Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Dilema


__ADS_3

Aya merebahkan dirinya di ranjang kecil kost-kostan yang selama ini ia huni. Ia teringat beberapa saat lalu saat dirinya pulang bersama Alan.


"Apaan ini Al?" Tanya Aya setelah Alan menyodorkan bungkusan plastik.


"Makanan buat kamu." Alan mengambil tangan Aya agar segera menerima pemberiannya.


"Gak usah!" Aya menarik tangan Alan bermaksud untuk mengembalikannya lagi, tapi Alan malah balik memegang tangannya dengan erat hingga Aya harus berusaha melepaskan pegangan tangannya tapi tak bisa.


Terlihat senyum tipis tercetak di bibir Alan.


"Al lepasin gak!"


"Gak! Kalau kamu masih gak mau nerima pemberian ku."


"Sok baik banget loe!" Aya masih berusaha melepaskan tangannya dari Alan. "Gue gak butuh! Kalau mau makan kayak gini nenek gue juga bisa bikin."


"Ya udah gak bakal aku lepasin." Alan tersenyum menyeringai.


"Ya....iya, gue terima...makasih!" ucap Aya dengan terpaksa.


Alan tersenyum puas, sebelum masuk ke dalam mobil ia sempatkan mengacak-acak rambut Aya, atau lebih tepatnya rambut palsunya. Tentu saja langsung mendapat pelototan dari si empunya.


Alan mulai menyalakan mesinnya, ia menengok dulu ke arah Aya.


"Di tunggu balas budinya besok!" Sebelum mendapatkan amukan Aya, Alan langsung memacukan mobilnya.


"Apa-apaan coba maksudnya? Sudah ku kira dia gak bakalan ngasih cuma-cuma!" Aya menggerutu kemudian melangkah dengan gontai menuju kos-kosan miliknya yang lumayan jauh. Inilah harga yang harus di bayar Aya, tiap diantar Alan maupun yang lainnya ia harus berjalan kaki ke tempat kosnya.


Aya hanya memandangi makanan yang ada di depannya. Dengan susah payah Aya menelan Salivanya. Ia sangat enggan menyantap makanan itu. Tapi di lain sisi perutnya juga butuh di isi. Hari sudah menjelang malam di tempat kost miliknya. Ia sendirian karena Mita dan Cika yang belum pulang. Aya sedang bertarung dengan pikirannya sendiri dan sekarang sisi gengsinya yang sedang berbicara.


"Aku tidak akan memakanmu!" Aya seakan berbicara dengan makanan yang ada didepannya.


Tiba-tiba perutnya berbunyi dengan keras. Akhirnya ego Aya yang barusan meninggi harus rela ia turunkan demi cacing di perut yang sudah meronta-ronta minta makan.


Saat ia tengah menikmati makanannya ponselnya tiba-tiba berbunyi, memberitahukan ada notifikasi masuk. Saat Aya membukanya.


"Uhuk! Uhuk!" Aya langsung tersedak.


Ternyata Aya mendapatkan pesan dari Alan. "Selamat menikmati makan malamnya, jangan lupa balasannya besok ;-) "


"Kurang ajar! Ini orang nagih-nagih mulu, udah kayak rentenir." Gumam Aya. Tapi entah kenapa bukanya marah Aya malah tersenyum setelah mengucapkannya ia merasa Alan sudah kembali seperti dulu. Bukan lagi Alan yang dingin dan cuek terhadapnya. Apakah Alan sudah memaafkannya? Entahlah hanya Alan dan Tuhan yang tahu.


Ia kembali melanjutkan makananya dengan begitu lahap hingga suara telfon membuat Aya mau tidak mau harus menghentikan aktivitas makannya lagi.


"Iya ma ada apa?"


"Ay....! Kamu kemana aja, dari kemaren aku hubungi gak bisa-bisa!" Teriak suara dari seberang telepon yang ternyata adalah Ima.


"Sorry... aku baru pulang liburan, tempatnya terpencil jadi gak ada sinyal."


"Jangan-jangan kamu baru liburan sama Alan dan temen-temennya ya?"


Aya langsung tersentak, ia lupa kalau Anisa juga ikut ke sana, tentunya ia menceritakan semuanya pada Ima.

__ADS_1


"Heeee..he, iya ma, tenang aja aku udah pastikan kalau gak ada cewek yang berani deketin dia kok." Entah kenapa Aya tiba-tiba gugub seolah dia melakukan kesalahan dan berusaha untuk menutupinya.


"Itu berarti....kamu setuju kalau aku pacaran sama Alan kan Ay?" Terdengar suara ima yang harap-harap cemas.


Aya nampak tertegun, rasanya tenggorokannya tercekat. Entah kenapa hatinya merasa sakit. Tapi ia berusaha menata hatinya kemudian menghembus nafasnya. "Iya ma, aku setuju."


Setelahnya Aya mendengar ima berteriak kegirangan, dan mengucapkan terimakasih berulang kali padanya.


Entah kenapa Aya sudah tidak lagi berselera makan. Ia enggan untuk melanjutkan makannya.


Aya sudah bersiap untuk tidur setelah kegiatan skin care rutinnya, kalau saat di Jakarta biasanya ia melakukan perawatan di salon, tapi dengan keadaannya sekarang ia harus rela melakukan perawatan sendiri. Saat akan memejamkan mata terdengar notifikasi di ponselnya.


"Selamat tidur." Itulah isi pesan singkat yang dikirim Alan. Singkat tapi bisa membuat hati Aya berbunga-bunga.


***


Pagi itu Aya tengah mengendarai motornya membelah jalanan ibukota. Tiba-tiba ada mobil yang berjalan mengiringinya dari samping. Dan Aya sangat mengenal siapa pemilik mobil itu.


"Sendirian aja...aku temenin ya?" Ujar pemilik mobil yang tidak lain adalah Alan. Ia tersenyum manis menatap Aya sambil mengontrol laju mobilnya.


Aya tampak tertegun entah kenapa tiba-tiba hatinya tersentuh melihat senyum Alan yang hampir jarang sekali ia lihat. "Sadar Aya!...dia pacar ima,kamu gak boleh terpesona padanya." Batin Aya.


"Gak!....Minggir loe! Mobil loe tu ngalangin pengendara yang laen....emang loe pikir ini jalan nenek moyang loe apa!" Sungut Aya kemudian mempercepat laju kendaraannya.


Alan yang tertinggal tampak memperhatikan Aya yang sudah melesat jauh di depannya, ada senyum terukir di bibirnya.


Aya dan Alan sampai di kampus secara bersamaan, Aya berjalan sedikit berlari berusaha menghindari Alan, tapi apalah daya kaki Alan yang lebih panjang tentu bisa mengejarnya dengan mudah. Alan terus mengikuti Aya dari belakang kemanapun ia pergi bahkan sampai ke dalam kelaspun Alan tetap membuntutinya, kelas yang biasanya tak terlalu ramai tentu jadi heboh karena kedatangan Pangeran kampus, jarang-jarang bisa melihat dan berdekatan langsung dengannya. Secara ia sangat sulit untuk di dekati wajahnya pun tampak tidak sedingin biasanya, tentu hal itu tidak akan di sia-siakan para cewek-cewek centil di kelas Aya.


"Loe tu maunya apa sih Al?" Aya tampak sedikit kesal.


"Gue gak mau apa-apa." Alan menanggapinya dengan santai.


"Kenapa dari tadi loe ngikutin gue?"


"Terserah aku, ini kaki ku bukan kaki mu." Alan tampak cuek tapi masih disisipi senyum kecil.


Perdebatan mereka berakhir ketika dosen masuk ke kelas Aya, ya tentu saja Alan akhinya tidak mengikutinya lagi.


"Nan temen loe tu kenapa sih?" Aya tiba-tiba mengadu pada Nando setelah menduduki kursi kantin tentu saja Alan kembali mengikutinya.


"Emangnya kenapa Sher?" Tanya Romi yang sedang duduk di samping Nando.


"Dari pagi sampe sekarang ngintilin gue mulu ni anak." Aya menatap Alan jengah.


"Wih... sekarang, kamu udah jadi induk ayam ya Sher?" Nando tertawa mendengar curhatan Asher. Dan tentu langsung mendapat lirikan tajam dari Alan, Nando langsung menciut seperti biasa.


"Kamu nanti pulang bareng aku ya?... katanya mau traktir." Alan meletakkan tangannya di pundak Aya.


"Kapan gue pernah bilang gitu?" Aya mengerutkan keningnya sambil menatap Alan.


Alan tiba-tiba mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Aya, "Sebagai ganti ayam bakar kemarin." Bukannya menanggapi Aya malah mematung, ia merasa jantungnya terpompa lebih cepat. Rasanya jantungnya sudah akan melompat saja.


Aya tersadar dan langsung menjauhkan kepalanya dari Alan. "Ya...nanti.

__ADS_1


Gu..gue beliin..nasi bungkusnya..mbok jum." Jawab Aya sedikit terbata-bata. Mbok jum adalah penjual nasi bungkus yang biasa mangkal depan kampus.


Alan berdecak kesal kemudian beranjak berdiri dan pergi begitu saja.


"Kenapa dia?" Tanya Romi setelah Alan pergi.


"Gak tau Rom, pulang dari desa jadi kaya gitu, kayaknya perlu di Rukiyah tu anak, gue takut dia kerasukan hantu di penginapan."


"Penginapan?!" Ucap Romi dan Nando bersamaan. Mereka langsung menoleh menatap Aya penuh selidik.


Mau tidak mau Aya terpaksa menceritakan kejadian kecelakaan yang sempat ia alami bersama Alan.


"Tapi kamu gak papa kan?" Romi terlihat khawatir, ia pindah duduk di samping Aya kemudian mengecek tangan kaki serta kening Aya, barulah Romi menyadari ada plester yang menempel di kening bagian samping yang tertutupi oleh rambut.


"Gak papa Rom." Aya yang menyadari sikap Romi yang sedikit berlebihan langsung menepis tangan Romi dan sedikit menjauh, ia tak mau Nando curiga padanya. Romi hanya bisa menghela nafas melihat sikap Aya. Tak bisa dipungkiri, Romi sangat menyukai Aya, tapi dia perlu waktu yang pas untuk menyatakan cintanya, ia juga tau perasaan Aya pada Alan, tapi Romi tak perlu khawatir karena Alan tidak tahu kebenaran yang disembunyikan Aya. Romi tak tau saja kalau sebenarnya Alan sudah mengetahuinya dan sekarang Alan sedang gencar-gencarnya mendekati Aya.


Setelah jam kuliah Aya selesai ia bermaksud untuk pulang tapi saat melihat kenyataan kalau ban motornya kempes. Rasanya Aya ingin sekali berteriak dan mengumpat saja.


"Kenapa?"


Suara seseorang membuat Aya terlonjak kaget, ternyata Alan sudah berdiri di sampingnya sambil bersandar di pintu mobil miliknya, entah sejak kapan mobil itu sudah berhenti di sana, sampai Aya tidak menyadarinya.


"Loe gak liat ban motor gue?" Aya menatap Alan dengan raut muka yang kesal.


"Ya udah bareng aku aja... sekalian traktirannya!" Alan memandang Aya dengan satu sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.


Akhirnya Aya pun menerima tawaran Alan, Aya tidak tau saja kalau yang sudah membuat ban motornya kempes adalah Alan sendiri. Mobil melaju meninggalkan parkiran kampus elite di kota J**** itu.


"Tumben gak ke Resto yang biasanya?" Aya bertanya sesaat setelah ia keluar dari mobil Alan.


"Bosen aja, pengen cari suasana baru." Kilah Alan, sebenarnya ia tidak ingin di ganggu lebih tepatnya bertemu teman-teman atau orang yang ia kenal secara itu Resto favorit hampir semua orang.


Dan seperti yang sudah-sudah, Alan selalu memesan makanan tanpa persetujuan Aya terlebih dahulu.


"Loe kok lama-lama ngelunjak ya Al? Ini yang traktir gue tapi semua yang pesen loe, sampe makanan yang gue makan juga loe yang pilih!" Aya tampak kesal.


"Udah gak usah protes, kamu pasti suka."


"Pede amat loe!"


"Iyalah, orang ganteng gak pernah salah."


"Belum pernah ngerasain di lempar sepatu ya Al?"


Dan Alan hanya tertawa, "Uluh-uluh...lutunya kalau lagi marah." Alan mencubit kedua pipi Aya sambil menggoyang-goyangkannya. Tentu itu langsung membuat wajah Aya memerah.


"Apaan sih Al." Aya langsung menepis tangan Alan kemudian membuang muka. ia tidak ingin Alan melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus, karena saking groginya. Rasanya hati Aya jadi dilema mau menjauhi Alan agar hatinya tidak terluka tapi malah yang terjadi sebaliknya.


Alan memperhatikan tingkah Aya, "Jadi makin gemes." Batin Alan.


Bersambung.....


Hallo readers bagaimana kabarnya? maaf baru nongol kemare kan udah pamitan mau refreshing dulu...baru buka langsung terkejut dong...banyak yang komen and like...vote juga, udah 5 hari gak buka aplikasi, maklum liburannya ke tempat terpencil kayak Liburannya Aya ma Alan kemaren di puncak gunung gak da sinyal, udah kayak terkarantina aja..., insyaallah bakalan up tiap hari, jadi jangan lupa tinggalkan like,koment and vote biar aku makin semangat... macacihhhhh..

__ADS_1


__ADS_2