
Alan hendak mengejar Aya tapi langsung di cegah Ima, "Kak Alan mau kemana?"
"Aku udah bilang ke kamu dengan jelas ya! kalau aku gak cinta sama kamu!.... hubungan kita sudah selesai Ma!" Ujar Alan sedikit meninggikan suaranya. Rasanya kepalanya sudah mau pecah saja. Belum hilang keterkejutan Saat Ima tiba-tiba menciumnya dan sekarang Aya malah memergokinya.
Alan menghiraukan panggilan Ima, ia mencoba mengejar Aya.
Brak!
Aya menutup pintu mobil dengan sangat keras.
"Hey!....calm down Aya! bisa rusak pintu__"
"Sher cepetan jalan!" Sentak Aya, Asher bisa melihat dengan jelas, Aya sedang menangis.
"Nunggu ... Mita sebentar." Sahut Asher bersamaan dengan Mita yang baru masuk ke dalam mobil.
Mobil sport itu langsung melesat. Asher bisa melihat dari sepion mobilnya, Alan yang berusaha mengejar mobilnya.
"Sial!" Umpat Alan sambil mengacak-acak rambutnya karena tidak berhasil mengejar Aya. Ia langsung menuju mobilnya dan berusaha menyusul mobil sport berwarna merah itu.
Sambil mengendalikan laju mobilnya Alan terus saja mengumpat karena dia kehilangan jejak mobil yang Asher kendarai. Tentu saja karena mobilnya kalah cepat dengan mobil bertenaga kuda itu. Tujuannya kini hanya satu tempat kost Aya, Semoga dia ada di sana.
Flashback on
Entah kenapa hati Ima merasa gelisah setelah Aya selesai menyanyikan lagu berjudul Cinta dan Rahasia, ia merasa lagu itu secara tidak langsung ditujukan padanya.
Untuk memastikan kecurigaannya dia memfokuskan perhatian pada interaksi Aya dan Alan, dia tidak akan melewatkan hal sekecil apapun. Dari mulai gelagat Aya saat ditanya Nando sampai di tanya Alan, semuanya tidak luput dari perhatiannya.
Ima baru sadar sedari tadi Alan terus saja memperhatikan Aya. Matanya tidak pernah sekalipun melihat padanya. Walaupun saat tadi tangan Alan sempat ia genggam tapi mata itu tidak sekalipun menatap padanya.
Tiba-tiba Ima merasa iri walaupun kerap kali didepannya Aya dan Alan selalu bertengkar bahkan terlihat tidak akur, tapi mereka masih bisa saling bicara. Tidak sepertinya, sekalipun Alan tidak pernah mengajaknya berbicara, bila ima bertanya hanya dijawabnya dengan singkat.
Diperhatikannya terus Alan, sesekali ia tertawa mendengar candaan Aya. Belum pernah Ima melihat senyum Alan yang seperti itu. Apakah dirinya harus menjadi sosok yang ceria dan suka bercanda seperti Aya agar Alan lebih memperhatikannya.
Walaupun banyak perbedaan diantara dia dan Alan, Ima sangat bersyukur ada satu hal yang sama, mereka sama-sama tidak menyukai Drama Korea. Berbanding terbalik dengan Aya yang sangat menggilainya. Ada sedikit rasa lega saat Aya berniat mencari pacar yang mempunyai hobi yang sama dengannya pecinta Drakor. Ima berfikir mungkin ia sudah salah sangka pada Aya begitu pikirnya.
Belum juga ia benar-benar tenang hingga dia dikejutkan oleh lagu yang Alan bawakan. Lagu dengan bahasa Korea. Seolah Alan ingin mengatakan kalau dia juga pecinta Drama sama seperti Aya.
Kecurigaannya makin kuat saat Alan menyanyikan lirik lagu terakhirnya, Alan tersenyum sambil menatap Aya dengan penuh cinta dan berkata 'I love u'.
Sesaat sebelum Alan benar-benar turun panggung. Ima segera menghampirinya.
"Al aku pengen ngomong sesuatu yang penting!"
Alan mengeryit, "Baiklah aku juga ingin mengatakan sesuatu."
Mereka memilih sebuah ruangan kecil yang ada di dekat toilet.
__ADS_1
"Kamu duluan?" Ujar Alan.
"Aku mau tanya.... Apa sebenarnya kamu lebih menyukai Raisha dari pada aku?" Ima sedikit bergetar saat mengucapkannya.
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu, dari awal aku memang sudah menyukainya...menyukai Aya." jawabnya datar.
"Tapi kenapa haru selalu dia?!.... kenapa tidak aku? nama kita sama!... please beri aku kesempatan?" Tiba-tiba Ima histeris kemudian menangis seolah mengiba.
Perlahan Alan melepaskan genggaman tangan Ima. "Tidak bisa, Perasaan itu tidak bisa dipaksakan....maaf hubungan kita sampai disini saja."
Alan hendak pergi tapi lagi-lagi tangannya di tahan, "Tolong dengarkan aku sebentar." Pintanya.
Alan menghembuskan nafas berat. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk pergi dan mendengarkan apa yang akan Ima katakan padanya.
"Apakah kamu tahu?..... Dari kecil kasih sayang orang tuaku sudah Aya rebut!...aku diharuskan untuk berteman dengannya, aku tidak bisa berteman dengan anak-anak lain. Hanya karena orang tua Aya yang sudah banyak membantu keluargaku.... Apa kamu tahu, sebenarnya aku Muak berteman dengannya, kamu tahu alasan kenapa sampai sekarang aku belum punya pacar?...itu semua gara-gara dia!... dia merebut lelaki yang aku sukai.... sampai aku juga muak dengan yang namanya laki-laki, mereka mendekatiku hanya karena mau mengenal dan mencari tahu tentang Aya. Mereka memintaku untuk membantu mendekatinya, dan sekarang dia merebutmu dariku....Aku benci Aya!...aku benci!" Teriak Ima histeris. Nafasnya memburu seolah meluapkan semua perasaan yang selama ini dia pendam.
Alan mengerutkan keningnya dalam kemudian menepis tangan Ima dengan kasar. "Sudah cukup omong kosongmu!" Sentak Alan.
"Tunggu Al!...tunggu." Ima berhasil menahan Alan lagi.
"Aya tidak sebaik yang kamu pikirkan, dia itu banyak menyimpan kebohongan....asal kamu tahu dia sudah menipumu, dia menyamar sebagai__"
"Cukup!....aku sudah tahu semuanya, dia sendiri yang menceritakannya padaku." Alan menyela.
"Tidak Mungkin!" Ima menggeleng kuat tidak percaya. Sesaat Ima seperti melihat sosok Aya, buru-buru ia menarik tengkuk Alan dan langsung menciumnya.
Alan bisa melihat dengan jelas senyum licik yang kini ditunjukkan Ima. Hingga suara benda terguling membuatnya menoleh.
"Apakah itu Aya.. apakah dia mendengar dan melihat semuanya?" Batin Alan. Hingga memori seringai licik Ima membuat dia menyadari sesuatu. Pasti wanita itu sengaja menciumnya saat tau Aya ada di sana.
Perkiraannya benar saat tiba-tiba Aya berlari begitu saja.
Flashback end
Alan sudah sampai di dekat kost-kostan Aya. Tampaknya penghuninya sudah tidur. Dari tadi ia mencoba menghubungi Aya tapi nomernya tidak aktif. Dia tidak bisa menunggu sampai besok, harus malam ini juga dia meluruskan kesalah pahaman, kalau tidak dia tidak akan bisa tenang. Atau bahkan tidak bisa tidur, akhirnya dia menghubungi Nando meminta bantuannya untuk menghubungi pacarnya dan menyampaikan pada Aya kalau dia menunggunya di depan kost.
Tapi Nando bilang malam ini Aya tidak pulang ke tempat kost. Dia menginap di apartemen saudara kembarnya.
"Shit!" Alan tak henti-hentinya mengumpat.
Dan sekarang disinilah dia. Kembali ke Cafe milik Nando yang sebenarnya sudah tutup tapi bukan Alan namanya kalau tidak memaksakan kehendak.
"Sudah cukup Al, kamu udah mabuk!" Nando mencoba menjauhkan minuman keras dari tangan Alan.
Memang sebelumnya Alan datang dengan keadaan kacau sambil membawa bungkus kresek yang isinya minuman keras. Entahlah Nando tidak tau Alan dapat itu dari mana.
Alan berhasil membuka minumannya lagi dan meneguknya. "Sialan tu cewek, benar-benar sialan!" Rancaunya. Alan sudah benar-benar mabuk.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud Al?" Tanya Nando.
"Siapa lagi kalau bukan Ima... cewek bermuka dua!....Tampangnya aja sok alim, kelakuannya busuk!" Alan masih merancau tidak jelas.
Nando masih bingung, ima siapa yang dimaksud.
"Aku masih gak ngerti." Nando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal masih mencoba menahan Alan untuk minum.
Alan berdecak kesal, "Cewek yang duduk di sebelahku.... yang ngaku-ngaku jadi pacarku!....'aku gak suka nonton Drakor kok kak'.." Alan menirukan ucapan Ima yang malu-malu kemudian dia tertawa sarkas.
Nando langsung bisa menyimpulkan kalau mungkin Alan sedang bertengkar dengan pacarnya. Tapi ia penasaran kenapa Alan malah mencari Raisha begitu pikirnya.
"Terus ngapain tadi kamu cari Raisha?"
"Dia itu sebenarnya Aya yang asli dan yang jadi pacarku itu sebenarnya Ima bukan Aya, yang aku cintai itu Aya... kamu tahu tidak!!" Teriak Alan sambil menggoyang-goyangkan pundak Nando yang ia cengkeram.
Nando makin pusing, yang mana Aya, yang mana Ima dan yang mana Raisha. Hingga kedatangan Romi membuat dirinya bisa bernafas lega. Bingung rasanya kalau harus mengurusi orang yang sedang mabuk apalagi Alan. Tidak mabuk saja menyusahkan apalagi kalau mabuk.
"Kenapa dia?" Tanya Romi. Nando mengedikkan bahu acuh.
"Eh...ada Romi, sini dulu Bro!" Alan menarik bahu Romi untuk duduk di sampingnya.
"Ingat baik-baik bro!... Aya itu punyaku, walaupun kamu yang lebih dulu tahu kalau Ashe___tu...dhiha." Buru-buru Romi membekap mulut Alan hingga walaupun dia terus saja mengoceh, Nando tidak mendengar dengan jelas ucapannya.
"Biar dia aku bawa pulang!" Romi langsung memapah Alan yang sudah hampir tepar.
"Kamu mau anter dia pulang Rom?" Nando membantu memapah Alan menuju mobil.
"Gila!... Ya gak lah, biar dia tidur di apartemen ku dulu, besok baru aku suruh pulang....aku kasian sama Tante Anita kalau sampai lihat Alan dalam keadaan kayak gini."
Sepanjang perjalanan, Alan terus saja mengoceh tidak jelas. Untungnya Alan ada di kursi belakang kalau tidak pasti sangat menggangu bisa-bisa Romi tidak sampai rumah.
Seperti contohnya sekarang, "Hey... Rom, pernah gak kamu diapaksa nyium cewek?...aku kasih tau ya, rasanya itu tidak enak!... apalagi bibir si Ima itu, tau gak rasanya gimana?...PAHIT bro!" Alan menekankan kata pahit.
"Mendingan obat pahit tapi bisa mengobati, kalo dia...Pahitnya Nyakiti..!" Romi hanya bisa geleng-geleng melihat keadaan temannya sekarang, sebenarnya apa yang terjadi pada Alan sampai-sampai bisa seperti ini.
Selama dia mengenal Alan baru kali ini dia melihat Alan mabuk, terakhir kalia saat dia SMA dan itupun sudah lama, sejak punya hubungan dengan Lila Alan tidak pernah mabuk sekalipun, bahkan saat putus dengan Lila.
"Bro....aku kangen banget bibir manis itu."
"Ini bibir siap lagi yang dia bicarakan?" Gumam Romi.
"Bibir Aya itu sangat manis Bro, sekalipun pake kumis...satu,dua,tiga, empat, Lima...aku udah nyium dia Lima kali Bro, yang empat kali pake kumis yang satu gak pake kumis, Gila!...candu banget Bro, hehehehe.. sampe bibir dia bengkak." Rancau Alan lagi, tangannya menghitung seperti anak TK.
"Sialan!" Batin Romi, kalau saja Alan tidak dalam keadaan mabuk pasti sudah Romi tendang dari mobil, bisa-bisanya dia pamer dalam keadaan seperti ini. Membuat dia iri saja.
Bersambung.....
__ADS_1
Please jangan hujat Alan ya, Alan itu kalau udah jatuh cinta setia banget, gak akan menyakiti pasangannya. Yang minta Aya disandingkan sama cowok lain nanti ada saatnya kok, tapi gak sekarang... Aya itu orangnya juga setia banget dari kecil sampai sekarang dia cuma setia sama satu orang, sosok Penolong yang tidak lain adalah Alan....aku senang banget kalian mengapresiasi tulisanku, liat banyak yang komen langsung semangat buat nulis...jadi jangan bosan-bosan buat Like, Komentar dan Vote ya?.. macacihhhhh