
"Hufff..." Suara Helaan nafas lega dari Alan, ia melihat Aya yang tertawa sambil menikmati pemandangan kunang-kunang yang beterbangan.
"Ngapain kamu di situ?" Tanya Alan.
"Aduh! Ngagetin aja loe, minta tolong fotoin gue Al." Aya menyodorkan ponselnya pada Alan tanpa basa basi karena sedari tadi ia berselfi ria tapi hasilnya tidak ada yang bagus. Aya langsung berpose memakai topi jaket Hoodienya ,satu tangannya menutup sebagian wajah hanya menampakkan hidung dan bagian matanya, sepertinya ia bermaksud menutupi kumisnya.
Entah kenapa Alan seperti mengenal sorot mata indah itu, tapi ia lupa dimana pernah melihatnya.
"Kamu suka kunang-kunang ya?" Tanya Alan setelah menyerahkan ponsel Aya kemudian duduk di sampingnya ikut menikmati pemandangan kunang-kunang yang beterbangan di antara mereka.
"Iya gue suka banget sama kunang-kunang, saking senengnya kamar dan tempat sekitar yang sekiranya gue suka, gue pasang lampu hias biar kayak ada Kunang-kunangnya gitu." Aya tidak menyadari apa yang barusaja ia katakan karena saking asiknya melihat hasil jepretan Alan yang menurutnya sangat bangus, bisalah ia posting di Instagram.
Alan mengerutkan keningnya, "Aku boleh tanya sesuatu?"
Aya menoleh ke arah Alan, "Tanya Apa?"
Saat Alan mau membuka mulutnya,
"Alan...! Asher...! Di mana kalian?!" Teriak beberapa orang disekitar kamar mandi.
"Kita di sini," Sahut Aya, "Aduh! Jadi terbang kan Kunang-kunangnya mereka sih pake teriak-teriak!" Aya berdecak kesal.
Akhirnya Alan dan Aya keluar dari persembunyian mereka.
"Apa yang kalian lakukan situ?" Tanya Nando curiga. "Jangan-jangan kalian__"
Sebelum Nando menyelesaikan kalimatnya Alan sudah melayangkan pukulan di kepalanya. "Jangan mikir aneh-aneh!"
"Aduh sakit Bro! KDRT ini namanya!" Teriak Nando. Yang malah mengundang gelak tawa.
***
Aya tampak cemberut duduk di kursi penumpang sedangkan di sampingnya Alan tengah menyetir dengan tenang. Aya ingat pagi tadi ia merasakan mulas hingga harus bolak-balik ke kamar mandi, mungkin gara-gara terlalu banyak makan sambel yang dibuat mbah Sumi, karena saking enaknya ia melupakan perutnya yang tidak bersahabat dengan yang namanya sambel. Dan saat perutnya sudah enakan ia tidak mendapati Romi dan yang lainnya. Hanya ada Alan yang tengah menunggu sambil duduk di jok belakang mobilnya.
Kata Alan mereka sedang buru-buru karena ada urusan, adiknya Anisa juga harus kembali ke Asrama secepatnya. "Kenapa tidak dia sendiri yang mengantarkannya." batin Aya.
Sedangkan Alan juga tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, masih teringat sangat jelas dua malam tidur di rumah Mbah Sumi pagi-pagi ia selalu mendapati Romi tidur di ruang tamu, kenapa ia tidak tidur di kamar yang ditempatinya dengan Asher. Di rumah Mbah Sumi ada tiga kamar tamu, lila tidur dengan Anisa, Alan bersamaan Nando, dan tentu Romi bersama Asher.
Mulut Alan sudah gatal sejak kemarin ia ingin bertanya sesuatu pada Asher tapi selalu saja gagal, ia sengaja menyuruh yang lainnya pulang lebih dulu walaupun Romi Sangat sulit untuk di bujuk untung ada Anisa yang sejak lama menyukai Romi hingga ia mampu merayu Romi untuk mau menurutinya.
"Sher kamu pernah bilang, kamu punya kembaran yang namanya Aya kan?" Tanya Alan, matanya masih menatap ke depan.
Entah kenapa Aya merasa suasana di mobil menjadi tegang, bila biasanya ia bisa melarikan diri tapi sekarang tidak, gak mungkin ia akan lompat dari mobil, bisa mati konyol sebelum kawin pikirnya.
"Iya....," Jawabnya singkat, "Al...,gue ngantuk! Kalau udah sampe bangunin gue?" Cuma cara itu yang terfikir di otaknya, Pura-pura tidur.
Alan mendengus, "Aku belum selesai bertanya! Aku tau kamu cuma pura-pura tidur, jangan kira aku bodoh.... terus saja mengelak, dasar pria banci, pecundang!"
__ADS_1
Akhirnya Aya menoleh, "Apa loe bilang?!" Sentak Aya tidak terima dengan penghinaan Alan.
Alan tersenyum sinis, "Banci, Pecundang!" Ulangnya. Alan sudah berhasil memancing Aya, tinggal satu langkah lagi membuat Aya mengaku sendiri.
"Atas dasar apa loe bilang gue pencundang?"
"Kalau kamu tidak mau di cap Pecundang, jawab semua pertanyaanku dengan jujur!"
"Oke! Siapa takut!" Aya mulai menatap Alan dengan serius.
"Aku tau kamu bohong soal tempat tinggalmu, apa alasanmu?...kamu pasti mengenal Aya kembaran Asher sepupumu itu kan, kenapa kamu kasih jaket pemberianku padanya dan kenapa namanya sama dengan nama kembaranmu?..aku juga tahu kamu punya hubungan khusus dengan Romi... Awas saja kalau sampai kamu berani mempermainkan Lila, kau akan berhadapan denganku!....Dan satu lagi, aku ingin mengetahui asal usulmu yang sebenarnya!"
Aya hanya bisa menelan Salivanya, begitu banyak pertanyaan Alan membuatnya pusing dan bingung untuk mencari Alasan, "Itu urusan pribadi gue, loe gak berhak ikut campur!" Hanya itu jurus yang bisa Aya keluarkan untuk mengelak.
"Apa kau bilang! Kau tidak ingat dulu pernah mencampuri urusan pribadiku? Dengan sok so'an menjodohkanku dengan kakakku sendiri!" Bentaknya tak kalah keras. Alan menatap Aya dengan tajam seperti pisau yang siap menghunus musuhnya.
Di sela-sela pertengahan mereka dari arah depan tiba-tiba muncul Truk yang melaju sangat cepat, Aya yang menyadarinya langsung meraih kemudi dan membanting setirnya hingga Mobil langsung menabrak pohon.
"Asher..! Bangun Sher!" Teriak Alan terus menggoyang-goyangkan tubuh Aya yang pingsan.Dilihatnya Pelipis Aya yang mengeluarkan darah menambah kepanikan Alan.
Di salah satu bilik kamar puskesmas Sepasang bola mata mengerjapkan, "Aku dimana?"
"Asher kamu udah bangun?!.... kamu tidak apa-apa?" Alan tampak khawatir.
"Hmmm.." jawab Aya singkat dengan wajah datar. Kemudian memejamkan matanya lagi.
"Kenapa kamu melindungiku? " Tanya Alan.
"Gue cuma mau balas budi, gue hutang nyawa karena loe pernah nolongin gue saat tenggelam dulu."Aya memberikan alasan, entah itu benar ataupun tidak hanya Aya yang tahu. Matanya masih terpejam.
"Oh.... Berarti sekarang kita sudah impas?" Alan tampak sedikit kecewa.
"Tidak Al, belum.... masih ada satu hutang nyawa yang belum bisa aku bayar." Batin Aya.
Alan dan Aya nampak masuk ke sebuah penginapan. Mereka terpaksa harus menginap karena keadaan sudah malam baterai ponsel mereka juga habis kalaupun terisi percuma karena saat malam hampir tidak ada sinyal di sana karena itulah Jadi sulit untuk menghubungi atau meminta pertolongan yang lain. Mungkin saja Romi dan yang lainnya sudah sampai kota.
Untungnya jarak penginapan dari puskesmas tempat Aya tadi di rawat tidak terlalu jauh karena mereka harus berjalan kaki.
"Maaf mas kamarnya tinggal satu yang lantai atas yang lainnya sudah full." Jawab pemilik penginapan.
Aya harus pasrah tidur sekamar dengan Alan, saat mereka masuk ke dalam kamar ternyata tidak terlalu buruk di sana ada sofa, televisi kecil walaupun ranjangnya tidak terlalu besar setidaknya kamar mandinya ada bathupnya, rasanya sudah lama sekali Aya tidak berendam. Ingin rasanya Aya masuk ke dalam situ dan menenggelamkan diri kalau saja tidak ada Alan bersamanya.
"Gue tidur di sofa aja." Ujar Aya, ia sangat enggan tidur dengan laki-laki apalagi Alan, rasanya ia masih kesal dengan semua tuduhan laki-laki itu.
"Udah tidur sini." Alan menepuk tempat di sampingnya, ia sudah bersiap untuk tidur. "Kata dokter kamu harus banyak istirahat, jangan sampai kamu sakit dan menyusahkan ku lagi!" Alan menatap Aya.
Aya yang enggan berdebat Akhirnya menuruti Alan. Setelah ia merebahkan dirinya di samping Alan, ia tidak langsung tidur ia hanya pura-pura sambil menunggu Alan tidur.
__ADS_1
Ia menoleh bermaksud melihat keadaan Alan, tampaknya laki-laki itu sudah terlelap terlihat dari nafasnya yang beraturan. Untuk memastikan Aya mengibas-ngibaskan tangannya di wajah Alan, lelaki itu tidak bergeming. Dengan mengendap-endap Aya mengambil bantal dan selimut untuk tidur di sofa.Ternyata Alan belum tidur, ia melihat semua yang dilakukan Aya.
Cahaya yang masuk lewat gorden membuat silau mata Aya, ia duduk kemudian mengedarkan pandangannya.
"Kok aku tidur di sini?" Gumamnya. Aya ingat betul tadi malam ia tidur di sofa tapi kenapa pagi ini ia tidur di ranjang lagi.
Saat ia beranjak, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, pemandangan indah di pagi hari Alan keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit pinggangnya. Aya melihat dengan jelas perut sixpack yang penuh otot itu rambut basah yang Alan singkap dengan tangannya. Sungguh sexy menurut Aya.
"Astaghfirullah.!" Aya mengucap istighfar dan langsung menunduk tak ada cara lain selain ia buru-buru melarikan diri. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa dia?" Gumam Alan saat melihat Aya berlari ke dalam kamar mandi seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan.
Sedangkan di kamar mandi Aya langsung mengunci pintunya, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai mengatur detak jantungnya yang hampir lepas dari tempatnya.
"Sher aku keluar mau ngambil mobil, mungkin sekitar dua jaman baru balik, kalau laper cari makan sendiri di bawah banyak warung!" Teriak Alan setelah memakai pakaiannya. Semalam setelah kecelakaan mobil Alan langsung di derek ke bengkel, bengkelnya lumayan jauh dari sana hingga membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Ya gue tau, gue bukan anak kecil!" Sahut Aya dari dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu terdengar suara pintu tertutup.
Aya langsung keluar dari kamar mandi, karena terburu-buru ia sampai Lupa tidak membawa handuk. Ini kesempatan yang bagus mumpung tidak ada Alan ia mau puas-puas berendam Sambil mendengarkan musik lewat handset miliknya, seperti yang biasa ia lakukan di rumah. Sesekali ia bernyanyi menirukan suara penyanyinya.
Chorus:
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
Coz baby you're the one, I don't know how
Sekitar setengah jam ia berendam, Aya keluar dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Alan menghirup aroma yang tercium di ranjang itu, "Aku suka aroma tubuh Alan,.... enaknya!" Kemudian tertawa. "Sadar Aya, lupakan dia, lupakan pangeran penolongmu itu, dia pacar ima,...tapi... kalau dia terus dekat denganku bagaimana aku melupakannya, baiklah mulai sekarang aku akan menjauhinya...itu lebih baik." Kemudian Aya berganti pakaian, tak lupa ia memakai korset, kumis dan rambut palsunya.
"Kapan aku bisa berkencan dengan penampilan asliku?" Aya bertanya pada pantulan dirinya di cermin. "Gara-gara lapar aku jadi kayak orang Gila bicara sendiri." Ia tertawa sendiri.
Aya dan Alan kini sudah dalam perjalanan pulang. Entah kenapa Aya merasa Alan sangat aneh, sepanjang perjalanan Alan Terus saja tersenyum.
"Loe kenapa Al? Baru menang giveaway?" Tanya Asher.
"Lebih dari itu...., Hari ini aku sangat bahagia." Jawab Alan masing tersenyum dengan lebar hingga gigi putihnya terlihat.
Aya merasa merinding, "jangan-jangan Alan kesurupan setan penghuni penginapan." batinnya ia langsung meringkuk takut.
Bersambung....
Sorry kemaren mau up ketiduran jadi baru sekarang , insyaallah nanti up dua episode... jangan lupa like dan komentar ya macacihhhhh...
__ADS_1