Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Pihak Bia


__ADS_3

Jalan utama mencintai seseorang adalah tidak berharap balasan. Biarlah perasaan itu terus berjalan dengan sendirinya tanpa balasan sampai titik dimana dirinya menyerah.


~Bia Quinsa Altafunisha


***


"Lebih baik kau pulang, Sem. Aku bisa mengurus diriku sendiri," Kata Bia untuk kesekian kalinya.


Semi yang saat itu baru saja selesai mengurus surat untuk kepulangan Bia spontan menghentikan gerakan tangannya.


"Aku tau kau bisa mengurus dirimu sendiri tapi dengan keadaan hamil seperti ini?" Tanya Semi dengan salah satu alis yang terangkat. "Kamu mau egois?"


Bia terdiam. Apa yang dikatakan oleh Semi memang benar. Dirinya tak boleh kelelahan sedikitpun. Dirinya benar-benar harus menjaga kandungannya untuk saat ini.


"Kalau kamu mau egois. Silahkan! Aku akan pulang," Ucap Semi dengan meletakkan surat kepulangan itu di atas meja dan hendak beranjak.


"Tunggu!" Seru Bia dengan spontan.


Bagaimanapun Bia tetaplah sadar. Apa yang dia butuhkan beberapa hari ini dipenuhi oleh Semi. Setelah kejadian kepulangan Dhira dan Shaka. Pria itu belum kembali ke rumah sakit lagi.


Hanya sesekali Shaka menghubunginya melalui telepon dan mengatakan bahwa dirinya sibuk.

__ADS_1


"Maaf," Lanjut Bia setelah beberapa menit diam. "Aku hanya takut merepotkanmu."


Semi berbalik. Dia mendekati ranjang pasien dan menatap ke arah Bia yang menunduk.


"Aku sudah bilang padamu. Kamu gak ngerepotin dan apapun yang kamu butuhkan, kamu bisa katakan padaku, Bi. Aku akan berusaha untuk memenuhi kemauan itu untuk penebusan dosaku."


Bia bisa mendengar keseriusan di perkataan itu. Bia juga bisa melihat bagaimana ketulusan Semi merawatnya. Hal itu hanya mampu dia balas dengan mengangguk.


Bia tak tahu harus mengatakan apapun lagi. Dia masih sadar akan statusnya. Dirinya adalah istri orang. Dia tak boleh berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya. Namun, untung saja, Shaka masih berbaik hati. Dia menyewa seorang suster untuk dirinya ketika mandi atau berganti pakaian.


"Ayo! Sudah siap?" Tanya Semi menyadarkan Bia.


"Sudah," Jawab Bia lalu dengan pelan turun dari ranjang.


Sepanjang jalan tak ada perkataan apapun. Bahkan sampai pindah ke kendaraan Semi dan perjalanan ke rumah Bia. Tak ada ucapan apapun.


Hingga beberapa menit akhirnya mobil Semi berhenti di depan rumah Bia. Suara kendaraan itu juga membuat Bibi Mar yang ada di dalam rumah segera keluar.


"Non Bia," Panggil Bibi Mar dengan wajah sumringah.


Wanita paruh baya itu mendekat dan membantu Bia yang baru saja keluar dari mobil. Dia menggandeng Bia ke dalam rumah dengan Semi yang membawa tas milik Bia dan menyusul.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya, Non? Udah baik-baik aja kan?"


Bia mengangguk. "Baik, Bi. Semuanya aman."


"Syukurlah," Jawab Bibi Mar dengan tenang. "Lalu dia siapa, Non?"


"Oh kenalin, Bi. Ini Semi, teman aku dan Mas Shaka," Kata Bia mengenalkan.


Semi tersenyum kaku lalu dia meletakkan tas Bia di lantai.


"Bibi buat minum dulu ya, Non."


Setelah kepergian Bibi Mar. Semi yang duduk di sofa menatap ke arah Bia yang juga tengah menatapnya.


"Aku akan pulang," Pamit Semi dengan pelan.


"Iya. Makasih atas bantuannya ya, Sem," Kata Bia dengan tulus.


"Sama-sama. Aku juga ingin memperingatimu tentang Dhira. Kamu harus hati-hati yah. Dia adalah gadis yang bisa melakukan apapun sesuai dengan kemampuannya," Ujar Semi yang membuat Bia mendongak.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Aku tau hidupmu pasti sulit kan, Bi. Aku sudah mengenal Shaka dan Dhira sejak lama. Kamu harus hati-hati pada Dhira. Jika terjadi sesuatu atau dia mengancam. Katakan padaku! Aku akan siap membantumu."


~Bersambung


__ADS_2