
Selepas Aya pergi, Lila mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk Al!"
"Ada apa La?" Tanya Alan setelah duduk.
"Nih buat kamu," Lila menyodorkan kotak makan yang diberikan Aya beberapa menit yang lalu.
"Tumben?" Alan langsung mengambil dan memakannya.
"Aku kan tau kamu suka yang manis-manis kayak cup cake gini," Lila tersenyum sambil menatap Alan yang dengan lahapnya memakan cup cake hingga tinggal sebiji. "Enak kan?"
"Kamu beli dimana?" Masih sambil mengunyah.
"Tadi di kasih sama mahasiswa baru yang namanya Asher."
Mendengar itu Alan langsung tersedak, dan seketika menghentikan makannya. Wajahnya tampak begitu marah. Setelah minum, Alan langsung beranjak berdiri.
"Aku harus pergi.... ada urusan!" Alan pergi dari ruangan itu dengan terburu-buru.
"Kenapa dia?" Lila menatap kepergian Alan.
***
Sesampainya Alan di kantin.
BRAK!
Alan tiba-tiba menggebrak meja, dan langsung menarik perhatian beberapa mahasiswa yang tengah makan.
"Kamu kenapa Al?" Tanya Romi
Wajah Alan masih tampak gusar ada kemarahan dari sorot matanya.
"Pasti gara-gara si kumis lele kan?" Nando tersenyum menyeringai.
Alan menatap tajam ke arah Nando, "Kamu harus lebih serius, memberikannya pelajaran!"
"Ok, serahkan saja padaku, kita buat dia kapok mendekati para gadis," Sahut Nando sambil tertawa jahat kemudian minum.
Saat Alan hendak berdiri, Romi menarik lengannya. "Tapi Al__" belum sempat Romi menyelesaikan bicaranya. Alan langsung menepis tangan Romi dan beranjak pergi.
Romi hanya bisa melihat kepergian Alan dan menatap Nando yang diam tak bergeming masih dengan senyum liciknya.
***
Sore itu saat Aya sampai ke tempat kost, tampak motor matic hitam yang ia beli kemarin sudah terparkir di teras, setelah memberitahukan dan meminta izin untuk titip parkir motor pada ibu Maria Aya naik ke kamarnya.
"Wiiihh,.. ada yang motornya baru ni?" Goda Cika yang sedang nonton TV di gazebo.
Aya tersenyum "itu masih kredit kok Cik," sahut Aya berbohong.
"Boleh dong! Diajak jalan-jalan pake motor barunya,"
"Boleh, nanti habis mandi aku ajak jalan-jalan deh... tapi kamu jadi penunjuk jalan ya? Soalnya aku kurang tau jalan di kota ini, kalau nyasar gimana?" Aya tertawa kecil sambil merangkul pundak Cika.
"Ok, aku tu tau semua jalan di sini, sampai jalan pintas pun aku tau, GPS mah lewat." Sombong Cika.
"Iya Cika, sayang," Sahut sambil mencubit pipi Cika kemudian tertawa bersama.
Malam itu Aya dan Cika yang sedang asik berkendara dengan motor barunya sambil mengobrol dan tanpa ia sadari motornya menabrak mobil yang berhenti di depannya.
Braakk!!!
Aya kaget dan langsung turun dari motornya, melihat keadaan mobil sport yang ia tabrak. Seseorang dari pintu penumpang turun. Seorang gadis cantik berpakaian sexi. Menatap tajam ke arah Aya.
__ADS_1
"Oh my God! Mobilku!!.." teriaknya.
"Kau punya mata, gak sih! Kau tau tidak berapa harga mobil ini?! Beraninya kau sudah merusak mobil mahalku!" Wanita itu masih berteriak sambil menunjuk-nunjuk Aya.
"Maaf mbak, saya gak sengaja... Salahkan saja sopir mbak yang berhenti mendadak." Aya tak mau kalah.
Seorang pria tampan turun dari pintu pengemudi menghampiri mereka. Aya kaget mengetahui siapa pengemudi mobil itu.
"Kenapa harus si manusia salju lagi," batin Aya.
"Ada apa Sheila?"tanya Alan memandang Aya dan Sheila bergantian.
"Ini sayang, cewek ini udah bikin mobil aku lecet!" Ujar Sheila manja sambil bergelayut manja di lengan Alan.
"Oh.... jadi ini pacarnya sungguh serasi mereka, sama-sama sombong," batin Aya lagi.
Perlahan Alan melepaskan lengannya dari pelukan Sheila. Dan memandang bemper mobil yang sedikit lecet.
"Hanya lecet, tidak usah di perpanjang."
"Benar juga yang kamu bilang, mana mampu dia mengganti rugi lecet di mobilku ini, dasar cewek miskin!" Cibir Sheila memandang rendah Aya.
Sontak Aya langsung menarik tangan Sheila sedikit menjauh dari Cika yang masih mematung di samping motor.
"Kamu tunggu di situ sebentar Cik!" Teriak Aya masih menarik tangan Sheila.
"Lepaskan tanganku dari tanganmu yang kotor itu!" Teriak Sheila. Aya langsung menghempaskan tangan Sheila.
"Aku akan mengganti kerugian mobilmu yang jelek itu!"
"Ciiih... Mana mungkin kamu mampu menggantinya!"
Alan mendekat dan hanya menjadi pendengar.
"Cepat katakan, berapa yang harus aku bayar?!"
Aya kemudian langsung menghubungi seseorang lewat telepon. Setelah menutupnya Aya menyodorkan handphone pada Sheila. "Masukkan no rekeningmu, aku akan langsung membayarnya!"
Belum lima menit menunggu handphone Sheila bergetar. Sheila tampak terkejut lalu memandang Aya.
"Dari ekspresi wajahmu, sepertinya urusan kita sudah selesai." Aya menaikkan sudut bibirnya lalu mendekati Sheila "asal kau tau saja ada banyak sekali mobil seperti itu di garasiku, kalau kau mau... aku bisa memberikan satu untukmu, tapi jika aku sudah bosan memakainya," bisik Aya ditelinga Sheila.
"Sialan!" Umpat Sheila dalam hati sambil menghentak-hentakkkan kakinya kesal.
Aya melangkah pergi dan saat melewati Alan tiba-tiba ia berhenti "ajari pacarmu itu sopan santun, jangan pernah memandang rendah orang!"
Kemudian, Aya melanjutkan perjalanan bersama Cika. Pergi meninggalkan Alan dan Sheila yang masih diam melihat kepergiannya.
"Apa.. pacar? Apa dia kira Sheila itu pacarku?" Batin Alan. "Sepertinya dugaanku benar dia bukan wanita dari kalangan biasa tapi kenapa aku merasa dia seperti berusaha menutupinya" Alan masih bergelut dengan fikirannya.
"Cewek yang tadi itu pacarnya si ganteng ya Ra?"tanya Cika yang sedang dibonceng Aya.
"iya kali... cocok kan mereka?" Jawab Aya masih mengemudikan motornya.
"Gak lah, cocokan juga sama aku." Sahut Cika sambil senyum-senyum sendiri.
"Hahaha, jangan deh kalo sama dia.... kamu bakalan nyesel." Masih sambil tertawa dan mengingat perlakuan teman Alan saat Ospek.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Hmmmm.... firasat aja." jawan Aya cepat karena tidak mungkin Aya bilang dia satu tempat kuliah dengan Alan.
"Oh....iya, Apa yang kamu obrolin sama cewek sombong tadi Ra?" Tanya
"Aku hanya berterima kasih padanya, karena tidak meminta ganti rugi padaku, kamu tau kan mobilnya mahal, mana punya uang aku untuk menggantinya." jawab Aya bohong masih menatap ke depan.
__ADS_1
"Tapi calon suamimu kan seorang dokter, saudara kembarmu juga kuliah di LA, mana mungkin kamu tidak punya uang?"
"Kan masih calon belum jadi suami, dan satu lagi Asher itu kuliah di LA karena dapat beasiswa." Jelas Aya masih menyetir.
Cika mengangguk-angguk "Memang berapa biaya ganti ruginya?" Tanya Cika penasaran.
"Sepuluh juta!"
"What?!" Teriak Cika kaget.
***
Pagi itu Aya sampai di kampus lebih awal, karena dirinya sudah punya kendaraan sendiri sudah di pastikan bisa berangkat lebih pagi. Dia tidak mau terlambat untuk kedua kalinya hingga membuat ia harus di hukum begitu pikirnya.
"Hey kamu... kumis lele!" Teriak Nando menunjuk Aya yang ada didalam barisan.
"Saya Kak?" Tunjuk Aya pada dirinya.
"Iya kamu, maju ke depan!"
Aya melihat para mahasiswa baru yang telat sudah berjajar di depan.
"Tapi saya tidak telah kak," sahut Aya.
"Apa harus saya ulangi lagi, cepat maju KE DEPAN!!" Bentak Nando dengan penuh penekanan.
Dengan perasaan kesal akhirnya Aya maju ke depan "kenapa saya di suruh kedepan kak? Kan sudah saya bilang kalau saya gak telat," Aya masih belum terima. Karena sudah di pastikan mahasiswa yang di suruh berbaris di depan akan kena hukuman.
"Saya lihat dari awal ospek kamu selalu berada di barisan yang banyak mahasiswinya, sepertinya otakmu ini,otak mesum!" Tunjuk Nando di kepala Aya sedikit didorong.
"Mana mungkin aku berfikiran seperti itu, aku kan sama-sama perempuan, apa dia sudah gila!" Batinnya. "Tidak Kak, saya lihat yang lainnya juga sama seperti saya."
Dan Aya malah mendapatkan sorakan yang lain. Tidak setuju dengan yang dikatakannya.
"Sebagai hukumannya kamu pust up dua puluh kali!" Perintah Nando.
"Tapi kak__"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong. "Bila dia tidak mau suruh saja bersihkan toilet!" Tiba-tiba Alan menyahut. Yang langsung mendapatkan teriakan histeris dari para mahasiswi.
"Ok,....toilet wanita kan?" Tanya Aya. Yang langsung mendapatkan sorakan dari yang lainnya.
"Huuuuuu!"
"Otak mesuuummm!" Teriak Semuanya.
"Haduh aku lupa, aku kan di sini jadi laki-laki," batin Aya. Aya begitu sangat malu karena sudah keceplosan."ini semua gara-gara si manusia salju itu, awas kau!" Batinnya.
"Ciih....toilet pria O'on!" teriak Nando di telinga Aya. Dan sontak Aya sedikit menjauhkan kepalanya.
"Saya pust up aja Kak," tanpa pikir panjang Aya langsung pust up. Dia tidak mau kalau harus membersihkan toilet pria. Dan hari inipun tidak cukup sampai disitu , hampir sepanjang hari ia terus saja menjadi pesuruh bagi Nando. Hari yang sungguh melelahkan bagi Aya.
"Akhirnya pulang juga, rasanya ingin sekali merebahkan diri dikasur setelah hari yang melelahkan ini." Gumam Aya sambil berjalan menuju parkiran.
Dan ternyata penderitaan Aya belum berakhir sampai disitu, betapa terkejutnya dirinya saat melihat ke dua ban motornya yang kempes. Rasanya tubuhnya ingin melebur saja hari itu. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya.
"Hey....kumis lele! ban motornya kempes ya? Hahaha....Kasian sekali! " Ujar Nando tertawa mengejek, mengeluarkan sedikit kepalanya dari balik jendela penumpang. Dan tampak juga Alan yang sedang duduk di kursi pengemudi menurunkan kacanya, menatap Aya dengan tatapan dingin sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. Kemudian berlalu meninggalkan Aya yang masih berdiri di samping motornya.
"Sepertinya itu bukan mobil yang kemaren dia pakai, apa hobinya jadi sopir,...... sudahlah bukan urusanku juga," pikir Aya sambil menggeleng kepala.
Sedangkan di dalam mobil yang dikendarai Alan. "Kenapa aku seperti tidak asing dengan motor itu ya? Dan goresan itu, kenapa bisa sama persis?"
Sebelum dia berlalu meninggalkan Aya di parkiran tadi, Alan sempat melihat goresan di bagian depan motor Aya.
Bersambung.....
__ADS_1
yang baca tolong tinggalkan like dan komentar ya terimakasih.