Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Acara Tahun Baru


__ADS_3

Aya yang sudah waktunya pulang langsung bergegas menuju parkiran, dalam perjalanan ia bertemu dengan Nando, Aya segera melihat sekeliling Nando, memastikan keberadaan seseorang yang selama ini ia hindari. Setelah memastikan hanya ada Nando Aya mengusap dadanya lega.


"Kenapa Sher?" Tanya Nando setelah merangkul pundak Aya.


"Gak papa,...eh kenapa tadi, sorry gue gak denger?" Aya bertanya pada Nando, karena terlalu fokus mencari keberadaan Alan ia tidak memperhatikan ucapan lelaki yang merangkul pundaknya itu.


"Kamu ikut kan, acara barbeque di tempat pacarku besok malem?" Ternyata itu yang ditanyakan Nando.


"Gue kan untuk bilang, kalau gue gak ikut!" Aya melepaskan rangkulan Nando dan pergi ke tempat motornya di parkir.


"Beneran gak mau?!...ada Alan Juga lho Sher!" Teriak Nando karena Aya sudah menjauh. Aya hanya melambaikan tangannya menolak tawaran Nando.


***


Seorang gadis dengan penampilan tomboy , celana jeans dan kemeja melekat di tubuhnya, rambut panjangnya ia ikat asal, tengah berjalan di koridor sebuah rumah sakit, di tangan kanan dan kirinya sudah tertenteng plastik besar. Gadis itu adalah Aya, Ia tengah menuju ruang rawat inap Anisa tentu setelah mendapat info dari Romi kalau mereka sudah berangkat ke tempat di adakannya acara tahun baru.


Sebelum masuk Aya mengetuk pintu terlebih dulu. Terdengar suara pintu terbuka, Aya langsung disambut senyum ima.


"Masuk Ay.." Ima segera mengambil plastik bawaan Aya.


"Gimana keadaan mu?" Setelah ia duduk di kursi samping ranjang Anisa.


"Alhamdulillah lumayan baik Kak....ngrepotin banget pake bawain makanan segala." Anisa menoleh melihat makanan yang di bawa Aya, ima mengeluarkan isi makanan yang ada dalam plastik,ada beberapa minuman ringan, Snack, pizza, burger dan ada juga kentang goreng. Rasanya air liur Anisa sudah mau menetes.


"Kak Raisha tau banget makanan yang aku suka,... kebetulan aku sudah bosan dengan makanan rumah sakit." Anisa beranjak menurunkan kakinya.


"Eitsss,....bentar dulu." Aya menahan pundak Anisa. Dia mengambil tempat makan berbentuk bulat seperti mangkuk yang ia bawa.


"Makanan yang itu bukan untuk kamu, ...lha yang ini baru untuk kamu." Aya menyodorkan bubur yang ia bawa.


Anisa langsung cemberut, Aya menyodorkan satu suap bubur di depan mulut Anisa, "Coba dulu dijamin gak beracun." Aya terkekeh sendiri.


Satu suapan masuk ke dalam mulut Anisa, ekspresinya berubah cerah, "Enak Kak!" Aya menanggapinya dengan tersenyum. Akhirnya satu mangkok bubur dengan cepat ludes habis tak tersisa.


"Panggil aja Raisha!"


"Beli buburnya di mana?" Tanya Anisa setelah meletakkan minumnya.


"Dia bikin sendiri Nis." Sahut Ima yang sedang duduk sambil menikmati pizza di tangannya. Aya hanya membalasnya dengan senyuman.


"Dia itu pandai dalam berbagai hal, termasuk memasak, soalnya dari kecil hingga dewasa hidupnya cuma di isi belajar, Les private dan kursus, jadi masak bubur kayak gitu sih gampang....." Anisa tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Hingga tatapan tajam Aya membuatnya langsung tersedak. "Sorry" lirihnya.


"Maksudnya?" Anisa menatap Aya dan Ima bergantian.


"Sudah tidak usah dengarkan dia, yuk kita main Uno aku bawa kartunya."


Akhirnya mereka memutuskan bermain Uno, hukuman bagi yang kalah dia harus kena coret lipstik, dan Sudah terlihat dengan jelas siapa yang kalah. Aya dan Anisa cuma satu coretan, sedangkan Ima sudah tak terhitung banyaknya.


"Ah...aku udahan mainnya, kalian curang!" Ima tampak merajuk.


"Gak curang, kamu aja yang gak bisa main, iya gak Nis?" Aya menatap Anisa sambil menaikkan kedua alisnya.


"Yo'i"


"Tos dulu!" Anisa dan Aya langsung bertos ria.


"Eh bentar..." Anisa tiba-tiba menarik tangan Aya, ia memperhatikan gelang yang Aya pakai. "Ini kayak gelang Kak Alan."


Aya reflek langsung menarik tangannya, "Bukan! ini kemaren baru beli." Jawabnya cepat.


"Pasti beli di tokonya Kak Alan?"

__ADS_1


"Oh, itu tokonya. Pantesan dia di panggil Bos." Batin Aya.


"Kak Alan punya toko gelang Nis?" Tanya Ima setelah selesai membersihkan wajah.


"Lebih tepatnya toko aksesoris anak muda, eh...kamu belum di kasih apa-apa sama Kak Alan?" Anisa bertanya pada ima yang langsung menggeleng.


"Kok belum ya?... padahal Biasanya orang yang spesial buat Kak Alan pasti langsung di kasih gelang Lho, ni kayak punya aku." Anisa memperlihatkan gelang tali warna putih, terlihat manis dan cantik. "Padahal kamu kan pacarnya."


Ima tampak muram setelah mendengar perkataan Anisa. "Mungkin dia menyiapkan sesuatu yang lebih spesial buat kamu. "Aya berusaha menghibur Ima. Ia tersenyum kemudian mengaguk.


Aya melirik jam dinding. "Aku pulang dulu ya....udah malem banget."


Tak terasa Aya sudah menghabiskan waktu di rumah sakit hampir setengah hari, dia ingin segera pulang dan mandi kemudian tidur. Malam tahun baru yang sangat biasa saja, menghabiskannya hanya dengan tidur, bangun-bangun udah berganti tahun.


***


Saat Aya sampai di depan kost terdengar suara gaduh dari lantai atas. Karena penasaran Aya langsung buru-buru naik. Sesampainya di atas tubuhnya menegang dengan susah payah ia mencoba menelan salivanya. Perlahan tanpa menimbulkan suara ia berbalik melangkah mulai menginjak tangga ingin turun lagi.


"Hey Ra...mau kemana." Tarikan di lengan Aya membuatnya mau tidak mau mengurungkan niat.


Kini di lantai kost tempat tinggal Aya sudah ada, Nando, Romi dan tentu saja Alan, juga satu orang laki-laki dan perempuan yang ia belum kenal. Ia tidak pernah menduga kalau pacar Nando ternyata adalah Cika teman satu kostnya. Eh tunggu dulu, bagaimana bisa para lelaki ini boleh naik ke atas sini.


Aya langsung menarik tangan Cika, ia bawa sedikit menjauh dari mereka. "Kok mereka bisa di sini sih Cik, nanti kalau ketahuan ibu kost gimana?" Bisiknya.


Cika menepuk jidatnya, "Sorry Aku lupa kasih tau kamu,.... khusus malam tahun baru, laki-laki boleh naik kesini dengan satu syarat, anaknya ibuk kost harus ikut naik bertugas sebagai pengawas." Jelas Cika tersenyum cengengesan seperti biasa.


"Aku gak ikut!" Aya berjalan akan melangkah menuju kamarnya, tapi lagi-lagi tangannya di tarik Cika.


"Hello semuanya, kenalkan ini Raisha!" Teriak Cika menggelegar hingga membuat semuanya mengalihkan perhatian.


Nando yang pertama manju menyalami Aya, "Aku Nando pacarnya Cika."


Aya berusaha bersikap biasa saja, walaupun sebenarnya ia menahan tawa saat melihat sikap Nando yang sok cool saat berkenalan dengannya. Aya hanya membalasnya dengan senyum.


Romi langsung memukul kepala Nando, "Mungkin kamu salah liat,...kenalkan aku Romi." Romi pun menyalami Aya sambil mengedipkan matanya.


Aya memutar bola matanya jengah. "Raisha." Jawabnya malas.


"Saya Lisa." Ujar anak perempuan yang ternyata keponakan ibu kost, pantas ia tidak pernah liat.


"Saya Aris." Ujar pria yang ternyata anak ibu kost. Oh mungkin itu cowok yang kerja di Bank yang dulu mau dikenalkan padanya pikir Aya. Entah kenapa Aya merasa risih karena Ia terus saja memandang Aya dengan memasang senyum manisnya, tangannya juga tak kunjung ia lepaskan dari jabatan tangan Aya.


Hal itu membuat Alan terbakar api cemburu, dengan sedikit kasar ia menarik tangan Aris. Dan menggantikan dengan tangannya "Alan."


Tatapan mata mereka terkunci , sorot mata penuh kerinduan terpancar dari mata Alan, sedangkan tatapan mata Aya penuh dengan penyesalan.


"Hey udah salamannya!" Suara Cika membuat dua orang itu tersadar. semburat merah muncul di pipi Aya.


Semuanya berkumpul di gazebo, mau tidak mau Aya akhinya ikut berkumpul setelah mandi dan berganti baju. Ia bermaksud mencari kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan semua pada Alan.


"Eh, ni gitar siapa Honey?" Nando mengacungkan gitar yang ia bawa pada Cika.


"Jijik banget, denger kamu panggil Honey." Romi berkomentar.


"Orang jomblo dilarang iri."


"Itu gitarnya Raisha...Darling." Cika menghampiri Nando dan bergelayut manja.


Aya langsung menutup mulutnya lalu menunduk, dia berusaha keras menahan tawa. Hingga terlihat badannya sedikit bergetar.


"Kenapa Ra?" Tanya Cika merasa aneh.

__ADS_1


Aya sedikit mendongak, menggigit bibir bawahnya meredam tawa. "Tiba-tiba aku pengen makan dadar guling."


Jawaban Aya membuat beberapa orang tertawa bahkan usaha menahan tawanya tadi akhinya gagal. Sedangkan Cika yang terlanjur sebal langsung menyerahkan gitar yang ia rebut dari kekasihnya. "Aku gak mau tau! sekarang kamu harus nyanyi buat kita semua."


"Kok aku!" Protes Aya.


"Sebagai hukuman karena udah ngetawain aku!... nyanyian lagu Romantis yang lagi hits sekarang!" Aya yang sudah tau sifat Cika kalau sedang merajuk mau tidak mau harus menurutnya.


Dari kejauhan Alan terus saja memandang Aya, semua tingkah dan senyum Aya tidak luput dari perhatiannya, satu sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia mengabaikan perempuan yang duduk di sampingnya yang sedang mengajaknya mengobrol, Lisa.


Aya mulai memetik gitarnya, ia menyanyi lagu berjudul "Bad Liar by Imagine Dragon"


Saat lirik bagian Chorus ia memandang Alan yang saat itu juga sedang memandangnya, mata mereka bertemu, Aya seakan ingin menyampaikan isi hatinya lewat lagu yang ia bawakan.


[*Pre-Chorus]


So look me in the eyes, tell me what you see


(Jadi lihatlah mataku, katakan padaku apa yang kau lihat)


Perfect paradise, tearin' at the seams


(Surga yang sempurna, terjalin di dalamnya)


I wish I could escape it, I don't wanna fake it


(Kuharap aku bisa melepaskannya, aku tak ingin memalsukan itu)


Wish I could erase it, make your heart believe


(Seandainya aku bisa menghapusnya, buatlah hatimu percaya)


[Chorus]


But I'm a bad liar, bad liar


(Tapi aku tak pandai berbohong)


Now you know, now you know


(Sekarang kau tahu 2x)


I'm a bad liar, bad liar


(Aku tak pandai berbohong)


Now you know, you're free to go


(Sekarang kau tahu, kau bisa bebas untuk pergi)....dst*.


Tepuk tangan penonton mengakhiri Lagu yang Aya bawakan. Sorak Sorai pujian ia dapat dari semua orang yang ada di situ tapi entah kenapa tidak terdengar oleh telinganya, waktu seperti melambat hanya ada sosok Alan di depannya. Sosok yang sangat ia rindukan tapi tak bisa untuk ia gapai.


Tak terasa air mata tiba-tiba jatuh di pipinya tanpa permisi dan segera ia tepis. "Aku permisi dulu." Pamit Aya pada semuanya. Buru-buru ia masuk kedalam kamar mandi, untuk membasuh wajahnya menghilangkan rasa sedih agar ikut mengalir bersama air.


Saat ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh Alan yang berdiri di hadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alan menarik tangan Aya. Membawanya ke samping kamar mandi, di sana ada sedikit tempat tersembunyi.


"Kamu berhutang penjelasan padaku." Terdengar suara lelaki yang selama ini sangat ia rindukan. Rasanya ingin sekali memeluknya tapi ia tidak berhak, lelaki itu milik orang lain.


Dengan menghela nafasnya Aya memulai penjelasannya. "Maafkan aku ....aku tidak bermaksud membohongimu dan yang lain, aku hanya ingin hidup bebas, kuliah seperti yang lainnya. Dan aku tidak mungkin melakukannya dengan penampilanku yang seperti ini, jadi aku menyamar sebagai Asher dan menggantikannya, sedangkan Ima menggantikan Aku. Kamu tahu sendiri kan dari kecil aku tidak di perbolehkan sekolah di luar." Air mata luluh dari pipi Aya.


Alan menarik dagu Aya ke atas, lalu perlahan ia menghapus air matanya. "Jadi kamu masih ingat semuanya."

__ADS_1


Bersambung.....


Maaf tahun barunya aku majuin...klo nunggu bulan depan kelamaan,..jangan lupa like,komen dan vote ya makasih...


__ADS_2