Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
POV Alan


__ADS_3

Namaku Alan Nathaniel Suhendra, kata Papa Mama aku anak paling tampan satu komplek, aku sangat mengidolakan Papaku dia seorang dosen yang cerdas dan selalu membuatku bangga sudah menjadi anaknya.


"Nathan mau kemana nak?" Itulah nama panggilan khusus dari Papaku, semua orang dari mulai keluarga dan teman-teman biasanya akan memanggilku Alan atau Al, tapi tidak dengan Papaku, hanya dia yang memanggilku Nathan.


"Mau keluar sebentar Pa jalan-jalan, boleh kan?"


"Ya..,hati-hati dan jangan terlalu jauh."


Itulah pesan Papa, hari ini Papa mengajakku mengunjungi rumah temannya yang ada di desa, temannya itu seorang kepala desa.


Saat aku jalan-jalan ke kebun teh aku melihat gadis kecil berlari dengan riang, rambutnya yang di kuncir kuda mengayun mengikuti langkahnya. Aku jadi penasaran, hingga tanpa sadar aku terus mengikutinya. Anak itu sungguh cantik, ia lebih cantik dari adikku Anisa yang selalu aku puji-puji kecantikannya setiap hari, tentu karena dia adalah adikku satu-satunya, ku perhatikan sepertinya umurnya sama dengan adikku.


Aku melihat ia terpelet, aku langsumg berlari untuk menolongnya ku coba menarik tangannya tapi apalah daya badanku yang kecil tak bisa menariknya, aku jadi menyesal kenapa aku selalu menolak makan sayur terutama bayam, kalau saja aku banyak makan bayam pasti aku bisa sekuat popeye. Pada akhirnya aku ikut terseret saat mataku menangkap sesuatu yang sepertinya tajam reflek aku langsung melindunginya hingga malah membuatku terluka dan tak sadarkan diri.


Sayup-sayup ku dengar ia menangis, ia sepertinya mengira aku sudah mati hingga membuatnya tampak ketakutan. Tentu aku tidak boleh mati, aku masih ingin melihat wajah cantiknya, aku ini masih kecil tapi kenapa rasanya ingin melindunginya bahkan aku ingin sekali menikahi gadis kecil di depanku ini. Agar membuatnya terkesan aku bersikap sok cool, seperti saran temanku Nando bila ingin mendekati gadis aku tidak boleh cengeng dan harus bersikap keren di depannya. Sesekali aku menggodanya sambil menahan rasa sakit di punggungku dan berhasil membuat ia cemberut. Melihatnya seperti itu sungguh membuatku gemas. Ia tampak khawatir padaku sampai membuatnya menangis ingin rasanya aku memeluknya dan mengusab rambutnya seperti yang aku lakukan pada Anisa ketika ia menangis.


Setelah mengobrol dengannya aku jadi merasa kasian tampaknya ia sangat di kekang kedua orang tuanya hingga tidak bisa bersekolah. Namanya Aya kenapa aku tahu karena tiap berbicara "Aku" dia ubah menjadi"Aya" cara bicara yang manja membuatku gemas tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk cuek, ia sangat menyukai kunang-kunang. Beberapa menit aku meras kesadaranku mulai hilang.


Hingga aku terbangun di sebuah rumah sakit dengan banyak alat yang menempel di tubuhku, ternyata aku tidak sadarkan diri selama satu Minggu karena kehilangan banyak darah. Karena terlalu syok aku sering mimpi buruk hingga dokter bilang aku terkena trauma setelah beberapa kali ketakutan saat melihat dahan pohon. Penyakit yang menurutku tidak keren aku tidak bisa kemana-mana karena saat melihat pohon di jalan saja aku sudah ketakutan.


Papaku membawaku kerumah sakit yang ada di Jakarta, menemui sahabatnya yang seorang psikiater satu bulan aku di terapi syukurlah aku bisa sembuh dari trauma.


Hingga suatu saat aku melihat pertengkaran hebat antara Papa dan Mama, hingga membuat Papa keluar dari rumah dan meninggalkan kita. Aku mendengar ternyata Papa menduakan ibuku sebelum aku lahir bahkan dari hasil perselingkuhannya ia memiliki Anak. Memang dulu setelah satu tahun menikah ibu tidak kunjung mengandung. Baru pernikahan ke tiga tahun ibu melahirkanku.


Setelah satu bulan meninggalkan rumah Papa menemui ku ia mengajakku untuk tinggal bersama dengan keluarga barunya. Dari situlah aku tahu ia lebih memilih keluarga selikuhannya. Membuatku muak pada Papaku sendiri, "Aku benci dia!"


Aku menjadi anak nakal sering memalak, berkelahi, balapan, bolos sekolah dan merokok...itu semua ku lakukan sebagai protes,aku ingin melakukan semua yang dilarang oleh Papaku.


Hingga suatu hari aku bertemu dengan gadis yang seperti malaikat.


"Kenapa kamu hujan-hujanan nanti sakit." Seorang gadis menghampiriku sambil membawa payung.


Sore itu aku di hajar anak sekolah lain, lalu ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Badanku sakit semua hingga hujan turun aku tidak bergeming. Dan membiarkan bajuku basah kuyup terkena air hujan.


Sebuah perhatian kecil yang membuatku langsung jatuh hati. Ternyata gadis itu kakak kelasku namanya Lila, nama yang cantik. Setelah mengumpulkan keberanian Aku menembaknya, aku senang sekali karena ia tidak langsung menolakku, mengingat ia salah satu murid teladan dan berprestasi, sungguh berbanding Terbalik dengan ku yang anak begajulan.

__ADS_1



(Alan semasa sekolah dulu)


Ia memberikan persyaratan akan menerimaku kalau aku mau berubah menjadi lebih baik. Tentu saja aku menyanggupinya itu hal yang mudah bagiku, "Aku akan membuatnya tidak bisa menolakku." Batinku.


Aku mulai menghilangkan kebiasaan burukku dan mulai giat belajar. Lila tercengang saat melihat namaku ada dijajaran peringkat satu di sekolah. Tentu saja walaupun sebenarnya aku mengelak kecerdasan ku ini diturunkan dari Papaku. Kami berpacaran selama satu tahun. Cara Pacaran kami sangat sederhana pegangan tangan mengelus rambut, hanya itu saja. Kencan kami hanya seputar makan di cafe, nonton mencari buku bersama tapi itu membuatku nyaman.


Hingga tiba saat kelulusannya membuatku khawatir, bagaimana kalau ia bertemu laki-laki yang lebih dewasa dan matang saat ia kuliah. Pasti ia akan meninggalkanku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melamarnya, tidak ingin langsung menikah Tapi hanya bertunangan tujuannya agar ia tidak berpaling meninggalkan ku.


"La, nanti malam aku kerumahmu,aku ingin menemui Ayahmu." Aku mengucapkannya setelan menurunkannya di halte, tempatku biasa menurunkannya.


Ia melarangku mengantarkannya sampai ke rumah alasannya ia takut di marahi ayahnya karena sebenarnya ia tidak di perbolehkan pacaran sebelum lulus sekolah.


"Kamu serius Al?" Tanyanya.


"Tentu." Aku tersenyum kemudian mengacak rambutnya.


"Assalamualaikum." Aku berdiri di depan pintu rumah Lila Sambil tersenyum.


Deg...


Betapa terkejutnya aku, wajah orang yang aku benci itu ada di hadapanku. "Papa!" Batinku.


"Nathan!"


Entah kenapa aku Sangat membenci nama panggilan itu.


"Alan kamu sudah datang?... Ayo masuk!"


Lila menarik tanganku aku hanya pasrah. Badanku terasa kaku.


"Ayah kenalin ini pacarku .... namanya Alan." Lila memperkenalkanku. Aku merasa konyol ia mengenalkan namaku pada orang yang memberiku nama.


"Al ini Ayahku,...ayah yang selalu aku ceritakan padamu."

__ADS_1


Entah kenapa rasanya aku ingin muntah, ternyata selama ini secara tidak sadar aku ikut memuji ayahnya, seseorang yang sangat aku benci. Lila pergi ke dapur untuk membuat minum.


"Nathan! jauhi Lila...dia itu kakakmu."


Setelah sekian lama tidak bertemu, hanya itu yang pertama ia katakan. Tidakkah ia khawatir pada Mama, ataupun setidaknya pada Anisa dia juga anak gadisnya sama seperti Lila. Dia memang pantas aku benci.


"Dengan senang hati saya akan menjauh dari anak haram Anda!"


"Sekarang kamu jadi anak kurang ajar ya?! Berani kamu sama Papa?! ...asal kamu tahu kamu tidak akan bisa sekolah jika bukan karena uang Papa!" Dari jauh Aku melihat Lila mematung sambil terisak, jika biasanya aku akan menenangkannya tapi sekarang tidak, ia adalah salah satu penyebab hancurnya keluargaku.


"Baiklah... kalau begitu mulai sekarang, anda tidak perlu repot-repot membiayai sekolah saya." Aku langsung Pergi tanpa pamit, aku mendengar suara Pria yang dulu aku panggil Papa berteriak memanggil namanku, aku mengabaikannya.


Mulai saat itu aku mati-matian bekerja part time sepulang sekolah dan saat libur. Aku melakukan segala macam pekerjaan. Aku juga melarang Mama menerima uang dari ayah Lila lagi.


Dunia memang sungguh kecil, universitas tempat aku menimba ilmu di rektori Ayahnya Lila yang tak lain adalah Papaku dan Lila menjadi salah satu Dokter yang berjaga di ruang kesehatan. Mau tidak mau aku harus tetap bertahan. Karena kuliah di sana akan sangat mempermudah karirku. Yang sangat aku sukai kuliah di sana namaku lebih di kagumi dan ditakuti daripada Rektornya sendiri.


Di bantu paman yang sudah aku anggap menjadi ayahku, kami bersama membangun usaha hingga sekarang yang sudah semakin pesat menjadi perusahaan.


Kuliahku normal seperti biasa hubunganku dengan Lila juga membaik, sebatas teman, entah kenapa aku masih enggan memanggilnya Kakak. Hal yang paling aku benci adalah saat seorang wanita mendekatiku. Berpacaran menurutku membuang-buang waktu. Ada kebiasaan burukku yang tidak bisa aku hilangkan. Aku selalu menandai apa yang menurutku berharga. Itu terjadi setelah kehilangan Lila. Aku tidak mau merasakan kehilangan lagi. Bila buku selalu aku tanda tangani, untuk baju aku beri label namaku.... Bahkan temanpun aku beri mereka gelang yang sama sebagai tanda. Aku tidak tau itu merupakan hal gila atau tidak,tapi dengan begitu aku merasa mereka tidak akan meninggalkanku.


"Sial sekali hari ini." Aku mengobrak-abrik isi paper bag, yang ternyata sudah tertukar dengan seseorang. Aku benci sekali kehilangan walaupun itu hanya sebuah buku.


"Pasti tertukar dengan punya cewek tadi." Aku ingat sebelum aku menjemput Mama aku tabrakan dengan wanita aneh ia memakai masker dan topi. Sial sekali aku tidak melihat wajahnya.


Dan untuk sekian kalinya, aku bertemu dengan wanita bertopi yang aneh, pede sekali dia...dia kira aku ingin berkenalan dengannya. Tak sampai di situ, aku bertemu dengannya lagi sial sekali nasibku ia menumpahkan minuman di bajuku. Aku sempat melihatnya di ganggu seorang pemuda. Walaupun malas aku sama sekali tidak menyukai pria brengsek yang beraninya mengganggu wanita lemah. Saat aku akan menghampirinya, tak kusangka ia bisa menanganinya sendiri. Hebat juga gadis aneh itu.


Untuk pertama kalinya, jantungku berdetak kencang. Sesaat setelah tanpa sengaja melihat seorang wanita sedang olahraga di atap rumah. Aku melihatnya menggunakan teropong milik Romi. Seperti kecanduan hampir tiap hari terutama saat malam bagaikan seorang sniper aku mengintip penghuni atap yang ternyata tempat kos-kosan putri.


Di kampus aku melihat seorang pemuda berkumis aneh, dia sedang mendekati beberapa gadis, aku sangat tidak suka melihatnya, menurutku ia salah satu pria brengsek yang suka mengganggu wanita.


Seperti biasanya, Nando yang akan membereskan nya. Tapi tidak pernah aku duga bocah itu mengadu pada rektor. Baru kali ini selama aku kuliah di universitas itu aku berhadapan langsung dengan Rektor, aku sungguh muak. Amarahku memuncak saat si kumis lele dengan mulut mungil nya mencerca dan menuduhku. Dengan sekuat tenaga aku memukulnya.


Dan aku tau konsekuensinya pasti aku di skorsing. Tapi entah kenapa dari dalam lubuk hatiku ada rasa bersalah setelah memukul kumis Lele.


Bersambung.....

__ADS_1


Maaf baru Up, dengan berat hati sepertinya mulai besok aku hanya bisa Up dua hari sekali, tapi gak menutup kemungkinan up tiap hari kayak kemaren-kemaren tergantung otak....entah kenapa otak ini gak bisa memunculkan ide baru buat cerita. Sepertinya capek buat mikir, butuh liburan.... macacihhhhh sudah like dan koment


__ADS_2