Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Double Date


__ADS_3

Aya Langsung melotot. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Bisiknya lagi.


"Kamu kan tidak tanya." Asher tertawa dan langsung mendapatkan cubitan keras dari Aya. Asher pun langsung berteriak kesakitan.


"Kenapa?"...."Ada Apa?" Tanya ima dan Alan bersamaan.


"Gak papa, ini Raisha katanya mau jalan-jalan ke taman bermain... iya kan?"Asher menyenggol lengan Aya kemudian mencengkeram pundaknya. Dengan terpaksa Aya menganggukkan sambil tersenyum menunjuk deretan giginya.


"Ide yang bagus,.... sayang bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman bermain?" Tanya Ima, Ia merangkul lengan Alan dan Alan pun tersenyum kemudian mengangguk.


Ada desiran perasaan sakit setiap melihat interaksi ima dan Alan, Aya langsung mengalihkan pandangannya pada piring dihadapannya. Ternyata Asher melihat perubahan sikap Aya, walaupun ia sering mengganggu adik kembarnya itu tidak di pungkiri kalau ia sangat menyayangi, ia juga merasakan hal yang sama.


Mata Asher tiba-tiba beralih melihat Kaos yang Alan pakai. "Itu seperti kaos ku?" Asher menunjuk kaos yang Alan kenakan.


Aya menelan Salivanya dengan susah, "Mungkin cuma mirip." Aya berkilah.


"Gak mungkin, kaosku itu limited edition... jadi Jarang yang punya." Sambar Asher.


"Ini memang bukan kaosku, ini adik kamu yang kasih pinjam." Alan menjelaskan.


Asher langsung menatap tajam ke arah Aya, yang ditatap hanya tersenyum dengan memperlihatkan giginya, sambil berkedip-kedip mencoba memasang wajah imutnya.


"Gak mempan!" Asher langsung mentonyor kening Aya dengan telunjuknya. Sontak wajah Aya langsung cemberut. "Jangan lupa balikin! itu mahal!" Asher beralih menatap Alan.


Aya tak habis pikir, padahal Asher punya banyak Kaos di rumah, uang juga jangan di tanyakan pendapat Cafe mereka makin hari makin bertambah, cabang Cafenya pun sudah ada di mana-mana. Apa dia ada dendam dengan Alan, sampai merendahkan dirinya sendiri demi membuat Alan mereka tidak nyaman.


"Sher aku nebeng mobilmu ya?" Aya menarik-narik tangan Asher setelah mereka keluar dari Cafe sambil berbisik.


"Gak! Liat saja penampilanmu yang norak seperti anak SD itu, gak pantes naik mobilku." Tolak Asher mencoba melepaskan tangannya yang Aya genggam.


"Bareng kita lagi aja Ay.....eh maksudnya Ra." Tawar Ima.


"Sher tega banget sama aku, kalau aku bareng mereka bisa jadi obat nyamuk terus aku nya." Bisik Aya, masih terus berusaha membujuk Asher, dengan terpaksa akhinya Asher mengizinkannya.


Semua mata tertuju pada mobil yang baru saja terparkir, bagaimana tidak mobil sport yang berwarna merah kontras dengan mobil yang lainnya terlebih lagi lelaki keren berkacamata hitam yang baru turun dari mobil itu sangat mencolok karena masuk ke taman bermain yang kebanyakan di kunjungi anak-anak dan keluarga, tak jarang banyak juga gadis belia yang tengah berkencan.


Semua mata gadis-gadis menatap Asher dengan penuh kagum tapi saat tiba-tiba Aya merangkul lengannya mereka tampak kecewa. "Ngapain kau peluk-peluk aku?


"Biarin! Biar gak ada cewek yang berani deketin loe." Jawab Aya sambil tertawa jail.


"Gak usah gaya pake loe gue segala, gak pantes!" Asher mencoba melepaskan tangan Aya. "Gini ni...aku itu jomblo gara-gara kamu! mereka kira kamu ini pacarku! "


"Emang itu tujuanku." Aya tersenyum licik.


"Gak sudi punya pacar gaya norak kayak kamu!" Gerutu Asher. Walaupun sama sekali tidak di gubris Aya.


Mereka menaiki satu persatu wahana bermain seperti roller coaster, bianglala dan yang lainnya. Selama itu di perbolehkan untuk dinaiki orang dewasa pasti mereka akan menaikinya.


Aya dan ima tengah berjalan lebih dulu sambil memakan permen kapas di tangannya. Sedangkan laki-laki berjalan di belakang mereka sambil mengobrol.


Sesekali Aya melirik ke belakang, ia sangat penasaran dengan percakapan dua lelaki itu. Semoga Asher tidak mengatakan apa-apa yang merugikannya. Asher yang melihat Aya meliriknya tersenyum kecil sambil menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Kenapa Ay?" Tanya ima tiba-tiba.


"Gak papa, yuk duduk dulu aku capek!" mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk pengunjung beristirahat, sedangkan para lelaki dengan setia di belakang mereka hanya bersandar di pagar besi.


"Ay kita kayak sedang dauble date ya?" Ima bertanya dengan senyum yang tidak surut sedari tadi.


"Hahaha... ya gak lah, Asher kan saudaraku bukan pacar.... nanti lah kalau aku sudah punya pacar kita double date lagi." Jelas Aya sambil makan gulalinya.


"Kenapa gak ngajak Romi? bukannya sekarang kalian lagi pedekate?" Sahut Alan tiba-tiba hingga membuat Aya dan Ima menoleh ke belakang.


"Oh...seka___."


"Jangan asal ngomong ya? Kalau tidak tau mending diam!" Aya langsung menyela saat ima mau bertanya. Aya menatap Alan tak suka dengan arah pembicaraan.


"Kenyataannya memang seperti itu, beberapa kali aku melihatmu bersamaanya, fotomu juga ada di ponselnya." Alan tersenyum sinis.


"Wah... benarka___."


"Hey kau! Jangan campuri urusanku, urus saja urusanmu sendiri!" Aya memotong lagi perkataan ima. Aya menatap Alan dengan tajam.


"Waduh... sebentar lagi bomnya mau meledak." Sahut Asher Sambil tertawa.


"She___." Aya langsung membekap mulutnya sendiri, hampir saja ia keceplosan. Sedangkan Asher menahan tawanya. "Kak, tolong belikan aku minum!" Ralat Aya, Permintaannya lebih seperti perintah.


"Baiklah karena kau memanggilku Kakak dengan senang hati, aku akan membelikannya," Sebelum pergi Asher menepuk pundak Alan. "Yang sabar, dia galak dari luar padahal hatinya sedang menangis."


"Apa kau bilang?! Jangan dengarkan dia, dia itu sinting!" Sergah Aya, tangannya sudah mau melayangkan pukulan, buru-buru Asher melarikan diri sebelum menerima pembalasan kembarnya itu.


Sebelum suasana menjadi semakin canggung Aya menarik ima, "Yuk kita berfoto, di situ pemandangannya bagus."



Tanpa mereka sadari, ada yang mencuri foto di belakang mereka. Siapa lagi kalau bukan Alan.


"Sini ponselmu ma! biar aku fotoin sama pacarmu." Aya mengambil ponsel ima kemudian menghampiri Alan.


"Kamu sana!" Bentaknya sambil menunjuk tempat ima berdiri.


"Aya kamu bareng mereka aja ya? Aku ada urusan lain." Bisik Asher. Setelah mereka sampai parkiran.


"Gak papa aku ikut kamu aja." Aya sedikit mengiba.


Tanpa pikir panjang Asher langsung menarik tangan Aya, "Al tolong anterin dia sekalian ya? Aku ada urusan!"


Aya langsung melotot, Asher sudah berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Dengan terpaksa Aya ikut pulang dengan mobil Alan.


Di dalam mobil Aya tengah menatap jalanan dari jendela pintu mobil.


"Sayang lihat deh, foto kita yang diambil Raisha tadi bagus-bagus banget." Ima menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


Mendengar kemesraan itu hati Aya kembali sakit , itulah alasan kenapa dirinya tidak mau satu mobil dengan Alan dan Ima. Buru-buru ia memasang headset di telinganya dan memejamkan matanya, ia hanya berharap sampai di rumah dengan cepat. Tanpa Aya sadari ternyata dari tadi Alan mengintip Aya lewat kaca sepion.

__ADS_1


"Aya bangun...." Seseorang menggoyang-goyangkan pundaknya.


Tanpa sadar ternyata Aya ketiduran. Ia buru-buru mengucek matanya, sambil mengumpulkan nyawa.


"Makasih ya, sudah nganterin aku sampai rumah." Ujar Aya setelah ia turun dari mobil kemudian memeluk Ima dengan erat.


"Kamu tidak berterima kasih padaku?" Sahut Alan memandang Aya.


Aya menghela nafas, "Makasih!" Ujar Aya singkat.


Aya menunggu mobil Alan pergi sambil melambaikan tangannya pada ima.


Hari ini rasanya badan dan hati Aya terasa lelah ingin rasanya ia merebahkan dirinya lagi dan menyambung mimpinya tadi. Saat akan naik ke lantai atas Aya merasa tarikan yang kuat di tangannya hingga ia menubruk dada seseorang, dan jatuh ke dalam pelukannya, ia mencium bau parfum yang sangat ia kenal, lelaki yang sudah tertancap di hatinya.


Alan... lelaki itu sedang memeluknya dengan Sangat erat. "Al.... lepasin! Apa yang kau lakukan?!" Aya berusaha melepaskan pelukan Alan. "Aku tidak mau Aya jadi salah paham!" Aya masih berusaha melepaskan pelukan itu tapi Alan seperti tidak ingin melepaskannya.


"Ima....dia itu ima, dan kamu Aya...!"


Jawaban Alan membuatnya membulatkan matanya, "Dari mana dia tahu?...pasti dari Asher, seberapa banyak Asher bercerita padanya." Batin Aya.


"Iya, memang nama kita sama, dia Attaya Rahima dan aku Attaya Raisha, jadi tolong lepaskan aku."


"Memang nama kalian sama, tapi Aya ku hanya satu yaitu kamu, Aya yang aku tolong saat kecil, Aya yang takut darah, Aya yang suka sekali dengan kunang-kunang."


Mendengar itu Aya merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Kenapa dia tidak menemukannya terlebih dulu, kenapa malah mengira ima itu adalah dirinya. Dalam hatinya ia terus menyalahkan Alan.


"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti?!" Itulah kata yang lolos dari mulut Aya.


Alan melepaskan pelukannya berganti menatap mata indah Aya, "Jangan berbohong! Kamu Pasti masih mengingatnya kan?"


Aya menepis tangan Alan, "Aku sama sekali tidak mengingatnya, asal kau tau saja itu tidak penting bagiku!"


"Bohong!" Alan sedikit meninggikan suaranya.


"Terserah! Tapi Ingat kata-kataku....jangan pernah kau sekalipun menyakiti hati Ima, kalau itu terjadi kau akan berurusan denganku!" Aya langsung beranjak pergi.


Aya hanya bisa menahan air mata yang sudah membendung dimatanya. Saat sudah masuk kedalam kamarnya, seperti biasa ia langsung meluapkan tangisnya. "Bodoh kamu Alan!... bodoh! Untuk apa kamu melakukan itu? percuma aku membangun tembok agar aku bisa melupakan mu." Teriak Aya, ia masih merasakan pelukan Alan. Pelukan yang sangat ia rindukan rasanya masih sama seperti saat pertama ia bertemu dengan Alan, pelukan yang aman dan nyaman. Tak terasa ia tertidur dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Gimana sayang?" Tanya Ima setelah Alan masuk ke dalam mobilnya.


"Ternyata kaosnya belum kering." Jawab Alan singkat.


Alan mengantar ima sampai asrama, ia juga sempat bertemu dengan Anisa adiknya.


"Gimana kencannya kak?" Tanya Anisa. Alan hanya diam saja.


"Asik banget Nis, kita tadi pergi rame-rame ke taman hiburan ....asik pokonya." Jawab ima dengan senyum merekah.


"Kok rame-rame?" Anisa mengeryit.


"Iya, tadi pergi sama Raisha dan...Mirza kembarannya." Ima berkata dengan sangat berhati-hati takut keceplosan.

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah setia membaca tulisan ku, Jangan lupa like dan komen ya....


__ADS_2