Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Dokter Lila


__ADS_3

Tepukan di pundak Aya menyadarkannya dari lamunan, Aya langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kesehatan. Syukurlah saat itu hanya ada dirinya dan dokter itu.


"Apakah dokter bisa menjaga rahasia?" Tanya Aya,menatap dokter itu dengan intens.


Dokter wanita itu masih tidak bergeming, menatap Aya dengan penuh tanda tanya.


"Saya punya alasan kenapa berpenampilan seperti ini, saya akan menceritakannya asal dokter bisa menjaga rahasia saya," Aya memberikan tawarannya. Masih serius menatap dokter itu.


"Baiklah,... bila alasan kamu bisa saya terima saya akan menjaga rahasia kamu," jawab dokter itu.


Akhirnya Aya mulai menceritakan alasan kenapa dirinya menyamar sebagai laki-laki di kampus itu. Dari mulai masa kecilnya yang terkekang dan hanya mengenyam pendidikan lewat Home schooling. Tidak pernah mendapat kebebasannya dalam bergaul dan memilih teman, dan pada akhirnya dia berada di titik jenuh dengan kehidupan yang dijalani. Dan munculah ide bertukar identitas dengan saudara kembar yang juga ingin meraih cita-citanya untuk kuliah di luar negeri. Semuanya ia ceritakan kecuali asal usul keluarganya yang sebenarnya.


"Saya masih belum percaya dengan ceritamu?" Sahut dokter itu sambil mengerutkan keningnya.


"Saya tidak bisa memaksa dokter untuk percaya, Saya juga tidak punya bukti, saya hanya punya foto ini," Aya menunjuk foto dirinya bersama Asher, foto saat kecil dan foto saat dewasa di handphone miliknya.


Setidaknya cerita kalau dirinya punya saudara kembar, itu adalah salah satu bukti kalau yang barusan ia katakan adalah benar.


Dokter itu menatap Aya, lalu menghela nafas, "Oke saya percaya, tapi ...kamu berani sekali melakukannya?"


Aya tersenyum, "demi kehidupan baru dok?"


"Panggil saja saya Lila."


"Iya Kak lila, boleh kan saya panggil Kakak?" Tanya Aya. Dan dijawab dengan anggukkan kepala.


"Kalau di rumah, saya di panggil Aya, tapi kalau disini Kak lila panggil saja Asher... oke?" Aya mengerlingkan matanya dan langsung membuat lila tertawa.


"Kamu itu sebenarnya cantik, kok mau dandan kayak gini, pake kumis segala!" Lila menunjukkan rambut dan kumis yang Aya pakai.


"Kan sudah saya bilang demi kehidupan Baru Kak!" Aya dan lila tertawa bersama.


"Oh....iya Kak, yang tadi bawa saya kesini siapa ya?" Belum sempat lila menjawab seseorang masuk ke dalam ruangan.


Citra dan Amanah menyelonong masuk dan langsung duduk di samping Aya.


"Gimana keadaan kamu Sher? " Tanya Citra.


"Gue udah baikan!" Jawab Aya dengan suara beratnya. Dan langsung membuat dokter Lila mengeryit.


"Dia kenapa dok?" Tanya Amanda.


"Ow...dia cuma dehidrasi karena kelelahan," Jawab Lila kemudian beranjak berdiri dan duduk di meja prakteknya.


"Mungkin kamu laper kali Sher, yuk ke kantin?" Ajak Citra langsung menggandeng tangan Asher.


"Kalian duluan aja,ntr gue nyusul!" Aya menarik tangannya.


Citra dan Amanda, akhirnya keluar meninggalkan Aya dan dokter Lila di ruang kesehatan.


Aya mendekati Lila lalu sedikit membungkuk dan berbisik "Kak Lila beneran ya,jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita berdua?"


"Iya..beres," Lila tersenyum.


Aya keluar dari ruangan itu sambil melambaikan tangannya.


***


Di ruang kelas yang sepi.


Alan and the Genk, sedang mengobrolkan sesuatu.

__ADS_1


"Nan... kayaknya kali ini kamu keterlaluan!" Sahut Romi.


"Dianya aja yang lemah, baru juga lima putaran udah pingsan," Nando tertawa.


"Udah !!...cukup kali ini!" Alan akhirnya bersuara.


Kedua temannya menatap Alan,mereka tau apa maksud dari perkataan itu, secara tegas menyuruh Nando untuk berhenti menjaili Aya alias Asher KW.


"Tapi Al__" ucapan Nando terpotong oleh tatapan tajam dari Alan. Kemudian Alan beranjak pergi.


Nando mendengus kesal, "awalnya Aku gak mau kasih tau kamu soal ini, tapi kayaknya aku perlu mengatakannya!" Sahut Nando sedikit mengeraskan suaranya.


Alan menghentikan langkahnya, sedikit mempertajam pendengarannya.


"Aku tadi gak sengaja liat Anak kumis lele itu sedang ngobrol dengan Lila begitu akrab, bahkan mereka tertawa bersama," Nando menaikan sudut bibirnya.


"Kamu tau Rom, Anak itu membisikkan sesuatu pada Lila dan membuat Lila tersipu malu," Nando masih melanjutkan perkataannya.


Alan menoleh menatap Nando, "Terserah, apa yang akan kau lakukan pada anak itu," Alan melanjutkan langkahnya hingga hilang dari balik pintu.


"Dasar kompor meleduk!" Romi langsung mengeplak kepala Nando.


"Beneran kok, aku gak bohong!" Nando mengusap-usap kepalanya lalu beranjak berdiri.


"Pasti kamu tambah-tambahin, kamu tahu sendiri kan kalau Alan sensitif bila menyangkut Lila, kenapa kamu malah__" Romi menghentikan kalimatnya lalu menghela nafas berat, entah kenapa dia merasa kasian dengan nasib Aya.


"Kalau kamu suka sama gadis yang bernama Citra itu ya tembak aja dia, jangan malah menjadikan Bocah kumis itu sasaran kamu! tau gak, kamu terlihat seperti pengecut!" Ujar Romi yang langsung berjalan melewati Nando yang masih mematung.


"Sialan!" Umpat Nando.


***


"Sepertinya aku perlu beli motor, supaya besok gak telat lagi," batinnya.


"Mas mampir ke dealer motor dulu ya?" Aya menepuk pundak pengemudi online.


Aya jadi teringat masa-masa remaja, saat dia sering ke rumah Ima dan secara diam-diam meminta mengajarinya naik motor,tentu tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Hal yang paling lucu adalah saat mulai belajar dan dia menabrakkan motornya ke kandang ayam milik ibunya Ima. Tanpa sadar Aya tertawa.


"Permisi mbk?" Ujar pengemudi online.


"Iya..ada apa mas?"


"Sudah sampai."


Beberapa saat setelah melihat-lihat akhirnya pilihan Aya jatuh ke sebuah motor matic berwarna hitam. Setelah melakukan pembayaran diapun melanjutkan perjalanan pulang.


Suara langkah kaki menapaki tangga terdengar. Tampak Aya tengah membawa dua kardus dengan sedikit kesusahan. Melihat itu Mita berinisiatif membantu Aya.


"Ini semua punya kamu Ra?" tanya Mita


"Iya Kak, aku barusan beli, sudah lama banget aku gak bikin kue," Aya membuka kadus yang ternyata berisi Mixer dan sebuah microwave.


"Emang kamu bisa bikin kue?"


"Bisalah Kak, di rumah hobiku kan bikin kue,aku juga punya usaha yang aku bangun bareng saudara kembarku ,Cafe kecil tempat Anak muda nongkrong gitu, di situ juga jual berbagai macam kue bikinan aku," jelas Aya tanpa mengalihkan perhatiannya dari barang yang barusaja ia beli.


***


Di sisi lain Alan yang tampak sedikit gusar, ia mengambil sesuatu dari dalam rak nakas, sebuah foto potret dirinya memakai seragam putih abu-abu sedang merangkul seorang gadis yang tak lain adalah Lila. Menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.


Tiba-tiba Alan melemparkan foto itu hingga pecah berhamburan.

__ADS_1


"Aaaarrkkh....!!!" Teriak Alan, mengusap wajahnya dengan kasar, nafasnya memburu seperti menahan luapan emosi di dada.


Dia beranjak berdiri dan mengambil teropong lalu berjalan menuju balkon, tidak tau kenapa dia ingin sekali melihat lantai atas yang kemaren sempat ia tengok.


"Kenapa setelah melihat lantai atap yang tampak indah dengan lampu hias itu, suasana hatiku jadi membaik, siapa sebenarnya pemiliknya," batinnya dalam hati.


Tok..tok...tok


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" Sahut Alan kemudian masuk kedalam kamarnya lagi.


"Ada apa Ma?"


Anita Ibu Alan masuk dan duduk di tepi ranjang tepat disamping Alan. Ibunya melihat figora foto yang sudah tidak berbentuk tergeletak di lantai. Kemudian Anita mengusap kepala putranya itu.


"Kamu kenapa Al? Kamu belum bisa melupakan Lila?" Tanya Anita. Alan hanya diam dan menunduk dalam.


"Tak bisakah kamu mumbuka hati untuk wanita lain Al?"


"Al belum bisa Ma," jawab Alan singkat lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang Mama.


***


Pagi itu Aya nampak semangat, ia sudah mempersiapkan semuanya. Berharap harinya berjalan dengan lancar.


Sesampainya di kampus.Entah kenapa, dengan alasan hukuman kemarin yang belum diselesaikan, pagi itu ia harus membersihkan lapangan yang begitu luas sendirian.


"Akhirnya selesai juga..!" Aya mengusap peluh di keningnya kemudian duduk.


"Ini untukmu Sher!" Citra menyodorkan air mineral." Capek??"


"Iyalah, untung hari ini gak panas, bisa gosong gue!" Sahut Aya sambil tertawa.


"Sepertinya kamu, udah ditandai sama Kak Alan dan teman-temannya."


"Maksudnya?" Aya mengerutkan keningnya.


"Yang penting kamu hati-hati aja." Ujar Citra kemudian beranjak pergi.


Jam makan siang itu Aya langsung menuju ruang kesehatan. Bermaksud menemui Lila.


"Eh kamu, ada perlu apa?" Tanya Lila.


Aya mengeluarkan sebuah kotak makan.


"Saya cuma ingin memberikan ini pada Kak Lila, sebagai ucapan terima kasih," ujar Aya sambil menyodorkan sebuah kotak makan.


"Apa ini?" Lila membukanya, ada empat cup cake yang begitu cantik tertata di dalam."Kamu buat sendiri?"


Aya menganggukkan kepalanya, "Saya tidak tau, kue apa yang kakak suka, jadi saya bikin ini."


"Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot, saya juga tidak terlalu suka makanan manis, tapi untuk menghargai pemberianmu akan saya makan." Lila tersenyum kemudian memakan satu cup cake.


"Hmmm...enak!" Ujar Lila sambil memakannya.


Aya tersenyum lalu beranjak berdiri, "Kalau begitu saya permisi dulu Kak?" Dijawab anggukan kepala oleh Lila.


Bersambung....


Terimakasih yang sudah sudi membaca cerita saya, jangan lupa tinggalkan like dan komentar. terima kasih

__ADS_1


__ADS_2