
...Percayalah terkadang sikap seseorang yang kita lihat bukanlah sikap yang sebenarnya. Mereka mampu menutupi bagaimana diri mereka karena suatu paksaan. Namun, hal sekecil apapun pasti bisa memperlihatkan bagaimana dirinya yang sebenarnya. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Semuanya dua juta lima ratus lima puluh ribu, Tuan," Kata seorang kasir pada Shaka.
"Ini," Jawab Shaka sambil menyerahkan kartunya.
Pria itu menerima tas belanjaan dan segera mendorongnya pada Bia.
"Beli apa aja sih? Sampai habis sebanyak itu!" Seru Shaka yang membuat Bia mendongak setelah melihat isi di dalam tas belanjaannya.
"Katanya kaya. Kok cuma dua juta aja, rewel?" Cibir Bia sambil memutar matanya malas. "Kaya boongan kali yah!"
"Kamu!"
"Terima kasih, Tuan Shaka yang kaya raya. Dua jutanya sebagai imbalan dan permintaan maaf anda pada saya!" Sela Bia dengan senyum manis lalu berbalik dan menarik senyuman itu dari bibirnya.
Wanita itu pergi lebih dulu. Meninggalkan Shaka yang geram dengan sikap dan tingkah Bia yang menyebalkan. Namun, pria itu mengusap dadanya berulang kali. Dia tak boleh marah atau memaki lagi.
Jika tidak, dia yakin Dhira pasti akan lebih marah padanya.
"Ini kartu anda, Tuan. Terima kasih," Kata Kasir dengan sopan yang dibalas anggukan dan dirinya lekas menyusul langkah kaki Bia yang sudah berjalan lebih dulu.
"Tunggu!" Pekik Shaka setengah berteriak.
Bia menarik nafasnya begitu dalam. Hah sepertinya berkomunikasi dengan Shaka adalah hal paling memberatkan selain menerima pasien yang rewel.
"Apa lagi?"
"Kita belanja bahan masakan juga!"
Mata Bia berbinar. Dia menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Aku akan membeli bahan kue juga. Aku akan memasak cake terus kue kering. Terus… ehh!"
Bia terkejut. Tangannya ditarik oleh Shaka dan membuatnya berjalan mengikutinya.
"Belanja itu jalan. Bukan bicara doang sambil bilang mau bikin apa!"
"Astaga!" Pekik Bia dengan geleng-geleng kepala. "Kenapa Mbak Dhira bisa betah banget sama kamu, Mas."
"Aku tampan dan kaya. Lalu kurang apa lagi?"
"Kurang memuaskan!" Cibir Bia dengan sekenanya dan membuat Shaka terpaku.
Dia mengedipkan mata berulang kali. Menatap Bia yang sudah berjalan dengan membawa troli belanja.
__ADS_1
"Apa aku kurang memuaskan?" Ulang Shaka pada dirinya sendiri dengan menatap ke bawah.
Ah lebih tepatnya bukan menatap lantai melainkan menatap sesuatu yang tersembunyi di balik gundukan celananya.
...****************...
"Hah akhirnya selesai juga!" Kata Bia dengan menatap ke arah kulkas yang sudah rapi dengan bahan makanan.
Dia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Bia melakukan semuanya sendiri. Sedangkan Shaka, pria itu sudah pergi entah kemana.
"Lebih baik aku mandi dan tidur," Ucap Bia dengan menarik tangannya ke atas. "Rasanya badanku sakit semua."
Dengan pelan Bia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia segera melakukan apa yang dia inginkan. Namun, tak lama, seseorang berjalan masuk ke dalam villa.
Shaka, pria itu menatap sekitar. Sepi dan tak ada siapapun. Dia lekas berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
"Apa aku sudah gila. Beli hal begini hanya karena takut dengan perkataan wanita?" Ulang Shaka dengan menatap ke arah kotak hitam yang sangat amat familiar di kalangan kaum pria.
Dia melempar kotak hitam itu sampai ke lantai. Menggelengkan kepalanya karena bisa-bisanya dia kepikiran membeli benda itu tanpa malu.
"Eh apa ini?" Tanya Bia yang baru saja keluar dari kamar dan menatap kotak yang jatuh di bawah kakinya.
Bia menunduk. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang ada di kakinya.
"Eh, ber… "
Telat.
"Tissue super magic," Ucap Bia mengeja nama yang ada di kotak itu. "Apa ini?"
Bia tentu hendak membukanya. Namun, tak lama sebuah tangan merampas benda yang ia pegang hingga membuat kepalanya mendongak.
"Itu apa sih? Buat apa, Mas?" Tanya Bia penasaran.
"Bukan apa-apa. Kamu masih kecil. Gak perlu tahu!" Cibir Shaka yang membuat Bia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Aku udah besar. Gini-gini aku bisa ngasih anak kecil buat kamu, Mas!" Seru Bia pada Shaka.
Kedua mata itu saling menatap. Saling memandang satu dengan yang lain. Sampai akhirnya tanpa diduga, Shaka mendorong tubuh Bia dan menempel ke dinding.
"Ehh. Mau apa kamu, Mas?" Tanya Bia dengan gugup.
Tatapan mata Shaka begitu lekat. Dia memandang setiap inci wajah Bia dengan begitu dekat.
"Jangan macam-macam ya, Mas. Kamu!"
"Katanya bisa ngasih anak kecil. Mana?"
Kening Bia berkerut. Dia menatap Shaka dengan tajam.
__ADS_1
"Kita lihat aja beberapa minggu lagi. Aku yakin bisa ngasih kamu anak kecil."
Shaka terdiam. Namun, dalam hati jujur dia mengaminkan perkataan itu. Jujur hatinya yang paling dasar, Shaka sangat menanti kehadiran anak di antara mereka.
Menunggu datangnya bocah kecil yang akan meramaikan pernikahannya dengan Dhira. Menyelamatkan rumah tangga dirinya dengan istri yang sangat ia cintai. Sekaligus mewujudkan mimpi Mama dan Kakeknya.
"Aku tunggu ucapan itu. Aku tunggu anak itu dari diri kamu!"
Shaka perlahan melepas tangannya. Dia menjauh dari tubuh Bia lalu mulai membereskan semua barang yang dibeli. Pria itu meninggalkan Bia yang masih menyandar di dinding dengan degup jantung yang berdegup kencang.
Jujur dia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya. Setiap kali dia ada di dekat Shaka. Setiap kali pria itu membuat ulah. Rasa tegang, degup jantung berdegup kencang dan juga berdebar itu sangat amat terasa.
Bia menarik nafasnya begitu dalam. Dia benar-benar mulai memutar ulang pembicaraan dirinya dan Dhira beberapa waktu lalu.
"Gunakan obat itu setiap hari. Aku sudah bertanya pada dokter bahwa obat itu aman. Semua harus kalian lakukan demi kesepakatan kita, Bi!" Kata Dhira tadi yang berputar di dalam otak Bia.
"Aku harus memakai obat itu lagi. Aku juga tau, obat itu aman tapi… " Kata Bia dengan mulai berjalan ke arah dapur dengan langkah gontai. "Setiap nama itu yang dipanggil. Aku merasa sakit."
...****************...
Sedangkan di tempat lain. Terlihat seorang perempuan yang masih terlihat cantik meski usianya tak lagi muda masuk ke dalam sebuah rumah besar yang terlihat sepi.
Perempuan itu menatap sekeliling. Saat dirinya baru saja meletakkan tas mewahnya di atas meja. Kehadirannya membuat pelayan disana mendekat.
"Nyonya besar," Kata seorang pelayan yang sangat mengenal siapa sosok di depannya.
"Kemana semua orang?" Tanya wanita dengan mata tajam menatap sekeliling. "Kenapa rumah ini sepi sekali?"
"Itu, Nyonya. Tuan sudah beberapa hari tak pulang. Sedangkan Nyonya," Balas pelayan itu seperti ketakutan untuk menjawab.
"Kenapa?"
"Nyonya hanya pulang beberapa kali lalu pergi lagi," Ujar pelayan itu dengan menunduk.
Perempuan dengan wajah hampir mirip Shaka itu berdecak. Dia memutar matanya malas mendengar perkataan dan laporan yang sering kali dia dengar.
"Menantu tak berguna. Bagaimana bisa putraku sangat mencintainya. Wanita tak bisa apapun! Tak bisa memasak, hanya peduli pada dirinya sendiri dan juga tak bisa memberikan keturunan!"
~Bersambung
Hahaha tiap bab pasti ada ulah terus Mas Shaka. Tissue magic biar tegang kali yah hahahah kabur.
BTW ahh aku mau kasih note sedikit disini.
Kenapa aku lancar ngetik Mbak Bia sedangkan Mbak Ze belum lanjut.
Yang pertama, moodku nulis Mbak Bia bagus banget. Sedangkan nulis Mbak Ze, otakku bener bener stuck. Baca komen yang tiap kali isinya hujatan, sok tau alur Mbak Ze jatuhnya ngejatuhin aku. Alhasil moodku ambyar tiap mau ngetik.
Aku bakalan update Mbak Ze setelah moodku kembali. Aku gak bakal update kalau mood paksaan. Yang ada ceritaku bakalan ambyar.
__ADS_1
sekian Terima kasih. kalau gak Terima sama kisah bang Jim disebelah, jangan dibawa-bawa ke ceritaku yang lain. Apalagi ketikan yang sok tau, sampai ngehujad.