
Pagi ini Aya bangun dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ia sedang menatap pantulan di cermin kamarnya dan sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Tinggal memakai atribut yang biasa ia pakai setelah keluar dari tempat itu.
Ting!
Suara notifikasi pesan dari ponselnya membuat ia makin melebarkan senyum. Ia yakin itu pasti dari kekasih hatinya, ia masih saja mengenang moments romantis dari setiap kejutan yang Alan berikan kemarin, mungkin seumur hidup ia tidak akan pernah melupakannya.
Tapi kemudian senyumnya langsung surut saat melihat si pengirim pesan.
Ima: Ay, bisa kita ketemu nanti malam? Aku kangen.
Aya menghela nafas berat, mungkin memang sudah saatnya Aya mengatakan semuanya pada Ima.
Aya: Ok..aku juga kangen 😘
Setelah membalas pesan itu. ia langsung menyambar tas ranselnya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tuju tapi tidak ada tanda-tanda pesan dari Alan. Apakah kekasihnya itu hari ini tidak menjemputnya? Memikirkan itu membuat moodnya langsung memburuk. Aya menghentak-hentakkan kakinya sebal. Ia turun dari tangga dengan mulut yang mengerut.
Sesampainya di bawah ia menangkap sosok pelaku yang sudah membuatnya kesal. Sekarang ia tengah tersenyum ke arahnya sambil bersandar di pintu mobil.
Aya menatap Alan dengan tajam mulutnya masih mengerucut dengan tangan dilipat di dada.
"Kenapa sayang pagi-pagi mulutnya udah kayak bebek?" Alan mengelus pipi Aya dengan lembut.
Aya sedikit goyah karena perlakuan Alan. Tapi kemudian ia tersadar kembali, "Kenapa kamu gak ngirim pesan kalau kamu bakal jemput aku?"
Bukannya menjawab, Alan malah membukakan pintu mobil dan mau tidak mau Aya pun terpaksa masuk.
"Sejak kapan kamu menunggu ku?" Tanya Aya lagi.
"Sejak tiga puluh menit yang lalu." Alan mulai melajukan mobilnya.
Aya sedikit tercengang mendengar kalau ternyata selama itu Alan menunggunya. "Kenapa tidak mengirim pesan?"
"Buat apa?"
"Aku kan bisa cepet siap-siap, jadi kamu gak kelamaan nunggu."
Alan mengelus rambut Aya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk memegang kemudi. "Gak papa, aku akan selalu setia menunggumu seberapa lama pun itu. Kamu hanya perlu ingat, setiap pagi saat kamu turun dari tangga. Pasti aku sudah ada di sana."
Aya langsung berkaca-kaca mendengar ucapan pria itu. ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkannya. "Kapan-kapan kita ke tempat itu lagi ya?"
"Kemana?"
"Ke bukit, aku pengen lihat bintang lagi, aku baru sadar bintang dan kunang-kunang itu hampir sama. Sama-sama bersinar."
"Seperti kamu dong."
"Maksudnya?" Aya mengerutkan keningnya sambil menoleh ke arah Alan.
"Sama-sama bersinar, kamu itu cahaya di hatiku."
Aya memutar bola matanya jengah, "Gombal!."
"Beneran, aku gak bohong. Kamu tahu gak kenapa saat kita kecil dulu, aku gak takut saat kita jatuh kejurang."
"Kenapa?"
"Karena ada kamu aku jadi gak takut, kamu itu bagaikan cahaya yang selalu bersinar di kegelapan." Sesekali ia menoleh untuk menatap Aya yang sekarang pipinya sudah memerah.
"Udah ih....makin merah ni pipi Aku." Memang benar sekarang pipi Aya sudah seperti kepiting rebus.
Alan mengambil tangan Aya, dikecupnya tangan itu. Menurut Alan Aya adalah cahaya di hatinya. Membuat Alan yang dingin menjadi sosok yang hangat. Membuat Alan merasakan cinta. Membuat Alan menjadi sosok yang pemaaf. Membuat hari-harinya semakin berwarna. Bagaikan cahaya yang menyinari gelapnya malam.
Alan memberhentikan mobilnya saat hampir mendekati area kampus. "Kamu gak siap-siap?"
"Hmm?" Aya menoleh seperti tersadar dari lamunannya kemudian menepuk jidatnya. "Lupa!"
__ADS_1
Saat Aya akan mengeluarkan atribut penyamarannya. Cekalan di tangan membuatnya berhenti.
"Sebentar!" Alan meraih kepala Aya kemudian mencium keningnya sedikit lebih lama. Dipandangnya wajah cantik dengan rona merah di pipinya.
"Aku ingin melihat wajahmu Lebih lama sebelum berubah menjadi manly." Aya tergelak mendengar penuturan Alan.
Saat Aya bersiap-siap sorot mata lelaki itu tak lepas dari dada Aya yang tampak rata. "Kamu gak meras sesak gitu dada di belit-belit pake kain?"
Aya langsung menyilangkan kedua tangannya ke dada. "Tau dari mana kamu?" Tanyanya sambil melirik curiga ke arah Alan.
Alan langsung membuang muka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh..emm, gak! Cuma nebak aja." Kilahnya.
Sikap gugub yang ditunjukkan Alan semakin membuat Aya curiga kalau lelaki itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Bohong!"
"Buat apa aku bohong?" Kekeh Alan.
"Kalau kamu gak mau jujur mendingan aku pergi aja!" Aya membuka pintu mobil tapi kemudian di tahan Alan.
"Oke...oke aku jujur, tapi janji kamu gak akan marah."
Aya kembali menutup pintu mobil lagi. Setelah menghela nafas Alan mulai menceritakan kejadian saat pertama kali melihat Aya di penginapan sepulang dari puncak setelah kejadian kecelakaan. Saat Alan hendak mengambil mobil tapi ia urungkan kemudian tanpa sengaja melihat Aya berganti baju dan saat itulah Alan mengetahui kalau Asher yang selama ini bersamaanya adalah seorang perempuan.
"Jadi sejak itu kamu tahu kalau sebenarnya aku ini perempuan?!" Sungut Aya.
Alan tersenyum cengengesan, "Iya..."
Tak terelakkan pukulan bertubi-tubi Alan terima karena kekesalan Aya yang teramat. Setelah puas mengamuk akhirnya Alan bisa melanjutkan perjalanan yang beberapa meter lagi sudah sampai di kampus.
Aya membanting pintu mobil dengan keras saat keluar, tampaknya ia masih kesal.
"Sono loe jangan dekat-dekat gue!" Sentak Aya dengan suara beratnya saat tangan Alan disampirkan di pundaknya.
"Wih...udah mode manly sekarang!" Alan mensejajarkan langkahnya dengan Aya.
Aya terus mendorong tubuh Alan agar menjauh, tapi Alan tidak menghiraukannya dan kembali lagi merangkul Aya.
"Maafin aku dulu!" Tangan Alan tetap setia nangkring di pundak Aya.
"Iya...iya." bisiknya lagi, saat tangan Alan benar-benar terlepas. Aya langsung berlari kemudi menengok kebelakang sambil menjulurkan lidahnya.
Alan yang melihat itu langsung mengejar Aya. Ia menghiraukan tatapan para mahasiswa yang menatapnya heran.
***
Pulang dari kampus sebenarnya Alan mengajak Aya untuk makan malam bersama tapi Aya tolak ia beralasan kalau badannya sudah capek jadi butuh istirahat. Sebenarnya malam ini ia ada janji temu dengan ima. Aya tidak memberi tahu Alan soal itu, ia merasa bisa mengatasinya sendiri, toh lama-kelamaan pasti ima akan tahu dan sebelum ia tahu dari orang lain lebih baik tahu dari dirinya langsung begitu pikirnya.
"Kamu sudah lama?" Tanya Aya seraya memeluk ima kemudian ikut duduk di depannya.
"Belum lama...mau pesen apa?" tanya Ima.
"Biasa lemon tea sama ayam goreng aja."
Ima melambaikan tangannya ke waiters untuk mulai memesan. Sesaat pelayanan itu tertegun melihat kecantikan Aya. Tidak hanya dia tapi hampir semua pengunjung restoran menatap kagum ke arah Aya, seolah tersihir dengan kecantikan alaminya.
"Mas kami mau pesan!" Suara Ima membuat pelayan laki-laki tersadar.
"Eh...maaf mbak." Ia tampak salah tingkah, setelah menulis pesanan pelayanan itu pun langsung undur diri.
"Selalu saja ya. Kamu jadi pusat perhatian." Ada nada iri yang terselip di kata-kata yang ima lontarkan. "Eh...Gimana kabarmu?" Sambungnya sambil memasang senyum manis.
"Baik, kamu sendiri gimana? Kok lama banget gak ngasih kabar?" Aya tampak mengerutkan bibirnya.
"Sorry aku sedang sibuk-sibuknya, banyak pelajaran praktek."
Mereka berbincang-bincang hal biasa sampai makanan sampai, "Terima kasih." Ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Maaf ya Ay, soal kejadian di Cafe Nando waktu itu. Kamu harus melihat adegan yang tidak pantas." Ima menatap Aya dengan membuat ekspresi seolah-olah menyesal.
"Uhuk!...uhuk!" Saat tersedak Aya langsung menerima minuman yang disodorkan Ima.
"Eh...iya gak apa-apa, itu kan hal yang wajar kalian kan berpacaran."
"Kita sekarang sudah putus." Ima menunduk.
Aya meletakkan sendok dan garpunya kemudian mengambil tangan Ima untuk ia genggam. "Kamu harus kuat ma, aku yakin kamu adalah wanita tegar, jangan hanya karena patah hati kamu jadi terpuruk. Aku yakin ada laki-laki di luar sana yang lebih baik dari dia dan mungkin dia adalah jodohmu yang sebenarnya."
"Dia menyukaimu."
Ucapan Ima seperti sebuah kilatan petir yang menyambar. Bagaimana caranya ia menjelaskan hubungannya dengan Alan.
"Dia bilang sendiri padaku sebelum kita putus." Ucap Ima lagi. Aya semakin bingung bagaimana cara ia menanggapi ucapan Ima.
"Apakah kalian sudah jadian?" Pertanyaan Ima yang sedari tadi ia takutkan akhirnya terucap.
"Em... Ima aku bisa menjelaskannya, memang benar sekarang kita sudah jadian, Tapi itu tidak seperti yang kamu fikirkan. Mungkin kamu tidak percaya, Tapi yang akan aku katakan ini adalah kenyataan. Sebelum Alan mengenalmu dia sudah menjalin hubungan denganku saat aku masih berpenampilan laki-laki. Aku tidak ingin membuat dia di cap sebagai penyuka sesama jadi aku membuat dirinya membenciku. Dia sempat berpacaran dengan beberapa cewek sampai ia tahu kalau aku sebenernya seorang perempuan. Dan saat itulah ia memutuskanmu." Aya tampak menunduk menyesal.
"Bisakah kau melakukan itu lagi?"
Pertanyaan ima membuat Aya mendongak sambil mengerutkan keningnya dalam.
"Bisakah kau membuat dia membencimu agar dia kembali padaku? Aku ingin dia bersamaku lagi Ay." Ima menatap Aya iba bahkan sekarang air matanya luluh.
Perlahan Aya menarik tangannya. "Maaf Ima itu tidak mungkin. Aku tidak bisa melakukannya. Cinta itu tidak bisa dipaksakan ma! Bila kalian bersama lagi kalian malah akan saling menyakiti. Terlebih bagi kamu, pasti akan lebih menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu itu sungguh sakit. Maaf ma aku tidak bisa."
Ima semakin menunduk dalam, dibalik itu ada senyuman dengan raut muka jengah terpampang nyata. Tapi kemudian berubah jadi senyuman tulus saat ia mendongak.
"Baiklah aku mengerti. Memang seharusnya aku merelakan Alan untukmu. Aku berharap kalian bahagia." Ucapnya.
Walaupun terkejut, tapi saat ini Aya sangat bahagia, akhirnya sahabatnya itu merelakan Alan untuknya dan merestui hubungan mereka.
"Terima kasih ma, aku tahu kamu pasti akan mengatakan itu." Aya langsung menghambur memeluk Ima.
Dibalik punggung Aya, ada seringai licik tergambar jelas. "Tunggu pembalasanku Aya. Bila aku tidak bisa mendapatkan Alan. Kamu pun juga tidak." Batinnya.
"Yang bener sayang?"
"Iya benar, aku senang banget Al. Akhirnya beban yang selama ini aku pikul akhirnya terangkat juga."
"Sini aku bantu ngangkat."
"Ih... Alan." Kini mereka tengah mengobrol lewat telefon sepulang dia menemui Ima. Aya tidak tahu saja kalau sekarang Alan yang ada di seberang sana tengah berfikir keras seolah tidak mempercayai apa yang baru saja Aya katakan.
"Benarkan yang dulu pernah aku katakan? Kalau sebenarnya Ima itu tidak seperti yang ada di fikiranmu. Pasti dia mengerti dan memakluminya."
"Iya...iya, gih sana buruan tidur, jangan lupa nanti mimpiin aku."
"Oke....Selamat malam Alan sayang."
"Selamat malam cahaya hatiku."
Aya memandang layar ponsel yang baru saja tertutup. Ia senang sekali saat Alan memanggilnya dengan sebutan cahaya hatiku. Aya menguap tak lama matanyapun mulai terpejam.
Suara gaduh dari luar mau tidak mau membuat Aya harus terbangun dari mimpi indahnya bersama Alan. Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Dengan tangan yang masih mengucek-ngucek matanya ia menuju pintu kamar.
Brak!
Tiba-tiba pintu itu terbuka secara paksa. Bersamaan dengan itu kini mata Aya benar-benar sudah sadar hingga tampak terbelalak dengan mulut terbuka.
"Sudah cukup main-mainnya!!" Suara barito terdengar menggelegar dalam ruanga itu.
Bersambung.....
__ADS_1
akhirnya selesai juga episode ini, wah kemaren agak jungkir balik ya. Otak halu aku tiba-tiba buntu. baru agak sorean nemu inspirasi saat di kamar mandi. jadi bisa lanjut nulis... ayo dong pada komen biar aku makin semangat...komen lanjutkan gitu juga gpp kok... hehehe.