
Terkadang seseorang masih mencoba untuk memberikannya waktu agar sadar dengan apa yang dia lakukan. Namun, waktu juga mampu membuat semuanya berubah.
~Bia Quinsa Altafunisha
***
Entah sudah berapa lama Bia tertidur. Perempuan dengan perut yang sudah terlihat buncit itu mulai membuka matanya. Dia merasa pusing dan membuatnya memegang kepalanya dengan pelan.
Bau obat di sekitarnya sudah membuat Bia ingat jika dia ada di rumah sakit. Kepalanya menoleh sedikit. Dia ingat akan seseorang yang dia lihat sebelum dia tak sadarkan diri.
Tapi, apa yang dia cari tak ada siapapun. Ruangan itu sunyi senyap. Kosong dan hanya dirinya seorang disana.
"Kemana Mas Shaka?" Gumam Bia dengan menatap sekelilingnya.
Perempuan itu merasakan tidak nyaman di bagian punggung. Sepertinya terlalu lama dia tidur, membuat Bia tentu merasa lelah. Akhirnya, tanpa bantuan siapapun. Bia mencoba untuk duduk. Namun, baru saja dirinya hendak mencobanya sendiri, sebuah suara pintu terbuka membuat Bia menoleh.
"Kamu mau ngapain, Bi?"
"Semi?" Kata Bia terkejut. "Kamu masih disini?"
"Kamu mau duduk?" Tanya Semi yang tak menjawab pertanyaan Bia terlebih dahulu. "Mari kubantu!"
"Eh tapi… "
"Aku memegangmu dengan batasan kain baju, Bi. Ayo!"
__ADS_1
Bia tentu tak bisa melakukan apapun. Apalagi dia juga ingin duduk menyandar dan membuatnya mau tak mau harus menerima bantuan Semi.
"Kemana Mas Shaka?"
"Kenapa kamu nyembunyiin semuanya dadi aku, Bi?" Tanya Semi yang lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Bia. "Kenapa kamu nerima jadi istri kedua Shaka? Kenapa kamu… "
"Itu urusanku!" Seru Bia dengan tegas. "Kamu gak berhak untuk ikut campur!"
"Aku memang tak punya hak. Tapi aku sangat tahu bagaimana hubungan Shaka dan Dhira, Bi."
"Aku juga tau bagaimana Dhira. Kenapa kamu mau?"
"Itu urusan aku!"
Dia benar-benar tak mau menjawab. Wanita itu tak berniat menjawab apapun karena dirinya benar-benar tak memiliki jawaban untuk menjawab pertanyaan Semi.
Semua itu ingin dia simpan sendiri. Apa yang sudah dia putuskan adalah keputusan yang menurutnya tepat.
"Jangan menyakiti diri sendiri, Bi," Lirih Semi dengan pelan. "Jangan… "
"Apa yang kau tau, tentangku?" Sela Bia dengan pelan. "Apa hah?"
"Apa kau lupa dengan apa yang kau perbuat dulu?" Seru Bia yang mulai hilang kontrol.
Ah masih ingatkan! Ibu hamil adalah orang yang mudah sensitif. Dia juga mudah terpancing amarahnya karena moodnya naik turun.
__ADS_1
"Apa kau lupa kata apa yang kau katakan dulu untuk mendoktrin aku?"
"Kau bilang aku wanita sampah, aku adalah ******. Aku tak akan mendapatkan pria manapun lagi. Tak akan ada yang menerimaku dengan kekuranganku ini. Gak bakal ada yang mau nerima aku… "
"Cukup!"
"Kenapa? Apa kamu sudah ingat?" Seru Bia dengan mata yang memerah. "Aku melakukan ini hanya ingin membantu Mbak Dhira dan Mas Shaka. Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna."
"Setidaknya di ujung hariku yang tak akan mendapatkan kehidupan layak. Aku masih bisa membuat sepasang keluarga bahagia."
"Bi… " Lirih Semi yang merasa tersindir dan sadar diri. "Maafkan aku!"
"Aku benar-benar tak tahu jika kamu… "
"Ingatan itu selalu ada dan akan selalu aku ingat!" Balas Bia dengan air mata yang mengalir. "Semua itu sudah terjadi dan sekarang! Aku tak menyesal ada di titik ini."
Bia mengatakan semuanya dengan jujur. Ya dia tak menyesal. Dia tak akan menyesal tentang apa yang sudah dia putuskan.
Sedangkan Semi, pria itu benar-benar menyesali semaunya. Menyesali sikap dan dendamnya di masa lalu yang membuat masa depan seorang wanita hancur.
"Maafkan aku," Lirih Semi dengan menunduk.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Jangan meminta maaf. Semuanya tak bisa diulang. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mencoba menjadi yang terbaik!" Balas Bia dengan pelan yang membuat Semi perlahan menaikkan pandangannya.
~Bersambung
__ADS_1