
Tidak lupa Aya langsung memeriksa rambut dan kumisnya. "Syukurlah masih ada, untung sebelum berangkat aku pake lem kuat dulu." Batinnya dalam hati.
"Kamu udah gak apa-apa Sher?" Tanya Lila khawatir, dan dijawab anggukan kepala oleh Aya.
Kini Aya sudah berada di tenda ruang kesehatan, Ia terlihat melamun wajahnya tampak sedih.
"Aya kenapa sedih? Kamu sudah aman di sini" Lila mencoba menghibur Aya.
Suara Lila menyadarkan Aya dari lamunannya ia menoleh masih dengan raut muka yang belum berubah.
"Kak, ciuman pertama ku udah di ambil!" Ujar Aya dengan muka sedih dan bibir yang mengerucut.
Mendengar itu Lila langsung tertawa, "Dasar kamu! Yang dipikirkan malah itu!" Lila memukul-mukul punggung Aya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aduh sakit Kak!" Aya berusaha menghindar dari pukulan Lila. "Emang bener kok, aku kan belum pernah ciuman, sekali di cium malah si manusia salju itu!" Aya masih merasa sebal karena ciumannya di curi Alan.
"Harusnya kamu itu malah berterima kasih sama Alan, kalau bukan karena dia, kamu mungkin udah gak di sini!" Lila mencoba menasehati Aya.
"Iiisshh...kak Lila kok ngomong gitu!"
"Ea maaf gak bermaksud nyumpahin! Kamu udah bilang terima kasih belom?"
Aya terdiam sejujurnya ia masih sebal, tapi benar juga apa yang di bilang Lila begitu pikirnya. "Belum Kak, masih gak berani natap wajahnya"ucapnya lirih. "Oh tuhan...!! malangnya nasibku ciuman pertama ku udah dirampas!" Teriaknya.
"Ngomong apa barusan?! Siapa yang kamu maksud sudah merampas ciuman pertamamu?!" Alan nyelonong masuk dan tidak lupa mentonyor kepala Aya.
"Sejak kapan loe di situ?"Aya sedikit panik, ia takut Alan mendengar semua percakapannya dengan Lila.
"Sejak kamu teriak, oh Tuhan...malangnya nasibku ciuman pertama ku udah dirampas!"Alan meniru perkataannya dengan nada mengejek. Aya langsung bernafas lega.
"Gimana dia?"tanya Alan sambil mengambil duduk dan duduk di samping ranjang Aya.
"Dia udah tidak apa-apa, fisiknya lumayan kuat!" Lila menjelaskan sambil melirik Aya yang tidur miring membelakangi Alan.
"Al .. terimakasih loe udah nyelametin gue," Sahut Aya masih memunggungi Alan, tidak mau menatapnya langsung.
"Terimakasihnya yang bener! Hadap sini!" Alan menarik bahu Aya agar menghap ke arahnya. Aya sudah menghap Alan tapi matanya terpejam.
"Gak usah berlagak malu-malu, kayak anak perawan aja!" Alan mencibir.
Mendengar itu Aya langsung terduduk dan menatap Alan, ia mencoba bersikap sewajarnya, ia tidak mau Alan mencurigai sikapnya yang menang tergolong berlebihan untuk ukuran seorang pria.
"Untuk masalah ciuman pertama, kenapa kamu berfikiran begitu? Itu gak bisa di pandang sebagai ciuman, aku lakukan itu karena urgent lagi pula kita sama-sama laki-laki, beda kalau kau ini perempuan," Alan menjelaskan setelah itu ia mentonyor kepala Aya lalu berlenggang pergi.
"Seandainya kamu tau siapa sebenarnya dia Al, apa kamu masih bisa bersikap santai begitu!" Batin Lila.
__ADS_1
"Kak temenin aku mandi, rambut aku yang di dalam sini gatel banget!" Aya memijat-mijat kepalanya yang memakai rambut palsu. Lila yang melihat itu mengangguk sembari tersenyum.
Lila mengajak Aya mandi di sungai yang sempat ia lihat saat perjalanan menuju tempat kemah. Ia sengaja mengajak Aya untuk mandi di sungai agar Aya bisa bebas tanpa merasa was-was.
"Cepetan kamu mandi! Biar aku yang jaga di sini!" Perintah Lila. Ia melihat lila melepas rambutnya palsunya dan tentu kumis di bawah hidungnya dengan sedikit susah payah.
Lila tertawa kecil melihat Aya yang meringis menahan sakit saat melepas kumisnya, baru pertama kali ini Lila melihat sosok Aya yang sebenarnya. Sebagai sesama wanita ia mengakui kecantikan Aya, ia melihat Aya begitu cantik, imut, manis dan polos, ia kagum bagaimana bisa semua itu di miliki Aya dalam satu paket.
"Aya! Kamu itu cantik, mungkin kalau Alan tahu kamu yang sebenarnya, pasti dia udah jatuh cinta sama kamu," ujar Lila memandang Aya yang sudah masuk ke dalam air.
"Dia udah pernah ketemu sama aku saat aku seperti ini kok kak, udah beberapa kali, malah kami selalu bertengkar." Aya menanggapi sambil mengusap wajah dan tangannya.
"Jangan-jangan wanita bertopi yang kemaren Alan bicarakan itu kamu ya?" Lila mengingat pembicaraan saat di Cafe Nando. Dan aya langsung mengangguk.
"Kakak kenapa gak pacaran sih sama Alan? aku liat kakak suka sama dia begitupun dia, coba Kakak perhatikan, dia itu sering banget cemburu kalau kakak deket sama aku!". Lila yang mendengar itu hanya tersenyum masam.
Suara ranting yang batah mengejutkan Lila dan Aya. Mereka menoleh mencari sumber suara.
***
Nando terlihat berlari menghampiri Alan, "Al, buruan iku aku!" Nando menarik tangan Alan untuk mengikutinya.
"Kamu ngajak aku kemana? Di mana Romi? Bukannya tadi kamu cari kayu bakar sama dia?" Tanya Alan sambil mengikuti arah tarikan di tangannya.
"Gak tau! Aku barusan liat bidadari mandi di sungai, aku mau nunjukin ke kamu, ayo cepetan!" Nando terus saja menarik Alan. Alan hanya menggeleng kepalanya mendengar ucapan Nando yang tidak masuk akal pikirnya.
"Tadi di situ aku lihat dia mandi!" Tunjuk Nando di sungai tempat tadi Aya mandi.
Alan langsung berlenggang pergi meninggalkan Nando yang masih kebingungan. Syukurlah tadi Lila sempat melihat Nando yang berlarian menjauh, jadi ia buru-buru mengajak Aya pergi. Posisi Lila yang bersandar di batu besar membuatnya tidak terlihat oleh Nando.
Aya sudah berganti pakaian bersih dan memakai perlengkapan penyamarannya, ia teringat pesan Alan Sebelum pergi untuk menemuinya, katanya Ia ingin membicarakan sesuatu.
Kini Aya sudah berdiri di depan Alan, "loe mau ngomong apa?" Tanya Aya dengan raut muka penuh selidik.
"Shei sini!" Teriaknya pada seseorang yang tak lain adalah Sheila. Ia tampak menundukkan kepalanya. "Cepetan!" Teriak Alan.
Sheila mendekati Aya lalu memandangnya dengan ekspresi menyesal, "Maafin aku Sher, sebenarnya aku yang sudah mendorong kamu ke danau."
Aya tampak sedikit terkejut, "Kenapa loe ngelakuin itu?"
"Aku cemburu sama kamu Sher, kamu selalu mendapat perhatian lebih dari Alan, perhatian yang belum pernah aku dapatkan dari dia selama ini!" Sheila menunduk lebih dalam, terlihat air matanya jatuh ke tanah yang ditumbuhi rumput hijau.
"Apa loe gak salah Shei cemburu sama gue? Gue sama Alan itu sama-sama laki-laki, gue sama dia cuma temen!"
"Tapi kalian terlihat mesra, layaknya sepasang kekasih, kalau tidak percaya tanyakan saja sama teman-teman yang lain!" Kekeh Sheila.
__ADS_1
Mendengar itu Aya nampak terkejut, ia langsung menatap Alan, yang ditatap ekspresinya datar-datar saja. Aya menghela nafas panjang, "Al, sepertinya loe harus jelasin semuanya! Gue gak mau bikin orang berasumsi yang enggak-enggak!"
Alan menganggukkan kepalanya kemudian berlenggang pergi.
Pandangan Aya kepada Sheila sore itu mulai berubah, Sheila di hadapannya terlihat sangat menyedihkan, begitu menginginkan perhatian Alan, ia sampai rela melakukan sesuatu yang mungkin merugikan orang lain dan bahkan bisa merugikan dirinya sendiri.
Malam itu semuanya tampak sedang menunggu makan malam, karena tidak sabar Aya bermaksud menghampiri panitia yang mengurus masalah konsumsi. Sesampainya di sana pemandangan yang buruk sudah ada di depan matanya.
"Apa ini semua!?" Teriaknya dengan wajah terkejut. Beberapa hidangan makanan yang tidak berwujud bahkan bisa di bilang tidak dapat dinikmati sudah terpampang nyata, telur ceplok gosong dan sop yang lebih mirip air kobokan berisi sayuran utuh tanpa dikupas. Mungkinkah belum di cuci juga begitu pikirnya.
"Siapa yang masak semua ini?!" Aya bertanya kepada orang yang berada di situ. Dan sontak semuanya menunjuk Sheila.
"Aku sudah bilang pada Alan kalau aku tidak bisa memasak tapi dia bersikeras, dia bilang ini hukum buat aku karena udah dorong kamu dan dia juga nyuruh yang lain tidak boleh membantuku!" Jelas Sheila sedikit putus asa dengan hasil masakannya.
"Bahan makanan apa yang masih bisa dimakan?" Tanya Aya. Semuanya menjawab nasi, karena memang dari semuanya yang tampak normal adalah nasi.
Aya mengambil nasi, kemudian dia mulai memotong-motong sayuran yang masih tersisa. "Sher kamu lagi ngapain? Alan bilang tidak ada yang boleh membantu atau memasak makan malam hari ini selain aku." Sheila mencoba menghentikan kegiatan Aya.
"Apa loe mau semuanya keracunan karena masakan loe ini!" tunjuk Aya menahan emosi.
"Tapi nanti kamu bakal kena hukuman juga!"
"Persetan! Gue gak peduli!"
Sheila jadi merasa bersalah dengan sikapnya siang tadi, walaupun ia sudah berbuat jahat pada Asher tapi malah di balas dengan kebaikan.
Malam ini semuanya tampak begitu menikmati nasi goreng yang terhidang sampai-sampai habis tak tersisa karena banyak yang minta tambah.
"Sumpah! Enak banget ini nasi goreng, seumur-umur baru kali ini aku ngerasain nasi goreng dengan rasa yang begitu menakjubkan! nasi goreng bintang lima mah lewat!" Ujar Nando terkagum-kagum dengan mulut yang masih penuh.
"Siapa yang masak?" Tanya Romi yang juga sedang menikmati nasi goreng.
"Sheila!" Sahut Alan cepat. Yang disebutkan namanya langsung tersedak.
"Gak nyangka ternyata kamu pinter masak Shei, besok kamu masakin kayak gini lagi ya?" Nando berucap dengan menggebu-gebu.
Sheila yang baru saja meredakan tenggorokannya akhinya bersua, "Bukan aku yang masak, itu semua masakan Asher!"
Alan yang mendengar itu langsung menatap tajam ke arah Asher, "kenapa? Loe mau hukum gue? Hukum aja gue gak takut!" Aya langsung berlenggang pergi setelah menyelesaikan makannya.
Tidak berapa lama Aya kembali lagi dengan membawa dua baskom. "Kalau mau kasih hukuman itu dipikir-pikir dulu, loe berniat hukum temen-temen yang lain juga dengan hasil masakan Sheila," Aya menyodorkan hasil masakan Sheila pada Alan.
Yang lainnya tampak terkejut, untung ada Asher yang berani membantah Alan dan memasak ulang untuk mereka, jadi mereka tidak bernasib masuk rumah sakit karena keracunan. Seumur-umur dari semua anggota tidak ada yang berani membantah perintah Alan. Dan yang dibicarakan hanya diam saja, tetap dengan wajah yang datar.
Malam itu setelah acara makan mereka berkumpul duduk mengelilingi api unggun. Alan tiba-tiba berdiri, "Perhatian semuanya, saya ingin menyampaikan sesuatu!" Semuanya yang tadinya ramai dengan obrolannya masing-masing jadi hening dan bersiap mendengar.
__ADS_1
Bersambung....
Terimakasih sudah mampir jangan lupa Tinggalkan like dan komen biar saya makin semangat nulisnya.