
Dengan langkah tergesa-gesa Alan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, mendahului beberapa mobil yang ada di depannya. Ia menghiraukan teriakan orang-orang yang berhasil dia salip. Tujuan utamanya sekarang adalah bandara, walaupun kemungkinan kecil Aya sudah berangkat tapi ia tidak akan menyerah. Sesampainya di sana Ia merasa sangat beruntung karena pesawat untuk penerbangan ke Jakarta paling pagi untuk hari ini sedang delay.
Ia langsung menuju pusat informasi penumpang. Tapi ia dikejutkan dengan info kalau nama Aya tidak ada di sana. Berulangkali ia menyuruh untuk mengecek ulang tapi hasilnya tetap sama, bahkan ia juga meminta informasi daftar penumpang untuk penerbangan sore dan malam tapi tetap sama nama Aya tidak ada. Saat ini ia sangat bingung, hingga membuatnya mondar-mandir tak karuan mencari ke sana kemari menyapu pandangan ke arah semua orang yang sedang menunggu keberangkatan. Alan berharap Aya ada di sana. Menjadi salah satu orang yang tengah menunggu. Alan terus mencari dengan raut wajah yang frustasi hingga salah satu petugas bandara menghampirinya.
"Maaf Mas bisa saya bantu?" Tanya petugas yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Alan.
"Saya mencari seseorang Pak hari ini dia terbang ke Jakarta pagi-pagi sekali, tapi namanya tidak ada di daftar penumpang." Alan menjelaskannya dengan perasaan tidak tenang.
"Anda yakin dia benar-benar Naik pesawat?" Alan langsung mengangguk mantap.
"Saya baru ingat pagi ini ada pesawat jet pribadi yang terbang pagi-pagi sekali dengan tujuan Jakarta. Kemungkinan besar salah satu penumpangnya orang yang anda sebutkan tadi. Kesimpulan saya seperti itu saat mendengar penjelasan dari Mas." Alan tidak langsung percaya ucapan petugas bandara itu, apakah mungkin kekasihnya yang sederhana tinggal di tempat kost kecil dan tiap pagi berangkat hanya naik motor bisa naik pesawat jet pribadi yang biasa di miliki oleh orang kaya raya sekelas Sultan.
Alan sekarang bingung, ia merasa sungguh bodoh karena dulu tidak pernah bertanya alamat tempat tinggal Aya, karena sedang di mabuk cinta ia merasa akan bisa terus bersama dengannya. Dengan lemas ia menjatuhkan dirinya di kursi tunggu sambil meremas kepalanya. Telepon yang berdering dari ponselnya ia abaikan. Hingga ponsel itu terus saja berdering sampai mengganggu orang di sekitarnya membuat Alan terpaksa mengangkatnya.
"Hallo." Jawabnya malas.
"Halo Al, kamu sudah tahu belum kalau Aya pulang ke Jakarta?" Suara Romi dari seberang telfon.
"Terlat! Aku bahkan sekarang sedang mencarinya di bandara. Tapi sepertinya dia tidak ada di sini, entahlah mungkin dia sudah berangkat." Alan menghembuskan nafas berat untuk kesekian kalinya.
"Kamu ada rencana nyari dia ke Jakarta?"
"Boro-boro nyari dia di Jakarta, rumahnya aja aku gak tau."
"Kamu gimana sih, pacarnya kok gak tahu alamat rumahnya?"
"Hey kau!....kita aja baru jadian seminggu."
"Kamu udah coba tanya sama ibu kost?"
"Udah lah, katanya dia gak tahu....Aaarrgghh! Sial! Sial....gue harus apa Rom?" Alan sudah tampak putus asa. Apakah kisah cintanya benar-benar hanya sampai di sini.
Kini Alan sudah ada di Cafe milik Nando. Setelah Romi menghubunginya tadi, Romi mengajak Nando untuk menyusul Alan. Ia takut cowok yang sedang dirundung masalah dengan gadis yang dicintainya itu mengulang kembali kejadian dulu dan akan merepotkan dirinya juga Nando. Jadi sebelum hal itu terjadi Romi mengambil inisiatif untuk selalu ada di samping Alan agar Alan tidak berbuat yang akan merugikan dia dan orang lain.
Romi memandang sahabatnya kini penuh iba. Sepanjang perjalanan pulang Alan tidak bersuara sama sekali, hanya diam bak patung. Pergerakan di badannya hanya kedipan di mata.
"Jangan gini Al, kamu harus bangkit...usaha, masak gitu aja udah nyerah. Kita di sini buat bantuan kamu. Lihat kamu tidak sendirian." Romi berusaha membujuk Alan setelah sedari tadi hanya melihat.
Akhirnya sang patung menoleh, melihat semua teman-teman dan sahabatnya ada di sana, Nando, Cika, Mita, Romi bahkan Arkhan juga ada di sana.
"Cika kamu lihat gak waktu Raisha pulang di jemput orang tuanya?" Tanya Romi.
"Eh...em..gak..gak liat aku, waktu itu aku...masih tidur, jadi aku dan Kak Mita gak liat apa-apa." Sahut Cika terbata-bata, ia ingat betul peringatan yang Asher berikan. Walaupun ia menerima uang tutup mulut itu, sebenarnya bukan itu alansannya dia berbohong tapi karena takut. Masih begitu jelas di benaknya betapa kejamnya orang tua Asher dan Aya saat menyuruh orang-orangnya untuk menyeret dan memukuli putra dan putrinya sendiri jadi ia memutuskan akan tetap tutup mulut demi perdamaian hidubnya.
Romi mengerutkan keningnya, merasa curiga dengan jawaban yang Cika berikan. Setelah itu Romi beralih menatap Mita, sebenarnya ia enggan bertanya karena ia tahu sifat Mita yang pendiam dan sedikit bicara, bahkan kini keadaannya tidak jauh beda dengan Alan, diam dengan tatapan kosong. Tapi tidak salahnya kan mencoba?
"Ehemm...Mit, Apakah Asher sempat menghubungimu sebelum pergi?"
__ADS_1
"Tidak!...tapi aku liah waktu Aya dibawa ayahnya sekitar jam tiga pagi, di sana juga ada Asher dan dua bodyguard yang pernah Aya bawa. Sepertinya ayah mereka begitu marah hingga membawa paksa Aya pulang. Aku yakin Aya tidak akan di perbolehkan untuk kembali ke kota ini."
Semuanya tercengang dengan jawaban yang Mita lontarkan. Gadis itu mau berbicara panjang dan bahkan menjelaskan begitu lancar. Alan akhirnya merespon dengan menoleh sambil menatap Mita penuh selidik.
"Kak Mita kok bilang gitu?...Kak Mita gak sayang sama nyawa? ayahnya Mereka kan seorang mafia." Cika langsung reflek menutup mulutnya yang sudah ember.
"Mafia?" Ucap semua orang serempak. Bahkan Alan ikut bersuara.
Mita yang mendengar itu langsung reflek memukul kepala Cika sampai mengaduh.
"Ngomong sembarangan! Jangan percaya dia."
"Tahu dari mana Kak Mita kalau mereka bukan mafia? Yang bawa Raisha kan orangnya serem-serem. Pake berkelah__" Mita langsung membekap mulut Cika. Ini anak kalau sudah ngomong tidak mau berhenti. Padahal Mita saja menceritakan hal itu sudah dengan pemilihan kata yang hati-hati. Mita ingat betul nama belakang yang ayah Aya ucapkan yaitu 'Narendra'. Setelah itu Mita langsung mencarinya di internet. Betapa tercengangnya dia saat mengetahui kalau sebenarnya Aya dan Asher adalah anak konglomerat terpandang no satu di negara ini. Pantas saja mobil Asher dan semua yang melekat di tubuhnya barang-barang branded.
Mita tahu betul yang dimaksud Asher untuk tutup mulut adalah mengenai status dan asal usul meraka, juga perbuatan yang ayah Asher lakukan, pasti itu demi nama baik keluarga mereka. Jadi menurut Mita kalau hanya memberikan gambaran sekilas kejadian itu tidak apa-apa.
"Mereka bukan mafia, aku yakin! mereka hanya orang yang punya uang banyak." Mita menerangkan.
Mereka yang tadinya tegang langsung bernafas lega. "Gimana Ar? Udah coba kamu lacak keberadaan mereka? Mungkin alamat tempat tinggal mereka di Jakarta?" Romi bertanya pada Arkan yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
"Ini dari tadi juga udah gue cari, gimanapun gue juga butuh si Bos, lha kalo gini caranya bisa hilang pekerjaan gue.... terakhir posisi mereka yang bisa gue lacak itu saat berada di tempat kost Aya, habis itu hilang gitu aja gak ada jejak, sepertinya handphone di non aktifkan atau mungkin di buang." Arkan bicara panjang lebar.
"Pasti ini ulah gadis ular bermuka dua itu!" Gumam Alan. "Rom coba kamu hubungi Anisa tanya di mana Ima?!" Alan nampak menahan amarah.
Romi pun menurut, ia langsung menghubungi Anisa, raut wajahnya tiba-tiba berubah. "Kata Anisa Ima mengajukan pindah kuliah. Dan sejak tadi malam dia sudah tidak pulang ke asrama."
Brak!
"Papa!"
Setelah mengucapkannya Alan langsung beranjak pergi. Romi yang mengikutinya kalah cepat hingga mobil Alan sudah melesat jauh.
"Sial! Semoga saja dia tidak apa-apa." Romi langsung berbalik kembali ke tempat teman-temannya tadi.
"Eh...tadi Alan mau ke mana?" Tanya Nando.
"Kayaknya sih ke tempat Om Suhendra." Romi menjatuhkan diri ke sofa kemudian memijat pelipisnya, ia jadi ikut pusing memikirkan masalah sahabatnya yang satu itu.
"Aku yakin hasilnya juga bakal nihil." Batin Mita.
"Ngapain ke tempat Om Suhendra? Kita kan disini tujuannya mau cari tahu keberadaan pacarnya. Emang yang ngumpetin pacar Alan Om Suhendra?"
Pukulan di kepala langsung melayang di kepala Nando. "Aduh!.... sakit Bro."
Mita dan Arkhan cuma tertawa mereka menjadi saksi pasangan yang sama-sama kena jitak itu.
"Aya kan kuliah di kampus kita, Otomasi semua informasi ada pada Om Suhendra."
__ADS_1
"Eh? Masa? Kok aku gak pernah liat Aya di kampus."
Romi menghela nafas berat, mungkin memang sudah saatnya Nando tahu, toh kelihatannya Aya tidak akan kembali. Perlahan Romi menjelaskan siapa Asher yang sebenarnya yang selama ini menjadi salah satu anggota F4 di kampusnya itu.
"Yang bener? jadi selama ini__?" ucapan Nando tiba-tiba terhenti. "Gila.. Dia pinter banget akting jadi cowok. Apa cuma aku yang gak tahu?" Nando terlihat masih syok. Romi menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aku juga gak tahu sayang... Kak Mita tahu gak?" Cika yang juga ikutan syok menimpali dan dijawab anggukan kepala Mita.
"Apa mungkin nama dia kalau di kampus Asher, di tempat kost namanya Raisha, tapi yang sebenarnya nama dia Aya?" Cika tiba-tiba mengemukakan pendapat.
"Pinter!" Sahut Mita dan Romi bersamaan.
"Eh sebentar, terus Aya yang dikenalin ke kita sebagai temen Anisa sekaligus mantan pacar Alan itu sebenarnya siapa?" Tanya Cika.
"Nama sebenarnya Ima, dia menggantikan posisi Aya yang seharusnya kuliah di Akbid." Suara seseorang membuat semua orang menoleh.
"Lila?...sejak kapan kamu di sini?" Tanya Romi.
Lila yang baru datang dan mendengarkan obrolan mereka langsung ikut duduk.
"Sepertinya Alan harus lebih berusaha untuk bisa mendapatkan Aya kembali. Aya itu bagaimana bintang di langit. Sulit untuk diraih."
Semuanya mengangguk setuju, walaupun mereka kecuali Mita tidak tahu asal usul keluarga Aya. Tapi selama mereka menghabiskan waktu bersama dan fakta Aya yang sudah payah menyembunyikan identitas aslinya untuk bisa hidup bebas membuat Mereka bisa menyimpulkan sendiri se berkuasa apa keluarga Aya.
***
"Pa... tolong kasih tahu Alan di mana tempat tinggal Aya?" Alan mengiba.
"Lupakanlah dia nak, dia terlalu tinggi untuk bisa kamu gapai."
Alan tersentak, kenapa ayah tiba-tiba berubah seperti itu, padahal awalnya Ayahnya lah yang paling mendukung hubungannya dengan Aya. "Kenapa Papa bilang begitu? kenapa Papa tiba-tiba berubah pikiran?.... Alan gak ngerti jalan pikiran Papa!"
Alan tidak tahu saja karir Suhendra sebagai rektor hampir saja terancam gara-gara menerima Aya sebagai mahasiswanya dan kelalaiannya tidak mengenali mahasiswa yang identitasnya di palsukan. Ia juga mendapatkan ancaman yang tidak main-main dari Jonathan. Yang tidak segan-segan akan menghancurkan masa depan anak-anaknya jika putranya Alan masih mendekati Aya. Disisi lain Suhendra juga tidak tega dengan putranya itu.
"Al dengerin penjelasan Papa dulu, ini semua demi kebaikan kamu. Keluarga Aya bukan orang biasa. Mereka tidak merestui hubunganmu dengan putrinya. Mereka menganggap kamu tidak sepadan dengan mereka. Jadi Papa mohon lupakan Aya. Lupakan gadis itu!"
"Ow jadi ini karena harta? ...harta bisa Alan cari. Tapi jangan pernah menyuruh Alan untuk menjauh dan memutus hubungan Alan dengan Aya, ingat itu Pa!" Saat Alan hendak pergi Suhendra langsung mencegahnya.
"Oke Papa akan memberikan kamu penawaran. Setelah kamu merampungkan kuliahmu dan keuntungan Perusahaan mu bertambah pesat, Papa akan memberikan alamat Aya. Papa juga berjanji tidak akan menyuruhmu untuk menjauh dari Aya."
"Oke deal!" Alan langsung menyentujui penawaran sang Papa karena memang hanya Papanya kesempatan terakhir yang ia miliki.
Alan tidak tahu saja, tujuan Suhendra memberikan penawaran itu karena ingin mengulur-ulur saja. ia berharap seiring berjalannya waktu perlahan Alan bisa melupakan Aya.
Alan seakan memiliki tujuan setelah tadi sempat hampir putus asa. "Hallo tolong cari informasi alamat tempat tinggal seseorang untuk saya." Alan memasukkan ponselnya setelah menghubungi seseorang.
Dia tidak akan berpangku tangan saja, sementara ia berusaha memantaskan diri. Dia juga akan berusaha mencari keberadaan Aya lewat orang-orangnya.
__ADS_1
Bersambung....
Anggap saja ini up dua episode ya... episode terpanjang sepanjang perjalanan...ini bisa dibilang 2 episode jadi satu...jadi jangan lupa like, koment dan vote nya... macacihhhhh