
...Entah apa yang ada dalam pikiranku tapi yang pasti bayangan wajahnya dan senyumannya mulai menghantuiku. ...
...~Ashaka Karsha...
...****************...
"Makasih banyak, Ma," Kata Dhira untuk pertama kali setelah dia makan masakan ibu mertuanya dengan tenang.
Mama Viona yang sedang merapikan piring bekas makan itu menghentikan aktifitas tangannya.
"Sama-sama. Mama juga makasih untuk kabar yang membuat kakek bahagia," Kata Mama Viona dengan suaranya yang tegas. "Jaga kandungan kamu dengan baik, Dhira. Dia adalah harapan Mama dan Kakek. Jangan sampai terjadi sesuatu karena kecerobohan kamu."
Dhira mengangguk. Perasaannya bahagia saat untuk pertama kali ibu mertuanya baik kepadanya. Bahkan makan malam juga, Mama Viona khusus memasakkan untuknya dan melayaninya dengan baik.
"Kalian tidur disini malam ini. Jangan nekat pulang, Shaka. Ingat istrimu sedang hamil!" Seru Mama Viona memperingati.
Shaka mengangguk. Dia tersenyum lalu menatap ke arah istrinya dengan penuh cinta.
"Ayo kita ke atas, Sayang. Kamu harus banyak istirahat."
Akhirnya pasangan suami istri itu mulai berjalan meninggalkan meja makan. Apalagi saat Mama Viona melarang Dhira membantunya dan membuat keduanya akhirnya mulai meninggalkan ruangan.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Wajah Shaka dan Dhira saling menatap penuh cinta dan bahagia. Bahkan dengan pelan, Dhira melingkarkan tangannya di lengan suaminya dan meletakkan kepalanya di pundak Shaka.
"Akhirnya Mama berubah ya, Mas. Mama mau menerima aku karena kehamilan palsu ini," Lirih Dhira dengan pelan.
Shaka mengusap tangan istrinya yang melingkar di lengannya. Dari nada suara Dhira dia tahu bagaimana perasaan istrinya.
"Kamu harus sabar, Sayang. Aku yakin lambat laun Mama akan terima kamu," Kata Shaka dengan pelan.
"Aku diterima karena seorang anak, Mas. Jadi aku benar-benar berharap semoga Bia menjaga anak kita dengan baik."
Jantung Shaka tersentil. Dia hampir lupa jika sejak perginya dia dari rumah Bia, dirinya belum mengabari Bia sedikitpun.
Posisi Dhira yang bersamanya. Serta Dhira yang terus menempel membuat Shaka benar-benar lupa.
"Aku akan mengabari Bia nanti saat Dhira mandi," Kata Shaka dalam hati lalu mulai fokus akan langkah kakinya.
...****************...
"Kamu mandi dulu, Mas. Gantian yah," Kata Dhira saat keduanya mulai masuk ke dalam kamar Shaka.
"Eh gak kamu dulu, Sayang? Kamu gak mau mandi dulu?" Tawar Shaka dengan pelan.
Kepala Dhira menggeleng.
__ADS_1
"Aku masih ingat tiduran bentar, Mas. Punggungku sakit. Boleh yah?"
Shaka mengangguk. Dia berjalan kearah istrinya lalu mencium dahi Dhira.
"Yaudah. Kamu istirahat aja dulu yah. Biar aku mandi dulu. Love you," Kata Shaka setelah ciuman di dahi itu terlepas.
"Love you too."
Akhirnya Shaka mulai meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu dia mulai menggulung lengan kemejanya sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
Shaka meninggalkan Dhira yang tidur dengan tenang di atas ranjang dengan bibir tersenyum lebar. Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Aman!" Lirihnya lalu mulai mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Wanita itu mengotak atik ponselnya lalu Dhira terlihat mengetik sesuatu di ponselnya itu.
"Terkirim!" Kata Dhira dengan pelan saat dia berhasil mengirim sesuatu disana.
"Aku yakin dia bahagia aku ada disini," Gumam Dhira dengan pemikirannya yang berkelana sampai akhirnya sesuatu mulai naik dalam dirinya.
Dhira akhirnya menatap ke arah kamar mandi. Dia tak mungkin menunggu seseorang disana. Sampai akhirnya apa yang ada akan dia selami.
"Daripada menunggu lebih baik aku datang pada sosok yang ada untukku sekarang!"
Dhira melepas bajunya. Dia menanggalkan semuanya yang menutupi tubuhnya. Dengan nakal perempuan itu mulai membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalam sana.
Bunyi pintu yang terbuka membuat Shaka yang sedang berendam membuka mata. Dia menoleh ke belakang dan terkejut dengan sosok istrinya yang sudah tak memakai apapun berjalan ke arahnya.
"Sayang… " Kata Shaka dengan terbata.
Tanpa diduga, Dhira sudah masuk ke dalam bak mandi yang tertutupi bisa itu. Dia masuk dan menatap penuh minat ke arah Shaka.
"Kamu… "
"Aku menginginkanmu, Mas!"
Setelah mengatakan itu. Dhira mulai mendekatkan dirinya. Dia menyentuh kedua kaki Shaka yang ada di dalam air. Wanita itu mengusap kedua kaki Shaka yang tertutupi oleh air busa.
"Sayang plis!"
"Kenapa, Mas?" Tanya Dhira dengan berisik.
Wanita itu perlahan merangkak. Dia duduk di pangkuan Shaka hingga air busa itu sedikit bergerak berjatuhan di lantai.
Tatapan keduanya saling tatap. Tangan Dhira melingkar di leher Shaka begitu mesra.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Mas. Aku sangat merindukan sentuhanmu," Bisik Dhira lalu mulai mencium bibir Shaka.
Wanita itu bergerak dengan agresif. Ya Dhira benar-benar sangat aktif malam ini. Tangan wanita itu bergerak mengusap pundak Shaka yang tak memakai apapun.
Dhira juga menggerakkan bagian inti tubuhnya yang menempel dengan senjata milik Shaka. Ya perempuan itu menggesekkan miliknya dengan milik suaminya.
Air yang tenang kembali berombak. Air itu bahkan sampai tumpah-tumpah. Apalagi ciuman Dhira semakin panas.
Namun, meski ciuman Dhira panas. Entah kenapa ada yang berbeda pada Shaka. Ya pria itu seakan tak menikmati hal ini. Bahkan lebih tepatnya milik Shaka tak berdiri.
"Mas!" Lirih Dhira terkejut sambil menatap ke arah Shaka.
Ciuman itu terlepas. Kedua mata Dhira berkaca-kaca menatap suaminya.
"Kamu udah gak mau sama aku?"
"Apa maksudmu?" Tanya Shaka dengan dahi berkerut.
"Milikmu bahkan tak tegang, Mas. Biasanya hal dikit saja, kamu langsung konek tapi ini… "
"Kita udah seperti ini sejak tadi. Milikmu belum konek. Apa kamu udah gak mau sama aku? Apa kamu udah suka sama punya Bia dan lupa sama punya aku?"
Dhira mulai emosi. Air mata wanita itu merebak luas. Ya Dhira menangis di hadapan suaminya. Dia bahkan sampai berdiri dan beranjak dari buth up.
"Kamu kalau udah gak mau sama aku, bilang, Mas! Aku memang gak sempurna! Aku wanita mandul. Ya!"
Dhira hendak pergi dari sana. Namun, tangan Shaka langsung menarik tangan istrinya hingga membuat gerakan Dhira terhenti.
"Apa lagi? Lepasin tanganku, Mas. Aku mau pulang!"
"Nggak, Sayang. Nggak!" Kata Shaka menggeleng.
"Kamu pasti udah cinta sama Bia kan? Iya kan?" Seru Dhira dengan marah. "Udah. Lepasin aku!"
"Nggak!" Shaka spontan takut.
Dia memeluk istrinya dari belakang. Dia memeluk Dhira dengan erat walau istrinya menolak.
"Lepasin aku!"
Jujur Shaka sendiri tak tahu dengan dirinya. Entah kenapa bayangan wajah Bia sekarang memutar dalam ingatannya. Entah kenapa saat dia berhubungan dengan Dhira. Bayangan dan wajah Bia yang memutar dalam otaknya.
"Aku juga merindukanmu, Sayang. Ayo kita lakukan itu. Aku akan membuatmu bahagia dengan malam penuh rindu ini," Bisik Shaka dengan pelan sambil mencium tengkuk leher Dhira.
~Bersambung
__ADS_1
Hiya Mas Shaka udah terbia-bia ihh. hahha kapok kan
Hua mau update lagi gak?