Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Suara Laknat Di Dengar Bia!


__ADS_3

..."Terkadang seseorang akan mulai mengeluarkan taringnya ketika miliknya diganggu oleh orang lain. ...


...~JBlack...


...****************...


"Sayang," Bisik Dhira pada Shaka yang baru saja selesai menghabiskan makan malam mereka.


Ya malam ini, Shaka dan Dhira melakukan makan malam di rumah tepatnya di pinggir kolam. Kolam rumah yang indah itu sudah dihias semedikian rupa oleh Shaka.


Kejutan yang memang dilakukan keduanya karena hubungan mereka yang kemarin sempat buruk. Semua ini juga ide Shaka sebagai tanda maaf pada istrinya karena kejadian kamari.


"Ayo berenang," Katanya yang membuat Shaka spontan menoleh.


Belum selesai pria itu menjawab. Dhira telah berjalan lebih dulu. Bahkan dengan sekali gerakan, wanita itu menarik resleting gaun yang dia pakai sampai akhirnya tubuh polos itu mulai terlihat.


Mata Shaka membelalak tak percaya. Dia tak percaya jika istrinya tak memakai apapun dibalik gaun indah itu.


"Ini sudah malam, Sayang. Kamu… "


"Aku sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Kemarilah. Air ini sangat hangat, Cinta!"


Dhira mengulurkan tangannya. Wanita itu benar-benar melakukan semuanya dengan baik. Rencana indah ini tentu juga sudah dipikirkan oleh Dhira


"Sayang. Sudah! Ayo naiklah ke atas. Nanti kamu kedinginan!" kata Shaka yang khawatir pada istrinya.


Pria yang memakai pakaian rapi itu mendekati kolam. Makan malam mereka tentu sangat terlihat begitu resmi karena Dhira yang meminta konsep makan malam ini seperti ini.


Panggilan itu sudah didengar kesekian kalinya untuk seorang perempuan cantik yang sedang berada di dalam kolam renang. Perempuan itu semakin berenang kesana kemari dengan tubuh polos yang menggoda.


Hangat air dengan keadaan yang tenang semakin membuat Dhira senang. Ya, air kolam ini sudah diisi dengan air hangat. Dhira sudah merencanakan semuanya. Dia tak mau malam ini berlalu dengan cepat.


Dhira hanya ingin malam panjang ini akan semakin panjang antara dirinya dan suami.


"Sayang!" panggil pria itu lagi berdiri tepat di dekat istrinya. "Ayo!"


Bia tak mengindahkan tatapan protes suaminya yang terdengar sejak tadi. Sampai akhirnya, Bia muncul tepat di dekat Shaka. Perempuan itu membenarkan rambutnya yang menutupi wajah. Matanya memandang ke arah sang suami yang mengulurkan tangan kepadanya.


Dengan senyuman licik, Dhira menarik tangan suaminya itu sampai Shaka akhirnya tercebur di kamar.


"Dhira!" pekik Shaka terkejut bukan main.


Saat pria itu hendak protes. Sebuah dorongan tubuhnya sampai menempel di dinding kolam dan serangan tak terduga dari sang istri membuat pria itu terkejut bukan main.

__ADS_1


Bia, perempuan itu mencium bibir Shaka karena tak tahan dengan segala kecerewetan dari bibir seksi ini. Segala keposesifan pria itu dikeluarkan dengan ganas. Bayangan kemarahan dirinya, emosi dirinya. Bayangan wajah Bia yang memutar di kepalanya semakin membuat wanita itu gila.


"Sayang!" ujar Shaka dengan pandangan tak percaya saat ciuman itu terlepas.


Istrinya benar-benar tak berubah. Kenakalan dan manjanya tetap sama saat pertama kali mereka menikah. Bahkan bagaimana Dhira yang melayani dirinya selalu agresif dan panas.


"Kalau kamu cerewet terus. Aku bakalan hukum bibir ini biar diam."


"Aku gak takut, Sayang," bisik Shaka dengan sengaja meniupkan udara dari bibirnya ke telinga Dhira.


Hal itu tentu membuat inti tubuh wanita itu berkedut. Tatapan keduanya mulai saling menatap hingga entah siapa yang memulai bibir keduanya akhirnya bertemu kembali.


Untung saja hanya ada mereka berdua di kolam renang. Semua pelayan telah tidur dan diminta berada di dalam kamar. Dhira sudah menyiapkan semuanya. Dia melarang aktifitas pelayan sampai keduanya selesai makan malam.


"Mas!" pekik Dhira terkejut dengan keganasan suaminya.


Mereka benar-benar pasangan tergila dan terpanas. Shaka menggarap milik istrinya di dalam kolam. Gerakan mereka yang lembut tentu membuat air sedikit bergerak.


Namun, semakin cepat keduanya menumbuk, air itu semakin bergerak dengan gelombang besar. Shaka tak bisa menahan lagi. Pria itu membalikkan tubuh istrinya hingga mereka kembali menyatu dengan posisi yang sangat keduanya sukai.


Shaka mencengkram dua bongkahan bukit kembar dengan kuat saat istrinya memberikan kedutan di inti tubuhnya. Hal itu membuat milik Shaka merasa dimanja dengan baik.


"Shaka lebih cepat!" Teriak Dhira saat mereka hendak mencapai puncak.


Sepertinya rencana makan malam, ngambek, dirinya yang kembali dan ingin akur dengan suaminya berhasil. Malam panas itu sangat amat membuat nafas keduanya begitu berebut.


Dhira yang kelelahan menyandarkan punggungnya di dada Shaka. Dengan pelan pria itu akhirnya mulai menggendong tubuh istrinya bak koala dan keluar dari kolam dengan Dhira di dalam gendongannya.


Keduanya benar-benar masih dalam kondisi menyatu. Seakan Dhira enggan melepaskan milik suaminya dari miliknya. Bahkan dengan sengaja perempuan itu berkedut dan bergerak begitu pelan di dalam pangkuan Shaka yang membuat pria itu menggeram.


"Kenapa kamu semakin panas, Sayang?" tanya Shaka dengan kepala yang mulai sakit.


Pria itu bahkan sampai kewalahan dengan keganasan istrinya. Namun, dibalik itu semua. Shaka benar-benar bersyukur. Istrinya itu sangat membuatnya betah dirumah dan malas melakukan apapun lagi jika sudah seperti ini.


"Karena aku tak mau Bia merebutmu dariku, Mas," bisik Dhira di telinga Shaka. "Ayo ke kamar! Aku ingin kamu memasuki aku lagi dan menghabiskan waktu kita malam ini."


Shaka terkekeh. Dia tak menyangka istrinya mengkhawatirkan hal itu lagi.


"Aku tak akan berpaling, Sayang. Aku hanya milikmu sekarang dan selamanya."


Keduanya akhirnya berjalan menuju ke kamar hingga tak lama suara erangan mulai terdengar yang menandakan pergulatan keduanya kembali berjalan dengan penuh nikmat.


Sampai akhirnya saat keduanya saling memuaskan. Sebuah panggilan dari ponsel Shaka membuat keduanya menoleh.

__ADS_1


Sekali panggilan, tak digubris. Dua panggilan masih tak pedulikan. Shaka dan Dhira seakan semakin gila akan permainan mereka.


Sampai akhirnya panggilan ketiga!


"Mas!" Pekik Dhira dengan marah. "Angkat dulu!"


"Tapi, Sayang!"


Dhira tersenyum dengan nakal. Dia mengedipkan matanya dengan manja lalu meminta suaminya mengangkat panggilan itu.


"Angkat saja, Mas. Aku ingin melihat seberapa kuat kamu menahannya!"


"Jangan gila, Sayang!"


"Aku gak gila, Mas! Angkat!"


Akhirnya Shaka yang tak fokus mengangkat panggilam itu tanpa melihat siapa pemanggilnya.


"Halo?" Kata Shaka mulai mengangkat panggilan itu.


Dhira yang nakal. Tentu memutar tubuh suaminya. Dia berada di atas Shaka dan mulai bergerak.


"Ini siapa?" Tanya Shaka menahan suara laknatnya.


Pria itu menggeram. Dia benar-benar tergila-gila dengan kelakuan istrinya ini.


...****************...


Sedangkan di tempat lain. Yang ternyata di kamar. Bia. Perempuan itu hanya diam. Dia hanya ingin mendengar suara suaminya karena Bia tak bisa tidur.


Bia yang biasa dengan adanya Shaka mulai bergantung. Dia hanya ingin mendengar suara Shaka.


"Halo, siapa ini?" Tanya Shaka dengan suara berat.


"Akhh Mas," Pekik suara perempuan yang sangat Bia tahu siapa itu.


Tangan Bia gemetaran. Bahkan tanpa sadar dia mematikan panggilan itu bersamaan dengan air matanya yang menetes.


"Ya Tuhan ini sangat menyakitkan!"


~Bersambung


akhh kan kan, sakit kan. huaa kenapa sih ke musuhan banget gue malem malem bikin nangis

__ADS_1


__ADS_2