
Sudah hampir satu Minggu berlalu hari-hari Aya semakin buruk, setiap hari dirinya terkena hukuman dari Alan dan teman-temannya, dia bingung sebenarnya apa yang salah denganya kenapa harus terkena hukuman setiap hari dengan alasan yang menurutnya sangat mengada-ada. Bahkan Alan pun secara terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaannya pada dirinya. Hingga banyak teman se angkatnya ikutan tidak menyukai Aya terutama para mahasiswi, tapi syukur masih ada Citra dan Amanda yang selalu disisinya terus memberikan semangat.
Dan disinilah tempat Aya sekarang berada di toilet pria. Dia sudah berusaha menolak, ia lebih memilih membersihkan halaman, pust up ataupun berlari mengelilingi lapangan seperti hari-hari sebelumnya. Tapi sepertinya mereka sengaja menghukumnya membersihkan toilet Pria karena mereka tau Aya tidak menyukainya.
Dia berdiam diri di salah satu bilik toilet, sambil sesekali mengintip dari bawah pintu menunggu toilet itu benar-benar kosong. Dan baru akan keluar untuk membersihkannya.
"Sialan si manusia salju itu, dia pasti sengaja menghukumku melakukan ini," gumamnya pelan.
"Aku tidak mau mataku ini ternoda dengan pemandangan yang menjijikkan."
Saat dikiranya sudah tidak ada orang dengan cepat ia langsung membersihkan toilet itu. Saat sedang beranjak pergi dilihatnya Alan and the Genk masuk kedalam toilet.
"Ngapain kakak ada di sini?" Tanya Aya dengan perasaan gelisah berdiri di depan pintu keluar.
"Kita mau ngecek kerjaanmu beres apa gak!." Ujar Nando berlalu kemudian satu persatu melihat bilik di toilet mengecek pekerjaan Aya.
Seketika ada perasaan lega, Aya kira mereka akan buang angin kecil begitu pikirannya. Dengan masih berdiri membelakangi Alan and the Genk.
"Hey kamu....ke sini!" Ujar Nando.
Dan saat Aya berbalik hal yang tidak seharusnya Aya lihat tampak begitu jelas di matanya. Dilihatnya Alan sedang buang air kecil. Seketika Aya langsung berteriak dengan keras.
"Aaaaaa....!" Aya langsung berlari keluar meninggalkan peralatan pembersih tergeletak begitu saja.
"Dia kenapa?" Tanya Nando.
"Mungkin dia tidak pernah ihat orang kenc*ng?" Jawab Alan santai sambil menutup resletingnya.
"Tapi kenapa teriakannya seperti perempuan" Sahut Romi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nando dan Alan hanya mengangkat kedua bahunya.
***
Dibelakang gedung kampus, Aya sedang mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Merutuki dirinya yang sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
"Apa itu tadi? Kenapa begitu besar dan panjang?" Gumamnya "tidak-tidak bukan itu!!" Menggelengkan kepala bergidik dengan apa barusan ia pikirkan kemudian memukul-mukul kepalanya berusaha menyandarkan pikirannya.
"Bahkan aku tidak pernah melihat milik Asher sekalipun! Kenapa harus melihat mikinya?"
"Aku sudah tidak tahan lagi! Aku harus melaporkan ketidak Adilan ini!" teriak Aya.
"Awas saja kau manusia salju!" Ujar Aya menggebu-gebu.
Dan di sinilah Aya berada tepat di depan pintu ruangan Rektor. Aya mengetuk pintu kemudian masuk.
"Silahkan duduk," ucap pria paruh baya yang menjabat sebagai rektor di kampus.
Setelah duduk, Aya langsung mengungkapkan tujuannya. Menjelaskan secara rinci Apa yang sudah di lakukan Alan dan teman-temannya terhadap dirinya selama masa Ospek yang menurutnya sangat tidak adil. Pria paruh baya itu menatap dan menyimaknya Secara serius.
"Baiklah... Saya sudah mendengarkan keluhan kamu, jadi apa yang kamu inginkan dari saya?" Tanya rektor.
__ADS_1
"Tentu saja saya ingin anda menghukumnya!" sahut Aya.
Pria paruh baya itu menghela nafas berat lalu menatap Aya kemudian berucap "Saya selaku orang tua Alan, meminta maaf atas namanya."
Jawaban Pria paruh baya yang ternyata bernama Suhendra ini sontak membuat Aya membelalakkan matanya tak percaya. "Oh...jadi kalau dia itu Anak bapak, bapak lantas lepas tangan?"
"Bukan begitu maksud saya, karena saya percaya Alan melakukan itu pasti ada alasannya, mungkin karena memang kamu yang salah."
"Ow ...jadi maksud bapak semunya salah saya? Salah saya karena sudah diperlakukan tidak adil, salah saya karena diam saja, salah saya karena sudah dihukum tanpa ada alasan yang mendasarinya." Ujar Aya tidak terima sambil menatap tajam ke arah Suhendra.
"Sudahlah tidak usah di permasalahkan lagi! anggap saja ini tidak pernah terjadi!" Suhendra tidak menghiraukan perkataan Aya.
"Itu sama saja Anda, mendukung tindakan pembullyan!" Teriak Aya.
"Beraninya kamu membentak saya!" Suhendra meninggikan suaranya menatap tajam ke arah Aya." Apa kamu tidak tau, saya itu rektor di kampus ini!"
Aya mendengus lalu tersenyum sinis, "Dan apa anda tau siapa saya?" Aya mengulurkan tangannya ke arah Suhendra. "Perkenalkan saya Asher Mirza Narendra... Putra Bapak Jonathan Narendra penyandang dana terbesar di kampus ini!" Ujar Aya penuh percaya diri
Sebenarnya ia enggan untuk memanfaatkan kekuasaan sang Papa, tapi melihat kesombongan di mata Suhendra entah keberanian dari mana akhirnya ia melakukannya.
Mendengar itu membuat Suhendra tak percaya, dan langsung menghubungi bagian administrasi untuk memastikannya. Setelah mendapat jawaban dari pihak administrasi kampus. Suhendra langsung meminta maaf pada Aya atas sikapnya dan juga memohon maaf atas perlakuan yang tidak mengenakkan dari sang anak.
"Tenang pak, saya berjanji tidak akan mengadukan ini pada Papa saya, tapi saya ada dua permintaan.... yang pertama hukum anak bapak yang sudah memperlakukan saya dengan buruk dan kedua........."
Dan kini Alan, Nando dan Romi berdiri di dalam ruangan Suhendra.
"Apa benar kamu dan teman-temanmu, sudah menghukum mahasiswa yang bernama Asher tanpa alasan?" Tanya Suhendra menatap Alan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Apa kamu tidak tau siapa dia?!" Ujar Suhendra sedikit meninggikan suaranya.
"Memang siap dia?"
"Dia__" Suhendra langsung mengurungkan niatnya, karena dia ingat permintaan kedua Aya untuk tidak memberitahukan siapa dia sebenarnya.
"Sudahlah...kamu tidak perlu tau siapa dia! Yang perlu kamu tahu, kamu dan teman-temanmu saya skorsing selama dua hari!"
Sontak Nando dan Romi membelalakkan matanya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Dengan susah payah Nando menelan Salivanya.
"Meraka tidak salah, jadi jangan skorsing mereka ...biar aku yang bertanggungjawab." Ujar Alan.
Romi dan Nando hanya bisa diam dan memandang Alan.
"Oke, jadi masa skorsing kamu akan ditambah dengan meraka jadi enam hari dan inget......jangan ganggu anak yang bernama Asher!" Jelas Suhendra menatap tajam putranya Alan dan kedua temannya.
"Gila...tu kumis lele, beraninya ngadu ke Papamu Al!" Ucap Nando saat mereka sudah duduk di kantin.
"Dia bukan Papaku... dia rektor di sini." Sahut Alan dengan tatapan kosong.
"Aku penasaran, siap sih sebenarnya si kumis lele itu, sampe bisa bikin Papamu sampe skorsing kamu Al, apa jangan-jangan dia.....???" Nando tampak berfikir keras.
"Dia siapa Nan??" Romi pemasaran mendekatkan telinganya
__ADS_1
"Jangan-jangan dia...... anak dari istri lainnya Papamu!" Sahut Nando cepat. Dan langsung mendapat pokulan di kepalanya dari Romi.
"Bicara apa kamu!" Sahut Romi.
Alan hanya menatap kosong, tanpa mempedulikan kedua temannya yang sedang berdebat.
"Eh....ada anak rektor di sini, pantas saja bisa kepilih jadi presiden BEM, ternyata memanfaatkan kekuasaan ayahnya ya?" Tiba-tiba Aya menyahut saat melewati meja Alan.
Alan diam tidak bergeming, satu tangan yang ada di bawah meja sudah mengepal menahan amarahnya.
"Gue gak habis pikir.....bahkan ayahnya yang seorang rektor, rela merendahkan diri meminta maaf atas nama anaknya yang tidak berguna ini." Sambung Aya lagi.
"Ngomong apa kau!" Bentak Nando yang sudah hampir memukul Aya tapi langsung di tahan Romi.
BUGH!
Aya langsung jatuh tersungkur karena pukulan Alan yang mendarat di pipinya.
Sudut bibir Aya sedikit berdarah.Dan kejadian itu menarik perhatian semua orang yang ada di kantin kampus.
***
"Aduhhh...sakit Kak!" Rengek Aya pada Lila yang sedang mengobati luka di bibirnya.
"Katanya jagoan, begini saja sudah sakit!" Sahut Lila meletakkan salep yang baru di oleskannya.
"Siapa juga yang sok jagoan, aku itu perempuan tulen tau Kak," gerutu Aya sambil mencebikkan bibirnya.
"Hahaha,..." Lila diam sesaat. "Tapi aku gak habis pikir, bagaimana mungkin Alan memukulmu, setahuku Alan tidak mungkin memukul seseorang tanpa Alasan yang kuat."
Aya hanya menaikkan bahunya.
"Memang apa yang kamu katakan padanya?" Tanya Lila.
"Aku hanya bilang dia memanfaatkan ayahnya sebagai rektor untuk bisa jadi presiden BEM, dan aku juga bilang kalau dia anak yang tidak berguna karena membuat ayahnya memohon padaku untuk memaafkannya" jelas Aya.
"Apa! Jadi kamu bilang seperti itu? Pantas saja dia marah, aku saja yang mendengarnya marah padamu." Lila menatap tajam kearah Aya Lalu menghela nafasnya.
Aya hanya bisa mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap Lila.
"Asal kamu tau orang tua Alan itu sudah berpisah sejak dia masih SMP, dan Papanya.....sudah menikah lagi. Dan sejak saat itu juga dia berusaha menghidupi ibu dan adiknya sendirian sampai sekarang. Dan untuk masalah terpilihnya jadi presiden BEM dia memang pantas karena prestasinya, dia salah satu mahasiswa yang cerdas dalam berbagai bidang terutama akademi bahkan dengan kecerdasannya di usia yang cukup muda dia sudah punya perusahaan sendiri walaupun belum terlalu besar." Aya menyimak apa yang diceritakan Lila.
"Dia bahkan tidak pernah menganggap pak Suhendra sebagai ayahnya, dia hanya memandangnya sebagai Seorang rektor." Lila tersenyum getir.
"Jadi aku yang sudah salah menilainya." Gumam Aya lirih. Tiba-tiba Aya langsung teringat ucapannya dulu kepada Cika "Jangan pernah melihat seseorang hanya dari luarnya saja dan jangan menilai seseorang dari apa yang kamu dengar dari orang lain, tapi pahamilah dia, rasakan apa yang dia rasakan, cobalah berada di posisinya."
"Kenapa aku bisa lupa dengan kata-kataku sendiri." Batinnya
Bersambung....
Please yang sudah baca tolong tinggalkan like dan komen ya?
__ADS_1