
Dua pasang sejoli sedang berjalan menuju food court Mall.
"Al, ngapain kamu bilang sama mereka kalau aku ini pacarmu?" Bisik Aya sambil berjalan.
"Kenapa gak suka?" Alan melirik tajam.
"Iyalah,...gak suka gue." Aya mendengus kesal.
"Lebih gak suka mana sama digangguin buaya cap kadal kayak Bima?"
Aya tampak berfikir "Hmmm...lebih gak suka digangguin kadal sih."
Alan tersenyum simpul "ya udah, terima aja...kamu tinggal diam, biar aku yang bertindak."
Dengan malas Aya mengangguk. Setelah sampai Mereka duduk bersama kemudian memesan makanan.
"Kak Aya asli sini?" Tanya Ela.
"Dia aslinya Jakarta." Bukan Aya tapi malah Alan yang menjawab.
"Kuliah di universitas mana kak?"
"Dia kuliah di universitas yang sama denganku." Alan lagi yang menjawab.
Ela tampak mendengus kesal sambil melirik ke arah Alan.
"Kamu ambil jurusan apa?" Kini Bima yang ganti bertanya.
Saat Aya akan menjawab, "Dia ambil jurusan Bisnis." Jawab Alan. Aya hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Kak Alan!!... Yang ditanya itu kak Aya Loh...bukan kamu!" Ela sedikit berteriak, karena ia sudah sangat geram dengan sikap Kak sepupunya itu.
"Sepertinya Alan posesif banget sama kamu Ay?" Bima menanggapi.
"Tentu saja, aku sayang banget sama dia....iya kan sayang?" Alan merangkul pundak Aya dan langsung mencium pipi Aya gemas.
Aya terbelalak tak percaya dengan apa yang Alan lakukan. Reflek ia langsung mencubit pinggang Alan.
"Aw...aw...sakit sayang.!" Alan meringis. Membuat dua orang yang duduk di depannya tertawa senang melihat Alan yang tersiksa, bagaimana tidak kalau Alan dengan tidak tau malunya mempertontonkan kemesraan yang membuat jiwa jomblo mereka meronta-ronta. Dan sekarang rasa sakit hati mereka terbayarkan sudah.
Alan yang tidak terima di tertawakan makin menjadi, ia berulang kali mencium pipi Aya dengan gemas hingga membuat pipi Aya memanas.
Di cubitnya lagi pinggang Alan dengan sangat keras, "Jangan mengambil keuntungan ya?" Bisik Aya. Alan dengan sekuat tenaga menahan sakit di pinggangnya agar tidak di tertawakan lagi, entah mungkin sekarang pinggangnya sudah sebiru apa akibat ulah KDRT yang Aya lakukan.
"Sorry,...aku terlalu menjiwai." Bisik Alan dengan sedikit suara meringis.
"Ay, asal kamu tau Alan ini orangnya setia banget, setelah pacaran sama Lila dia gak pernah pacaran lagi, padahal banyak banget cewek yang gak kalah cantik deketin dia, aku kira dia gak bakal punya hubungan dengan perempuan sampe tua,....gak nyangka sekarang dia malah bucin banget sama kamu." Jelas Bima sambil menyantap makanannya.
Alan hanya menatap Bima jengah. Sedangkan Aya senyum-senyum sendiri, entah kenapa ia merasa senang mendengar hal itu dari mulut Bima. Persis seperti yang dulu Lila katakan.
"Kak Al kok gak pernah ikut kumpul keluarga sih?....Om Suhendra kelihatan kangen banget lho sama Kak Al." Ela bertanya dengan raut muka sedih.
"Ela..!!" Bima memperingatkan.
__ADS_1
Aya menatap Alan dan dua orang itu bergantian, wajah mereka yang awalnya senang terlihat muram, Aya menyimpulkan bahwa hubungan Alan dan ayahnya tidak begitu bagus.
"Al....aku masuk mobil dulu." Ujar Aya setelah mereka sampai di parkiran. Beberapa kali Aya menguap memang dari awal sebenarnya ia sudah sangat mengantuk apalagi setelah makan kantuknya malah semakin menjadi. Karena sepertinya Alan masih betah mengobrol dengan para sepupunya jadi ia memutuskan untuk menuggu sambil tiduran sebentar di mobil.
Alan masuk ke dalam mobilnya di lihat Aya sedang tertidur dijok belakang, kepalanya mendongak dan tangannya ia gunakan sebagai bantal.
Alan tersenyum melihat Aya tidur dengan begitu damai. Tidak tahan Alan bergeser pindah ke belakang lewat celah kursi. Ia ingin menatap wajah itu lebih dekat. Tangannya menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik Aya, telunjuknya bergerak menelusuri sudut wajah cantik itu, hidungnya yang mancung, bulu mata lentik, pipi bulat yang menggemaskan tak lupa bibir mungil yang dulu sempat ia cicipi manisnya. Rasanya sudah lama Alan tidak merasakannya lagi. Alan bersumpah ia akan menjadikan Aya sebagai isterinya kelak.
Dilihatnya Aya sama sekali tidak bergerak ketika mendapat sentuh itu, seolah seperti mayat hidup saja. Wajah Alan mulai mendekat matanya hanya tertuju pada bibir ranum itu, di kecupnya pelan. Tak ada respon dari pemilik bibir, berkedip pun tidak, jelas saja ia kan sedang terpejam.
Alan makin melancarkan serangan keduanya kali ini tidak sekedar kecupan tapi lebih dari itu, di lum*tnya bibir ranum Aya. Rasanya masih sama begitu manis dan lembut. Bahkan ini lebih enak kalau diibaratkan makanan ini seperti Brownise dengan ekstra lelehan coklat di atasnya begitu manis dan lumer di mulut. Mungkin karena tidak ada embel-embel kumis tipisnya.
Alan tak juga menghentikan aksinya sebenarnya tangannya sudah gatal ingin menjelajah, tapi ia takut akan membangunkan pemilik bibir manis. Tanpa ia sadari lidahnya menyelusup ingin masuk kedalam rongga mulut Aya. Hingga membuat Aya sedikit terganggu. Saat tubuh Aya bergerak dengan kecepatan kilat Alan langsung melompat lewat jalan yang ia pakai tadi lalu segera duduk tenang di belakang kemudi, walau sebenarnya jantungnya sudah seperti pelarian maraton. "Kenapa aku merasa seperti maling." Batinnya.
Aya terduduk merenggangkan ototnya ke kanan ke kiri.
"Sudah bangun?" Tanya Alan kaku, mencoba mengatur nafasnya.
Aya mengucek-ngucek matanya kemudian mengusab wajahnya berusaha membuat dirinya tersadar sepenuhnya. Ia merasakan aneh di bagian bibir. Langsung ia beranjak pindah ke kursi depan menghadapkan kaca sepion ke wajahnya. "Lho kenapa bibirku bengkak begini?"
"Hah?" Alan reflek menoleh matanya sedikit melebar menatap ke tempat yang baru saja ia cicipi tadi, benar saja bibir Aya memang sedikit merah dan bengkak. Apakah sebegitu ganasnya ciumannya tadi. Rasanya sungguh malu tapi ada sedikit rasa bangga di dirinya hingga membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Mana aku tahu, mungkin tadi di gigit semut." Alan memberikan Alasan, padahal semut yang menggigit Aya tadi namanya adalah Alan.
"Masak sih?" Aya menyentuh bibirnya. "Apa mungkin ini efek samping mimpi ciuman dengan Alan?" Batin Aya. Ternyata apa yang dilakukan Alan di dunia nyata masuk kedalam alam bawah sadar Aya.
"Kenapa?.... pusing?" Alan menoleh sambil menjalankan mobilnya.
"Sepertinya,.... langsung pulang aja Al, mungkin gara-gara posisi tidurku yang tidak pas, bikin aku pusing dan mimpi yang tidak-tidak."
"Memang kamu mimpi apa?" Alan memicingkan matanya.
"Gak penting!"
****
"Pak Asher.... bukannya ini tanggal merah?" Tanya Mita saat berdiri di hadapan seorang pria tampan yang sedang bersandar di mobil mewahnya.
"Memang, aku ingin mengajakmu berkencan."
"Maaf Pak, saya tidak berminat!"
"Sudah aku bilang jangan memanggilku Bapak kalau tidak di kampus,...dan aku tidak sedang membutuhkan persetujuanmu."
"Silahkan masuk tuan putri." Asher membukakan pintunya kemudian membungkuk tak lupa satu tangannya mempersilahkan masuk.
"Maaf, hari ini saya sibuk!.... tidak bisa menemani kesendirian Anda." Mita tetap diam dan tidak bergeser sedikitpun.
"Come on....Mita! jangan seperti ini, tidak bisakah kita lebih dekat, berteman misalnya." Ucap Asher memelas.
"Tapi saya tidak menerima teman yang suka memaksa."
__ADS_1
"Oke...aku tidak akan memaksamu lagi, memangnya kamu sibuk apa hari ini?" Akhirnya Asher menutup pintu mobilnya.
"Saya harus kerumah nenek saya hari ini?"
"Aku bisa mengantarmu." Asher memasang senyum manisnya.
"Tidak perlu, saya bisa naik Ojol."
"Hari ini tahun baru, pasti akan sulit cari ojek online,...tak bisakah kamu menerima kebaikan temanmu ini."
"Apa Anda sudah mendengar saya menerima pertemanan ini?" Mita masih setia berdiri menghadap Asher datar.
Asher Hanya bisa mengelus dadanya, ia harus lebih bersabar menghadapi Mita, kalau tidak hubungannya tidak akan maju. Tetap saja seperti Dosen dan mahasiswanya. Padahal ia hanya seorang Asdos.
"Oke....tapi bisakah kamu menerima kebaikanku sekali saja, itung-itung membantuku mendapatkan pahala." Asher kini memasang wajah memelas.
Mita tampak menimbang-nimbang "Baiklah, tapi jangan menyesal dan setelah sampai anda harus segera pulang." Senyum Asher mengembangkan mendengar tawarannya akhirnya di terima.
"Kenapa harus menyesal?... justru aku merasa sangat beruntung bisa mengantarkan tuan putri." mendengar rayuan Asher Mita memutar bola matanya jengah.
"Bisakah kau tidak menggunakan bahasa formal lagi padaku, kesannya aku ini lebih tua darimu... padahal kan sebaliknya." Asher memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Oke,... kalau begitu tinggal dibalik saja."
"Apanya yang di balik?" Asher pura-pura tidak tahu.
"Bahasanya!" Mita sedikit geram.
"Oh... seperti I love you dibalik jadi you love me... seperti itu?" Goda Asher masih sambil menyetir. Sesekali ia melirik Mita.
Dan tanpa Asher sangka Mita memukul pundaknya. Membuat Asher tertawa sekaligus gemas. Ditangkapnya tangan itu.
Sentuhan tangan Asher padanya membuat jantung Mita berdetak lebih kencang, sekalipun belum pernah ia merasakan hal itu. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Asher. Ini harus segera di akhiri kontak badan dengan Asher sangat tidak baik untuk kerja jantungnya. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung pikir Mita.
Sebenarnya Mita bukan seseorang yang judes dan pendiam, ia adalah orang yang supel dan mudah bergaul. Tapi karena satu hal membuat dirinya menjadi sosok yang berbeda. Menurutnya ia harus menjauh dan tidak terlibat hubungan yang terlalu jauh dengan Asher. Baginya Asher seperti langit dan dia adalah kerak bumi. Tidak mungkin bisa di satukan bahkan sebagai teman sekalipun.
Mita hanya ingin hidupnya tenang dan datar-datar saja, makanya ia tidak mau berteman dengan siapapun hanya Cika teman satu kampusnya karena mereka memang satu tempat kost, mau tidak mau ia akan sering bertemu dengan Cika. Cita-citanya juga tidak muluk, ia ingin segera lulus dan menjadi guru sekolah dasar di kampung halamannya.
Asher merasa lengannya begitu pegal karena sudah mengendara lebih dari tiga jam. Sepanjang perjalanan hanya Asher yang berbicara sedangkan Mita hanya menanggapi segala pertanyaan Asher seperlunya saja, singkat padat dan jelas. Yang Asher tidak habis pikir, saat ia bertanya, "apakah masih jauh?"
"Sebentar lagi." Selalu begitu jawaban Mita. Sampai rasanya ia ingin melambaikan tangannya ke depan kamera.
Kini mereka sudah keluar dari kota dan masuk ke sebuah desa. Jalannya juga tak semulus pipi opa korea. Cenderung banyak halang rintang, aspal tapi sudah terkikis hingga tinggal kerikil dan batu-batunya saja.
"Jauh juga tempat tinggal nenekmu?" Asher menggerakkan satu lengannya agar tidak kebas.
"Tidak juga, masih jauh LA."
Asher hanya menanggapinya dengan senyum garing.
Bersambung.....
Ternyata menulis itu butuh mood yang bagus, kalau pas lagi males di paksa, bisa seharian itu tulisan gak kelar-kelar, kalo pikiran tenang ide bisa langsung muncul kayak iklan di televisi. salut banget sama author yang novelnya udah banyak, kadang rasanya mau aku tamatin aja ni tulisan kalo pas gak muncul tu ide...tapi ya sayang juga. karena poin-poin tiap episode udah ada, tinggal di buat gambaran ceritanya aja. Like, koment dan vote kalian termasuk dalam pembentukan mood aku...👍
__ADS_1