
...Percayalah pertemuan yang terjadi di antara mereka adalah bukti jika sesuatu akan menjadi saling terlibat tanpa kita duga. ...
...~JBlack...
...****************...
Biar tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa wanita di depannya ini memang baru pertama kali dia lihat dan dia temui. Namun, kebaikan hatinya seperti mamanya. Mudah akrab pada orang lain dan nyaman diajak bicara. Hal itulah yang tentu menjadi alasan membuat Bua nyaman berada disini dan duduk dengan tenang sambil menikmati es krim yang ada di depannya.
"Kalian tinggal dimana?" Tanya Mama Vio pada keduanya.
"Tinggal disana, Nek," Jawab Boy dengan cepat.
Dia menunjukkan seberang jalan. Arah kemana tadi dia keluar dari rumahnya.
"Wah deket yah?"
"Iya, Tante. Hanya beberapa meter dari sini," Tambah Bia dengan sopan.
"Kamu masih sekolah atau… "
"Saya, Tante?" Tanya Bia menyela dengan menunjuk dirinya.
Kepala Mama Vio mengangguk. "Iya. Kamu!"
Bia tersenyum. Ini sudah bukan sekali dua kali dia bilang masih sekolah. Namun, seringkali dirinya bertemu dengan orang baru dan pasti akan dibilang bahwa dirinya masih anak sekolah atau anak kuliahan.
Entah mukanya terlalu muda atau apa. Dia memang selalu terlihat seperti anak-anak. Hal itulah yang sering dikatakan kakaknya juga. Abraham memperlakukan dirinya seperti adik kecilnya karena wajah Bia yang selalu imut dan sikapnya yang terkadang manja ketika berdua.
"Aku sudah bekerja, Tante. "
"Bekerja?" Ulang Vio dengan wajah tak percaya.
"Iya," Sahut Bia dengan serius. "Saya bekerja di Rumah Sakit Pratama, Tante?"
"Rumah sakit? Jadi kamu dokter?"
Bia mengangguk. Mama Vio benar-benar kagum. Dia menatap ke arah Bia yang bicara begitu sopan dan anggun kepadanya.
Caranya menjawab, caranya duduk, caranya bicara dan caranya makan semuanya sangat amat sopan santun di depannya. Apalagi perlakuan Bia pasa keponakannya, begitu telaten membuat Mama Vio semakin menunjukkan rasa suka padanya.
"Maaf kalau Tante lancang bertanya ya, Bi. Kamu sudah menikah?"
"Ehh!" Bia terkejut.
Dia mengerjapkan matanya berulang kali dengan menelan ludahnya secara kasar. Dirinya merasa terkejut dengan pertanyaan ini.
"Maafin Tante yah. Tante gak bermaksud menyinggung," Kata Mama Vio dengan tak enak hati.
"Gak papa, Tante. Bia cuma terkejut," Kata Bia dengan ramah. "Bia belum menikah."
__ADS_1
Bia mengatakan itu dengan ragu dan suara pelan. Namun, mau dikata apalagi. Pernikahannya dengan Shaka adalah sebuah rahasia. Tak boleh ada yang tahu tentang mereka. Tak boleh ada yang tahu tentang kehamilannya. Semua itu harus dia jaga sampai akhirnya semuanya selesai sesuai dengan tujuan awal.
Meski semuanya tak sama. Tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Semuanya benar-benar diluar dugaan terutama tentang perasaan dirinya.
"Kamu serius?" Tanya Mama Vio yang seakan begitu bahagia dengan jawaban Bia.
"Iya."
"Kalau putra Tante belum menikah. Pasti Tante bakalan nikahin sama kamu," Kata Mama Vio yang membuat Bia tersenyum dengan terpaksa. "Dia seharusnya punya istri kayak kamu. Imut imut lucu gini."
Bia tertawa kecil. Entah kenapa sikap Tante Vio ini begitu menggemaskan menurutnya. Apalagi ekspresi ketika dia bicara. Ketika dia mengangkat tangannya dan mengatakan serta menceritakan apapun begitu menggemaskan.
"Tante punya anak berapa memang?" Tanya Bia dengan penasaran.
"Satu," Jawab Mama Vio dengan semangat. "Sudah menikah dan sekarang ikut istrinya. Tapi… "
"Tapi… " Tanya Bia dengan mengerutkan keningnya karena terlalu penasaran.
"Belum dikaruniai anak sampai sekarang," Kata Mama Vio dengan pandangannya yang pasrah. "Padahal Tante udah pengen gendong cucu. Kakeknya dia juga pengen banget."
"Tante, anak itu rejeki. Gak bakal ada yang tahu kapan dia datang untuk mereka yang sudah menikah. Tante gak boleh memaksa mereka untuk segera hamil. Mereka juga manusia, gak bisa menjelaskan dan meminta kapan istrinya bakalan hamil," Kata Bia dengan lembut.
"Kalau istrinya kayak kamu, Tante mungkin percaya dia belum hamil. Tapi dia beda sama kamu, Bi," Kata Mama Vio dengan pandangan mata yang berubah.
Bia bisa melihat kemarahan di matanya. Bia bisa melihat seperti pancaran kekecewaan yang membuat Bia terdiam.
Bia meneguk ludahnya. Dia mampu melihat tatapan seorang ibu yang begitu kecewa. Bia pernah melihat tatapan ini. Tatapan yang sama pada mata ibunya dulu.
"Tante harus bersabar," Kata Bia yang tak tahu harus mengatakan apa lagi. "Tante harus dukung mereka dan menasehati jika memang mereka salah."
Mama Vio hanya terdiam. Lalu tak lama sebuah deringan ponsel membuat genggaman tangan keduanya terlepas.
"Tante angkat telpon dulu yah," Kata Mama Vio lalu meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.
Bia perlahan mengalihkan tatapannya. Dia menatap ke arah ponakannya yang begitu menikmati es krim di mangkuk di depannya itu.
"Boy mau tambah lagi. Boleh?"
Bia menggeleng. "Gimana janji Boy sama Tante setiap kali datang kesini?"
"Boleh makan es krim tapi satu mangkuk setiap datang," Kata Boy mengulangi perkataan Bia yang membuat Bia mengacungkan jempolnya.
"Pinter. Bagus! Jadi… "
"Besok lagi kalau mau makan," Kata Boy yang membuat Bia tertawa dengan pelan.
"Bia, Boy," Panggil Viona yang membuat keduanya menoleh. "Maaf ya. Tante dan Nenek harus pergi dulu."
"Oh iya, Tante. Tante terlihat buru-buru," Ujar Bia dengan beranjak berdiri.
__ADS_1
"Iya. Kalian habiskan saja disini. Tante yang akan mentraktir kalian. Oke!"
"Tapi, Tante… " Sela Bia dengan tak enak hati.
"Apalagi? Gapapa kok. Anggap saja buat perkenalan kita," Kata Mama Vio lalu memeluk Bia tanpa diduga.
"Tante seneng ketemu sama kamu. Semoga kita bisa ketemu lagi yah," Kata Mama Vio lalu melepaskan pelukannya.
"Aamiin."
"Nenek pulang yah, Boy." Boy berdiri. Dia meraih tangan Mama Vio dan mencium punggung tangannya.
"Terima kasih, Nenek."
"Sama-sama," Kata Mama Vio lalu pergi dari sana dan membuat Bia kembali duduk dengan Boy.
"Sudah selesai?"
"Sudah," Kata Boy sambil menerima usapan lembut di mulutnya karena Bia yang membersihkannya.
"Ayo kita pulang!"
"Ayo, Tante!" Kata Boy lalu mengangkat tangannya.
"Ehh. Mau apa?"
"Boy lama gak digendong, Tante. Boleh yah Boy gendonh?" Pinta Boy dengan kedipan matanya yang manja.
Ahh anak umur enam tahun ini memang sangat dekat dengan Bia. Setiap kali mereka bertemu, Bia selalu ada untuk Boy. Sikap hangat dan keibuan Bia membuat siapapun sangat suka dengannya.
Namun, masalahnya bukan itu sekarang. Dirinya bukan Bia yang dulu. Ada anaknya yang harus dia jaga. Ada anaknya dalam kandungannya yang harus dirawat dengan baik.
Yang harus dia jaga benar-benar untuk Shaka dan Dhira.
"Boy sudah besar. Kalau Tante gendong Boy sekarang, nanti Tante tambah kecil gimana dong?" Kata Bia dengan pelan.
Wajah anak itu berubah. Namun, Bia tak kehilangan akal.
"Gimana kalau kita jalan sambil main kereta keretaan?"
Mata yang semula layu kini berbinar. Dia menatap ke arah Bia dengan kepala mengangguk begitu bersemangat.
"Mau?" Tanya Bia dengan tersenyum.
"Mau mau!"
~Bersambung
Aduhh ada yang mulai muncul lagi nih rahasianya. Lalalala
__ADS_1