
Semakin lama langkah kaki itu terdengar semakin mendekat.
BRAK!
Suara pintu terbuka dengan sangat keras.
"Kenapa Al?" Tanya Lila, syukurlah sebelum Alan sampai Aya langsung buru-buru bersembunyi di bawah meja.
"Tadi Asher kesini gak?" Tanya Alan sambil mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan.
"Tadi sih aku liat dia cuma lewat aja sambil lari sepertinya ke arah parkiran, mungkin udah pulang Al. Eh.... itu kenapa bibir kamu?" Lila memandang bibir bawah Alan yang berdarah sama seperti luka Aya.
Setelah kepergian Alan, Aya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Huufff akhinya aku selamat," Aya bernafas lega.
"Sebenarnya apakah yang terjadi?" Tanya Lila yang sudah penasaran sedari tadi.
"Aku sudah sangat capek hari ini kak, besok aja ceritanya?" Aya memakai masker di wajahnya lalu berlenggang pergi meninggalkan Lila.
"Sialan! Ternyata dia masih menunggu ku di parkiran, bahkan dia duduk di jok motorku." Gumamnya sambil bersembunyi di balik tembok ,sebelum Alan menyadari keberadaannya ia langsung kabur kembali ke ruang kesehatan tempat yang menurutnya sangat aman.
"Aya??.. kenapa balik lagi?" Tanya setelah melihat Aya menutup pintu.
"Kak bagaimana ini? Alan menunggu ku di parkiran, tepat di sebelah motorku, bagaimana caranya aku bisa pulang?" Aya Tampak frustasi sesekali ia mondar-mandir di depan Lila.
"Aku punya ide!" Ucapan Lila membuat Aya menghentikan langkahnya.
Kini Aya dan Lila sedang berjalan menyusuri lorong kampus.
"Aya......lepaskan topi dan maskermu itu, tidak akan ada yang mengenali wajahmu saat berpenampilan seperti ini," Lila mencoba membujuk Aya.
Ya, kini Aya sudah berpenampilan seperti perempuan, dengan dress cantik selutut dan rambut di gerai panjang. Untung saja Lila punya baju cadangan yang selalu Ia bawa, jadi Aya bisa pulang dengan selamat dengan penampilan barunya, itulah ide Lila.
"Aku takut jadi pusat perhatian Kak," Sahutnya... Memang semenjak ia kuliah dan mulai menyamar ia jadi terbiasa keluar rumah memakai topi saat berpenampilan sebagai Aya.
Lila langsung menyambar topi yang Aya kenakan dan langsung menyimpannya sebelum Aya sempat memintanya kembali. "Justru dengan kau memakai topi dengan gaun itu malah membuat mu jadi pusat perhatian. Sekarang lepaskan juga masker di wajahmu itu!" Lila sudah tidak sabar.
"Jangan kak!" Aya mencoba mencegah tangan Lila yang akan menarik masker di wajahnya. "Aku bisa beralasan kalau aku sedang flu."
Lila mengangguk menyetujuinya. Saat tengah berjalan mereka berpapasan dengan Romi dan Nando yang juga akan menuju parkiran.
"Eitsss... siapa ini La?" Tanya Nando mencoba menghentikan langkah Lila dan Aya.
"Oh... temen baruku."jawab Lila singkat.
"Gak dikenalin nie? Buka dong maskernya pengen liat wajah cantiknya!" Goda Nando.
"Maaf Nan kapan-kapan aja, aku buru-buru!" Jawab Lila singkat segera menarik tangan Aya menjauh.
"Uhuk...uhuk..."Aya pura-pura batuk, "Maaf permisi ,saya duluan kak." Ucap Aya dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Iya silahkan," Nando menanggapi "Suaranya merdu banget ya Rom?" Tanya Nando.Yang ditanya malah melamun menatap kepergian Lila dan Aya.
"Hey!" Tepukan Nando menyadarkan Romi dari lamunannya.
"Kenapa Nan?" Sahut Romi sedikit gelagapan.
Saat Lila dan Aya hampir mencapai mobil, Alan berlari menghampiri mereka, Alan menatap Aya sekilas kemudian menatap Lila. "Mau pulang La?" Dan dijawab dengan anggukan kepala.
Alan menatap Aya penuh selidik. "Ini siapa La?" Tanya Alan.
Aya tampak panik, tapi tangannya langsung digenggam erat oleh Lila agar lebih tenang.
"Ini teman baruku, perkenalkan namanya__"
"Raisha.....namaku Raisha," Potong Aya sambil menjulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Alan.
"Alan panggil saja Al..." jawabnya datar kemudian melepaskan tangannya. "Kenapa temanmu pakai masker La?" Alan masih menatap tajam ke arah Aya.
"Di...Dia sedang Flu...hmm.. lumayan parah, dari pada menular ....jadi aku suruh pakai masker iya kan ....Ra?" Jawab Lila sedikit gugup, memandang Aya meminta tanggapan.
"Ternyata kak Lila benar-benar buruk dalam hal berakting, kalau begini terus bisa-bisa dia curiga, baiklah aku yang akan bertindak agar manusia salju sialan ini menyingkir!" Batin Aya.
Aya langsung terbatuk-batuk, pura-pura bersih bahkan sampai menyedot ingusnya begitu meyakinkan, badannya sengaja ia condongkan ke Alan.
Dan tentu saja caranya berhasil, Alan memandang Aya geli sekaligus jijik, tangan bekas bersalaman dengan Aya iya usap-usapkan ke celana. Melihat tingkah Alan, Aya berusaha menahan tawanya. Tanpa sepatah katapun Alan langsung pergi.
Sontak tawa Aya langsung pecah. Lila yang mendengar itu langsung memukul pundak Aya. "Maaf Kak, lucu banget ekspresi si manusia salju Sialan itu!"
Lila berdecak kesal kemudian turun dari mobilnya. Aya yang penasaran dengan pemuda yang membuat Lila bisa sesebal itu, langsung ikut turun karena setahu Aya Lila tipe wanita yang penyabar dan lembut.
"Ngapain kau bocah tengik!" Lila menunjuk pemuda itu.
"Ah kakak sama adik sendiri juteknya minta ampun, minta uang kak!" Ujar pemuda yang bernama Radit itu mengatungkan tangannya.
"Kemarin kan udah Kakak kasih uang saku!" Ujar Lila sedikit meninggikan suaranya.
"Kurang lah kak, aku mau ngajak Pacarku jalan-jalan sama nonton!"
"Kamu itu pacaran terus, kapan belajarnya!" Lila menatap jengah adiknya.
"Biarin dari pada jadi perawan tua kayak Kakak!" Cibir Radit.
Aya yang dari tadi diam mendengar perdebatan adik kakak itu akhirnya tertawa.
Radit yang baru saja menyadari keberadaan Aya, bertanya kepada kakaknya Lila. "Temen Kakak!" Jawab Lila malas.
Aya menurunkan maskernya, lalu mengulurkan tangannya. "Aku Raisha, kamu adiknya Kak Lila ya, sekolah di mana?" Tanya Aya ramah.
Melihat kecantikan Aya, membuat Radit tersenyum secerah mentari sambil menunjukkan deretan giginya, tangannya masih memegang tangan Aya. Melihat tingkah modus adiknya itu ia langsung mengusir Radit.
"Wah sayang aku sudah punya pacar, kalau tidak aku mau banget jadi pacar Kak Raisha." Sahut Radit, dan hanya ditanggapi tawa dari Aya.
__ADS_1
"Sana pergi bocah tengik!" Usir Lila.
"Dasar Kakak pelit! Emang kakak ku Cuma kau saja!" Radit langsung mengedarkan pandangannya, "ah itu dia.... Kak Alan! Kakak ku yang paling ganteng!" Teriaknya sambil berlari menghampiri Alan yang tengah duduk bersama Romi dan Nando. Yang dipanggil pun langsung menoleh, beberapa detik tatapan mata Aya dan Alan sempat bertemu.
Di dalam mobil, Aya terdiam masih sibuk mencerna kalimat Radit di kepalanya.
"Kamu pasti ingin tanya tentang yang barusan kamu dengar," Lila memberikan jeda, membuat Aya langsung menoleh, "Aku mengenal Alan waktu SMA, dia adik kelasku Alan waktu itu sangat berbeda dari Sekarang, dia anak yang bandel, suka berkelahi, membolos bahkan berani merokok di kelas, suatu hari dia menembakku, aku bilang padanya aku tidak mau punya pacar anak nakal seperti dia, akhinya kami sepakat kalau dia mau berubah aku akan menerimanya jadi pacarku. Dan ternyata berhasil dia berubah bahkan dia menjadi predikat pertama di sekolah. Perlahan-lahan aku tau kalau sikap nakalnya selama ini disebabkan karena perceraian ke dua orang tuanya, menjadi anak broken home sangatlah berat baginya, aku mencoba selalu berada di sampingnya memberikan rasa nyaman agar dia tidak terpuruk lagi. Hubungan kami sangat lancar, setelah aku lulus SMA ia datang ke rumah bermaksud melamarku saat itu barulah aku tahu, ternyata Ayahku yang selama ini aku banggakan padanya juga ayah kandungnya, ayah yang sudah membuat hidupnya terpuruk dan membuat Ibunya menyandang gelar seorang Janda." Lila mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk matanya sebelum sempat jatuh.
Saat ia menoleh ke arah Aya, betapa terkejutnya ia melihat Aya yang menangis tersedu-sedu sampai sesenggukan. Matanya sembab. "Apakan dia menangis sedari tadi?" Batinnya.
"Huuuuu.....huuu...Tapi ...kalian bukan saudara kandung kan? harusnya Kalian masih bisa bersama." Sahut Aya masih sesenggukan.
Lila menggeleng lalu tersenyum masam, "Kami ini sedarah, Ayahku menikahi ibuku secara sirih sebelum aku dan Alan lahir, selama ini dia menyembunyikan pernikahannya dengan ibuku, sampai akhirnya ayahku hanya memilih ibuku dan melepaskan ibunya Alan."
"Maafkan sikapku yang kemaren ya Kak? pantas saja Alan marah banget sama aku."
"Tidak apa-apa, kamu kan tidak tau." Lila mengelus rambut Aya dengan lembut.
Akhirnya mobil itu sampai di kost-kostan Aya, ia mengajak Lila untuk naik dan melihat tempat tinggalnya. "Wah pemandangan bagus sekali." Lila terkagum-kagum, kost dengan tema Rooftop itu membuatnya begitu takjub, dari sana ia bisa melihat sungai bening di bawahnya dan pemandangan kota J****. "Bukankah itu rumah Alan?" Tunjuk Lila di bangunan yang sama tingginya.
Aya langsung menarik tangan Lila mengajaknya ke gazebo. "Kak jangan berdiri di sana, nanti Alan bisa lihat." Tunjuknya.
Lila mengerutkan keningnya, "hahaha....kamu ini ada-ada saja, mana mungkin dia bisa liat dengan jarak sejauh itu."
"Bisalah kak, selama ini dia itu ngintip dari sana lewat teropongnya Kak Romi!" Jelas Aya.
"Kok bisa?"
"Gak tau, emang dasarnya otak mesum!" Cerca Aya.
"Masak? Setahuku Alan bukan orang seperti itu." ujar Lila membela.
"Iya...iya yang belain adik kesayangannya." Sindir Aya. Mengerucutkan bibirnya.
"Eh, itu bibir kenapa?" Tanya Lila heran melihat bibir Aya yang lecet di bagian tengah.
"Ya tadi berantem beradu......," Aya menggantungkan kalimatnya."iya...Adu jotos Kak"
"Bohong! Aku ini dokter Aya, aku tau itu bekas gigitan bukan pukulan." Protes Lila.
"Iya Kak maaf." Aya menundukkan kepalanya merasa menyesal.
"Trus..??"
"Aku adu bibir sama Alan," Aya makin menundukkan wajahnya pipinya sudah memerah. Lila mengerutkan keningnya.
Aya mencoba menjelaskan dengan bahasa tubuhnya, ia mengerucutkan jari-jarinya kemudian menautkannya.
Lila terbelalak, "kalian Berciuman?!"
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih sudah setia dengan ceritaku..jangan lupa tinggalkan like dan komen ajak temanmu juga membaca novel ini ya?