Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

"Husss....Al, jangan gitu!" Aya langsung mencubit Alan.


"Aw....aw..sakit sayang." Alan meringis.


"Yang bener? Padahal aku nyubitnya gak keras lo." Aya tampak menyesal.


"Tangan kamu kok bisa sakit kalau nyubit? Sini coba aku lihat! Ada apanya sih?"


Aya menurut saja saat Alan mengambil tangannya. Alan membolak-balik tangan Aya dengan tatapan meneliti. Kemudian dengan cepat ia tarik dan....


Cup


Bibirnya mendarat mulus di tangannya putih Aya. Sontak perbuatan Alan membuat Aya memukul dada Alan. Terlihat semburat merah di pipinya. Hingga malah membuat Alan semakin gemas.


Sepasang sejoli yang memperhatikan tingkah dua orang itu kompak memutar bola matanya jengah. Ada rasa geli melihat betapa bucinnya Alan. Sungguh Ezra baru pertama melihat sisi Alan yang seperti itu.


"Idih lebay lo Al!"


"Iri bilang Boss!" Sahut Alan.


"Papale papale pale..." Suara cletukan dari bawah membuat empat orang itu menunduk. Mereka mendapati sepasang anak kembar yang imut sedang berjoget tiktok. Mungkin ucapan Alan tadi mereka kira sedang menyanyikan lagu tiktok.


Melihat tingkah lucu Lulu dan Lala anak Shakiel membuat Alan langsung menggendong keduanya di kedua lengannya.


"Lucu banget sih kalian?" Alan berganti mencium bocah kembar. Melihat Alan yang kewalahan menggendong si kembar Aya berinisiatif menggendong salah satunya.


"Habis ini kita bikin anak kayak gini ya Ay? Kembar! Sepertinya bakal seru."


"Iya... tapi setelah dibayar tunai!" Jawab Aya sambil mencium Lala yang bergelayut manja di lehernya.


"Lil...! Habis ini kita bikin kembar kayak gitu juga ya?" Tiba-tiba Ezra ikut-ikutan.


"Iya....Tapi bikin sendiri!" Jawab Lila nyelekit.


"Mana bisa? Bikinnya harus sama kamu ya...ya?" Ezra tidak mau menyerah.


"Bisa lah! Caranya kamu tinggal campur telur, tepung sama air... udah jadi."


"Itu mah bikin adonan kue."


Alan dan Aya tertawa melihat wajah Ezra yang tampak kusut. Ezra masih membujuk Lila agar mau menikah dengannya.


"Aku gak mau ya cuma jadi pelarian mu. Mana ada orang langsung ngelamar setelah batal tunangan. Belum juga satu jam." Lila tampak menahan geram.


"Itu tidak akan terjadi! Aku benar-benar jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Tolong percaya padaku!" Ezra menatap Lila dengan tatapan memohon.


"Aku tidak percaya!" Lili ngotot.


"Baiklah, beri aku waktu satu bulan untuk bisa membuktikannya." Ezra masih memohon.


"Baiklah. Tapi jika kau tidak bisa membuktikannya kau tidak boleh lagi menggangguku! Bagaimana?"


"Ok deal?" Mereka bersalaman. Ezra langsung menggunakan trik Alan. Segera ia menarik tangan Lila.


Plak!


Bukan bibirnya yang mendarat di tangannya Lila. Tapi tangan Lila yang mendarat mulus di pipi Ezra.

__ADS_1


Sontak gelak tawa dari pasangan yang baru bertunangan itu menggema. Sampai-sampai si kembar terkejut sambil menatap Tante dan Om nya penuh tanya.


"Bahagia banget kalian melihat penderitaan ku? dasar pasangan gak ada akhlak!"


Alan menepuk pundak Ezra sambil meredakan tawanya. "Makanya yang kreatif sedikit. Jangan hanya bisa mencontek saja." Tawa menyebalkan itu terdengar lagi.


***


"APA?" Suara melengking dari Anita.


"Oke Alan ulangi lagi. Lusa kita sekeluarga di undangan makan Malam dikediaman keluarga Narendra dalam rangka merencanakan pernikahan Alan dan Aya."


"Bukan yang itu. Yang sebelumnya!" Anita tampak tidak sabaran.


"Oh.... tadi malam Alan dan Aya tunangan."


"Apa Mama tidak salah dengar?" Anita tampak tidak percaya.


"Gak! Ini buktinya." Alan menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya.


"Gimana ceritanya? Bukannya kamu cuma tamu undangan di sana? Kamu bilang sama Mama sendiri kan kemarin?"


"Panjang ceritanya. Pokoknya Mama siap-siap aja buat acara lusa." Alan beranjak naik tangga menuju kamarnya.


"Terus bagaimana dengan Buga Al?"


Alan menghentikan langkahnya. "Bunga siapa?"


Anita hanya bisa menepuk jidatnya sambil membuang nafas kasar. "Wanita yang minggu kemarin Mama kenalin sama kamu itu."


"Oh...oh..gimana? Dia sepertinya gadis yang baik, udah gitu cantik. Keluarganya juga sudah setuju dengan perjodohan kalian. Bagaimana bisa tiba-tiba kamu malah bertunangan dengan wanita lain."


"Alan gak suka sama gadis itu...gelay." sahutnya datar.


"Apa itu gelay?"


Alan berdecak, "Mama gak gaul. Geli Ma."


Anita hanya bisa mengeryit, sejak kapan putranya jadi alay jangan-jangan virus alay sang menantu menular pada Alan. Tampaknya Anita harus lebih waspada. "Kok geli? Memangnya Bunga kenapa?"


"Dia itu sombong dan suka pamer. Terus nempelin Alan terus. Kan Alan jadi geli. Belum lagi cerewetnya minta ampun. Pokoknya Alan gak mau!"


"Masak sih? ... bukannya Aya juga sama nempelin kamu terus?"


"Bukan Aya yang nempel tapi Alan Ma. Eh bukan!" Ralatnya. "Kita itu saling menempel bagaikan magnet utara dan selatan. Bagaimana perangko dan amplop surat. Bagaikan telinga dan congeknya. Bagaikan Hidung dan upilnya."


"Ih...jorok kamu Al!!" Anita bergidik geli.


Alan terkekeh. "Becanda Ma pokoknya kita tidak bisa terpisahkan. Untuk urusan Bunga-Bunga Bank itu Mama urus saja. Bilang sama mereka kalau aku sudah ada yang punya." Sahutnya sedikit berteriak, setelah itu terdengar pintu kamar tertutup.


"Apa katanya? Sudah ada yang punya?" Batin Anita. Sepertinya Anita harus menjauhkan Arkan dari Alan, sangat bahaya.


***


Suara bel dari luar membuat kegiatan di dalam kediaman keluarga Narendra terhenti.


"Itu pasti Calon besan. Bagiamana ini Pa? Mama grogi banget?" Silvia tampak gelisah.

__ADS_1


"Buat apa grogi? Memangnya darajat mereka lebih tinggi dari kita?" Tanya Jonathan congkak.


"Ini semua gara-gara Papa! Coba dulu Papa gak ngusir dan nolak lamaran Alan. Pasti Mama gak bakalan malu dan gugup kayak gini." Silvia tampak geram.


"Kok Papa yang salah sih?!" Jonathan protes.


Silvia mempersilahkan Alan dan keluarga untuk masuk mereka menyiapkan acara barbeque di taman belakang agar suasana terlihat lebih akrab. Semuanya tampak hadir bahkan Anisa, Arkan, Lila dan Radit juga ikut.


"Mama kamu kemana Al?" Tanya Silvia saat tidak mendapati kehadiran ibu kandung calon menantunya.


"Mama berangkat belakangan Tante. Ada urusan sebetar katanya. Pasti sebentar lagi sampai." Alan tersenyum canggung di sebelahnya sudah ada Aya. Penyebab Anita terlambat karena dia harus mengurus pembatalan perjodohan Alan yang sebelumnya.


"Maaf ya saya terlambat?" Suara lembut dari wanita paruh baya yang baru memasuki taman belakang membuat semua orang menoleh.


"Veronika?!" Pekik Jonathan kaget.


Begitu juga Silvia dia tampak terkejut saat melihat wanita yang sangat ia kenal.


"Jojo?....Via?" Ucap perempuan itu.


"Veronika?....Sejak kapan Mama ganti nama?" Tanya Arkan sang menantu.


Silvia langsung menghambur memeluk Anita sedang Jonathan menatap haru keduanya. Setelah Silvia melepaskan pelukannya Giliran Jonathan merangkul Anita hingga membuat semua tercengang. Pikiran mereka penuh tanda tanya besar.


"Papa Mama kenal Mamanya Alan?" Tanya Aya saat sudah berdiri di samping Silvia diikuti Alan.


"Tentu saja. Mamanya Alan ini cinta pertama Papamu."


Jawaban Silvia makin membuat semua orang tercengang termasuk Aya. Kalau Anita cinta pertama Papanya kenapa Mamanya tidak marah ataupun cemburu sama sekali.


"Tapi kenapa Mama....?" Ucap Aya menggantung tapi Silvia dan Jonathan mengerti maksudnya.


Akhirnya Silvia menceritakan semuanya. Mereka bertiga dulunya adalah sahabat semasa SMA. Silvia, Jojo atau Jonathan juga Veronika yang sekarang bernama Anita. Ternyata benar persahabatan antara laki-laki dan perempuan terkadang melibatkan perasaan. Terbukti saat tiba-tiba Jojo mengungkapkan rasa sukanya pada Anita. Tentu saja membuat Anita kaget, dengan alasan tidak mau merusak persahabatan mereka Anita menolak Jojo. Sebenernya alansannya karena dia tahu sahabatnya Silvia menyukai Jonathan. Beberapa hari setelahnya Anita pindah sekolah ke J**** karena harus mengikuti Ayahnya pindah tugas. Sebelum pergi dia menitipkan Silvia pada Jonathan dan memintanya menjaga sahabat yang dari dulu menyukai Jonathan. Setelah mereka lulus barulah Silvia tahu kalau Jonathan sempat mengungkapkan perasaannya pada Anita tapi langsung di tolak. Tentu ada rasa bersalah di hati Silvia saat sahabatnya dengan ikhlas memberikan laki-laki yang sebenarnya sama-sama mereka sukai.


Anita juga menjelaskan penyebab dia mengganti nama hingga membuat kedua sahabatnya itu kesulitan untuk mencari keberadaannya. Karena Anita yang sering sakit-sakitan sesepuh ditempat ia tinggal menyarankan untuk berganti nama. Karena jujur nama Veronika sangatlah tidak Cocok untuk gadis itu melihat dirinya tidak mempunyai darah campuran barat. Jadilah nama Anita sebagai gantinya membuatnya juga menamai anaknya dengan awalan A. Dari Alan dan juga Anisa.


"Pantas saja aku tidak tahu kalau kau itu ibunya si Alan." Jelas Jonathan.


"Barusan kau panggil anaknya apa?!" Anita tampak mulai bersungut bahkan ia sudah menyingkap kerah lengan bajunya.


Jonathan hanya bisa menelan Salivanya dengan susah payah. Ia lupa dulu Anita adalah salah satu wanita galak yang paling ia takuti.


Melihat itu Silvia malah tertawa terbahak-bahak. "Lihatlah Al. Ternyata Calon mertuamu ini gak berubah. Dia dulu paling takut kalau melihat ibumu marah. Ternyata Sekarang pun masih sama."


Alan dan Aya saling pandang. Mereka akhirnya bisa bernafas lega. Tampaknya kekhawatiran adanya CLBK antara kedua orang tua mereka tidak akan terjadi.


"Wih....keren banget nama panggilan Papa." tiba-tiba Asher menyahut. "Jojo bukannya yang lagunya di obok-obok itu ya?" Asher menahan tawa saat melihat wajah Papanya yang sudah semakin kusut.


"itu Joshua Sher." Aya menyahut.


Tawa kembali terdengar di taman belakang rumah mewah kediaman keluarga Narendra. Akhirnya acara makan malam di mulai. Mereka makan dengan suasana yang begitu hangat layaknya keluarga di selingi canda tawa. Pernikahan Alan dan Aya akan di laksanakan satu bulan lagi di Jakarta. Baru setelah satu Minggu acara Resepsi akan diadakan di J**** tempat kelahiran Alan.


"Sepertinya kedatangan ku sudah sangat terlambat!" suara seseorang membuat semua orang yang sedang menikmati santapan mereka serempak menoleh.


Bersambung.....


Beribu-ribu maaf untuk para reader. Setelah sekian purnama baru bisa up. jujur aku memang sibuk banget. Pertama ada Pesanan kue yang lumayan banyak. Habis itu ada acara di rumah ortu setelahnya Acara di rumah bude. Satu episode ini jujur aku nulisnya selama 4 hari nyempet-nyempetin. Dan habis ini masih ada acara lagi bantuin persiapan nikahan sepupu. jadi tolong pengertiannya....janji bakal sampe Tamat kok nulisnya. Makasih udah setia dengan ceritaku jangan lupa like, komentar dan Vote

__ADS_1


__ADS_2