Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Wajah Itu ?


__ADS_3

Malam ini Ezra akan membuat kejutan lagi untuk Aya. ia sudah menyusun rencana secara matang di bantu oleh seseorang.


Kini dia menunggu di Lobby apartement Aya. Sambil menunggu ia memutuskan untuk menelfon seseorang.


"Gimana udah beres?"


"Beres lah, tinggal nunggu target." Jawab seseorang dari balik telefon.


"Emang harus di depan umum? Bagaimana kalau rencananya di rubah jadi privat." Ezra tampak tidak yakin.


"Justru itu, suasananya kalau di tempat umum akan lebih romantis dan aku jamin dia tidak akan menolak."


Ezra menghembuskan nafasnya berat setelah menutup telfonnya.


"Kamu udah lama?" Tanya Aya yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Eh..emm.. Yaya? belum lama." Ia menatap Aya penuh kagum. Penampilan Aya dengan dress warna pastel di bawah lutut yang ia pakai sungguh sangat cantik dan anggun.


"Kita mau ke mana Kak?" Aya sudah ada di mobil. Entah kemana Ezra akan membawanya.


"Mau ngajak makan malam sekalian mau ketemuan sama temen." Ezra memberi alasan.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di depan sebuah Restoran bergaya Eropa. Dengan bangunan yang tampak kuno tapi tetap menunjukkan sisi kemewahannya.


Mereka masuk dan duduk di salah satu kursi. "Mana teman kamu kok belum dateng?"


"Mungkin masih di jalan." Ezra tersenyum canggung. Tangannya yang ada di bawah meja mengetik pesan kemudian mengirimnya. "Kita pesen aja dulu, sepertinya dia memerlukan waktu lebih lama untuk bisa sampai di sini."


Mereka sudah memesan beberapa menu dan menikmatinya dalam diam. Aya sangat menyukai makanan juga suasana yang tersaji di dalam Resto. Lain halnya dengan Ezra yang malah berkeringat dingin.


"Ladies and gentleman." Suara microfo menggema dari arah stage membuat Aya menghentikan aktivitasnya.


Saat mendengar itu Ezra semakin gugub bahkan tangganya sudah berkeringat. Tampaknya dia sangat grogi.


(Anggap saja ini bahasa Inggris ya) "Saya di sini mewakili seseorang untuk membawakan sebuah lagu yang akan di persembahkan pada ke kasih hatinya. Itulah dia orangnya." Tunjuk seorang pria yang tak lain adalah Alan ke arah meja Ezra dan lampu langsung mengarah pada mereka.


Sontak Aya terkejut tapi tak bisa dipungkiri ia sangat penasaran dengan si penampilan apalagi suaranya seperti tidak asing baginya tapi posisinya tidak memungkinkan untuk melihat karena tertutupi tubuh Ezra yang duduk di depannya. Apalagi kini beberapa pengunjung berdiri hingga dia sama sekali tidak bisa melihat. Begitupun dengan Alan.


Aya sempat kaget karena tiba-tiba lampu menyorot ke arah mereka tapi dengan segera ia dapat menguasai diri. Pandangan matanya kini tertuju pada pria yang ada di hadapannya. Aya sangat tahu sifat Ezra yang sebenarnya pemalu apalagi sekarang mereka menjadi pusat perhatian.


Suara piano mengirim lagu Melamarmu by Badai Romantic Projects yang di bawakan Alan.


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu


Cantik, dengarkanlah aku


Walaupun hampir semua pengunjung tidak mengerti arti dari lagu yang dibawakan Alan karena kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Inggris tapi suasana yang diciptakannya mampu membuat mereka terlarut dalam suasana romantis.


Aku tak setampan Don Juan

__ADS_1


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini 'ku tak ragu


'Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Bersamaan dengan lirik lagu itu dinyanyikan dengan penuh keyakinan Ezra berdiri kemudian berlutut di depan Aya satu tangannya memegang sebuah kotak yang terdapat cincin berlian.


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aya hanya bisa terkejut dengan satu tangan menutupi mulutnya tak percaya. Ezra melamarnya di depan banyak orang?


Di sisi lain ada seseorang yang kini juga terkejut saat pandangan matanya yang tadinya tertutupi punggung Ezra sahabatnya kini terpampang nyata sosok wanita cantik yang tengah duduk dengan raut wajah terkejut. Dia sangat mengenal sosok itu. Tapi Alan masih mampu menguasai diri. Di tengah keterkejutannya ia masih bisa menyanyikan lagu yang ia bawakan. Namun sekarang dia mulai berjalan perlahan mendekati dua sejoli yang akan melanjutkan hubungannya ke jenjang selanjutnya.


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu......


"Attaya Raisha Narendra Will you marry me?" Ezra mengucapkan lantang walaupun terselip kegugupan. Sambil menunggu jawaban ke kasih hatinya ia hanya bisa memejamkan mata. Menahan gejolak rasa gugup dan malu karena kini mereka menjadi pusat perhatian.


"Wajah itu?" Batin Aya bergemuruh.


Tiba-tiba otak dan fikirannya menampilkan memori berkelebat yang pernah hadir di dalam mimpinya. Seolah seperti roll film yang terus berputar. Wajah pria yang dulunya Buram perlahan menjadi jelas dan menampilkan wajah yang persis sama dengan pria yang ada di hadapannya.


"Alan?" Ucapnya lirih. Sebelumnya dirinya jatuh tak sadarkan diri.


Ezra berjalan tergesa-gesa menuntun Alan ke mobilnya karena kini Aya sedang dalam gendongan Alan.


Tadi sebelum Aya jatuh pingsan dengan sigab Alan menangkap tubuh mungil itu. Ezra yang merasa tidak ada jawaban akhirnya membuka matanya dan mendapati Alan membopong Aya yang tengah pingsan.


"Minggir semuanya!" Bukan Ezra melainkan Alan yang berteriak dan berlari sambil membopong tubuh Aya. Ezra juga langsung mengikutinya, ia tidak sempat memikirkan ataupun menerka-nerka apa yang terjadi dan kenapa bisa Alan melakukan hal itu.


Kini Alan sedang menatap Aya yang sudah terbaring di brangkar rumah sakit dengan satu tangannya yang diinfus. Jujur Alan sangat merindukan kekasih hatinya yang selama ini ia cari. Tapi kenapa pertemuannya harus dalam keadaan seperti ini. Ezra sudah menceritakan keadaan Aya. Ia lumayan tahu kalau kekasih hatinya yang sekarang sudah menjadi milik sahabatnya itu dulu mengalami koma karena Ezra sering menceritakan perihal awal pertemuannya dengan sang kekasih. Fakta yang baru saja ia sadari dan sangat melukaie hatinya adalah kenyataan bahwa Aya melupakan dirinya dan menganggap dia sudah tiada.


"Niel kamu masih di sini?" Pertanyaan dari seseorang membuatnya menoleh.


Dengan segera Alan menghapus sudut matanya yang basah. "Ini mau pulang. Tolong sampaikan permintaan maafku padanya karena membuatnya pingsan."


"Sudahlah itu bukan salahmu. Lagi pula akupun tidak tahu kalau lagu yang kau bawakan mengingatkan padanya dengan masa lalu hingga kejadian kemaren terulang lagi. Aku heran apakah pria yang bernama Alan itu seorang penyanyi hingga banyak sekali lagu yang ia persembahkan untuk Yaya dulu." Ezra tertawa disusul dengan Alan.


Ezra mengantarkan Alan ke lobby rumah sakit.


"Aku permisi dulu, aku doakan semoga kalian bahagia." Alan menepuk pundak Ezra kemudian melangkah pergi.


"Hey! Terima kasih! Semoga kau juga bahagia dan bisa menemukannya!" Sahut Ezra sambil melambaikan tangan. ia sedikit berteriak karena Alan sudah terlihat jauh.

__ADS_1


"Aku sudah menemukannya. Tapi dia bukan milikku lagi. Dia milikmu sekarang." Alan menengok ke kebelakang melihat Ezra yang sudah berbalik.


"Al?....ALAN!" Teriak Aya langsung terbangun dari tidurnya. Ia terduduk dengan nafas yang memburu.


"Minum dulu!" Ezra menyodorkan air putih dan langsung diterima. Tangannya menepuk-nepuk punggung Aya.


"Kamu masih memimpikan Alan? Cobalah perlahan untuk melupakannya, kasian pasti di alam sana dia tidak akan tenang."


"Dimana Al__eh maksudku Niel? Teman kamu itu?" Bukannya menanggapi omongan Ezra Aya malah menanyakan sahabatnya.


"Baru saja dia pulang. Dia menitipkan permohonan maaf, sepertinya dia merasa bersalah karena sudah membuatmu pingsan. Padahal sudah aku bilang kalau itu bukan salahnya." Ezra tertawa kecil.


"Apakah lagu itu mengingatkanmu pada Alan lagi?" Sambung Ezra.


"Kapan aku bisa pulang?" Sahut Aya cepat.


Ezra merasa aneh dengan sikap Aya yang sepertinya tidak sabaran. Tapi buru-buru ia tepis. Mungkin Aya yang merasa tidak betah berada di rumah sakit secara baru kemarin dia keluar dari sana.


"Sebenarnya besok pagi kamu sudah bisa pulang. Tapi aku ada jadwal operasi jadi siang baru bisa mengantarmu."


"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri."


"Apa kamu yakin?" Aya langsung mengaguk.


"Aku mau istirahat dulu." Aya mulai memposisikan dirinya untuk berbaring.


"Baiklah aku pergi ya?" Ezra Merapikan selimut Aya.


"Terima kasih." Ucapnya datar sebelum Ezra benar-benar keluar.


"Sama-sama. Tidak perlu terlalu formal begitu pada kekasih sendiri." Ezra melemparkan senyuman kemudian perlahan menutup pintunya.


"Terima kasih dan maaf Ezra." Gumamnya sebelum memejamkan mata.


***


Alan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia melihat foto Aya yang ia jadikan wallpaper di handphone miliknya.


"Apakah sekarang aku harus benar-benar menyerah. Kenapa aku harus bertemu denganmu di saat seperti ini." Alan berbicara kepada dirinya sendiri.


Ia masuk ke dalam kamar mandi melepas semua pakaiannya kemudian mengguyur tubuhnya dengan shower. Mencoba membuat pikiran dan otaknya menjadi dingin.


Duk!


Tangannya memukul dinding kamar mandi hingga darah mengucur mengalir bersama dengan air. Sakit ditangannya tidak sesakit hatinya sekarang.


Ia merasa bodoh karena tidak menyadari sejak awal kalau kekasih Ezra adalah Aya. Bahkan sekarang Aya sama sekali tidak mengingatnya. Apakah dirinya harus menyerah sekarang, setelah mati-matian dirinya memantaskan diri untuk Aya.


Bisakah dirinya merelakan Aya untuk Ezra sahabatnya itu? Alan sangat mengenal Ezra, lelaki itu sering menceritakan kekasihnya pada dirinya. Ia bisa melihat cintanya yang tulus pada Aya. Alan tidak akan tega untuk memisahkan mereka. Lagi pula Aya juga tidak mengingatnya. Percuma saja dia terus berusaha. Ternyata benar yang dikatakan ibunya dulu kalau cinta tidak harus memiliki.


Bersambung.....


Makasih udah setia nunggu ceritaku. Besok upnya jam 7 pagi ya? buat Next episode setelah ini. hari ini mumpung otak jernih bikin dua episode. Tapi sengaja aku up gak barengan biar apa coba?....biar pinisirin lah...hehehe. jangan lupa like, koment dan Vote. kalian luar biasa....

__ADS_1


__ADS_2