanyi, suara siapa ya?" Tanya ibu Maria, ibu pemilik kost-kostan.
__ADS_1
"Raisha bu!" Tunjuk Cika dan Mita bersamaan.
"Suara kamu merdu sekali nak?"
"Tidak juga Buk tapi Terimakasih atas pujiannya." Aya tersenyum canggung menanggapi pujian Maria.
Saat Ibu kost mengedarkan pandangannya ia baru sadar ternyata ada yang berbeda dari tempat yang ia sewakan itu, suasana di sana kini sangat berbeda dari sebelumnya lampu-lampu Tumbler menggantung memenuhi atap roftop itu, kerlip lampunya sangat indah apalagi jika dilihat saat malam hari.
"Siapa yang memasang lampu-lampu ini?" tanya Maria.
"Raisha bu!" Cika dan Mita kompak menujuk Aya lagi. Entah kenapa kali ini Cika dan Mita jadi terlihat kompak kalau masalah tunjuk menunjuk dirinya. Padahal biasanya mereka selalu bertengkar hanya karena masalah sepele.
Aya langsung gugup ,takut akan kemarahan ibu pemilik kost. "Maaf bu, saya tidak izin dulu...tapi ...jika ibuk keberatan akan langsung saya bereskan hari ini juga."
"Oh...gak usah - gak usah ibuk malah senang, tempat kost ibuk jadi makin bagus" Tampak Maria tersenyum senang kemudian duduk disamping Aya. "Kamu ini udah pinter, cantik lagi. Mau gak jadi calon mantu ibu?"
Aya sontak terpaku sampai terbelalak. Dan ternyata bukan hanya dirinya yang kaget tapi juga kedua temannya.
"Ibuk itu punya anak bujang, dia kerja di Surabaya di salah satu Bank, kerjanya tiap hari pegang uang, hidup kamu pasti akan terjamin. Bagaimana? Mau kan jadi calon mantu ibu?" Maria tampak bangga mempromosikan anaknya.
"Anak ibuk yang tiap hari pegang uang saja bangga. Bukannya sombong, saya yang tiap hari menghabiskan uang biasa saja buk." Tentu saja Aya hanya berani mengatakannya dalam hati karena tentu dia tidak mau diusir hari itu juga.
Bingung mau menjawab apa Aya berusaha minta bantuan kedua temannya yang sejak tadi diam. Tapi ternyata mereka malah membuang muka berpura-pura melakukan kegiatan entah apa, tampaknya mereka tidak mau terlibat masalah perjodohan itu. Mau langsung Aya tolak tapi dia masih butuh tempat tinggal dan baru juga dia merasa betah tinggal di sana. Mau di terima tidak mungkin. Saat merasa tertekan tiba-tiba muncul sebuah ide.
"Mohon maaf sebelumnya Buk, saya sudah punya calon suami yang di jodohkan oleh kedua orang tua saya" itulah kata yang keluar dari mulut Aya. Setidaknya ia tidak sepenuhnya berbohong karena memang ia sempat dijodohkan tapi Aya menolaknya.
"Memang apa pekerjaannya? Dia tinggal di Jakarta atau di sini? Apakah dia lebih tampan dari anak ibuk?" Maria masih belum menyerah, ia merasa mungkin Aya berbohong. Langsung saja Maria menunjukkan potret anaknya di handphone.
Hampir saja Aya menyemburkan tawanya saat melihat anak ibu Maria. Aya merasa masih lebih tampan dua bodyguardnya di rumah.
"Dia seorang dokter Buk, dan dia sedang bertugas di Singapur namanya Dr.Ezra" agar lebih meyakinkan Aya menunjukkan foto pria yang dia akui calon suaminya pada Maria.
"Syukurlah, foto Ezra yang dulu dikirimkan Papa belum aku hapus" batin Aya.
"Ternyata Ganteng juga, ya sudah kalau kamu ternyata sudah dijodohkan, kalau begitu ibuk pamit dulu, kalian tidurnya jangan terlalu malam,"ujar bu Maria.
"Iya bu" jawab semuanya serentak.
Maria langsung berlalu pergi menuruni tangga dengan perasaan yang kurang enak.
"Widih... lumayan ganteng juga, senyumnya manis banget kek gula, bisa langsung diabetes aku Ra, trus langsung diperiksa deh sama mas Dokter." Cika membuat dramanya sendiri dengan gaya centilnya sambil cekikikan. Sedangkan Mita hanya tersenyum tipis.
Aya membiarkan kedua temannya itu percaya dengan cerita karangannya mengenai perjodohan itu, entah kenapa hari ini dirinya terlalu malas untuk menjelaskannya.
"Hidupmu penuh dengan keberuntungan ya Ra? punya wajah cantik, body oke, suara bagus, kuliah di universitas ternama, punya saudara kembar yang ganteng kuliah di LA pula, ditambah lagi calon suamimu juga seorang dokter, bikin iri." Cika menatap Aya dengan wajah yang dibuat sendu.
"Terkadang sesuatu tampak sempurna dari luar belum tentu kenyataannya sama. Tentu saja banyak konsekuensinya. Bersyukurlah dengan apa yang kamu punya sekarang, karena mungkin ada seseorang di luar sana yang tidak seberuntung kamu."
"Memangnya apa yang aku punya tapi orang itu tidak punya Ra?" Tanya Cika penasaran. Karena Aya seperti tengah membicarakan seseorang yang tidak seberuntung dirinya yang menurutnya malah dirinya lah yang tidak punya keberuntungan sama sekali.
"Sebuah Kebebasan" batin Aya. Tatapannya kosong tapi menyiratkan kesedihan yang lama terpendam dan Mita menyadarinya.
"Memangnya kamu tahu dari mana kalau Raisha punya saudara kembar Cik?" Mita berusaha mengalihkan perhatian Cika dari pertanyaan yang Cika lemparkan tadi.
"Dia sendiri yang cerita, kebetulan juga kemarin saudara kembarnya video call, jadi aku bisa lihat sendiri" sahut Cika.
Aya tiba-tiba beranjak pergi begitu saja dan masuk kedalam kamarnya tanpa pamit.
"Apa aku salah ngomong ya Kak?" Tanya Cika saat menyadari sikap Aya yang tiba-tiba berubah.
"Gak tahu,....mungkin saja Raisha lagi PMS," jawab Mita sekenanya. Dalam diam Mita menyadari, Aya menyembunyikan sesuatu yang ia tak tahu.
***
Benar saja, pagi itu Aya kedatangan tamu bulanannya dan karena perutnya yang keram membuat dia bangun kesiangan. Penderita Aya belum cukup sampai di situ, ojek online yang ia tumpangi ban nya bocor mengharuskannya naik kendaraan umum. Karena harus naik turun berganti kendaraan membuatnya terlambat padahal hari ini hari pertamanya Ospek.
Sesampainya di kampus ia langsung lari menuju barisan MABA yang sudah berbaris di lapangan.
"Kamu juga baru dateng Sher?" Tanya Citra yang kebetulan berdiri di sampingnya.
"Yo'i," jawab Aya ngos-ngosan.
Tiba-tiba terdengar suara histeris dari beberapa mahasiswi termasuk Citra, membuat Aya penasaran apa sih yang membuat mereka begitu heboh. Aya bertanya pada Citra, dan Citra langsung menunjuk ke arah depan. Sontak Aya meluruskan pandangannya ke arah yang ditujuk Citra, matanya terbelalak tidak percaya.
__ADS_1
Apakah dunia ini begitu sempit kenapa sejak dia menginjakkan kaki di kota ini terus saja bertemu dengan makhluk yang dia sebut malaikat maut itu. Dosa apa yang Aya lakukan di masa lalu batinnya.
Tampak Alan dan gengnya juga beberapa mahasiswa yang kesemuanya memakai jas almamater, berbaris di bagian paling depan menghadap barisan MABA.
"Mereka siapa Cit?" Tanya Asher KW alias Aya penasaran.
"Mereka senior kita yang tahun ini bertugas jadi panitia ospek, yang aku kenal sih cuma kak Alan sama gengnya." Bisik Citra.
"Kak Alan??"
"Iya cowok yang pakai ban lengan warna merah sendiri itu namanya Kak Alan. Kalau yang di sebelah kirinya namanya Kak Romi dan sebelah kanannya namanya kak Nando. Mereka bertiga itu satu geng dan terkenal banget di kampus ini karena visualnya yang oke plus otaknya yang cerdas tapi yang paling terkenal dan banyak fansnya ya cuma kak Alan, bahkan dia di juluki Putra Mahkota kampus, wajahnya yang super duper ganteng, sifatnya yang cuek, dingin dan sulit didekati itu yang membuatnya menarik. Banyak cewek di kampus ini yang tertantang buat bisa dapetin dia dan banyak juga yang sampai tergila-gila sama dia termasuk aku juga sih." Citra cekikikan.
"Putra mahkota kampus? Gak salah emangnya? Julukan yang cocok buat dia itu putra mahkota raja neraka. Itu baru cocok." batin Aya sambil tertawa sendiri.
"Ngetawain apa kamu Sher?" Citra menatap Aya heran.
"Bukan apa-apa... Tadi Lo mau bilang apa?"
"Oh.... aku cuma mau bilang kalau dia itu juga presiden BEM di kampus ini."
"What! Apa yang barusan dia bilang?" Batin Aya tidak percaya, ternyata hari buruknya tidak cukup sampai di situ. Kedepannya Ia akan sering bertemu dengan orang super nyebelin dan sangat tidak ingin dia temui di muka bumi ini "Sial... kenapa harus si malaikat maut itu sih....eh tidak-tidak sepertinya julukan itu terlalu bagus buat dia." batinnya sambil menggelengkan kepala. "Kata Citra tadi sifatnya dingin ya? kira-kira julukan apa ya yang cocok buat dia? apa gunung Es atau Yeti? eh... kayaknya terlalu ngeri deh. Bagaimana kalau kulkas dua pintu? Atau manusia salju? oke Manusia salju saja." Dalam hati Aya bermonolog sendiri. Tanpa ia sadari wajahnya sampai tersenyum sendiri.
"Hei Elo....yang senyam-senyum sendiri !" Teriak Nando menunjuk Aya.
"E...eh.....Gue?" Tunjuk Aya pada dirinya, setelah sadar dengan yang ia lakukan.
"Iya elo yang kumisnya mirip ikan lele." Celetuka Nando membuat semua orang tertawa.
"Huffff.... Cobaan apalagi ini Tuhan?" batin Aya.
"Cepetan Lo maju sini!" Perintah Nando.
Aya langsung menurutinya dan berdiri tepat di hadapan Nando, "Gue lihat tadi Lo telat masuk kan?!" Nando menatap tajam sambil tersenyum menyeringai.
"Iya kak, tadi ojek yang saya___"
"Gue gak butuh alasan Lo. Yang Lo harus tahu, siapa saja yang terlambat harus di hukum...." Dan sebelum Nando melanjutkan kalimatnya ia menghampiri Alan lebih dulu membisikkan sesuatu dan langsung diangguki Alan.
"Keliling lapangan sepuluh kali!" Perintah Nando.
"Apa?....Tapi gak cuma saya saja yang telat kak. Tadi teman saya juga ada yang telat."
"Lo jangan bohong! Gue cuma lihat Lo doang yang telat ya."
"Tapi kak__"
"Sekali lagi Lo Protes gue tambah jadi lima belas kali!"
Dan dengan terpaksa akhirnya Aya berlari mengelilingi lapangan yang luasnya hampir menyamai stadion gelora bung Karno itu. MABA yang lain sudah pergi entah kemana, mungkin mereka sedang tur keliling kampus atau berkenalan dengan para dosen.
"Gue ngerasa di diskriminasi, padahal yang telat bukan gue doang tapi kenapa cuma gue yang di hukum. Kalau aja gue pas lagi gak datang bulan, lari sepuluh kali mah kecil. Tapi ini......aduh......sakit." belum juga Aya menyelesaikan kalimatnya ia sudah merasa nyeri di bagian perutnya sambil meringis Aya sekuat tenaga menahan sakit dengan terus berlari. Pelipisnya sudah penuh dengan keringat karena kebetulan cuaca siang itu sangat terik. Wajahnya sudah mulai pucat dan langkahnya perlahan melambat. Padahal tinggal sedikit lagi Aya menyelesaikan hukumannya tapi tiba-tiba pandangannya mulai kabur, dan tak lama kemudian jadi gelap.
BRUK!!
Seseorang dengan sigap menangkap tubuh Aya, sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri samar-samar terdengar suara.
"Dasar lemah." Dan akhirnya Aya benar-benar tidak sadarkan diri.
***
Sepasang kelopak mata bergerak mengerjap mencoba menyesuaikan cahaya di sekeliling.
"Gue ada di mana ini?" Gumam Aya lirih.
"Kamu sekarang ada di ruang kesehatan," jawab seorang wanita yang memakai jas seperti dokter tengah duduk di samping ranjang Aya.
Dokter itu menatap Aya penuh selidik, "kamu sedang kedatangan bulan ya? Kamu itu perempuan tapi kenapa berpenampilan seperti laki-laki?"
Sontak pertanyaan dokter perempuan itu membuat Aya terkejut, tidak mungkin kan secepat itu penyamarannya terbongkar bahkan baru dua hari dirinya masuk kuliah.
Bersambung....
(Sudah di revisi)
__ADS_1
terimakasih yang sudah sudi membaca tulisan saya, tolong tinggalkan like dan komen ya terimakasih...