Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Periksa Hamil?


__ADS_3

...Mungkin bisa dibilang cinta itu mampu membuat seseorang bersikap bodoh tapi ketahuilah begitulah yang namanya perasaan seorang manusia. Dia mampu melakukan apapun hanya untuk menarik perhatiannya. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Seorang perempuan terlihat baru saja memasukkan kotak makan di dalam tasnya. Dia baru saja membereskan semua makanan yang akan dibawa ke tempat kerja. Hari ini, dirinya memiliki jadwal operasi yang lumayan padat dan membuat Bia harus membawa makanan sendiri untuk menjamin kebersihan untuk dirinya dan bayi yang dikandung.


Namun, entah kenapa. Matanya sejak tadi melirik ke arah pintu masuk rumahnya. Ya, dia benar-benar merindukan seseorang. Merindukan sosok yang mungkin juga dirindukan oleh anaknya.


Sudah hampir dua minggu, Shaka tak terlihat. Ah lebih tepatnya dia tak datang ke rumah Bia. Entah apa yang membuat pria itu tak mengunjungi mereka. Namun, Bia sendiri sungguh khawatir dan cemas.


Apalagi melihat isi pesannya hanya dibaca oleh Shaka. Hal itu membuat Bia sedikit merasa tersinggung. Namun, percayalah! Sesuatu yang sering terjadi. Sakit yang lama kelamaan sering dilakukan dan kesalahan yang terulang.


Lambat laun membuat seseorang sudah terbiasa dengan sakitnya. Membuat seseorang yang merasakannya lama-lama menjadi terbiasa.


"Nungguin Tuan lagi ya, Mbak Bia?" Tanya Bibi Mar yang mengejutkan Bia.


Wanita itu spontan menoleh. Dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman yang terkesan dipaksakan. Kepalanya mengangguk atas jawaban yang ditanyakan oleh Bibi Mar.


"Iya, Bi. Udah dua minggu Mas Shaka gak kesini. Apa dia sibuk?" Tanya Bia dengan pelan.


Bibi Mar mengusap kepala Bia dengan pelan. Hubungan keduanya semakin hari semakin dekat. Ah bahkan antara Bibi Mar dan Bia tak ada batasan.


Wanita tua itu benar-benar sudah menganggap Bia seperti putrinya sendiri. Merawat istri tuannya dengan baik dan begitu dia sayangi.


"Mungkin. Biasanya Tuan juga begitu dengan Nyonya Dhira. Dia akan jarang di rumah jika pekerjaan kantornya mulai padat."


Bia mencoba berpikiran positif. Dia menganggukkan kepalanya lalu mulai membawa tas yang ada di atas meja makan.

__ADS_1


"Bia berangkat kerja dulu ya, Bi," Pamit Bia lalu mencium punggung tangan Bibi Mar dengan sopan. "Bia harus ke rumah sakit lain dulu buat USG."


"Iya, Mbak," Jawab Bibi Mar dengan pelan. "Apa perlu Bibi temani?"


Bia menggeleng. Dia mengusap lengan Bibi Mar dengan tangannya.


"Bia bisa sendiri, Bi. Bia juga harus segera ke rumah sakit karena dua jam lagi ada jadwal operasi."


Akhirnya Bia lekas melambaikan tangannya. Dia meletakkan tas dan bekalnya di kursi samping kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil.


Dirinya benar-benar sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Apalagi semenjak perutnya sudah mulai membuncit. Bia merasa ada sosok yang menemaninya dikala sendirian.


Dia merasa jika dia merasa sedih dan kacau. Hanya dengan menyentuh dan mengusap perutnya yang membuncit ada sesuatu yang membuat hatinya tenang.


"Kita berangkat ya, Nak," Kata Bia setelah mengusap perutnya lalu segera meluncur ke tempat dimana rumah sakit yang direkomendasikan oleh Shaka dan Dhira.


***


Dia memang sudah melakukan pendaftaran hingga tak perlu waktu lama. Dia sudah dipanggil untuk masuk.


"Apa ada keluhan?" Tanya seorang wanita dengan wajah yang selalu cantik dan sudah familiar di mata Bia.


"Saya hanya sering merasakan sakit di area pinggang," Kata Bia lalu segera dokter meminta dirinya untuk tidur di ranjang.


"Usia kandungan sudah hampir 20 minggu ya," Kata Dokter sambil membaca buku periksa Bia.


Perawat membantu mengangkat baju Bia ke atas. Menyiapkan sesuatu untuk dilakukan USG. Setelah semuanya siap, dokter atau bisa dibilang teman Dhira itu segera meletakkan alat USG di atas perut Bia.


Mata Bia tertuju pada layar USG. Dia lekas menatap ke arah dimana sosok anaknya akan terlihat disana.

__ADS_1


"Berat badannya bagus. Dia juga aktif," Kata dokter dengan menggerakkan alat itu secara perlahan.


Bia mengangguk. Dia juga merasakan itu. Anak yang dikandung sudah melakukan gerakan kecil dan sangat dinantikan oleh Shaka.


Ya, mengingat bagaimana tendangan anaknya. Dia sangat sadar jika terakhir kali suaminya ke rumah. Shaka ingin merasakan gerakan itu.


"Bi?" Panggil Dokter yang membuat Bia tersadar dari lamunannya.


"Ya?" Jawab Bia sambil menghapus air matanya.


Dokter yang merupakan teman Dhira itu merasa kasihan. Dia perlahan membantu Bia duduk dan keduanya segera duduk berhadapan.


"Semuanya bagus. Dia sehat. Aku yakin kamu menjaganya dan baik."


Bia tersenyum dan mengangguk. Dia tak bisa melakukan apapun dan sampai dirinya mendapatkan kertas obat.


"Jika ada sesuatu datanglah padaku. Jangan merasa sendiri. Oke?"


"Terima kasih, Dokter."


Akhirnya Bia lekas pamit keluar. Bersamaan dengan itu.


"Nyonya Dhira!"


Deg.


Jantung Bia berdegup kencang saat telinganya mendengar nama itu. Dia spontan mendongak dan benar saja. Sosok Dhira dan Shaka yang berdiri beberapa langkah darinya.


"Mas Shaka, Mbak Dhira!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2