
Aya tengah mengumpulkan tekatnya saat berada di depan gerbang universitas tempat ia menimba ilmu, sudah satu Minggu ini ia tidak masuk kuliah. Alasannya tentu karena rumor yang beredar. Tepukan di pundaknya membuatnya terlonjak kaget.
"Kak Lila ngagetin aja." Aya memegang dadanya yang masih berdebar.
"Ayo masuk!" Lila menarik tangan Aya. "Bukannya kamu pintar dalam berakting, ayo tunjukkan bakatmu itu."bisik Lila.
Walaupun sedikit tegang tapi Aya memberanikan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuknya, ia pasti bisa begitu batinnya berucap memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Saat ia hendak memasuki gedung kampus tiba-tiba badannya menjadi tegang kakinya sulit untuk di gerakkan. Seperti sebuah patung, sampai-sampai ia sulit untuk menelan Salivanya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Lila yang sedikit khawatir karena wajah Aya yang mendadak tegang.
Perlahan Aya membalikkan badannya, kakinya sudah bersiap untuk melangkah pergi, baru menginjak Lima langkah. Ia merasakan kerah baju bagian belakang di tarik seseorang.
"Mau keman kau anak emas?" Suara seseorang dari arah belakang.
Siapa lagi yang biasanya memanggil Aya dengan sebutan anak emas kalau bukan Asher. Iya... Asher yang sesungguhnya kini ada di hadapannya.
Aya melempar senyum terpaksa. "Ngapain loe di sini?!" Tanyanya dengan penuh penekanan.
"Wih... sekarang bahasanya pake loe,gue....sok gaul banget." Asher menanggapi pertanyaan Aya dengan senyum yang menyebalkan.
"Cepetan Jawab!"
"Adek gue yang satu ini sekarang gak sabaran banget ya?......aku kesini ya lagi kangen sama adek ku yang cantik ini. Wah....Wah.. ternyata pakai kumis kayak gini makin cantik aja." Asher menatap Aya dari ujung kaki hingga ujung kepala masih dengan senyuman yang membuat Aya Mengumpat dalam hati. "Sialan! Sialan!" Batinnya.
Tiba-tiba Asher tertawa terbahak-bahak, "Kalau mau mengumpat langsung di depan orangnya dong, jangan beraninya di dalam hati."
Selain menyebalkan Asher juga selalu tahu isi hati Aya, itulah sebabnya sebisa mungkin Aya menghindarinya. Karena bila di sandingkan Mereka pasti akan selalu bertengkar.
"Ini siapa Sher?" Lila yang sejak tadi hanya menyimak akhinya bersuara menatap Aya kemudian beralih ke Asher.
"Oh... kamu pacarnya ASHER ya? Boleh juga seleramu." Sebelum Aya menjawab Asher menyambar duluan ia mengucapkan namanya dengan sedikit penekanan, karena merasa sangat tidak nyaman memanggil namanya sendiri pada orang lain.
"Bukan!" Aya langsung menyahut. "Kak Lila, dia itu saudara kembarku."
"Oh.....jadi dia...." ujar Lila dengan menggantung dan langsung mendapat anggukan kepala dari Aya. Asher hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Ngapain kita di sini, emang siapa yang sakit?" Tanya Asher setelah mereka tiba di ruang kesehatan.
Tadi....Sebelum Asher menanggapi omongan Lila, Aya langsung menarik dan mengajaknya ke ruang kesehatan, ruangan yang menurutnya paling aman.
"Loe tu yang sakit,...sakit jiwa!" Aya sedikit meninggikan suaranya.
"Wah... sekarang makin galak aja." Asher menanggapinya dengan senyum yang menjengkelkan.
Suara pintu yang tertutup membuat saudara kembar itu menoleh.
"Jadi dia sudah tau?" Asher menunjuk Lila dengan dagunya.
"I...iya!" Jawab Aya Sedikit menyembunyikan rasa gugupnya dengan membuang mukanya kesegala arah.
Melihat gelagab Aya Asher langsung tau, "Siapa lagi yang sudah tahu selain dia?" Tanya Asher dengan nada yang sedikit tajam.
"Hmm?" Aya pura-pura tidak mendengar, tapi saat melihat sorot mata Asher yang mendadak tajam ia langsung faham kalau dirinya harus berkata jujur. "Cuma Kak Lila sama Romi aja kok."
__ADS_1
Asher membuang nafasnya dengan kasar, "Kalau begini keadaanya mendingan kamu balik aja ke Jakarta."
"Aku? ..... Lha kamu?" Aya menunjuk dirinya kemudian Asher.
"Aku ya tetep kuliah di LA." Jawab Asher enteng.
"Enak aja, gak mau! aku akan tetep di sini.... TITIK! Lagi pula mereka bisa menjaga rahasia." Aya tidak mau kalah dengan Asher.
"Kamu ini selalu ngeyel ya?!" Asher sudah mulai geram.
"Udah sana balik ke LA, Ngapain di sini?" Aya mengibaskan tangannya seolah mengusir.
"Aku di sini karena kamu ya! Gara-gara kamu namaku sudah tercoreng! Aku gak terima disebut Gay!.....Dan ini semua terjadi gara-gara kamu!" Asher menunjuk-nunjuk wajah Aya dengan telunjuknya dengan nada penuh penekanan.
Aya tak lantas diam mendengar cercaan Asher ia langsung menggigit telunjuk Asher dengan kuat.
"Shit! Shit!" Asher mengumpat sambil mengibaskan tangannya dengan wajah yang meringis kesakitan.
Lila yang melihat interaksi saudara kembar itu, tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Hey kau! Apa yang kau tertawakan?!" Asher menatap tajam ke arah Lila.
Lila berdehem, kemudian terdiam dengan wajah menunduk.
"Kak jangan diambil hati, dia memang gitu orangnya selalu galak sama semua orang, kecuali satu.." Aya melirik Asher yang ada di sampingnya. "Dia gak akan galak kalau sama yayank Ima." Sambungnya diselingi dengan tertawa.
Dan benar-benar berhasil membuat Asher kesal dengan wajah yang sedikit memerah. Tidak lama Aya memutuskan untuk masuk kelas karena sudah jam mata kuliahnya di mulai. Sedangkan Asher ia bilang ada urusan yang harus ia selesaikan.
Aya tengah berjalan menuju parkiran, wajahnya berubah kusut saat melihat Asher yang sedang duduk di jok mobil LaFerrari berwarna merah miliknya sambil memutar-mutar kunci ditangannya. Tak lupa senyuman yang menyebalkan menghiasi bibir Asher.
"Aku mau jemput adik kesayanganku."
"Ciiih! Omong kosong, bilang aja mau pamer." Aya tertawa mengejek.
"Tau aja kamu." Asher langsung memiting leher Aya.
Salah satu mahasiswa yang melihat itu tiba-tiba berhenti di depan Asher dan Aya, "Mangsa baru ya Sher? Katanya sudah insyaf, ternyata cari yang lebih tajir," Ujarnya dengan nada mengejek menatap Asher dan Aya penuh selidik.
"Apa kau lihat-lihat, beraninya menghina adikku! belum pernah merasakan pukulan ya? sini kau!" Asher menghampiri mahasiswa itu, lengannya sudah ia singkap seperti hendak mengajak berkelahi.
"Eh Maaf ya Mas, saya kira...." Tiba-tiba mahasiswa itu gugub dan ketakutan, melihat pandangan Asher yang sangat mengintimidasi. Saat Asher hendak melayangkan tinjunya.
"Ada apa ini!" Suara seseorang membuat tiga orang itu menoleh bersamaan.
Tampak Alan, Sheila, Romi dan Nando berjalan ke arah mereka.
"Tolong Kak Alan....saya mengaku salah, saya kira Mas ini ada hubungan khusus dengan Asher, ternyata dia kakaknya,... saya benar-benar minta maaf." Kemudian mahasiswa itu langsung kabur sebelum Asher sempat memukulnya.
"Shit! Cemen banget tu anak!" Umpat Asher sedikit kesal.
Alan menatap Asher dan Aya penuh selidik, "Sejak kapan kamu punya kakak laki-laki Sher?" Pertanyaan Alan terkesan seperti menyindir.
"Dia kakak sepupuku baru datang dari LA mau liburan sebentar di J****, iya kan Kak Mirza?" Aya menarik ujung kaos yang Asher kenakan dengan pandangan mata seolah menyuruhnya bilang iya.
"Mirza??" Batin Asher. Namun Asher diam saja dan hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sayang mobilnya bagus banget ya? Kamu gak pengen punya mobil kayak gitu?" Bisik Sheila sambil bergelayut manja di lengan kekar Alan. Sedangkan Alan sama sekali tidak menggubrisnya, ia sedang sibuk memperhatikan Asher dengan berbagai pertanyaan yang ada di benaknya, "LA??" Batinnya.
"Oh iya, Kak Mirza kenalin ini Romi, Nando dan yang itu...... Alan beserta Sheila pacarnya." Aya menunjuk satu persatu orang.
Merekapun Mengulurkan tangannya kepada Asher dan langsung di sambut.
Saat Sheila mengulurkan tangannya, "Aku Sheila temannya Asher juga, kita sahabat baik Kak Mirza." Asher hanya melirik sinis tangan Sheila yang tetap menggantung, ia sama sekali tidak menghiraukannya.
Akhinya dengan perasaan kesal karena sudah di abaikan Sheila menurunkan tangannya.
"Maaf ya Shei kakaku ini emang jutek orangnya, sama Lila tadi juga gitu," Aya berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.
Asher tiba-tiba menarik tangan Aya, ia membuka pintu sport itu ke atas lalu mendorong Aya untuk segera masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkiran kampus.
Sheila menatap kepergian Ashe dan Aya, "Cowok yang menarik, membuatku tertantang!" batin Sheila dengan senyum menyeringai.
***
Malam itu di sebuah Cafe Asher dan Aya tengah duduk berhadapan, penampilan Aya sudah seperti semula tidak lupa topi berwarna oranye bertengger di kepalanya.
"Memang tidak ada Cafe lain, yang ada privat roomnya?" Pandangan Asher menyapu seluruh isi Cafe.
"Udah di sini aja, jangan manja...di sini makananya enak." Aya menanggapi. "Kamu mau ngomongin Apa Sher?"
"Ini soal dalang di balik isu yang beredar di kampus mu." Asher berucap sambil menyesap kopi di tangannya.
"Kalau mau ngomongin soal itu, kita tunggu seseorang sebentar mereka sudah dalam perjalanan, sekalian aku mau ke toilet sebentar." Aya langsung beranjak berdiri.
Ternyata yang sedang ditunggu Aya adalah Romi dan Lila, beberapa menit setelah Aya pergi merekapun Tiba.
"Udah lama Sher?" Ujar Romi basa-basi mereka berjabat tangan sekilas sebelum Romi duduk disebelahnya.
"Aya mana?" Tanya Lila.
"Lagi di toilet." Dan tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menatap ke arah mereka.
Tiba-tiba Romi merasakan tepukan di pundaknya. "Kamu di sini juga Rom?"
"Eh Alan, ia gak sengaja ketemu di sini...... sendiri? Sheila mana?" Romi sedikit gelagapan masih syok karena Alan tiba-tiba ada di sana. Ia lupa kalau Cafe itu merupakan Cafe langganan Alan Juga.
Alan menunjuk Sheila yang ada di luar Cafe seperti tengah menghubungi seseorang dengan ekor matanya. "Asher gak iku?"
"Di toilet." Pertanyaan Alan di jawab oleh Asher yang asli.
"Aku duluan ya?" Alan menepuk pundak Romi kemudian mengangkat tangannya tanda pamit.
Saat Alan menuju pintu keluar Aya juga tengah melangkah menuju mejanya, saat hendak berpapasan mata mereka sempat bertemu beberapa detik sebelum Aya yang memutuskan kontak mata lebih dulu, Aya sempat berhenti sebentar pura-pura membetulkan letak topinya walaupun sebenarnya ia sedang membetulkan debaran jantungnya yang tidak karuan karena untuk pertama kali ia bertemu Alan dengan penampilan seperti itu semenjak ia putus dengannya.
Ternyata dari kejauhan Alan juga menoleh kearahnya, entah kenapa saat berpapasan dengan wanita bertopi misterius yang ia yakini beberapa kali membuatnya jengkel itu, ada desiran perasaan yang tidak biasa.
Bersambung....
Jangan lupa like, komentar dan Vote ya? biar aku makin semangat nulisnya, macacihhhhh...
__ADS_1