
...Kemarahan seseorang terkadang akan menghancurkan semuanya. Mereka mampu melakukan segala hal dan merusaknya untuk mencapai tujuannya sendiri. ...
...~JBlack...
...****************...
Dhira mengepalkan tangannya. Apalagi saat matanya menatap ke arah luar jendela dan melihat apa yang dilakukan suaminya dengan adik madunya itu.
Nafasnya memburu, matanya berkilat marah. Kuku kuku tajam itu mencengkram dan mengepal kuat seakan dirinya benar-benar tengah terbakar api cemburu dan amarah.
Dhira tak suka ini. Dia tak menyukai pemandangan ini. Pemandangan yang begitu dia benci sebesar ini.
Semua rencana yang sudah disusun. Rencana yang dia pikirkan ternyata mampu dihancurkan oleh seorang wanita yang mampu mengancamnya.
Bia.
Wanita itu mengajak dirinya bermain-main. Wanita itu belum tahu siapa sebenarnya dirinya ini. Hingga akhirnya tangan Dhira lekas meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Mengetikkan sesuatu disana, menulis apa yang sudah sangat ingin dia lakukan sejak dulu.
Hingga akhirnya terbitlah senyuman licik disana. Senyuman miring setelah dia mengetikkan apa yang dia minta lalu dikirim pada seseorang.
"Kau sudah melewati batasmu, Bi. Lihat apa yang akan kulakukan padamu dan anakmu itu!" Seru Dhira dengan meletakkan ponselnya dan menoleh.
Menatap kepergian Bia yang mulai masuk ke dalam mobil.
***
Di tempat lain, saat Bia baru saja mengendarai mobilnya. Terdengar sering ponsel yang membuatnya melepas satu tangannya dari kemudi dan meraih ponsel yang ia letakkan di dalam tas di kursi samping kemudi.
Matanya tetap awas menatap ke depan. Sambil sesekali melihat ke arah tas untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Ibu," Lirih Bia lalu segera mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bu. Iya?"
"Kamu belum sampai rumah sakit, Bi?" Tanya Almeera dengan suara yang terdengar seperti curiga.
Bia menelan ludahnya dengan kasar. Dia benar-benar mulai gemetar takut. Bagaimanapun sejak dulu dia tak pandai berbohong pada ibunya.
"Hampir sampai, Bu. Tadi Bia harus kembali ke rumah karena ada barang ketinggalan," Jawab Bia dengan sekaligus karena takut jika ibunya sudah menaruh curiga.
"Ohh," Jawab Almeera dengan singkat.
"Ada apa Ibu menelpon?" Tanya Bia dengan pelan saat dia ingat ibunya yang menghubunginya terlebih dahulu.
"Gak ada. Ibu cuma kangen kamu," Kata Almeera yang membuat Bia menghela nafas lega.
"Yaudah. Nanti Bia bakalan telepon ibu lagi yah. Kalau sudah sampai di ruangan. Ini Bia mau parkir dulu, Bu. Oke?"
"Iya, Nak. Hati-hati yah," Balas Almeera yang kemudian panggilan itu terputus lalu Bia lekas meletakkan ponselnya.
"Akhh!" Teriak Bia dengan jantung berdebar. "Awww!"
Terlalu kuat menekan rem. Akhirnya kepala Bia terkantuk-kantuk setir kemudi. Dia memegang dahinya yang sakit sampai dahinya berkerut.
"Ada apa ini?" Gumam Bia dengan mencoba membuka matanya.
Dia melihat beberapa pria dengan penutup wajah mulai turun dari motornya. Dia juga melihat beberapa senjata tajam di tangan mereka hingga membuat Bia tak sadar jika kepalanya berdarah.
"Buka!" Teriak salah satu pria itu sambil mengetuk kaca mobil milik Bia.
Ketukan itu berulang kali. Namun, Bia belum membukanya. Dia benar-benar masih merasakan sakit di dahi dan perutnya.
"Buka atau kupecahkan jendela ini!" Teriak pria itu lagi dan membuat Bia tak mau hal buruk semakin terjadi.
__ADS_1
Dia sedang hamil. Bia benar-benar di posisi yang sulit. Sampai akhirnya wanita berbadan dua itu membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
"Apa mau kalian?" Tanya Bia dengan suara lirihnya.
Dia sudah tak peduli apapun. Saat ini dalam pikirannya hanyalah bagaimana dia berpikir untuk kabur.
Dia bisa melawan. Dia bisa berkelahi. Namun, dia ingat! Bia tak sendiri. Dirinya tengah hamil dan membuatnya mau tak mau harus berpikir.
Berpikir untuk tak memakai cara kekerasan.
"Kalian mau uang?"
"Uang?" Sahut salah satu dari pria yang menghadangnya. "Uang kami sudah diberi banyak!"
"Diberi?" Gumam Bia dalam hatinya.
Dia mulai memutar otak. Siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini.
"Tangkap dia!" Teriak pria itu lagi yang membuat kelima pria yang lain mulai bergerak mendekati Bia.
Bia tentu waspada. Dia tentu terpaksa harus melawan. Sampai akhirnya, saat pria itu hendak menyerangnya.
Sebuah bunyi mobil dengan klakson kencang lalu menghadang antara Bia dan para pria itu dan berhenti tepat di tengah mereka.
Bia tentu mundur beberapa langkah. Jantungnya berdebar. Sampai akhirnya saat pintu depan mobil itu turun. Bia langsung terlihat lega.
"Semi?"
"Masuklah, Bi! Ayo!" Teriak Semi dengan wajah yang benar-benar khawatir.
~Bersambung
__ADS_1