Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Siapakah Mr.A?


__ADS_3

David duduk sambil melipat kedua tangannya di dada menatap tajam ke arah dua pasang sejoli yang duduk di hadapannya seolah sedang mengadili mereka.


Terdakwa perempuan yang duduk di hadapannya hanya menunduk, seolah benar-benar menyesal dan merasa bersalah. Berbeda dengan terdakwa laki-laki yang duduk di samping si perempuan. Ia duduk biasa saja bahkan tumpang kaki sambil bersandar di sofa dengan wajah tanpa dosa.


David menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Gue benar-benar gak nyangka sama perbuatan kalian. Di luarnya aja polos dalemnya sama-sama bobrok!"


BRAK!


"Eh... copot!... Copot! Ngapain sih loe? bikin jantung gue Copot aja!" David sampai berjengit sambil mengelus dadanya yang berdebar.


Alan langsung berdiri setelah menggebrak meja. "Brengsek! Apa maksudmu!" Telunjuknya menunjukkan tepat di depan wajah David yang masih mengusab dadanya.


"Ngaku aja! Kalian berselingkuh di belakang Ezra kan? Dan Aya pasti tadi malam menginap di sini. Bisa aku tebak kalian habis begituan tadi malam."


"Begituan gimana?" Tanya Alan polos.


"Ya begituan!... maksudku berhubungan badan, melakukan sex begitu?"


"Ngomong sembarangan lagi! Aku potong itu mulut!" Alan langsung melayangkan pukulan dikepala David hingga dia mengaduh.


"Lha trus ngapain cowok cewek bermalam bersama kalau gak begituan?"


"Itu sih kau! Kita tadi malam sebatas ngobrol. Lagi pula aku tidur di sofa sedangkan dia di ranjang." Jelas Alan. Aya langsung menoleh menatap Alan, alisnya sudah bertautan tanda dia berfikir keras.


"Pantas saja, aku merasa tidak ada yang memelukku tadi malam. Ternyata setelah aku tidur dia pindah." Batin Aya.


David mendengus kesal, karena tidak bisa mengelak. "Eh... sekarang bukan itu masalahnya. Lo berdua harus jelasin ke gue sejak kapan kalian ngelakuin ini? Berselingkuh di belakang Ezra. Jahat banget loe berdua hah?!."


"Bisa diem gak?! Kapan aku jelasinnya kalau kau ngoceh terus kayak Emak-emak!"


David menarik bibirnya seolah sedang menarik resleting yang ada di mulutnya. Akhirnya Alan menjelaskan semuanya. Dan tidak ada yang ditutup-tutupi.


David menatap Aya kemudian beralih menatap Alan setelahnya menghembuskan nafas berat. "Kalau kayak gini gue jadi kasian sama Ezra. Lo beneran mau balikan sama Niel...eh maksud gue Alan? Gak pengen gitu nerusin hubungan lo sama Ezra aja. Gue dengar-dengar dia udah ngelamar Lo?"


"Belum sempat aku terima Kak, keburu aku lihat Alan, dan akhirnya ya sekarang ini."


"Tapi Ezra itu baik loh. Lo gak nyesel ninggalin dia? Jangan kemakan rayuan Alan, dia itu cuma manis di mulut aslinya mah PAHIT!" David melirik Alan sekilas dengan seyum menyeringai.


"Ngomong apa kau?! Enak saja. Aku udah bilang sama dia. Buat tetep sama Ezra tapi dia nya kekeh gak mau."


"Gak percaya gue!"


"Bener yang Alan katakan Kak David. Sejujurnya dari awal memang aku tidak mencintai Ezra. Aku cuma merasa punya hutang budi padanya. Dan perlu seseorang untuk membantuku melupakan Alan yang aku kira sudah tidak ada. Aku memang jahat sekali ya Kak? Tapi aku benar-benar gak bisa jauh dari Alan." Aya langsung memeluk Alan yang duduk di sampingnya.


David memutar bola matanya jengah saat melihat kemesraan dua pasang sejoli di hadapannya. "Ya sudahlah! Kalian memang tidak salah. Takdir yang salah mempermainkan kalian."


"Jangan menyalahkan takdir! Memang harusnya jalan kita seperti ini."


"Iya...iya...terserah Lo aja. Lo memang selalu benar, dan gue salah! Puas lo.?!"


"Baru sadar ya?"


"Untung sahabat. Kalau bukan gue buang lo kejurang." Batin David.


***


Aya sedang diam melamun di bawah pohon. Sambil menunggu Ezra yang katanya akan menjemputnya. Hingga cubitan di hidungnya menyadarkan dia dan membuatnya menoleh.



"Hey! Ngelamunin apa? Entar kesambet loh."


Aya tersenyum memandang si pelaku yang tak lain Alan.


"Gak apa-apa. Aku gak lagi ngelamun kok." Aya melemparkan senyumannya lagi walaupun terkesan terpaksa.


Alan ikut duduk di samping Aya pandangannya menatap lurus ke depan. "Tawaranku masih berlaku. Bila kamu berubah pikiran dan memilih untuk bersama Ezra aku gak apa-apa. Yang terpenting untukku sekarang adalah kebahagianmu." Aya menoleh menatap Alan tidak percaya bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Menyadari betapa Alan tulus mencintainya.


"Aku yakin kau akan mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depanmu sendiri. Entah itu bersamaku atau tidak. Aku menghargai keputusanmu." Sambung Alan masih belum mengalihkan pandangannya.


Aya mengambil tangan Alan dan menautkan jari mereka hingga membuat Alan langsung menoleh. "Keputusanku tidak akan pernah berubah Al. Aku hanya bingung bagaimana nanti aku menyampaikannya pada Ezra."

__ADS_1


Alan membelai rambut Aya. "Bilang saja padanya yang sejujurnya jangan ada yang ditutupi. Aku yakin dia pasti mengerti."


Kini kepala Aya bersandar di pundak Alan. Hingga suara ponsel Aya membuat kemesraan mereka terusik.


"Hallo Zra? Kamu sudah sampai?"


"....."


"Oh gitu. Iya gak apa-apa. Kapan kamu balik?"


"......"


"Titip salam sama Om Kevin. Semoga lekas sembuh." Aya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi.


"Udah di jemput Ezra?" Tanya Alan.


"Dia gak bisa jemput karena harus terbang ke Jakarta hari ini. Katanya Ayahnya sedang kurang sehat. Baru akan balik ke sini satu Minggu lagi." Ada raut kesedihan dari wajah Aya.


"Kenapa sedih? Udah kangen sama Ezra? Baru juga ditinggal seminggu udah kangen."


"Iisshh...bukan gitu Al. Kamu salah paham. Maksud aku kalau dia gak balik-balik ke sini gimana aku ngomong tentang hubungan kita." Aya tampak khawatir karena Alan membuang muka.


Tiba-tiba Alan menoleh dan langsung mengacak-acak rambut Aya, "Aku hanya bercanda sayang." Alan tertawa saat melihat bibir Aya yang sudah mengerucut.


"Al, aku nginep di apartemennya kamu lagi ya?" Mata Aya mengerjab dengan raut wajah memohon menatap Alan.


"Gimana ya?" Alan menyentuh dagunya tampak berfikir.


"Ayolah sayang." Aya menggoyangkan lengan Alan.


"Iya...iya, apa sih yang gak buat cahaya hatiku ini." Alan mencubit hidung Aya gemas.


"Baiklah kalau begitu. Aku memutuskan untuk selama seminggu ini tinggal di apartementmu." Aya mengangkat tangannya ke atas tanda senang.


"Eh gak bisa gitu Ay, tiga hari lagi aku harus balik ke J****."


"Kenapa?" Alis Aya bertautan.


"Beneran?...gak nyangka banget Anisa bisa secepat ini nikah sama Romi." Terlihat wajah Aya yang senang.


"Bukan sama Romi tapi.. Arkhan."


"APA!!" Pekik Aya.


Alan sampai mengusab-ngusab telinganya karena teriakan Aya tepat di telinganya. "Ceritanya panjang! Nanti aja aku ceritakan."


"Terus-terus Romi bagaimana Al? Kan kasian." Aya menarik-narik tangan Alan tidak sabaran.


"Tenang saja dia sudah ada penggantinya. Nanti kamu juga tahu sendiri."


"Tiga hari lagi itu tanggal berapa Al?"


"Tanggal dua belas. Kenapa?"


"Oke! Kalau begitu aku ikut kamu pulang. Soalnya kebetulan tanggal empat belas Papa ulang tahun."


"Baiklah."


Akhirnya mereka bergandengan tangan menuju mobil Alan yang diparkir tak jauh dari gerbang universitas. Sepanjang perjalanan banyak mahasiswi yang menggoda Alan. Tentu saja karena dia terkenal dengan wajahnya yang tampan, otaknya yang cerdas, sifatnya yang dingin dan sulit untuk di dekati hingga malah membuat banyak wanita penasaran dan kagum. Ketenaran Alan tidak bisa diragukan lagi.


*"Hay Niel? Bagaimana kabarmu? Makin cakep aja."


*"Yuk tidur sama aku aja nanti malam Niel."


*"Cakepan juga aku. Daripada cewek itu."


*"Niel aku rela jadi selingkuhanmu."


(Anggap saja mereka ngomong pakai bahasa Inggris ya?)


Dan masih banyak cibiran juga godaan hingga membuat kuping Aya makin panas.

__ADS_1


Alan hanya tersenyum melihat tingkah Aya yang sekarang dari pegangan tangan menjadi merangkul lengannya posesif.


"Udah tidak usah di dengar." Bisik Alan.


***


Jakarta


"Wajahmu kenapa di tekut seperti itu Khiel?" Tanya Jonathan saat melihat putranya pulang dari kantor dengan baju juga rambut acak-acakan. Tidak seperti biasanya.


"Kita kalah tender lagi Pa...ini sudah yang ke tiga kalinya. Dan itu semua proyek besar." Sakhiel menjatuhkan dirinya di sofa.


Tampak raut wajah Jonathan yang terkejut. "Bagaimana bisa?! Perusahaan mana yang berani melawan perusahaan kita?"


"Perusahaan yang sama..... 'A Light Incorporated'."


"Berani sekali mereka. Cepat cari kelemahan mereka kemudian hancurkan!"


"Tanpa Papa suruh sudah Shakiel lakukan! Tapi sulit sekali Pa. Perusahaan itu sungguh kuat seperti tidak ada kelamahan bahkan celah kecil sekalipun! Dan memang aku akui proposal yang mereka ajukan sangat menarik dan menguntungkan."


"Benarkah? Siapa pemilik perusahaan itu?"


"Yang aku dengar dia masih muda dan belum menikah. Orang memanggilnya dengan sebutan Mr.A ,Dia sulit sekali di temui. Bisa dibilang dia bekerja di balik layar. Dan yang menjalankan perusahaannya adalah pamannya."


"Informasi macam apa itu?!" Jonathan menatap Putranya tajam.


"Maaf sekali Pa, hanya itu yang Shakiel dapatkan. Kan sudah Shakiel bilang kalau sulit sekali mencari informasi tentang perusahaan itu....oh iya! Shakiel baru ingat kalau perusahaan itu berpusat di J****. Dan yang di Jakarta hanya cabangnya saja tapi sudah sangat berkembang pesat."


"Perlahan-lahan kita juga harus bekerja sama dengan perusahaan itu. Bila kita tidak bisa menghancurkannya setidaknya buat mereka menguntungkan untuk kita." Seyum menyeringai tercetak di bibir Jonathan.


"Tapi Pa__"


Suara langkah kaki seseorang membuat Shakiel tidak jadi meneruskan ucapannya.


"Oh... calon menantuku datang! Bagaimana kabarmu Nak? Aya tidak ikut pulang?" Jonathan merangkul Ezra.


"Tidak Om. Soalnya Ezra juga mendadak sekali pulangnya."


"Kenapa? Ada pekerjaan di sini?"


"Biasa Om, Papa. Berlagak bilang sakit padahal cuma pengen Ezra jenguk dia."


"Namanya juga orang tua, pasti Kevin kangen sama putra satu-satunya. Lagipula sejak ada Aya kamu juga jarang pulang kan?"


Ezra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh...iya Om, Ezra mau bilang kalau Aya sudah ingat semuanya."


"Apa maksudmu?!" Jonathan tampak sangat terkejut.


"Kemarin lewat telepon Aya bilang kalau ingatannya sudah kembali sepenuhnya. Itu artinya ingat Aya Tiga bulan kebelakang sebelum terjadinya kecelakaan. Dia sudah ingat semuanya."


Jonathan dan Shakiel saling pandang dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Apa lagi yang sudah dia katakan?"


"Hanya itu saja. Sebenarnya kemarin rencananya habis pulang kuliah Yaya mau bilang sesuatu pada Ezra. Tapi keburu Ezra terbang ke sini Om."


Jonathan tampak menghembuskan nafas lega.


Ezra mengambil kartu nama perusahaan yang tergeletak di meja. "Om lagi menjalin kerjasama dengan perusahaan ini?"


Pertanyaan Ezra membuat ayah dan anak itu mengalihkan perhatiannya. "Masih rencana. Karena sulit sekali untuk menemuhi pemilik perusahaan itu."


"Kebetulan sekali aku kenal dengan pemilik perusahaan ini. Dia pasien sekaligus sahabatku. Aku bisa memperkenalkannya dengan Om kalau mau." Tawar Ezra.


"Tentu saja Om mau!" Jonathan tampak berbinar senang. "Bagaimana kalau kau mengundangnya di acara pertunangan mu dengan Aya."


"Maksud Om?"


Bersambung.....


Maaf baru up kemaren ngetiknya masih kurang panjang. jadi berlanjut hari ini maklum otak author slow respon.. hehehe. jangan lupa like koment dan vote ya??...tapi sebelum vote update aplikasi Novel toon/manga toon punya kamu terlebih dulu okeh?... macacihhhhh

__ADS_1


__ADS_2