
PRANG!
Suara benda-benda jatuh berserakan.
"Sialan!.... Brengs*k!" Umpatnya dengan berteriak sekuat-kuatnya. Alan duduk di tepi ranjang dengan wajah gusar, ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Di grub chart kampus "Sang LGBT yang sudah insyaf" itulah tema pembahasannya, dari mereka semua yang tidak percaya, ada juga yang berucap syukur. Tapi bukan itu yang membuat Alan sangat marah, tapi sebuah pesan dari Aya yang barusaja ia terima.
"Al, gue mohon jangan ngusik hidup gue lagi! Gue udah sangat bahagia dengan Lila, dari awal gue udah bilang sama loe hubungan kita gak sehat tapi loe tetap kekeh, sekarang gue yang kena imbasnya, padahal gue sama sekali gak ada rasa sama loe, gue cuma pengen tau aja siapa sih loe itu, gue gak nyangka ternyata loe tu golongan suka sesama jenis, Sadar Woy!.... banyak cewek cantik di luar sana, gue harap loe segera insyaf." Itulah isi pesan yang Aya kirimkan.
Hati Alan begitu hancur, rasanya jauh lebih sakit dari saat berpisah dengan Lila, ia sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan Aya, tapi Aya membuat hatinya pecah berkeping-keping. Sekarang yang tertinggal hanya rasa benci yang teramat.
***
"Kak, apakah pesanku ini tidak terlalu kejam ya?." Aya berbisik pada Lila kemudian menyodorkan ponselnya.
Lila membaca pesan yang Aya kirim beberapa menit yang lalu, "Aduh, kamu dapat kata-kata kejam dari mana ini? Tadi kan aku nyuruh kamu buat kirim pesan yang isinya meminta Alan buat jauhi kamu karena kamu udah bahagia sama aku itu aja, kenapa malah kamu tambah-tambahin sih, kalau kayak gini bukan cuma menjauh tapi dia malah benci sama kamu."
Mata Aya sudah mulai berkaca-kaca, "Ya udah lah kak, itu lebih baik."
"Lebih baik gimana? Tu...kan, kamu udah mau nangis, kamu itu tidak bisa membohongi perasaanmu yang sudah benar-benar Cinta sama Alan, kenapa sih kamu tetep kekeh jaga rahasia mu ini." Lila hanya bisa mengelus pundak Aya.
Kini mereka tengah berkumpul di Cafe Nando, ternyata mereka berempat bersekongkol membuat Alan menjauh dari Aya, tentu saja Nando masih belum tau tentang jati diri Aya yang sebenarnya. Terbukti penampilan Aya sebagai Asher KW saat ini.
"Kenapa kalian tidak pacaran beneran aja, kalian serasi kok." Ujar Nando tiba-tiba setelah duduk di depan Aya dan Lila. Ternyata ide pacaran itu datang dari Nando, dan syukurlah berhasil membuat beberapa orang percaya dan tidak mencerca Aya lagi. Sebelum Nando menyadarinya segera Aya mengusap air mata yang hendak jatuh di pipinya.
"Masih proses Nan, doain aja." Aya menanggapi, sambil memegang tangan Lila yang ada di atas meja, "Maaf ya kak?" Bisik Aya ditelinga Lila.
Lila hanya tertawa kecil. "Kamu itu pinter banget akting, kenapa gak jadi aktris aja." Bisik Lila.
"Pengennya sih gitu, tapi gak dibolehin Papa." Bisik Aya lagi.
"Wih.....udah bisik-bisik mesra aja, jiwa jomblo Romi meronta-ronta tu!" Nando melirik Romi yang ada di sebelahnya.
"Apaan kamu kan juga jomblo, jangan lempar batu sembunyi tangan!" Romi tidak terima.
"Oh iya....aku lupa belum kasih tau kalian, aku udah punya pacar, ceweknya imut walaupun agak berisik tapi aku suka." Nando menopang dagunya dan menatap langit-langit.
"Ada yang lagi bucin kayaknya." Jiwa kepo Aya muncul, hingga membuatnya lupa akan kesedihannya.
Nando pun akhinya bercerita kalau beberapa minggu yang lalu ia telah jadian dengan salah satu cewek dari kampus lain. Ia bilang cewek itu sering datang ke cafenya untuk nongkrong bersama teman-temannya dan akhirnya Nando memberanikan diri untuk mengenalnya lebih jauh berujung ungkapan cinta yang sudah ia rencanakan dengan begitu romantis di dalam cafe miliknya.
"Ih.... sweet banget sih." Aya menanggapi. "Jadi pengen ditembak juga." Aya meneruskan kalimatnya dan membuat semuanya menatap tajam ke arahnya dengan raut muka yang berbeda-beda.
"Gue cuma becanda,....gitu aja mukanya pada tegang." Aya tertawa terbahak-bahak walaupun terlihat seperti di buat-buat. Syukurlah mampu membuat suasananya jadi sedikit mencair.
"Kamu gak bareng kita aja?" Romi menawarkan saat mereka hendak pulang.
__ADS_1
"Gak, aku mau mampir dulu kesuatu tempat ada urusan sebentar." Aya menolak.
***
Pagi itu Aya sudah mengendarai motor maticnya membelah keramaian kota J**** . Pagi-pagi sekali Aya mendapatkan pesan dari Lila ia menyuruhnya untuk datang ke Cafe milik Romi.
Sesampainya di sana sudah ada mobil Lila, Romi dan satu lagi mobil yang sangat ia kenali yaitu mobil Sheila.
"Ada acara apa ini?" Bisik Aya kepada Lila sesaat setelah masuk ke dalam cafe.
"Hari ini Alan ulang tahun." Lila menjawabnya dengan bisikan juga.
"Kok baru bilang pagi tadi sih Kak, aku kan gak beli apa-apa."
"Aku juga lupa, mungkin gara-gara masalah kemaren, ini juga dikasih tau dadakan sama Nando." Jelas Lila masih dengan berbisik-bisik.
Cafe milik Nando khusus hari ini di tutup untuk acara ulang tahun Alan. Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Alan masuk di sambut dengan nyanyian selama ulang tahun, tepuk tangan dari semuanya. Sheila membawa kue brownies dengan lilin di tengahnya. Brownise? Aya langsung teringat sesuatu.
Kemarin pulang dari Cafe Nando ia datang ke rumah Sheila, karena Sheila meminta tolong mengajarinya membuat brownies, lebih tepatnya menyuruh Aya untuk membuatnya karena selama proses pembuatan Sheila hanya diam saja dan malah berkutik dengan ponselnya sendiri. Sheila bilang ingin memberikan kejutan untuk ibunya, ternyata ibu yang dimaksud adalah Alan. Lucu sekali pikir Aya.Tanpa sadar dia tertawa.
"Iya kan Sher?" Pertanyaan dari Sheila menyadarkannya dari lamunannya.
"Apaan Shei?" Aya gelagapan dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Sheila.
"Kue ini aku sendiri kan yang bikin?" Sheila menatap Aya dengan sorot mata mengancam.
Potongan kue pertama Alan berikan kepada Sheila, tentu saja membuat yang lainnya sedikit kaget. Tapi tidak dengan Aya ia terlihat santai, atau mungkin ia sedang menyembunyikan kegundahan hatinya.
Sheila memberikan kado sebuah jam tangan mewah, Lila sebuah buku bisnis miliknya yang masih baru, Nando memberikan voucher makan gratis di cafe miliknya, dan sama Romi juga memberikan voucher belanja di distro miliknya. Karena semua serba dadakan jadi banyak yang memberikan kado seadanya Termasuk Aya.
"Kamu memberikan kado apa Sher?" Tanya Sheila.
Aya berpikir keras, ia membuka-buka Tas miliknya. Tiba-tiba Senyum kecil tersungging di bibirnya. "Maaf Al, gue gak tau kalau hari ini loe ulang tahun...gue cuma bisa kasih ini ke elo." Alan menyodorkan sebuah topi hitam, bertulis Balenciaga berbahan semi kulit pada Alan.
Sheila langsung menyambar topi itu, "Ayolah Sher....masak kamu mau kasih topi bekasmu buat Alan....iiuuuw." seakan-akan jijik Sheila lantas melemparkan topi itu kesembarang tempat.
Aya hanya bisa menghela nafas, sedangkan Alan masih diam tak berkomentar.
"Jangan dilihat dari barangnya, memang tidak baru tapi ini topi kesayangan gue." Aya memungutnya dan membersihkan sedikit debu yang menempel.
Aya menyodorkan lagi kepada Alan. "Gak usah gue gak butuh!" Jawab Alan dengan nada yang dingin. Tampak raut kecewa di wajah Aya.
"Kalau Alan gak mau buat aku aja Sher." Romi mengambil topi itu dari tangan Aya.
"Bukannya kamu gak suka pakai topi Rom?" Bisik Nando.
"Kamu gak tau kan harga satu topi ini berapa?" Jawab Romi dengan bisikan juga.
__ADS_1
Mereka semua menikmati makanan yang ada di Cafe Nando itu. "Gimana Al, enak gak kue yang aku bikin?" Tanya Sheila dengan manja.
"Enak banget Shei, aku baru tau kamu pinter bikin kue." Alan menjawabnya sambil menyantap kue yang katanya Sheila bikin itu.
"Gila bener-bener gila!" Teriak Nando tiba-tiba yang langsung membuat semuanya kaget dan menatap padanya.
"Apaan sih Nan ngagetin aja?" Romi menghampiri Nando yang masih terkejut sambil menatap ponsel miliknya.
"Kamu ini sebenarnya siapa sih Sher?" Nando menghampiri Aya yang tengah duduk bersama Lila. "Gila,aku barusan browsing topi mu tadi harganya sungguh gila, harga satu topi Balenciaga itu sekitar tujuh juta rupiah, lebih mahal dari jam yang Sheila berikan,.... Rom topinya buat aku aja." Nando berusaha merebut topi yang Aya berikan dari tangan Romi.
Terjadilah peristiwa berebut topi hingga terlihat tangan seseorang yang berhasil membawa topi itu pergi, tak lain tak bukan adalah tangan Alan. "Topi ini hadiah ulang tahun ku, sudah menjadi hak ku."
(tampilan topi yang menjadi rebutan)
Romi tersenyum melihat tingkah Alan. Sedangkan Aya, diam tapi tersenyum dalam hatinya. Sheila...?? Tentu saja terlihat sebal dengan mulut yang mengerucut.
"Perhatian semuanya, aku ingin mengumumkan sesuatu pada Kalian, kalau mulai hari ini aku dan Sheila resmi berpacaran." Alan berucap dengan penuh penekanan.
Aya diam mematung, entah kenapa dadanya terasa sungguh sesak mendengar apa yang barusaja Alan katakan. "Aya apa yang terjadi padamu, kenapa rasanya sakit sekali, lebih sakit daripada di hujat kemarin." Batin Aya, tangannya meremas dadanya.
Sheila yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia, ia langsung menghambur memeluk Alan, dan Alan juga langsung membalasnya.
Semuanya memberikan selamat untuk Alan, tak terkecuali Aya "Selamat ya Al? Akhirnya loe sadar juga Sekarang."
"Thanks karena kamu udah membuatku sadar, selamat juga buat kamu dan Lila semoga langgeng dan kayaknya pedoman hidup kamu tu cuma omong kosong ya?" Jawaban Alan menambah luka yang ada di hati Aya.
Romi mengajak Alan sedikit menjauh dari yang lainnya "Al, jangan gegabah...aku tau sendiri kamu tidak mencintai Sheila, jangan sampe nanti kamu menyesal."
"Bukan urusanmu!" Alan melipat tangannya di dada.
"Apa alasannya kamu menerima cinta Sheila?"
"Karena Brownise yang ia buat sangat enak, seumur hidupku aku belum pernah merasakan brownise seenak itu." Jawab Alan Masih dengan sikap dinginnya.
"Omong kosong!, Kalau ternyata orang lain yang sudah membuatnya, apa kamu juga akan memacarinya?" Romi tersenyum mengejek.
"Tentu saja!"
Nando tiba-tiba menghampiri Alan dan Romi hingga membuat perdebatan dua orang itu terhenti "Wah sekarang tinggal Romi yang masih jomblo, ayolah Rom cari pacar. Mau aku kenalin sama temen cewekku?"
"Tidak perlu Nan, aku sedang memperjuangkan seseorang, doain aja aku berhasil." Romi menjawab pertanyaan Nando sambil memandang Aya dari kejauhan, pandangan mata yang penuh kekaguman dan rasa sayang.
Alan tau arti pandangan Romi itu, Saat mengikuti arah pandangnya betapa terkejutnya dia, Romi memandang Aya? apa maksudnya itu? Apakah Romi? Tidak mungkin Romi menyukai Aya? Pertanyaan itu langsung mengusik pikiran Alan. Sungguh sangat-sangat mengganggu.
Bersambung.....
__ADS_1
Hallo semua....Sampul "Bertukar identitas" diganti ya. kalian lebih suka sampul yang mana? yang baru atau yang Lama?? Tolong berikan komentar, jangan lupa like dan vote ya? macacihhhhh.....