
Pagi ini Aya berangkat ke kampus naik motornya tidak seperti beberapa hari terakhir, karena hari ini Alan tidak ke kampus karena ada urusan mendesak di perusahaannya dan mengharuskan ia untuk turun tangan sendiri begitu isi pesan yang ia terima pagi tadi. Entah kenapa ia merasa sangat merindukan pria itu, memang sejak kapan ia mempunyai perasaan itu ia pun tidak tau.
Setelah memarkirkan motornya ia beranjak berjalan memasuki area kampus, entah kenapa seperti sebuah Dejavu ia merasakan sikap teman-temannya berbeda tidak seperti biasanya, sikap mereka sama persis waktu dulu saat video dia menghina Alan. Anehnya sikap mereka malah lebih dari itu tampak dari tatapan mereka yang seolah jijik dengannya.
Suara telepon dari dalam sakunya membuat ia menghentikan langkahnya.
"Hallo ada apa Rom?"
"Kamu di mana sekarang? kalau bisa hari ini jangan masuk kuliah dulu." Suara Romi yang tampak cemas terdengar dari seberang telepon.
"Kenapa emang? Aku sekarang udah di parkiran kampus, nie mau jalan ke kelas." Jelas Aya sedikit terkekeh mendengar penuturan Romi yang menurutnya sangat berlebihan.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku disana!" Romi langsung menutup telfonnya.
Sebelum Aya menyimpan ponselnya lagi tampak ribuan chat di grub Mahasiswa kampus, sebenarnya ia jarang sekali mengintip ataupun sekedar ikut nimbrung dengan obrolan para mahasiswa yang menurutnya tidak terlalu penting, bahkan notifikasinya saja ia silent agar tidak mengganggu, entah kenapa hari ini ia sangat penasaran dengan isi obrolan itu karena bukan hanya ratusan seperti hari-hari biasanya tapi kali ini ribuan chat yang malah semakin lama semakin bertambah.
Tiba-tiba tubuh Aya menegang setelah membaca chat di grup itu, sebuah berita singkat tentang "Waspadai Kaum LGBT yang sudah masuk ke ranah Kampus" bukan pokok pembicaraan itu yang membuat Aya terkejut tapi Fotonya yang terpampang nyata, foto saat ia dan Alan berciuman di dalam mobil. Dan beberapa foto saat mereka berpegangan tangan dengan mesra, belum sempat Aya melihat semua isi dalam cart itu ia merasakan benda basah yang begitu bau mengenai punggungnya.
Plok!
Seseorang melemparkan telur busuk ke punggungnya. Begitu ia menoleh lemparan itu terjadi lagi. Tampak beberapa mahasiswa berdiri berkumpul di depannya.
"Hey brengs*k! kau....manusia menjijikkan, tidak punya malu ya? Masih berani menampakkan tampang menjijikkanmu itu!" Teriak salah satu pria.
"Pergi kau dari sini! Manusia perusak moral, bau telur busuk sangatlah cocok dengan mu." Hardik seseorang lagi.
"Apa perlu aku kasih pelajaran ini anak?" Tanya seorang pada salah satu temannya.
"Kalau aku sih tidak mau menyentuh badan menjijikkan yang kotor itu!" Teriak seorang lagi dengan tawa yang mengejek.
Ejekan-ejekan yang menyakitkan itu terus saja mereka lontarkan, Aya hanya bisa menunduk, ia sebenarnya bukanlah wanita yang kuat dia sangatlah rapuh. Matanya sudah membendung banyak air mata yang siap untuk tumpah. Satu lemparan batu ia terima, sedikit melukai pelipisnya tapi mampu membuatnya meringis kesakitan.
Bug!
Lemparan batu kedua terdengar tapi ia tidak merasakan apa-apa ternyata seorang pria melindunginya. Dan pria itu adalah Romi. Tanpa membuang-buang waktu ia langsung menarik tangan Aya dan mengajaknya berlari, beberapa orang mengejar mereka.
Syukurlah mereka sampai di ruang kesehatan tanpa ada yang tau.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Romi khawatir.
Aya langsung merosot dilantai ia menangis sejadi-jadinya dengan tangan yang membekap mulutnya sendiri, menahan suaranya agar tidak terdengar orang yang ada di luar. Tapi itu malah tampak sangat menyedihkan. Air matanya yang deras suara isak yang tertahan terdengar begitu pilu.
Romi yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa ikut duduk dan mengelus rambut Aya. Beberapa menit mereka tetap dengan posisi tersebut pundak Aya terus bergetar menandakan ia yang masih terus menangis. Hingga suara ketukan pintu membuat Aya mau tidak mau beranjak.
"Gimana La?" Tanya Romi kepada Lila yang baru saja masuk. Lila menatap sedih ke arah Aya, ia merangkul dan menggiringnya duduk di ranjang Kemudian ia pun duduk di sebelahnya.
"Syukurlah Ayahku tidak begitu terpengaruh dengan gosip itu, jadi kita tidak perlu khawatir kalau Aya akan di DO...dia juga memberi kebebasan untuk Aya, jika ia belum ingin masuk kuliah." Jelas Lila sambil memeluk Aya. Lila kemudian mengobati luka di pelipis Aya, tidak ada lagi senyum manis yang gadis itu tunjukkan, yang ada hanya gadis yang begitu menyedihkan dan putus asa.
"Kak aku mau pulang." Ujar Aya dengan suara lirih dengan kepala yang menunduk.
Lila dan Romi saling menatap, menghela nafas.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aya keluar dari ruangan kesehatan memegang tangan Lila dengan kepala yang masih menunduk. "Aya tidak usah takut, tidak ada yang mengenalimu dengan penampilan seperti ini."
Saat mencapai parkiran Ada rasa sedikit takut melihat tempat di mana ia sempat di lempari batu tadi.
"Lila,Romi Kalian lihat Asher gak?" Tanya Alan yang baru saja datang dengan nafas yang memburu seperti baru saja berlari.
Aya Tampak gugup melihat kedatangan Alan yang tiba-tiba, Lila melempar tatapan pada Romi seolah menyuruh ia membawa Aya pergi lebih dulu, Romi langsung mengangguk dan menarik Aya untuk segera meninggalkan Alan dan Lila.
Sepanjang perjalanan Aya tampak diam menatap kosong jalanan yang ia lewati.
"Aya, gak sebaiknya kamu ungkap rahasia mu sekarang," ucapan Lila membuat Aya langsung menoleh dengan alis yang bertautan.
Sedikit menghela nafas, "Tidak Kak, apapun yang terjadi aku tidak akan mengungkapkannya....biarlah ini menjadi urusanku, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini." Aya menatap jalanan kembali.
"Kami akan mencoba untuk membantumu Aya." Sahut Romi.
"Aku tidak mau merepotkan kalian."
"Bukankah dari awal kamu sudah merepotkan kami, jadi tidak perlu jual mahal seperti itu!" Sahut Romi yang mampu membuat Aya tersenyum tipis.
"Kamu yakin, turun di sini?" Tanya Lila setelah berhenti di post penjagaan, Aya menggaguk dan keluar dari mobil, tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Motorku?"
__ADS_1
Romi dan Lila tertawa, "Dalam keadaan seperti ini masih saja menghawatirkan motormu itu, sudah aku suruh Nando yang mengurusnya." Jelas Romi yang langsung membuat Aya bisa bernafas lega, Romi berjanji akan mengantarkannya ke rumah Aya. Dan seperti biasa ia menolaknya ia tidak ingin Romi tahu tempat tinggalnya, biarlah hanya Lila yang tau.
***
Alan begitu Sangat frustasi wajahnya tampak kusut, sudah berjam-jam ia mencari keberadaan Aya tapi tak kunjung menemukannya, ia sempat bertanya kepada Lila dan ia hanya bilang kalau Aya sudah pulang. Alan tidak langsung percaya karena motor Aya masih ada di parkiran.
"Motor?....ya motornya," batin Alan, ia langsung berlari kembali ke parkiran.
"Sial!" Umpat Alan ketika sudah tidak mendapati motor Aya lagi di tempatnya. Ia menelfon Aya berulang kali, tapi nomornya selalu tidak aktif. Tanpa pikir panjang Alan langsung mengendarai mobilnya berusaha mencari Aya di tempat-tempat biasanya ia berada, di Cafe tempat makan kemaren, Timezona dan terakhir di tempat biasa ia menurunkan Aya. Alan bertanya kepada satpam di sana.
"Bapak lihat cowok pakai motor matic hitam wajahnya manis punya kumis tipis gak pak?" Tanya Alan pada satpam tersebut, beberapa saat ia tampak berfikir dan kemudian menjawab pertanyaan Alan.
"Yang biasanya mas turunin di sini ya?"
Alan langsung mengangguk, Ada pancaran kebahagiaan saat pak satpam itu mengingat wajahnya dan yang terpenting ia mengingat wajah Aya.
"Hari ini saya gak lihat, memangnya kenapa mas?" Satpam itu balik bertanya.
"Bapak tau rumahnya dimana?"
"Dia bukan orang sini mas, sehabis mas pergi, orang itu biasanya mencari taksi dan pergi begitu saja."
Dan satu rahasia yang terungkap lagi, kalau Aya berbohong mengenai tempat tinggalnya yang katanya ada di kompleks tersebut. Alan hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benci karena tidak mengetahui rumah cowok yang dianggap pacarnya tersebut.
Sudah hampir satu Minggu Aya tidak masuk kuliah dan satu Minggu juga Alan selalu uring-uringan. Wajahnya tidak tampak seperti dulu, penampilannya acak-acakan dan selalu melamun. Ia tak henti-hentinya menghubungi Aya, tapi panggilannya selalu di alihkan. Alan tau pasti Aya sudah sangat membencinya, ataukah mungkin Aya mengira kalau yang menyebarkan foto itu adalah dirinya. Fikiran-fikiran itu yang membuatnya begitu frustasi.
"Gila Al! ....kamu udah denger berita belom?" Tanya Nando yang tiba-tiba duduk di depan Alan. Dan yang ditanya tampak sama sekali tidak peduli.
"Lila... adek tiri sekaligus mantan pacarmu itu punya cowok baru,!" Ujarnya penuh semangat. Tapi Alan sama sekali tidak bergeming, mungkin kalau biasanya ia akan menjitak dan memukul Nando tapi tidak untuk kali ini, rasanya badannya sudah malas meladeni temannya yang sedikit kurang sehat itu.
"Kamu pengen tau gak pacarnya itu siapa??" Nando memberikan jeda, melihat ekspresi Alan yang tidak berubah, membuat Nando menyelesaikan kalimatnya "Dia itu Asher si kumis lele itu!" Dan sontak bisa membuat Alan menoleh dengan tatapan tak percaya.
"Jangan asal bicara kamu ya?!" Sentak Alan sambil menarik kerah kaos yang dipakai Nando. Yang di sudutkan hanya bisa menelan Salivanya dengan susah payah.
"Beneran Al...A... Aku tidak bohong." Ucapnya sedikit terbata, Nando menunjukkan foto di grubnya, tampak Aya yang berpenampilan seperti saat ia di kampus, tangannya dirangkul Lila dengan sangat mesra, sekilas Aya mengecup kepala Lila, satu foto yang sederhana tapi membuat orang yang melihatnya tau kalau mungkin mereka sedang jatuh cinta dan sangat bahagia karena senyuman yang tercetak di sana.
Alan membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa ia berlari begitu saja, membuat Anita yang tengah berada di dapur kaget, apalagi saat ia mendengar suara benda-benda jatuh dari arah kamar Alan.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf tadi malam mau up malah ketiduran, jadi untuk hari ini up dua kali yang satunya masih proses menulis, jangan lupa like dan komen ya, supaya aku makin semangat menulis.... macacihhhhh