Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Tinggallah Bersama Kami!


__ADS_3

...Mungkin dulu kedatangan mereka adalah hal yang ditunggu. Namun, sekarang kedatangan mereka seakan bom waktu yang akan membuatku berada dalam jurang ketakutan. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Panggilan itu berakhir dengan Bia yang terlihat kesusahan bernafas. Wanita itu bahkan tanpa sadar menjatuhkan ponselnya karena terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.


Almeera dan Bara akan datang kemari. Mereka akan mengunjunginya besok disini. Hal yang tak pernah Bia bayangkan. Hal yang tak ada dalam bayangan Bia jika orang tuanya akan datang secepat ini.


"Apa yang harus kulakukan?" Gumam Bia dengan memegang kedua tangannya yang mulai berkeringat dingin.


Bia berjalan ke sana kemari. Dia bahkan mengusap kepalanya dengan kalut. Pikirannya memutar mencoba mencari solusi dari semua kejadian ini.


Solusi terbaik yang sangat dia punya. Solusi terbaik agar semua rencananya tak ada yang tahu. Semua rencana yang sudah disusun dan dia sembunyikan sebaik mungkin.


"Kak Abra," Lirih Bia dengan mengingat sesuatu yang selalu membantunya.


Bia lekas mengambil ponselnya lagi. Dia membawanya ke arah sofa dan duduk disana. Tangannya menggulirkan kontak telepon. Mencari nama dengan tangan gemetaran dan basah akan keringat.


Bia benar-benar tak tenang. Dia benar-benar takut jika apa yang disembunyikan akan berdampak pada semuanya. Terutama kedua orang tuanya akan tau.


"Halo," Kata Bia saat panggilan itu tersambung. "Bisa kita ketemu sekarang, Kak? Aku membutuhkanmu."


Bia mengatakan itu dengan suara bergetar. Ya Bia tak berbohong. Dirinya sedang dilanda kalut dan takut. Dia sedang berada dalam fase membutuhkan kakak laki-lakinya.


Kakak yang selalu ada untuknya. Kakak yang tau tentangnya. Semua sakitnya, semua masa lalunya dan menutup semua hal yang dia minta seperti Bia perintahkan.


"Aku harus bertemu Kak Abra malam ini juga. Aku tak bisa menundanya," Kata Bia pada dirinya sendiri sebelum dia mulai beranjak dan mengambil jaket serta berganti pakaian tebal.


...****************...


"Bi," Kata Abraham dengan wajah tercengang saat dia membuka pintu rumahnya.


Bukan terkejut dengan kedatangan adiknya tapi Abraham tak percaya jika Bia benar-benar datang ke rumahnya malam ini. Malam yang sudah hampir tengah malam dan Bia nekad datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Masuklah!" Kata Abraham lalu mulai menutup pintu rumahnya. "Kemari!"


Dia membuka jaket adiknya. Kupluk yang Bia pakai lalu sarung tangan. Ibu hamil satu ini benar-benar sangat berhati-hati. Dia memakai pakaian yang lengkap karena takut ada apa-apa dengan anak yang dia kandung.


"Bia," Panggil Aufa yang datang dengan membawa nampan berisi secangkir teh panas.


"Kak Aufa," Kata Bia dengan ekspresi wajah yang tak enak. "Maafin Bia yah. Bia udah ganggu."


Abraham yang duduk di samping adiknya mengusap kepala yang tertutup jilbab itu. Dia mampu melihat kegelisahan dalam diri adiknya.


"Ada apa, Bi?" Tanya Abraham yang membuat Bia menarik nafasnya begitu berat.


"Jangan terlalu banyak pikiran. Ingat, kamu sedang hamil, Bi," Ujar Aufa dengan lembut.


Bia spontan mendongak. Dia menatap ke arah kakak iparnya yang tersenyum pedih ke arahnya.


"Kakak tau semuanya," Kata Aura dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu harus mau menerima permintaan mereka?"


Bia spontan memeluk Aufa yang menangis. Dua wanita kesayangan Abraham itu saling berusaha menguatkan satu dengan yang lain.


"Hidupku sudah tak berarti, Kak. Gak bakal ada pria yang mau sama Bia yang kotor," Kata Bia membuat Aufa semakin menangis.


"Kamu terlalu dewasa, Bi. Kamu dewasa sebelum umurmu," Kata Aufa dengan lirih tapi masih didengar oleh Bia.


Bia bukannya marah tapi dia juga membalas pelukan itu dengan erat. Pelukan saudara perempuan yang merupakan istri kakaknya. Pelukan saudara perempuan selain saudara adik kembarnya itu.


"Jangan nangis terus. Ksihan keponakan Kakak sedih terus di dalam sana" Kata Abraham mencoba menghibur dan membuat Bia serta Aufa berhasil terkekeh dengan lucu.


"Jangan menangis! Ingat! Keponakanku akan ikut menangis di dalam sana dan kamu akan aku tuntut!"


Bia tertawa tapi kepalanya mengangguk. Ternyata kedatangan dirinya kesini tak salah. Dia mendapatkan kehangatan dan juga hiburan dengan hadirnya kedua orang yang dianggap sebagai pengganti kedua orang tuanya.


"Tapi aku datang kesini ada sesuatu yang ingin aku katakan pada, Kakak," Kata Bia yang ingat akan tujuannya.


Abraham dan Aufa saling tatap. Dua orang itu seakan saling tatap satu dengan yang lain.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Abraham dengan jantung yang ikut berdebar.


Bia menarik nafasnya begitu dalam. Dia duduk di antara Aufa dan Abraham.


"Besok… " Jedanya dengan pelan dan nafas naik turun. "Ibu dan Ayah akan terbang ke Indonesia. Mereka akan mengunjungi Bia."


"Apa!" Pekik Aufa terkejut.


Berbeda dengan Abraham. Pria itu masih diam dan mendengarkan. Bahkan saat adiknya menatap dirinya Abraham masih tak mengeluarkan suara apapun.


"Bia kesini buat minta pendapat, Kakak. Bia takut kalau kehamilan ini bakalan diketahui oleh Ibu dan Ayah. Bia takut mereka tau dan makin malu punya anak kayak Bia," Kata Bia dengan menunduk. "Bua gak mau makin ngecewain Ibu dan Ayah, Kak."


Bia menangis lagi. Dia benar-benar hanya takut satu hal dalam hidupnya. Orang tuanya tau tentang pemerkosaan itu. Dan kabar itu akan tersebar luas dan membuat keluarganya malu bukan main.


Dia hanya takut wajah orang tuanya tercoreng karena dirinya. Bia tak mau kesuksesan orang tuanya akan dipermalukan karena dirinya.


Bia tak mau itu. Dia tak mau membuat martabat keluarganya jatuh.


"Bantu Bia, Kak. Bia bingung. Bia harus apa?" Pinta Bia dengan memegang tangan kakaknya.


Bia benar-benar membutuhkan jawaban kakaknya. Dia benar-benar butuh sosok kakaknya disaat seperti ini. Dia tak bisa melakukan semuanya sendiri. Bia tak bisa melakukan apapun selain meminta jawaban dari semua hal yang membuat kepalanya sakit.


"Tinggallah disini!" Kata Abraham dengan singkat.


Bia mengedipkan matanya berulang kali. Dia menatap abangnya dengan tak percaya.


"Tinggallah disini untuk sementara waktu selama ayah dan ibu datang. Kakak dan Kak Aufa akan membantumu," Ujar Abraham yang membuat kedua sudut Bia tertarik ke atas.


Dia menatap kakaknya dengan pandangan tak percaya sekaligus bahagia. Bia benar-benar bahagia dengan apa yang dia dengar. Bia benar-benar senang dengan apa yang dia dapatkan dari jawaban kakaknya.


"Kakak," Kata Bia yang tak bisa mengatakan apapun lagi.


Dia lekas memeluk Abraham. Bia memeluk kakaknya dengan menangis. Bia selalu bersyukur memiliki kakak sepertinya. Kakak yang selalu ada untuknya, membantunya dan membuatnya berada dalam kondisi aman dan tentram.


"Kakak bakalan terus disini, Bi. Nemenin kamu dan jagain kamu. Kakak bakalan selalu ada buat kamu. Kamu gak bakal sendirian. Kita lewati semua nah bersama-sama."

__ADS_1


~Bersambung


Ah nangis lagi kan. Bener-bener kalau adegan mereka berdua tuh kena banget.


__ADS_2