
Tak selamanya sebuah hubungan akan berakhir dengan bahagia dan bersama. Terkadang sesekali seseorang akan membahagiakan dirinya sendiri dengan merelakan segalanya dan memulai semuanya di atas kedua kakinya sendiri.
~Bia Quinsa Altafunisha
***
Tentu hal utama yang dilakukan oleh Shaka adalah segera pergi dari rumah Bia. Ya, tempat yang dia tuju tentu bandara. Dimana lagi bangunan yang biasanya digunakan untuk pergi selain bandara.
Terminal? Shaka tak percaya jika Bia akan pergi ke daerah yang masih di dekat sini.
Dia yakin wanita yang mencintai dirinya itu akan pergi jauh darinya.
Hal itulah yang membuat Shaka segera mengendarai mobilnya menuju bandara. Meski, tentu saja usahanya bukanlah hal yang mudah.
Kemacetan kota Jakarta tentu membuatnya lagi-lagi harus menghela nafas pelan. Dia mencengkram setir kemudi saat mobilnya mulai memasuki area macet.
"Ayo jalan!" Kata Shaka sambil menekan klakson saat lampu merah di depan berubah hijau.
Shaka tak peduli apapun. Dia tak peduli ocehan orang di luar mobilnya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia menemukan sosok Bia.
Bagaimana dia harus segera sampai di bandara dengan selamat. Bagaimana dia harus sampai disana dengan cepat dan tak kenal macet.
"Ayo, Shaka! Berpikir sebelum terlambat!" Umpatnya pada dirinya sendiri.
Shaka yang tak fokus. Shaka yang terlalu memikirkan keberadaan Bia tentu membuatnya hampir melupakan kondisi di depan sana. Hingga akhirnya, saat suara klakson mengejutkannya, tiba-tiba Shaka spontan tersadar dan segera menghadap ke depan.
"Oh ****!" Pekik Shaka dengan kata terbelalak dan segera menekan pedal rem mobilnya.
Dug.
Terlalu kencang mengerem dan dia juga menjaga kepalanya karena takut jika saja gak tak terduga terjadi membuat Shaka tentu melupakan satu hal.
Akhirnya tubuhnya yang terdorong ke depan membuat kepalanya akhirnya terpenting setir kemudi dengan kuat.
"Akhh!" Pekik Shaka dengan memegang kepalanya yang sakit.
Tentu benturan itu terlalu keras dan membuat dahi Shaka sakit. Pria itu bahkan sampai memegang kepalanya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Nafasnya tentu ngos-ngosan. Dia menatap ke depan dan menghela nafas lega saat mobilnya benar-benar berjarak beberapa jengkal tangan dengan mobil depannya.
"Kau gila, Ka!" Umpatnya pada dirinya sendiri.
Namun, tak lama, rasa basah tentu terasa di dahi Shaka. Hal itu membuat pria itu spontan meraba bagian sakitnya dan ya memang basah. Perlahan tapi pasti, Shaka menurunkan tangannya dan yah.
"Darah?" Lirih nya sambil mengerutkan dahinya karena rasa sakit di kepalanya sangat amat terasa.
Namun, bukan itu yang utama sekarang. Dia tak peduli dengan lukanya. Shaka lekas mengambil tas miliknya dan turun dari sana. Ya, dia tak mungkin mengemudi kembali. Kepalanya sakit dan dia berniat mencari taksi agar sampai dengan cepat
***
"Semuanya gak ada yang ketinggalan?" Tanya Abraham pada Bia yang masih duduk di ruang tunggu.
Bia spontan mendongak. Dia mengikuti posisi kakaknya yang mulai duduk di sampingnya itu.
"Bi," Panggil Abraham lagi yang membuat Bia tersadar dari semua pikirannya.
"Iya, Kak. Semuanya sudah aman. Gak bakal ada barang yang ketinggal. Mungkin cuma… " Jeda Bia sambil menatap ke hamparan bandara yang ramai itu dengan lalu lalang orang yang ingin pergi dan baru saja sampai di negara ini. "Hatiku yang akan aku tinggalkan disini."
Bia benar-benar akan meninggalkan seluruh perasaannya di sini. Dia tak akan membawa apapun dari sini. Cukup semua rasa sakit itu menjadi bahan dan pegangan dia untuk berpikir membuka hatinya lagi.
Abraham terdiam cukup lama. Dia mengangkat tangannya dan perlahan mengusap kepala Bia dengan pelan.
__ADS_1
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Tanya Abraham sekali lagi yang membuat Bia menoleh.
"Akun yakin, Bang. Aku benar-benar akan pergi!" Kata Bia dengan suaranya yang yakin.
Abraham mengangguk. Dia menggeser duduknya lalu perlahan menangkup kedua sisi wajah Bia dengan pelan.
"Setelah ini, kamu akan bebas. Setelah ini kamu akan menjauh dari kehidupan Shaka. Tak akan ada lagi hubungan di antara kalian berdua. Kamu benar-benar akan melakukan semuanya sendirian. Kamu sudah siap?" Tanya Abraham sekali lagi sambil menatap kedua bola mata Bia yang membalas tatapannya.
"Setelah ini kamu akan berjuang sendiri. Menghidupi anak ini seorang diri. Akan menjadi sosok ayah dan ibu secara bersamaan. Apa kamu siapa?" Lanjut Abraham yang membuat air mata Bia mengalir tanpa bisa dicegah.
Sekuat apapun dia ingin pergi. Sekuat apapun dia mengatakan siap dan mampu. Tentu didasar hatinya yang terdalam masih terisi sempurna oleh Shaka.
Sejahat apapun pria itu, seburuk apapun mantan suaminya itu. Semua hal yang ada dalam diri Shaka adalah favoritnya.
"Bagaimana? Kamu siap?"
Bia terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia memegang kedua tangan yang ada di pipinya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku sudah siap, Kak. Aku siap melewati semuanya sendirian. Membesarkan anak ini tanpa dia dan bertanggung jawab atas kehidupannya."
Akhirnya bersamaan dengan itu. Suara pesawat yang akan membawa mereka kini memanggil. Hal itu tentu membuat Bara dan Almeera yang sedang berbincang dengan Jonathan dan keluarga segera mendekat ke arah Bia.
"Ayo, Nak! Sudah waktunya kita pergi!" Kata Bara dengan menarik koper Bia lalu segera berjalan lebih dulu.
"Kami berangkat ya, Kak," Pamit Meera pada Jonathan.
Bia tentu menyalami semua keluarganya. Tak ada yang disembunyikan. Semua keluarga sudah tau keadaan Bia dan hal itu tentu membuat mereka semakin mengeratkan hubungan keluarga.
Setelah mengalami semuanya. Kini waktunya mereka pergi. Bia tentu lekas mengikuti langkah kaki ibunya dengan pelan. Tangannya yang digandeng oleh Almeera membuatnya mengikuti irama langkah kaki ibunya.
Namun, sesekali Bia benar-benar menatap ke belakang. Entah kenapa dia berharap ada seseorang yang akan menyusulnya. Tapi sepertinya semua itu sudah terlambat.
"Mungkin kita memang tak berjodoh sejak awal," Lirih Bia sambil memutar kepalanya dan mulai menatap ke depan sambil melangkahkan kakinya lebih cepat.
Wanita berbadan dua itu tentu spontan menoleh saat suara itu sangat amat familiar.
"Mas Shaka!" Lirih Bia dengan terkejut.
Shaka tentu datang dengan memegang kepalanya. Darah terus mengalir dari ujung dahinya dan membuat tangannya penuh dengan darah.
"Shaka, kamu!" Seru Abraham terkejut sambil memegang tangan mantan adik iparnya itu.
"Lepaskan aku, Kak?" Kata Shaka dengan berusaha melepaskan tangan Abraham lalu mengejar Bia.
"Bia…"
"Mas," Kata Almeera mencegah suaminya dan menarik tangan Bara agar diam di sampingnya.
"Berikan Bia waktu untuk bicara, Mas. Aku yakin dia tak akan merubah keputusannya."
Akhirnya Bia berbalik. Dia berjalan mendekat dan begitupun sebaliknya. Shaka juga berjalan mendekat hingga kini keduanya saling berhadapan.
Bia tentu saja terkejut. Apalagi saat matanya menatap darah yang mengalir dengan jelas di depan matanya.
"Mas Shaka."
"Bia."
Keduanya saling memanggil bersamaan. Hal itu tentu membuat jantung keduanya berdegup kencang. Keduanya sama-sama tak tahu harus melakukan apa.
"Aku… "
__ADS_1
"Aku minta maaf," Sela Shaka secara langsung.
Dia tak mau menunda apapun lagi. Dia tak mau bertele-tele. Dia hanya ingin satu hal. Dia hanya ingin mengatakan kata maaf dengan tulus karena telah menyakiti.
"Aku khilaf, Bi. Aku juga baru tahu jika apa yang kamu katakan memang benar. Dhira bukan wanita baik-baik. Dia selingkuh dariku!"
"Dan anak yang dikandung juga bukan anakku!" Lirihnya dengan nada suara yang benar-benar menggambarkan kekecewaan.
"Kumohon, Bi. Maafkan aku dan jangan tinggalin aku disini sendirian!" Ucap Shaka dengan memohon.
Namun, Bia tetaplah Bia. Apa yang dia putuskan. Apa yang sudah dijatuhkan dengannya, tak akan membuatnya berputar dadi keputusannya
"Mas," Lirih Bia sambil melepaskan tangan Shaka yang memegang dirinya dari balik baju yang dipakai. "Untuk kali ini biarkan aku egois yah."
"Egois kenapa?"
"Aku ingin bahagia dengan diriku sendiri. Aku ingin mencintai diriku sendiri," Ucap Bia dengan air mata yang tertahan.
"Aku gak mau, Bi. Aku benar-benar menyesal."
"Aku ingin kita sama-sama belajar. Belajar dari kesalahan yang sudah kita perbuat. Belajar dari sikap kita yang terlalu egois dengan kemauan kita sendiri," Lirih Bia dengan menatap wajah Shaka yang benar-benar mengandung kesedihan.
Bahkan mata pria itu tak dapat berbohong. Kedua mata Shaka benar-benar berkaca-kaca dan mulai meneteskan air mata.
"Bia, kumohon. Beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku benar-benar akan belajar dari kesalahanku!" Pinta Shaka yang tentu membuat hati Bia juga ikut menangis.
Mata wanita berbadan dia itu juga mulai meneteskan air mata dan membuatnya harus mendongak agar tak semakin menangis dengan kencang.
"Aku sudah memberiku satu kesempatan lagi, Mas," Ucap Bia pelan yang membuat Shaka terkejut.
Dia menatap wajah Bia yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Aku memberimu kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Belajar menjadi sosok yang lebih baik lagi dan mari kita bertemu di masa depan dengan versi yang lebih baik," Ucap Bia dengan serius yang membuat Shaka akhirnya mulai mengerti.
Ya, mungkin saat ini, luka wanita yang tengah mengandung anaknya itu masih basah. Luka yang dialami Bia karena dirinya terlalu dalam. Mungkin dia harus belajar dari sekarang. Mungkin dia harus memahami apa yang dirasakan oleh Bia.
"Bagaimana? Mari kita berpisah untuk menjadi sosok yang lebih baik. Jika memang kita berjodoh. Suatu hari nanti kita akan bertemu di masa depan dengan versi yang lebih baik," Kata Bia dengan menyodorkan tangannya dengan tangan mengepal menandakan dia ingin bersalaman ala dirinya dengan tangan yang dilapisi kain baju yang dia pakai.
Shaka mengangguk pelan. Meski sakit hati, meski dia tak mau, tapi Shaka benar-benar paham dengan keinginan Bia.
"Ya. Aku akan belajar dari masa lalumu dan yah. Terima kasih sudah memberiku kesempatan!"
Bia mengangguk. Perlahan dia menatap orang tuanya dan mengangguk.
"Aku pergi ya, Mas. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa makan dan yah. Maafkan semua yang terjadi sekarang agar kamu bisa belajar untuk ke depannya menjadi sosok yang lebih baik lagi."
Akhirnya Bia tersenyum dengan meneteskan air matanya. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Namun, sesekali wajahnya menatap ke belakang.
Disana, masih ada Shaka yang berdiri di tempatnya dengan tangan melambai.
"Aku akan menunggumu disini, Bia. Aku akan menunggumu kembali."
~Tamat~
Akhirnya novel ini selesai juga. Alhamdulillah Terima kasih sudah mau mengikuti novel ini sampai selesai. Je bener-bener ucapin Terima kasih sebanyak-banyaknya.
kisah ini memang benar-benar berakhir disini. Gak ada yang ditulis dengan tamat gantung. Kisah ini memang berakhir dengan seperti ini.
Dan nanti malam, sampai jumpa dengan kisah anak Mbak Bia yah.
Cerita ini bakalan kompleks dengan semuanya.
__ADS_1
Sampai jumpa di novel anak Mbak Bia nanti rilis di novel toon juga.