
...Mengandung bukanlah hal yang mudah untuk seorang ibu hamil yang mengalami masa hamil untuk pertama kalinya. Namun, dibalik kesulitan yang dia rasakan. Ada banyak cinta yang dia dapatkan. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Mas gak pulang?" Tanya Bia dengan mengerutkan keningnya.
Dia melihat Shaka yang malah duduk di ruang tamu dengan tenang tanpa berniat untuk beranjak dan pergi dari rumahnya.
"Malam ini aku menginap disini, boleh?" Kata Shaka sambil menegakkan tubuhnya.
Dia menatap ke arah Bia yang sedang berdiri sambil membawakan segelas teh hijau hangat untuknya.
"Boleh tapi Mbak Dhira. Gimana, Mas?"
Jujur jika egois. Bia merasa sangat bahagia suaminya memilih menginap disini. Bia merasa senang jika Shaka tinggal disini malam ini. Namun, Bia tetaplah Bia.
Perempuan itu sadar akan posisinya. Perempuan itu sadar bahwa disini bukan hanya tentang dia dan Shaka. Melainkan ada Dhira di antara keduanya.
"Jangan membahas tentang dia, Bi," Kata Shaka dengan tegas.
Bia yang baru saja duduk hanya diam. Dia menyangga kepalanya dengan tangan dan menatap ke arah Shaka.
"Boleh kan?" Tanya Shaka mengulang pertanyaannya.
Bia mengangguk. "Mas boleh tinggal disini. Kapanpun itu, pintu rumah ini akan terbuka buat kamu!" Kata Bia dengan jujur yang membuat perasaan Shaka menghangat.
"Terima kasih, Bi. Makasih udah selalu ngertiin aku," Kata Shaka dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan.
Entah kenapa semenjak mengenal Bia. Bertemu dengan wanita itu. Mengenal kepribadiannya membuat Shaka merasa memiliki sebuah rumah berbentuk manusia.
Dia memiliki sebuah tempat untuk berkeluh kesah. Dia memiliki alasan untuk kembali bangkit disaat moodnya begitu jelek.
"Tapi kalau Mas Shaka menginap disini. Aku tak punya baju ganti, Mas. Gimana?"
"Aku membawa baju ganti di mobil. Jadi kamu tenang saja!"
Bia mengangguk. Dia tak bertanya apapun lagi. Bagaimanapun Bia akan menunggu sampai Shaka sendiri yang bercerita kepadanya. Mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan membuat wajah pria itu sedikit murung.
"Kamu tidurlah, Bi. Gak baik ibu hamil tidur semalam ini," Kata Shaka sambil melihat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Bia ikut menoleh. Dia menganggukkan kepalanya menurut.
"Aku tidur ya, Mas!"
Saat Bia beranjak berdiri. Shaka juga ikut berdiri dan membuat Bia menghentikan langkahnya untuk melangkah.
__ADS_1
"Mas mau tidur?"
"Ya. Aku akan tidur sekarang juga. Besok pagi aku memiliki jadwal meeting, Bi. Bisa kamu membangunkanku kan?"
Bia menatap Shaka yang terlihat lelah. Dia tak mampu menolak perintah suaminya itu. Bagaimanapun hanya membangunkan dia pasti bisa.
"Tentu, Mas!"
"Yaudah ayo!"
Akhirnya pasangan suami istri itu mulai berjalan ke arah kamar yang berderet di lantai pertama itu. Bia mulai membuka pintu, sampai akhirnya saat dia hendak menutupnya. Sebuah tangan yang menahan membuat Bia terbelalak tak percaya.
"Mas mau apa?" Tanya Bia dengan bingung.
"Aku mau tidur," Jawab Shaka dengan ambigu.
"Tidur?" ulang Bia dengan terkejut. "Mas tidur bisa di kamar sebelah kan?"
"Gak mau. Aku mau tidur disini malam ini!"
Tanpa menunggu jawaban dari Bia. Shaka langsung masuk dan membuat ibu hamil itu benar-benar tak percaya. Jantung Bia berdegup kencang. Entah kenapa dia merasa malu satu kamar dengan Shaka.
Meski mereka pernah satu kamar di Singapura. Menurut Bia itu karena paksaan dari Dhira. Namun, sekarang, apa yang terjadi di antara keduanya murni keinginan Shaka sendiri.
"Jangan melamun di sana terus, Bi. Ayo masuk dan cepat ganti baju tidur. Ibu hamil gak baik tidur terlalu malam!"
***
Dia terus memikirkan sesuatu yang membuatnya menelan ludahnya sejak tadi. Perutnya seakan merasa lapar terus dan ingin memakan makanan itu. Tak tahan, akhirnya perempuan itu beranjak dari tidurnya.
"Aku lapar sekali," gumamnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Kamu lapar juga, 'kan, Sayang?"
Perlahan perempuan itu menoleh ke samping. Disana, ia bisa melihat Shaka yang sedang terbaring lelah. Jujur dia bisa melihat tidur suami sirinya itu yang begitu tenang dan sedikit mendengkur.
Hal itu tentu yang membuat Bia tak tega untuk membangunkannya. Apalagi ingatan tentang wajah Shaka yang muram dan sepertinya memiliki masalah dengan Dhira membuat Bia semakin memilih untuk memikirkan apa yang dia mau sendiri.
"Apa aku harus membangunkan Mas Shaka?" Kata Bia dalam hati dengan perasaan ragu.
Tak tega untuk membangunkan suaminya. Akhirnya dia mencoba menahan keinginannya. Ia lebih memilih keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Biarlah dirinya mencari makanan lain untuk mengganjal perutnya. Daripada harus membangunkan Shaka di jam seperti sekarang ini dan membuatnya kekurangan jam tidur.
Tapi, sepertinya malam ini bukan malam yang beruntung untuk Bia. Di dalam kulkas, tak ada makanan seperti buah yang bisa ia makan. Bahkan isi kulkas itu terlihat begitu sedikit yang membuat Bia sadar bahwa dia belum belanja apapun.
"Aku harus masak apa?" ucapnya pada dirinya sendiri.
Dia lupa bahwa dirinya tak memiliki banyak bahan untuk membuat makanan. Bia menutup pintu kulkas dengan kecewa. Dia benar-benar tak bisa menahan rasa laparnya. Sampai akhirnya sebuah tangan melingkar di perutnya dan hembusan nafas di lehernya.
__ADS_1
"Kamu lapar?" Bisik seorang pria pelan di telinganya.
Bia tahu suara ini. Dia sangat mengenal suaranya. Suara sang suami yang sangat ia cintai. Suami yang dia cintai begitu dalam tanpa pria itu ketahui.
Perasaan bertepuk sebelah tangan. Perasaan tersembunyi yang ia sembunyikan sebaik mungkin.
"Ngagetin aja sih!" ujar Bia memukul pelan lengan suaminya. "Kamu ngapain kesini?"
"Aku sebenarnya mau ke kamar mandi. Tapi lihat ranjang sampai kosong. Mangkanya aku kesini," bisik Shaka dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu lapar kan?"
Shaka bertanya sekali lagi. Tangannya mengusap perut istrinya yang masih rata dengan pelan.
Perlahan tubuh bia berbalik. Pandangan keduanya berhadapan hingga Shaka mampu menatap sesuatu dalam wajah istrinya.
"Kenapa? Kamu kok kayak gelisah gitu?" tanya Shaka pelan sambil mengusap rambut Bia yang ada di dahinya.
"Iya. Aku lapar. Sepertinya anak kamu ingin sesuatu malam ini," katanya mencoba jujur.
Bia tak mau menutupi keinginannya. Mau bagaimana lagi. Dia menginginkan itu sekarang dan ingin memakannya. Rasanya bayangan makanan itu terbayang dan berputar di kepalanya dan membuatnya susah untuk tidur.
"Kalau lapar ya makan."
"Tapi…" Bia terlihat ragu.
Perempuan itu seperti sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan Shaka. Dia takut jika suaminya marah. Dia takut jika dirinya mengatakan yang sebenarnya tentang keinginannya. Shaka tak mau menurutinya.
"Kenapa?" tanya pria itu dengan lembut. "Katakan, Bi. Kamu ingin makan apa?"
Dia meraih tangan Bia dan mengusapnya dengan lembut. Kegelisahan dalam diri Bia tentu terlihat begitu jelas kentara.
"Aku pengen makan sesuatu," cicitnya pelan sambil menunduk.
Bibir Shaka tertarik ke atas. Dia mengusap kepala Bia dengan lembut. Pria itu menjadi sadar bila istri sirinya itu sedang mengidam.
Satu hal yang dia lihat dan baca di internet. Jika akan ada masa dimana seorang perempuan hamil menginginkan sesuatu sampai tak bisa ditunda.
"Makan apa, Bi?"
"Mmmm," Kata Bia dengan ragu.
"Mau makan apa?" Ulang Shaka dengan begitu lembut.
Bia mendongak takut-takut. Namun, melihat bagaimana pria itu menatapnya dengan lembut membuatnya sedikit demi sedikit memberanikan dirinya untuk jujur.
"Aku pengen makan lalapan udang bakar."
~Bersambung
__ADS_1
Hayo Mas Shaka beneran udah luluh belum yah? beneran udah cinta gak sama Bia?
duh manis banget sih mas.