
Ketika seseorang marah maka apa yang mereka lihat itu yang dianggap benar tanpa mereka ingin tahu yang sebenernya.
~JBlack
***
"Non, Bibi izin keluar sebentar yah. Bibi ingin belanja keperluan dapur yang habis," Pamit Bibi Mar pada Bia.
Ibu hamil yang saat itu sedang duduk bersantai di ruang tamu tentu mengangguk.
"Apa uangnya masih ada, Bi?" Tanya Bia dengan pelan.
Bibi Mar tersenyum. Perempuan tua itu mengangkat tangannya dan mengusap kepala Bia dengan begitu lembut.
Hubungan keduanya sudah sangat dekat. Bahkan Bia sudah menganggap Bibi Mar seperti neneknya sendiri. Sikapnya yang baik dan perhatian, membuat Bia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang meski jauh dari orang tuanya.
"Masih, Non. Bibi pamit yah, Non kalau ingin sesuatu, kabari Bibi," Ucap Bibi Mar yang sangat tahu kebiasaan Bia.
Ya Bia akan mengirimkan pesan teks padanya untuk beli sesuatu ketika dia sudah diluar. Keinginan ibu hamil satu itu, selalu datang ketika Bibi Mar sudah berangkat.
"Siap, Bi!"
Akhirnya tinggallah Bia seorang. Ibu hamil itu perlahan turun dari sofa. Dia berjalan ke arah dapur dan mengambil buah-buahan yang ada di kulkas.
Bia merasa lapar dan membuatnya ingin mengemil yang sehat. Sampai akhirnya gerakan tangan Bua terhenti dengan suara bel berbunyi.
"Siapa yang datang," Gumam Bia sambil meletakkan piring buah ke dalam kulkas lagi.
__ADS_1
Dia berjalan dengan pelan sambil menatap pintu rumahnya yang masih tertutup.
"Semi," Kata Bia terkejut saat dia mengintip dari jendela rumahnya.
Dia lekas membuka pintu rumahnya hingga Semi akhirnya bisa menatapnya.
"Bia!"
"Ada apa, Sem?" Tanya Bia langsung tanpa basa basi. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"
Semi terlihat tak baik-baik saja. Wajah pria itu terlihat cemas dan membuat Bia tentu meminta Semi masuk dan dia membuka pintu rumahnya dengan lebar.
Bagaimanapun tak ada siapapun di rumah ini. Bia takut akan ada fitnah jika berdua saja di dalam.
"Duduklah! Aku akan mengambilkan kamu minum," Ucap Bia dengan pelan.
Seakan ada beban berat pada dirinya. Namun, tak beberapa lama.
Pyarrr.
"Bi!" Pekik Semi terkejut.
Suara pecahan yang kencang membuat Semi melupakan masalah dirinya. Dia lekas berlari ke arah dapur. Mencari sosok perempuan yang sangat dia khawatirkan.
"Bi! Ada apa?"
Semi lekas mendekat. Dia bisa melihat Bia mengerutkan dahinya dan menahan sakit. Semi tentu melihat ke bawah dan dia bisa melihat kaki Bia yang memerah.
__ADS_1
"Air panas itu, Bi," Ucap Semi dengan khawatir.
"Aku… "
"Diamlah disana! Aku akan mengambil pecahan kacanya dulu," Ucap Semi memberitahu.
Akhirnya Semi melakukan itu dengan cepat. Mengambil dan memungut pecahan kaca kecil yang ada di atas lantai. Dengan sesekali mata Semi melirik ke arah Bia yang kesakitan.
"Kamu punya salepnya, Bi?"
"Ada di kotak obat," Sahut Bia memberitahu.
"Duduklah di depan dan aku akan mengambil obatnya."
Bia menurut. Toh apa yang akan dia lakukan. Kakinya sudah sakit dan membuat Bia mau tak mau harus pasrah.
"Letakkan kakimu di atas kakiku, Bi. Aku akan memberikan salep ini di kakimu,"Kata Semi yang membuat Bia menatap pria itu ragu.
Namun, Semi yang tak sabaran. Semi yang bisa melihat kulit kaki Bia makin memerah lekas menarik kaki itu dan meletakkan di atas meja.
Semi tahu Bia pasti tak enak. Dirinya juga memegang tangan Aufa tadi di balik baju yang ia pakai.
"tapi… "
"Diamlah! Aku akan mengobatimu dulu!"
~Bersambung
__ADS_1
gimana kalau mas Shaka tiba tiba masuk dan melihat ini?