Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Sahabat Dekat


__ADS_3

Mata Aya mengerjab beberapa kali, ia masih belum mengerti maksud ucapan Alan.


"Emm?" Gumam Aya.


Alan tersenyum, kedua tangannya memegang pundak Aya. "Jadi kamu masih ingat kejadian sebelas tahun yang lalu?"


Aya mengaguk, "Tentu saja."


Senyum Alan makin terlihat jelas, bahkan ia tertawa. Aya akhinya menyimpulkan sendiri kalau Alan tidak marah padanya.


"Itu.. berarti kau tidak marah padaku kan?" Aya mencoba melihat ekspresi wajah Alan, ia ingin memastikan sendiri.


Senyum itu tiba-tiba pudar, "Tentu saja aku masih marah padamu, kau sudah membohongiku....dan membuat aku terlihat bodoh!" Alan beralih memandang bangun di depannya, tangannya mencengkeram tralis pembatas.


Aya mengusap air matanya yang masih tersisa, "Aku mohon Al maafkan aku...dan aku juga mohon padamu agar merahasiakan hal ini, biarkan hanya Aku, kamu, Kak Lila dan Romi yang tahu."


"Jadi mereka semua juga tahu?!" Alan berpura-pura.


"Tapi itu juga tidak disengaja, Kak Lila tahu saat aku pingsan waktu Ospek, Romi tau saat kegiatan Mapala, dan terakhir kamu." Aya langsung menjelaskannya agar Alan tidak semakin salah paham.


"Ternyata mereka sudah lama mengetahuinya, pantas saja sikap mereka aneh." Batin Alan.


"Baiklah aku akan memaafkanmu, Tapi dengan satu syarat...." Alan berbalik menatap Aya yang berdiri di sampingnya ia tersenyum menyeringai.


"Oke...kalau aku bisa pasti akan aku penuhi." Aya menanggapi.


Saat Alan mulai membuka mulutnya..


"Tunggu dulu....jangan meminta putus pada Ima." Sahut Aya.


Alan mengaguk menyetujui, saat akan mengatakannya lagi....


"Tunggu,...jangan meminta aku menjadi pacar kamu!" Sahutnya lagi memotong ucapan Alan yang bahkan belum ia ucapkan.


Alan hanya bisa mengelus dada, berusaha untuk sabar. "Sekarang aku sudah boleh ngomong?" Aya mengangguk. "Aku mau kamu jadi sahabat dekatku!" Itulah syarat yang Alan minta.


"Bukannya kita sudah menjadi sahabat?" Protes Aya.


"Bukan...kita hanya teman, teman dan sahabat itu beda,... sahabat selalu ada di saat kita butuhkan dan selalu mengerti yang kita mau." Jelas Alan.


"Oke aku setuju." Tanpa berfikir Aya langsung menyetujuinya. Ia tak tau saja, arti sahabat bagi Alan itu seperti apa. Senyum menyeringai yang tersungging di bibir Alan tidak diketahui Aya.


"Ngapain kalian di sini?" Suara Pria dari arah belakang membuat mereka menoleh. "Jangan berbuat yang macam-macam ya!"


Alan berdecak, "Kami hanya mengobrol, jangan asal menuduh!"


"Hey kau! lebih sopan sedikit....aku ini lebih tua darimu!" Aris tampak tidak terima.


Alan mendengus kesal, "Tapi sikap anda tidak mencerminkan umur anda yang sudah matang?"


Tangan Aris sudah terkepal, wajahnya pun sudah menunjukkan amarah. Sedangkan Alan menatap remeh ke arah Aries.


"Sudah Al!" Bisik Aya, ia memegang lengan Alan.


"Eh kalian bertiga ngapain di sini?" Syukurlah Cika datang hingga suasana yang awalnya awkward jadi lebih kondusif. "Eh, jangan coba-coba deketin Raisha ya....dia udah punya tunangan."


Perkataan Cika membuat Alan dan Aris menoleh menatap Cika. "Iya kan Ra?.. tunangan nya itu seorang Dokter. Kalau kalian macam-macam di suntik biar tau rasa."


Mendengar itu Aya tertawa, buru-buru Cika menarik tangan Aya, menjauhkan dari dua lelaki yang bersitegang.

__ADS_1


Cika dan Nando sebagai pemilik acara membagi tugas untuk semua orang, laki-laki bertugas menyiapkan arang untuk memanggang, perempuan menyiapkan bahan makanan.


Awalnya Aya menyiapkan bahan makanan di bantu Cika dan Lisa tapi kenyataannya mereka malah cuma ngrecoki saja, di suruh potong-potong katanya takut kuku cantiknya rusak, di suruh ngupas gak bisa, akhinya Aya menyuruh mereka untuk membantu pekerjaan para cowok saja.


Aya mengerjakan semua sendiri dengan sudah memakai clemeknya Aya memotong bahan-bahan makanan. Rambutnya yang terurai membuatnya sedikit kesusahan dan tidak bisa bergerak bebas.


Tiba-tiba ia merasakan tarikan halus di rambutnya, Aya reflek menoleh dilihatnya Alan sedang berusaha mengikat dan menggelung rambut Aya. Aya langsung gugub, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Beres!" Ucap Alan setelah selesai mengikat rambut. "Ada yang bisa aku bantu?" Alan menawarkan diri.


Aya mengeryit, "Gak perlu,...aku tidak perlu bantuan, mending bantu yang lain."


"Liat saja mereka." Alan menunjuk gerombolan teman-temannya.


Aya mengerutkan keningnya saat melihat pemandangan teman-temannya, terlihat hanya Romi dan Aris yang bekerja, sedangkan Cika dan Nando malah asik pacaran, Lisa juga sedang sibuk memainkan ponselnya, ia sedang berbicar sendiri menggunakan kamera depan mungkin sedang membuat instastory.


"Memangnya kau bisa..?" Aya memandang Alan ragu.


"Jangan meremehkan aku!" Alan mengambil ikan lalu dengan telaten membersihkannya dari sisik dan isi perut tidak lupa mengeratnya agar bumbunya nanti meresab.


Aya sampai takjum melihat kelihaian Alan dalam hal itu, "Gak nyangka putra mahkota bisa melakukannya."


Alan menoleh, menatap Aya yang sedang serius mengaduk bumbu olesan yang ada di panci.



Alan tersenyum kemudian menjawil hidung Aya dengan telunjuknya. Sontak Aya berhenti dari kegiatannya ia mengendus. "Alan!....kan hidungku jadi bau amis!" Teriaknya.


Alan terkekeh ternyata dia lupa belum mencuci tangannya setelah membersihkan ikan. Aya yang marah langsung melayankan pukulnya.


"Ampun.... ampun, aku gak sengaja." Ia mengatakannya masih dengan tertawa.


"Sini biar aku bersihkan."


Setelah di rasa Aya tidak marah lagi Alan mulai mengajaknya mengobrol. "Belajar masak dari mana?"


Aya menoleh sebelum menjawab pertanyaan Alan, "Awalnya sih dari Mama itung-itung mengisi waktu senggang, lama-lama jadi suka dan akhinya aku tekunin dengan ikut kursus masak."


"Istri idaman."


"Emm?" Tanya Aya karena tidak terlalu mendengar ucapan Alan.


"Gak papa....kamu juga jago berantem, belajar dari mana?" Tanga Alan sedang memotong daging Ayam.


"Dari Ima...dia kan jago karate, kalau di rumah dia mengajar anak-anak, aku kandang juga bantu dia ngajar." Aya masih sibuk mengadukan bumbu olesan.


"Eh, gimana hubungan kamu dengan Ima?" Aya menoleh memperhatikan Alan.


"Eh, ati-ati gosong itu." Tunjuk Alan pada panci yang sedang di panaskan Aya. Sebenarnya itu cuma alansannya saja mengalihkan perhatian Aya.


"Gak lah....ini kan udah jadi,coba kamu cicipi udah enak belum?" Aya menyodorkan sedok sayur.


Bukannya menggunakan jari telunjuknya sendiri untuk mencicip, ia malah mengambil tangan Aya dan menggunakan telunjuknya untuk kemudian ia masukkan ke dalam mulut.


Tentu saja tindakannya itu membuat Aya langsung menegang, jantung berdetak lebih cepat. Wajahnya pun sudah seperti kepiting rebus. Ia buru-buru menarik tangannya.


"Udah pas...enak." ucap Alan dengan polosnya sambil mengacungkan jempol.


"Ke.. kenapa pake... tanganku?" Tanya aya gugup.

__ADS_1


Alan menunjukkan kedua tangannya yang agak basah, "tanganku masih bau amis."


Aya memutar bola matanya jengah, "Kan, jadi aku lagi yang kenapa amisnya."


"Yaudah sini aku bantu bersihin." Alan menarik tangan Aya, membasuhnya dengan air mengalir di cucian piring yang ada di sebelahnya, sekalian juga ia ingin membasuh tangannya sendiri.


"Please Aya....jangan baper!" Batinnya sambil memejamkan mata. "Kita hanya sahabat."Aya masih belum mau membuka matanya. Bukannya mereda Aya malah merasa seperti terkena sengatan listrik. "Apa dia sejenis konduktor, kenapa bisa menghantarkan listrik?"


Alan dengan telaten membersihkan kedua tangan Aya, sesekali ia menatap mata Aya yang masih terpejam, Alan menyunggingkan senyum penuh arti. Kenapa bisa semenyenangkan ini membuat gadis di sampingnya itu tersipu dan salah tingkah batinya dalam hati.


"Hooooy!...jangan pacaran muluk! kita kelaperan!" Teriak Nando.


Mendengar itu, Aya dan Alan saling menatap kemudian tertawa bersamaan.


Seperti pembagian pekerjaan yang tidak menguntungkan di awal tadi, sekarangpun juga sama, semuanya tampak sibuk sendiri, bedanya sekarang Romi dan Aris sibuk memasang kembang api untuk acara jam dua belas nanti. Sedangkan tiga orang lainnya masih setia dengan pekerjaannya yang tidak terlalu penting, satu pasang sedang pacaran dan satu lagi sibuk dengan sosmed.


"Sini biar aku saja." Tawar Alan, karena sedari tadi hanya Aya yang sibuk memanggang sampai ia belum sempat makan.


"Tidak usah, nanggung tinggal dikit." Aya malah sibuk membolak-balik sosis dan danging di pemanggang.


"Buka mulutmu!" Alan menyuapkan potongan daging ayam kesukaan Aya.


Aya langsung geleng-geleng, tapi pelototan Alan membuatnya mau tidak mau membuka mulut.


"Pinter...." Puji Alan sambil mengacak-acak rambut Aya.


"Alan mengacak-acak rambutku Tapi kenapa hatiku yang berasa berantakan." Batin Aya, pipinya sudah memanas.


Alan terus menyuapi Aya, padahal sekarang dirinya sudah selesai memanggang. Kata Alan nanggung.


"Udah Al,.....aku malu." Lirih Aya.


"Gak papa...kita kan sahabat." Sahut Alan polos, tangganya sudah terulur mengusab bibir Aya yang sedikit belepotan. "Kamu ini makannya kayak anak kecil."


Aya rasanya ingin menenggelamkan dirinya di rawa-rawa, karena sekarang semua orang menatap kepadanya dan juga Alan.


"Kalian berdua ini uwuww banget sih.... bukannya baru pertama ketemu ya?" Cika yang sedari tadi penasaran akhirnya tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.


Alan dan Aya saling menatap, "Sebenarnya sudah beberapa kali bertemu, tapi baru kali ini bisa gobrol lama, pertama ketemu juga sama kamu kok Cik." Akhirnya Aya yang bersuara.


Alan pasrah saja, ia hanya mengiyakan semua perkataan Aya.


"Kapan Ra, aku kok gak inget ya?" Cika masih berusaha mengingat-ingat.


"Waktu di ATM, ..sehari setelah aku tiba di sini."


"Oh....yang kamu bilang Malaikat Izrail itu ya?" Cika seperti mendapat pencerahan.


Aya sedikit menegang ia melirik Alan yang duduk di sampingnya, ternyata lelaki itu kini menatapnya tajam. "Malaikat Izrail ya?...berani sekali kamu!"


Aya beranjak berdiri dan langsung berlari. "Hey... jangan lari!" Teriak Alan.


Akhirnya mereka berdua saling kejar-kejaran seperti anak kecil. "Berhenti gak?"


Aya menjulurkan lidahnya, "weeekk.. gak mau, kalau bisa tangkap aku!"


Dengan cepat Alan menangkap pinggang Aya, memeluknya dari belakang lalu memutar-mutar badannya hingga Aya merasa pusing.


Orang-orang yang ada di sana hanya bisa melongo, sebagai penonton ke uwuwwan pasangan yang katanya sahabat tapi tampak seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


Bersambung.....


Hello semuanya, udah pada kangen Aya sama Alan belum...? episode ini saya bikin Full Aya ma Alan, pengennya bikin yang uwuw tapi gak tau berhasil gak,tapi Semoga suka... jangan lupa Like, komentar dan Vote... macacihhhhh


__ADS_2