Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Rapat Kampus


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Alan sudah rapi ia turun dari tangga menuju dapur sambil menenteng tas ranselnya.


"Alan berangkat dulu Ma." Ia meraih tangan Anita.


"Mau kemana Nak pagi-pagi sekali?.....gak mau sarapan dulu?" Anita melepaskan tangannya yang baru saja di cium oleh putra bungsunya.


"Ada rapat panitia di kampus Ma.... nanti Alan bisa sarapan di kampus." Alan langsung beranjak pergi.


Anita yang menatap ke pergantian Alan, seperti baru mengingat sesuatu, "Eh Al!....adekmu minta di anterin jalan-jalan lho!" Anita sedikit berteriak.


"Suruh bawa mobil sendiri aja Ma!.....Al lama soalnya lagipula ada Ima juga, suruh temenin dia aja!" Teriak Alan yang baru saja menutup pintu rumah.


Anita hanya bisa menghela nafasnya berat, ia merasa putranya itu seperti sedang menghindar, tapi dari siapa?


"Ma?....Mama teriakin siapa sih?" Pertanyaan Anisa membuat ia tersadar dari lamunan.


"Itu kakakmu, katanya dia ada rapat jadi gak bisa nganterin kamu."


Anisa meletakkan gelas yang airnya baru saja ia minum dengan kasar sampai menimbulkan bunyi. "Kenapa sih Kakak jadi berubah?"


"Berubah gimana maksudnya?"


"Jadi dingin dan cuek, persis sama seperti waktu Papa baru ninggalin kita." Anisa tampak tiba-tiba murung.


Anita yang melihat guratan kesedihan putrinya lantas membelai rambut Anisa. "Menurut Mama sih tidak, kakakmu sudah banyak berubah......seingat Mama sejak pulang liburan dari rumah neneknya Romi Kakakmu terlihat lebih bahagia dan terbuka, apalagi pas pulang acara tahun Baru kemaren. Pulang-pulang Kakakmu senyam-senyum sendiri, Mama sampai takut kakakmu kesurupan." Anita tertawa mengingat pemikirannya yang konyol.


"Mama kira gara-gara baru jadian sama Nak Ima, tapi sepertinya bukan karena itu." Lanjut Anita.


"Kok manggilnya Ima sih Ma?..... ngikut-ngikut Kak Alan aja!" Anita mengerucut bibirnya sebal.


"Kakakmu yang nyuruh Mama." Memang tadi malam, setelah selesai makan malam Alan menemui ibunya yang baru saja mau bersiap untuk tidur dan memintanya secara langsung.


Anisa mengepalkan tangannya, "Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres..... apa mungkin Kak Alan selingkuh ya Ma?"


"Ah.... tidak mungkin Nak, kamu ingat sejak peristiwa itu kakakmu pernah bilang, kalau dia tidak akan seperti Papanya.....dia hanya akan setia pada satu wanita itu janjinya."


Sambil mendengarkan penuturan ibunya Anisa tampak berselancar internet seperti tengah mencari sesuatu, dan ternyata ia sedang melihat postingan Nando di Instagram.


"Mama tau tempat ini gak?" Anisa memperlihatkan sebuah postingan Nando saat berfoto dengan Cika dengan background lampu dan gazebo di atap tempat kost Aya dari jauh terlihat Alan sedang duduk di gazebo bersama Romi dan beberapa orang tapi tidak tampak jelas. Melihat itu Anita langsung menggeleng. Setelah beberapa kali scroll Anisa tampak terbelalak.


"Tu kan bener! coba Mama lihat Kakak pegang tangan cewek ini,....Sial! Mukanya gak kelihatan lagi....awas saja, kalau aku tahu siapa dia bakal aku labrak habis-habisan!" Sungut Anisa. Di postingan Nando memang fotonya di ambil dari belakang jadi yang terlihat hanya punggungnya saja.


"Jangan berprasangka buruk dulu!... mungkin saja itu hanya temannya." Sanggah Anita.


Ternyata sedari tadi Ima mendengar percakapan mereka, hingga setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.


****


Aya menutup pintu mobil dengan kasar sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Kenapa baru ngasih tau?....kan jadi buru-buru!" Sungut Aya sambil menatap Alan tajam.

__ADS_1


Alan memang sengaja baru memberi tahu rapat pengurus yang akan di adakan pagi ini, karena dengan begitu mau tidak mau pasti Aya tidak akan menolak tumpangannya.


Alan melajukan kendaraannya, karena masih pagi jadi jalanan tidak terlalu padat.


Aya mengeluarkan alat tempurnya. Rambut palsu dan kumis, setelah mengikat rapi rambut panjangnya ia hendak memakai hair net/ disebut juga topi pelapis wig tapi tangannya di tahan oleh Alan.


"Apaan sih..... buru-buru nih!" Aya berdecak kesal.


"Nanti aja pakenya habis makan, aku mau sarapan dulu, kita mampir ke restoran depan sana." Tunjuk Alan dengan dagunya.


Aya tampak berfikir, "Mendingan sarapan di kampus aja bareng temen-temen...nanti kalau mampir dulu kasian pada nungguin kita."


"Tenang aja, rapatnya dimulai jam sembilan." Jawabnya enteng.


"Apa!" Teriak Aya.


"Lha trus kenapa kamu bohong Kalau rapatnya mulai jam setelah delapan?!" Aya bersungut.


Alan malah tertawa. "Gak papa, jarang-jarang lho bisa sarapan sama Putra Mahkota kampus." Alan menarik turunkan alisnya. "Alasan sebenarnya agar kita bisa sarapan berduaan lah." Batin Alan.


Aya memutar bola matanya jengah, tangannya di lipat di depan dada dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Itu bibir bisa dikondisikan gak?...ku gigit nanti!" Alan memperingatkan, sejujurnya ia sekarang benar-benar ingin mencium bibir ranum itu. Aya dengan bibirnya yang mengerucut terlihat begitu menggemaskan.


Mereka sarapan dengan tenang tanpa pembicaraan apapun. Aya masih marah karena merasa di bodohi Alan. Berbeda dengan Aya, sekarang justru Alan merasa sangat bahagia walaupun Aya tidak mengeluarkan suara sedikitpun ia tak masalah melihat wajahnya sambil menikmati sarapan langsung bisa merubah moodnya yang buruk sejak kedatangan Ima semalam. Dan tentu saja sangat berpengaruh terhadap kerja otaknya, agar bisa mengeluarkan ide-ide brilian.


Sesampainya di kampus. "Loe duluan aja....gue mau ke toilet bentar." Aya keluar dari mobil sudah dengan penampilan cowoknya.


"Bisa gak sih gak pake loe gue?" Protes Alan.


Alan memutar bola matanya jengah, "aku temenin, ke toilet cowok kan?....buat jaga-jaga."


Sebenarnya Aya sangat enggan tapi memang tidak ada cara lain dan itu adalah yang paling aman.


Rapat itu berjalan dengan lancar, setiap tahun universitas Gunadarma selalu mengadakan acara tahun baru dan tahun ini diadakan acara Pentas Seni dengan teman Jadul vs Melenial yang akan diadakan satu minggu lagi. Ada sedikit perdebatan saat rapat antara Aya dan Alan. Aya ingin menampilkan cover Dance yang biasa ia bawakan, tapi Alan tidak menyetujuinya, entahlah apa yang ia fikirkan sepertinya ia tak mau badan Aya diekspos mengingat saat acara di kampus Cika dulu yang menurut Alan Aya terlihat sangat sexi. Sebagai gantinya Aya menantang Alan untuk tampil dan tentu Alan langsung menyetujuinya karena ia sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Aya, dan entah apa itu hanya Alan dan Tuhan yang tahu.


Aya menghela nafasnya setelah ia masuk mobil Alan, Ia masih kesal karena kejadian saat rapat tadi. Aya tersentak saat Alan tiba-tiba menarik rambut palsunya hingga terlepas.


"Apa-apaan sih Al?" Terlihat Aya sangat kesal dengan perbuatan Alan.


"Risih aku lihat rambut palsu mu." Alan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.


Aya sudah sangat enggan berdebat dengan Alan, seharian ia dibuat kesal dari pagi hingga sekarang.


"Kita makan siang dulu" Ujar seseorang dari balik kemudi.


Aya melirik sekilas, "Aku mau langsung pulang aja!....aku gak laper." Sahutnya sambil memasukkan atributnya ke dalam tas.


"Masih marah?" Alan mengusap rambut Aya dengan lembut, dan itu adalah salah satu kelemahan Aya, bagaimana ia bisa marah kalau perlakuan laki-laki yang menganggapnya sahabat itu begitu manis hingga mampu membuat jantungnya berdetak kencang dan pipinya memerah.


Aya tersadar saat ponselnya tiba-tiba berdering. Terlihat nama Ima di situ.

__ADS_1


"Sssttt!" Aya menempelkan telunjuknya di bibir. Alan langsung mengaguk, ia tahu Siapa yang menelfon.


"Hallo, ada apa Ma?"


"Apa kamu hari ke kampus Ay?" Itulah Pertanyaan pertama yang dilontarkan Ima.


"Iya hari ini ada rapat, kenapa Ma?" Jawab Aya.


Alan memang tidak bersuara tapi ia terus saja mengganggu Aya yang sedang menjawab telfon dari Ima seperti mencolek-colek dagu Aya, bahkan seperti yang sekarang ia lakukan meniup-niup telinga Aya sampai kegelian. Karena tidak tahan lantas ia mencubit pinggang Alan dengan keras.


"Apa rapatnya masih lama? Soalnya Anisa sudah marah-marah ini di rumah, karena gak ada yang nganterin cek up ke rumah sakit."


"Aawww!" Teriak Alan yang langsung di bungkam tangan Aya.


"Suara apa itu Ay?"


"Oh....gak tau tu anak-anak yang laen pada bercanda, ini bentar lagi selesai kok tenang aja." Ujar Aya bohong.


Aya terkejut setelah ia menutup telepon Ima, ia tidak menyadari ternyata sedari tadi tangan Aya yang semula membungkam mulut Alan sudah berpindah ke genggaman tangan Alan yang sekarang sedang dikecupnya berkali-kali.


Tiba-tiba darah Aya berdesir hebat, sebelum semakin menjadi di tarik tangannya dengan kasar. "Aku turun sini aja!....Kamu buruan pulang, udah di tungguin Anisa sama Ima di rumah!"


"Anisa mau Cek up gak ada yang nganter katanya." Lanjut Aya.


"Aku anterin sampe rumah, toh rumah kita searah." Sahut Alan cepat.


Dengan terpaksa Aya menyetujuinya, entah kenapa mengetahui Ima menginap di rumah Alan membuat hatinya sakit.


"Kok kita kayak orang yang lagi selingkuh ya?" Aya tertawa hambar.


"Emang kamu mau jadi selingkuhan ku?" Alan menatap Aya melihat ekspresi wajahnya.


Aya terbelalak, "Enak aja!...gak mau lah! Emang cowok di dunia ini cuma kamu aja, masih banyak cowok di luar sana yang mau sama aku."


Entah kenapa jawaban Aya membuat Alan gelisah, "Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu, hanya aku! Karena kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku." Batin Alan.


***


Alan masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru. "Nis!...nisa!" Teriaknya.


"Ada apa Al kok teriak-teriak?" Tanya Anita dari ruang keluarga.


"Mana Anisa Ma?...katanya nyuruh nganterin Cek up."


"Lho....kan udah berangkat sama Romi dari lima belas menit yang lalu." Anita menjelaskan.


Alan berfikir, kalau lima belas menit yang lalu berarti setelah Ima menelfon Aya tadi. Sialan anak itu sudah membodohinya. Saat Alan akan beranjak ke kamar.


"Al!....gih..! ajak pacarmu jalan-jalan mumpung ada disini sekalian cari buku, Mama dengar tadi dia bingung cari toko buku dimana."


Alan berdecak kesal, ia tidak bisa menolak kalau menyangkut permintaan ibunya.

__ADS_1


Bersambung....


Makasih yang udah setia like, koment dan vote...aku merasa sangat dihargai...


__ADS_2