Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Bekasmu Lebih Enak!


__ADS_3

Aya sedang merebahkan diri di ranjang saat handphone di tasnya berdering. Tertulis anak perak yang tak lain adalah Asher.


"Ya... Hallo ada apa Sher?"


"Bagaimana pertemuamu dengan Papa dan Mama, apa mereka curiga?" tanya Asher dari seberang telepon.


"Tentu saja tidak, apa kau lupa aku ini banyak akal, aku juga pandai berakting sayang sekali aku tidak di perbolehkan jadi artis, kalau tidak pasti aku sudah menyabet banyak penghargaan." Ujar Aya bangga.


"Sudah berhayalnya?" Sahut Asher datar.


"Dasar! selalu saja menyebalkan."


Setelah itu Aya menceritakan semuanya saat pertemuannya dengan kedua orang tuanya pada Asher.


"Syukurlah, kita tidak perlu direpotkan lagi!" Sahut Asher setelah mendengarkan cerita Aya.


"Bagaimana kamu tau Papa dan Mama mau kesini?"


"Anak buahku itu dimana-mana, bahkan aku tau sekarang kamu di mana dan sedang apa?"


Aya langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari dalam telfon. "Dasar! Kamu membohongiku ya?" Aya bersungut marah.


"Kamu saja yang bodoh! Mau saja aku bohongi!" Ujarnya sambil tertawa.


"Aku...mau TIDUR bye!" Teriak Aya di telfon, dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


Saat Aya mulai terlelap, suara telfon kembali berdering dan mengharuskannya untuk mengangkat telfon itu dengan malasnya, sesaat setelah ia melihat nama yang tertera di sana.


"Hallo ada apa ma?"


"Hallo Ay aku mau curhat?" Jawab wanita di seberang telepon yang ternyata adalah ima.


"Besok aja ya? Aku ngantuk." Jawabnya singkat sambil menguap.


"Sekarang Ay, aku janji cuma sebentar!"


"Sebentarnya kamu itu lama, pasti sampe satu jam!" Protes Aya.


"Gak deh, aku janji cuma Lima belas menit."


"Ok kalau begitu dimulai dari sekarang!" Sahut Aya cepat.


"Iiisshh kamu!.....besok cowok yang aku taksir bakal ke sini njengung Anisa Ay, aku harus gimana?"


"Oh...jadi dia kakaknya Anisa? ya gampang tinggal kenalan, kalau dia gak mau diajak kenalan ya kamu ****** trus banting aja seperti biasa," ujar Aya enteng.


"Ih...kok malah bercanda Ay, aku serius mau minta saran dari kamu!" Rengek ima dari balik telefon.


"Ma kamu hanya harus bersikap biasa jadi diri kamu sendiri, kalau memang dia lelaki baik pasti dia bakal nerima kamu apa adanya, yang pasti jangan terlalu berharap, nanti kamu yang sakit hati, berteman aja dulu baru kamu putuskan hubungan selanjutnya." Jelas Aya.


"Iya juga ya Ay?" Kemudian ima diam sejenak.


"Udah ya ma, aku ngantuk...udah lima belas menit ini," Aya hendak menutup telepon.


"Tunggu Ay! katanya dia itu Satu ___." Terlfon sudah terputus sebelum ima menyelesaikan kalimatnya.


"Satu satunya untuk mu?" Aya mencoba menyambung kalimat Ima yang terpotong sambil tertawa. Aya kemudian memejamkan matanya lagi.


Nada dering telepon berbunyi lagi. Dengan cepat Aya mengangkat telfon itu.

__ADS_1


"Ada apa lagi sudah di bilang aku ngantuk!" Teriaknya dengan cepat.


"Hallo..." Suara dari balik telefon.


Aya seperti mengenal suara merdu ini dilihatnya nama yang menghubunginya, "Manusia Salju", Aya membelalakkan matanya. "Tumben nie anak telfon," batinnya.


Aya sedikit menjauhkan handphonenya, "ehemm... ehemm," Aya mengubah suaranya,"Hallo Al....maaf tadi adik gue? Ada apa?"


"Aya?"


"Bukan, ima adik gue yang paling bontot!" Jawabnya bohong.


"Gimana keadaan nenekmu?"


"Oh....udah baikan, ternyata gak terlalu parah!" Jawabnya sedikit lemah karena terlalu lelah.


"Di rawat di rumah sakit mana?" Tanya Alan lagi.


Aya mengerutkan keningnya, "loe mau jenguk nenek gue? Gak usah ni udah pulang kok!"


"Oh...., kamu Udah mau tidur?" Tanya Alan.


"Iya gue ngantuk banget, eh....loe kok bisa nelfon, bukannya di sana susah sinyal?" Aya merasa heran.


"Kita udah pulang semua"


"Kenapa?"


"Cuacanya buruk jadi mau gak mau kegiatannya di akhiri." Jelas Alan.


"Kirain pada pulang gara-gara gak ada gue, jadi gak ada yang masak!" Ujar Aya tertawa receh.


"Ya beda lah rasanya, lebih enak masakan gue kan?" Ucap Aya sedikit sombong.


"Iya....iya...gue akuin masakanmu enak! Kalau kamu perempuan udah aku kawinin!"


Dan jawaban Alan langsung membuat Aya tersedak ludahnya sendiri, ia pun langsung menutup telfonnya sepihak tanpa aba-aba terlebih dahulu.


***


Pagi ini Aya tampak lesu duduk di kantin sambil menunggu pesanannya, ia merasa sangat lapar bagaimana tidak, ia belum sempat sarapan karena telat bangun. Semalaman ia susah tidur padahal sebelumnya ia sangat mengantuk semua gara-gara perkataan Alan lewat telefon.


Saat ia tengah menunggu, Romi dan Nando datang langsung duduk di depan Aya, "udah pesen Sher?" Tanya Romi. Dan dijawab anggukan kepala.


"Akhirnya dateng juga!" Aya menyambut bakso dan jus jeruknya dengan mata berbinar.


Sebelum air liurnya menetes ia buru-buru melahap satu sendok penuh bakso. Saat mau menyendoknya lagi ia merasa tiba-tiba mangkoknya menjauh darinya, matanya mengikuti arah perginya, dan lagi-lagi Alan yang sudah menarik mangkoknya dan menyambar sendok di tangannya juga.


Aya menatap kesal lelaki yang duduk di samping yang sedang makan dengan lahapnya,


"Sialan Loe! Emang gak bisa pesan sendiri? Kenapa selalu ngambil punya gue!" Bentaknya menahan amarah.


"Iya Al, dari kemaren aku lihat kamu selalu ngambil makanan dia, gak jijik emang makan bekasnya?" Romi menimpali. Kare setahu Romi Alan sangat cinta kebersihan, apalagi soal makanan.


"Bekasnya itu lebih enak!" Jawab Alan santai.


Romi yang tengah minum langsung tersedak, Nando hanya diam saja.


Aya menatap jengah sambil menyeruput minumannya, "Itu hanya alasan konyol! bilang aja kalau loe pengen bikin gue kesel!"

__ADS_1


Dan untuk kesekian kalinya Aya sudah benar-benar naik pitam, "Dasar kau manusia salju, tukang palak, manusia sombong, sok pintar, tukang perintah haaaaahhhh!" Aya meluapkan amarahnya mengumpati Alan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya dengan telunjuk setelah melihat dengan santainya Alan meneguk minuman miliknya.


"Berani kau, mengumpat dan menunjukkan-nunjuk ku!" Sentak Alan tak kalah keras dan membuat seisi kantin menyoroti mereka. Alan menghempas telunjuk Aya dengan telunjuknya, dengan cepat Aya langsung menggigitnya, hingga Alan berteriak kesakitan.


Alan langsung menghisap jari yang sempat digigit Aya itu sambil meringis, melihat itu tiba-tiba Aya merasa sangat bersalah, ia menaiknya kemudian meniup telunjuk Alan.


"Maaf, gue gak sengaja ngelakuin itu!" Ujarnya menyesal sambil terus meniupnya.


Melihat ekspresi Aya yang lucu bahkan begitu menggemaskan membuat ia tidak bisa lagi menahan tawanya.


Mendengar tawa Alan, Aya langsung menghempaskan tangan Alan begitu saja. Mukanya begitu memerah antara marah dan malu."Awas saja kau manusia salju! Aku akan membalasmu!" Runtuknya dalam hati.


Selang beberapa menit pesanan Alan datang sebelumnya ia memesan makanan sebagai ganti makanan Aya yang ia makan. Tanpa malu-malu Aya langsung melahapnya habis.


Beberapa menit suasana menjadi hening, "Al, mana teropongku?"tanya Romi membuyarkan keheningan.


Dengan jengah Alan mengambil barang yang disebutkan Romi, "Nih....kubalikin! aku udah beli sendiri," Alan menyodorkan teropong pada Romi.


"Wih... kelihatannya kegiatan jadi sniper masih berlanjut?" sahut Romi. Alan menjawabnya dengan mengangguk.


"Waduh....aku gak salah denger? Siapa yang Alan intipin?" Nando tergelak.


"Cewek sexi yang sedang olahraga di lantai atas kost deket rumahnya!" Jawab Romi tersenyum meledek sambil melihat ekspresi Alan yang berubah.


Mendengar itu jus jeruk yang baru akan Aya teguk langsung menyembur dari mulutnya. Tentu saja Nando yang duduk di depan Aya yang jadi korban.


"Gini ni... akibatnya ngomong depan jomblo abadi kayak Asher, gak pernah liat cewek sexi norak banget!" Ujar Nando sambil mengelap wajahnya yang basah kuyup.


"Untung lagi ngomongin cewek sexi, kalau gak aku balas kau!" Ancam Nando, "Trus...trus, gimana kelanjutannya Al? Ceweknya cantik gak?" Tanya Nando penasaran.


"Gak tau! Mukanya gak kelihatan, terakhir kali aku liat dia pas malem-malem, kayaknya lagi ngajarin dance temanya... Kelihatan jago banget dia, mukanya kelihatan samar-samar kayak pernah liat di mana gitu." Alan mengetuk pelipisnya tampak berfikir keras.


Aya langsung reflek mengambil buku di tasnya lalu menutup wajahnya pura-pura membaca. "Pantas saja kemaren aku ngerasa ada yang perhatiin, ternyata dia dalangnya!" Batinnya.


"Kamu ngapain Sher?" Tanya Alan.


"Ya belajar lah, hari ini gue ada mata kuliah ekonomi dan bisnis." Untung saja Aya tidak salah saat mengambil buku di tasnya.


"Tunggu dulu!" Alan menarik buku yang menutupi wajah Aya.


Aya langsung memejamkan matanya, "apakah dia sudah mengenaliku, apakah secepat ini identitas terungkap?" Batinnya terus berdoa dalam hati.


"Kamu dapat buku ini dari mana?!" Tanya Alan suaranya sedikit meninggi.


Mendengar itu Aya langsung membuka matanya. Ternyata ia salah mengira, "itu buku gue lah."


"Ini buku ku, lihat ada tanda tangan ku disini!" Tunjuk Alan di dalam sampul bagian belakang yang ada tanda tangan dirinya beserta nama terang. "Kamu dapat ini dari mana? seingatku buku ini ketukur sama cewek di bandara Minggu lalu."


Aya diam sesaat, "iya...itu aku dapat dari Aya, dia juga bilang barangnya ketuker,eeh... ternyata ketuker sama punya loe?" akhir ia mengakuinya, mungkin saja dengan begitu ia bisa mendapatkan barang miliknya lagi.


"Kok kamu gak bilang?"


"Mana gue tau itu punya loe?" Sahutnya malas.


"Kan bisa kamu lihat dari tanda tangan itu!" Tunjuknya.


"Nama Alan kan banyak, mungkin aja bukan loe, gue gak habis pikir ada ya orang beli buku baru langsung ditanda tangani gitu." Cibir Aya, karena memang itu buku baru, harganya saja masih menempel tapi udah di coret tanda tangan saja pikirnya.


Bersambung......

__ADS_1


Terimakasih yang setia dengan cerita ku, maaf kalau ngebosenin... maklum masih belajar...jangan lupa tinggalkan like dan komentar, vote juga boleh banget...macacihhhhh...


__ADS_2