
"Hey...." Tepukan di bahu menyadarkan Aya dari lamunannya. Dilihatnya Lila sedang tersenyum.
"Kak, aku sudah salah menilainya." Ujar Aya dengan wajah sendu.
"Cobalah menemuinya pasti dia akan memaafkanmu, apalagi kalau dia tau kamu seorang perempuan," sahut Lila tersenyum kemudian menepuk tangan Aya.
"Tidak! Jangan sampai dia tau Kak!" Kekeh Aya sambil menggeleng kepalanya kuat-kuat. Aya tidak bisa membayangkan kalau Alan sampai tahu, betapa malunya dirinya karena sudah sempat melihat junior Alan saat di toilet pria pagi tadi.
"Kenapa??" Tanya Lila merasa heran.
"Eh...kakak sepertinya tau banyak tentang si manusia salju itu," Aya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Manusia salju?? Siapa?"
"Itu Lo si Alan-Alan." Jawab Aya.
"Hahaha...." Lila tertawa terbahak-bahak. "Jadi itu nama panggilan kamu ke Alan?"
Dan mendapat anggukan kepala dari Aya.
"Ih...lucu banget, pake panggilan sayang segala," Lila masih tertawa kecil kemudian mencubit pipi Aya gemas.
"Aduhhh...sakit kak." Rengek Aya.
"Eh maaf-maaf."
"Kakak sepertinya, punya perasaan istimewa sama Alan ya?" Goda Aya.
Seketika wajah Lila merona merah. Kemudian ia membuang mukanya ke segala arah, menutupi perasaannya supaya Aya tidak menyadarinya. "kamu tu yang punya perasaan sama dia, punya panggilan sayang segala," Lila menggoda balik.
"Idih....gak mungkinlah, adanya aku benci sama dia karena udah bikin muka cantikku ini jadi terluka," Aya melihat pantulan wajahnya di layar handphone sambil mengelus pipinya yang memar.
"Iya sih cantik tapi kok berkumis," Lila tertawa kecil. "Jangan terlalu benci nanti jadi benar-benar cinta."
Aya hanya bergidik ngeri mendengar yang Lila katakan. "Dia kan udah punya pacar Kak!"
"Alan punya pacar! Siapa pacarnya?" Lila tersentak tak percaya.
"Ehmmm..kalo gak salah Shei... siapa ya?..oh iya,Sheila namanya!" Sahut Aya dengan mata berbinar karena masih ingat nama cewek yang menurutnya pacar Alan. Lila hanya tertawa kecil mendengar penjelasan Aya.
Dan setelah itu, percakapan mereka berlanjut dengan percakapan ringan sambil sesekali tertawa. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka berdua.
***
Malam itu Aya tampak berbaring di ranjang kecilnya menatap kosong di dinding kamar yang dihiasi lampu kecil-kecil dan tentunya foto bintang Korea sama seperti kamarnya yang ada di Jakarta. Masih memikirkan kejadian dikampus siang tadi antara dirinya dan Alan. Hingga suara handphone membuatnya tersadar.
"Tumben si anak perak Video call?" Gumamnya.
Aya terdiam sesaat teringat sesuatu,
"Oh my God pipiku!" Aya langsung mengambil masker untuk menutupi pipinya yang lebam.
"Hallo, ada apa Sher? Tumbenan telfon?" Ujar Aya setelah mengangkat panggilan video.
"Kamu kenapa pakai masker?" Tanya Asher dari seberang telfon.
"Aku lagi flu!" Jawab Aya cepat.
__ADS_1
"Emang flu bisa nular lewat telepon? Kamu tu b*go banget!"
"Terserah aku lah!" Jawab Aya ketus.
"Cepat lepas! kalau gak aku bakal cari tahu sendiri...kau tau kan bagaimana jadinya kalau aku yang turun tangan?" Ancam Asher.
Akhirnya dengan terpaksa Aya melepaskan masker di wajahnya, dan tampaklah memar di pipinya dan luka goresan di sudut bibir Aya.
"Kurang ajar! Siapa yang melakukannya padamu?!" Teriak Asher penuh emosi
"Sudah......tidak usah di perpanjang, aku sudah memberikannya pelajaran, sekarang dia udah di skorsing, lagi pula ini juga salahku." Jelas Aya dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Apa maksudmu? Cepat jelaskan!" Perintah Asher sambil mengerutkan keningnya.
Akhirnya Aya menceritakan semuanya pada Asher tanpa ada yang tutupi, karena ia tau saudaranya ini sebelas dua belas dengan ayahnya, sama-sama posesif kalau menyangkut Aya, walaupun kadang sering bertengkar, Asher selalu menjaga Aya dengan baik, apalagi sekarang Aya di titipkan penuh oleh kedua orang tuanya kepada Asher.
"Bwuahahahaha!"
Tiba-tiba Asher tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Tanya Aya melihat ekspresi Asher yang menyebalkan.
"Jadi gara-gara itu kamu sampe ngadu ke rektor, cuma karena gak sengaja kamu liat Juniornya si anak rektor itu?" Tanya Asher masih dengan suara tawanya.
"Ya ...salah satunya, tapi aku juga mau kasih pelajaran sama dia dan temen-temennya itu biar kapok!"
"Trus sekarang kamu sudah puas?" Asher menatap Aya dengan intens masih sambil tersenyum. Dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Aya.
"Trus Kamu maunya gimana?" Asher melembutkan suaranya. Aya hanya diam tidak bergeming dengan raut muka sedih.
"Tapi....kamu dan ima bagaimana?" Tanya Aya khawatir.
"Aku gak papa,lagi pula disini masih masa pengenalan universitas, beda kalau satu Minggu lagi aku udah gak bisa mundur, karena aku mau ngambil program akselerasi. Kalau Ima biarkan saja dia kuliah di sana, Kita yang akan menjelaskanya ke Papa."
Aya diam sejenak "Gak usah Sher, aku masih kuat kok, nanti kalau aku udah nyerah, aku bakalan bilang ke kamu," sahut Aya.
"Oke....tapi aku hanya kasih waktu kamu satu Minggu buat berfikir." Dan Asher pun mengakhiri panggilannya.
Aya masih menatap handphone yang ada di tangannya. Pikiranya melayang, ia berharap hari-harinya esok akan lebih baik dari sebelumnya.
***
Pagi itu seperti biasa, Aya mengendarai motor maticnya sudah berpenampilan Ala Asher KW. Masuk gerbang universitas dan memarkirkan motornya. Kemarin adalah hari terakhir masa Ospek jadi hari ini mata kuliah sudah di mulai, saat berjalan menuju ruang kelas Tampak beberapa mahasiswa menatap Aya dengan tatapan yang aneh seperti tidak suka dengan kehadirannya. Sebagian ada yang berbisik-bisik melirik Aya kemudian melihat ke handphone yang mereka pegang.
Aya tampak acuh, karena sebelumnya ia juga sudah di perlakukan seperti itu saat masa Ospek. Saat melihat Citra dan Amanda yang tengah duduk di bangku taman yang ada di kampus, Aya langsung menghampiri mereka.
"Hay girls!" Sapa Aya seperti biasanya. Lalu duduk bergabung bersama mereka.
Citra dan Amanda tiba-tiba beranjak berdiri meninggalkan Aya, tanpa menghiraukan sapaannya.
"Heeey kalian mau kemana?!" Teriak Aya yang merasa aneh dengan sikap Citra dan Amanda yang tidak seperti biasanya. Aya langsung berlari mengikuti kedua temannya itu, sambil mengekori mereka Aya terus bertanya apa yang terjadi dan kenapa sikap mereka berubah.
Citra yang tidak tahan dengan Aya yang terus mengikutinya, langsung menarik Aya menuju ke belakang gedung kampus. Citra menatap tajam ke arah Aya, "Mulai sekarang jangan pernah dekati kami lagi, kami tidak mau berteman denganmu... Anggap saja kita tidak pernah kenal!"
Ucapan Citra seperti Sambaran petir untuk Aya, kata-katanya tajam bak pisau, teman yang selama ini selalu ada di sampingnya dan memberinya semangat sekarang berbalik membenci dirinya.
"Tapi kenapa?" Ujar Aya tak percaya.
__ADS_1
Citra langsung memperlihatkan video di handphonenya, di video itu terekam kejadian kemarin saat Aya memaki Alan dan akhirnya Alan memukulnya.
"Gue bisa jelasin ini, emang gue yang salah...gue nyesel." Jelas Aya.
"Udah terlambat! Gara-gara kamu Alan di skorsing! Kita nyesel udah kenal sama kamu!" Bentak Citra dengan penuh emosi.
"Tapi dia cuma di skorsing tiga hari!" Ralat Aya.
Citra mendengus kesal. "Asal kau tau Alan itu di skorsing selama satu minggu, dia menanggung hukuman teman-temannya, Alan itu orang yang baik... Dia panutan kami, dan kamu seenaknya saja bilang dia tidak berguna!" Jelas Citra penuh emosi.
Citra hendak pergi tapi ia urungkan, kemudian menatap tajam ke arah Aya, "Orang yang tidak berguna itu sebenarnya adalah kau!" Itulah kalimat Citra yang terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan Aya.
Tak terasa air mata sudah jatuh di pipi Aya. Dia langsung terduduk dan menangis sejadi jadinya.
Setelah puas menangis Aya bermaksud menemui Lila, saat sudah di dalam ruangan kesehatan tidak tampak sosok Lila, hanya seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Maaf ada perlu apa?" Tanya wanita itu.
"Saya mencari dokter Lila, apakah dia ada?" Sahut Aya. Yang nampak mencari sosok Lila di dalam ruangan.
"Anda siapanya dokter Lila?" Tanya wanita itu lagi.
"Saya Asher, temannya dokter Lila," jelas Aya.
Sontak wajah perempuan itu berubah menjadi tidak ramah. "dokter Lila sudah tidak bertugas lagi di sini! jadi kalau tidak ada keperluan lain, tolong tinggalkan ruangan ini!"
Aya tampak terkejut karena kemarin dokter Lila tidak bilang apa-apa padanya. "Boleh minta nomor teleponnya dok?"
"Maaf saya tidak punya nomor teleponnya," jawab wanita itu cepat kemudian mempersilahkan Aya untuk keluar.
Sambil berjalan Aya terus berpikir "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Batinnya. Kemudian ia teringat sesuatu.
Kini Aya sudah berada di ruangan rektor.
"Kamu kesini ....apa karena video yang tersebar di seluruh kampus?" Tanya Suhendra menatap Aya penuh selidik.
"Bukan pak saya kesini ingin meminta anda untuk mencabut hukuman skorsing Alan." Jawab Aya.
Suhendra nampak sedikit terkejut dengan maksud kedatangan Aya. "Maaf untuk mencabutnya saya tidak bisa, tapi saya bisa mengurangi masa skorsingnya."
"Terimakasih pak," sahut Aya yang langsung menyalami Suhendra. Dan mendapatkan anggukan kepala.
"Dan saya juga mau minta maaf, kepada bapak dan Alan karena sudah berani menghina dan menuduh Alan yang tidak-tidak... tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Alan pak," Aya menunduk menyesali perbuatannya.
"Saya sudah memaafkanmu, kalau untuk Alan sebaiknya kamu meminta maaf secara langsung." usul Suhendra.
Setelah keluar dari ruangan rektor Aya langsung mencari Nando dan Romi bermaksud meminta tolong untuk bisa dipertemukan dengan Alan, tapi usahanya sia-sia. Mereka tidak menghiraukan Aya sama sekali. Akhirnya Aya menyerah dan bermaksud menunggu selama tiga hari masa skorsing Alan. Ia berharap bisa bertemu Alan dan meminta maaf secara langsung.
***
Sudah lima hari berlalu tapi sosok Alan tak juga muncul. Keadaan Ayapun makin buruk. Seluruh mahasiswa di kampus mengacuhkannya seperti menggapnya tak ada atau bisa di bilang tak nampak. Bahkan Para dosen menunjukkan ketidak sukaannya pada Aya, tak jarang kehadiranya di kelas tidak di harapkan. Usulan ataupun pendapatnya dalam pelajaran seperti tidak terdengar, seolah dirinya sebuah kot*ran yang harus disingkirkan.
Dan disilan Aya berada sekarang, tepat di belakang gedung kampus, setiap jam makan siang Aya selalu berada di situ menangis meratapi nasibnya. Aya memang tampak kuat dari luar tapi sebenarnya ia rapuh. Mungkin karena sejak kecil selalu di manja. Ia juga tidak pernah bersosial dengan lingkungan. Dan sekalinya bersosialisasi ia harus menghadapi keadaan yang buruk seperti sekarang.
Bersambung.....
Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan like dan koment ya? Vote juga boleh...hehehe
__ADS_1