
...Ternyata kenyataan itu hadir secepat ini dan membuatku sadar posisi hanyalah seorang istri pengganti ketika istri pertama tak ada disampingnya. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Suara deringan telepon itu terdengar begitu memenuhi ruang tamu. Shaka memang sengaja men speaker panggilan kali ini karena dia yakin Bia juga ingin mendengar suara istrinya.
"Selamat pagi, Mas," Sahut suara perempuan di seberang telepon dengan khas bangun tidur.
"Selamat pagi, Sayang. Apa kabar?" Tanya Shaka yang benar-benar merindukan istrinya.
Ah suara wanita yang sudah beberapa hari ini tak ia dengar akhirnya bisa didengar lagi. Suara wanita yang sangat dia cintai itu terlihat begitu sangat membuatnya semakin rindu untuk bertemu.
"Aku baik, Mas. Aku naik-baik saja. Mas sendiri bagaimana?" Tanya Dhira dengan suara yang semakin terlihat jelas.
"Mas baik."
"Lalu Bia? Bagaimana kabarnya?"
"Bia juga baik, Sayang. Bahkan dia sangat baik!" kata Shaka sambil mengalihkan tatapannya ke belakang dan melihat Bia yang tengah berdiri merapikan meja makan.
"Lalu ada apa Mas menghubungi Dhira sepagi ini?" Tanya Dhira dengan pelan.
"Ada kabar bahagia untukmu, Sayang!" Ucap Shaka ambigu menunggu respon istrinya.
"Apa, Mas!" Pekik Dhira dengan terkejut. "Mas jangan bilang. Kalau… "
Shaka tersenyum. Dia tak percaya jika istrinya ternyata secepat itu pikirannya sama dengannya.
"Jangan bilang kalau Bia…" Jeda Dhira dengan suara menebak.
"Iya, Sayang. Bia hamil."
"Akhh selamat, Mas. Selamat," Kata Dhira dengan suara yang begitu bahagia. "Selamat, Mas. Akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah. Kamu akan dipanggil ayah sebentar lagi!"
Shaka mengangguk. Dia yakin mata istrinya saat ini berkaca-kaca. Dia yakin Dhira pasti tengah menangis karena terharu dengan kabar ini.
"Selamat buat kamu juga, Sayang. Kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu akan menjadi ibu sebentar lagi!"
__ADS_1
Kedua orang itu. Pasangan suami istri itu benar-benar begitu bahagia satu dengan yang lain.
"Jangan menangis. Sebentar lagi keinginan kita akan terwujud, Sayang. Sebentar lagi kehidupan kita akan berjalan normal!" Kata Shaka dengan bahagia.
Apa yang keduanya impikan. Apa yang keduanya harapkan sejak lama. Apa yang mereka inginkan akhirnya kini keduanya mampu wujudkan. Mimpi yang keduanya tak pernah mereka kira akan hadir.
Kini akhirnya bisa terwujud. Mimpi yang benar-benar nyata. Mimpi yang benar-benar ada dan keduanya kini raih.
"Dimana Bia, Mas. Aku ingin berbicara dengannya," Kata Dhira dengan bersemangat.
"Ada. Bia ada sedang membersihkan meja makan. Aku akan memanggilnya," Kata Shaka dengan tak kalah bersemangat.
Pria itu berbalik. Dia mencari sosok Bia dan ternyata sudah tak ada disana. Pria yang sedang bahagia itu spontan berjalan ke arah pintu penghubung villa dan pantai.
Dia yakin istri dirinya itu ada disana karena view tempat itu sangat disukai dan menjadi favorit Bia selama ada disini. Dia yakin wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu sedang menikmati waktunya disana sendirian.
"Bi!" Panggil Shaka yang mengejutkan Bia.
Benar saja. Perempuan itu, perempuan yang tengah berbadan dua berdiri di sana dengan memandang ke arah pantai.
"Ya, Mas?" Sahut Bia sambil menoleh.
"Dhira ingin bicara denganmu," Ujar Shaka sambil menyerahkan teleponnya.
Ibu hamil itu berharap agar tak ikut bicara. Namun, ternyata dugaannya salah. Dhira meminta bicara dengannya dan membuat Bia mau tak mau harus siap.
"Halo, Mbak Dhira. Assalamu'alaikum," Sapa Bia dengan suaranya yang ramah.
"Halo, Bia. Bagaimana perasaanmu sekarang? Kamu baik-baik aja kan? Kamu dalam keadaan baik kan?" Tanya Dhira dengan begitu antusias.
"Alhamdulillah, Mbak. Bia baik-baik aja," Kata Bia dengan pelan.
Bia rasanya tak mau mengobrol dengan siapapun. Entah kenapa perasaan ibu hamil ini sangat sensitif. Dia seakan takut dengan apa yang akan mereka bicarakan ini.
"Selamat ya, Bi. Selamat atas kehamilannya. Aku ikut bahagia dengan kabar ini," Kata Dhira dengan nada suaranya yang bahagia.
Bia mengangguk. Dia tahu meski Dhira tak melihat wajahnya tapi istri pertama suaminya itu tahu apa yang dia rasakan.
Bagi Bia sendiri. Dia juga bisa merasakan suara kebahagiaan itu. Bia sendiri yakin jika Dhira begitu sangat senang dengan kejutan yang dia berikan pada Shaka.
__ADS_1
"Makasih banyak, Mbak."
"Seharusnya aku yang harus berterima kasih sama kamu, Bi," Kata Dhira dengan suara yang menahan tangis. "Terima kasih sudah hadir di antara aku dan Mas Shaka. Terima kasih sudah mewujudkan mimpiku dan Mas Shaka, Bi."
Suara Dhira benar-benar berat dan bergetar. Bia yakin jika Dhira menangis di seberang sana. Bia yakin jika istri pertama suaminya itu sangat terharu dengan kabar ini.
"Terima kasih sudah mewujudkan harapan kami berdua. Tolong jaga anak kami, Bi. Jaga dia dengan baik."
Anak kami?
Kata itu terulang dan terekam dalam pikiran Bia. Sebuah kata yang seperti tamparan untuknya. Benar-benar tamparan untuk membuatnya sadar. Sadar dengan kondisinya, sadar dengan posisinya. Sadar dengan apa yang membuatnya bisa berada disini.
"Jaga anakku dan Mas Shaka dengan baik, Bi. Aku dan Mas Shaka benar-benar menyayangi anak itu dan menunggu kelahirannya?"
Tangan Bia bergetar dengan sendirinya. Bia bahkan merasa kepalanya sakit saat kalimat dan kata-kata Dhira membuatnya harus sadar dengan apa yang terjadi sekarang.
"Bi… Bia!"
Bia mencoba untuk tetap tenang. "Iya, Mbak. Bia akan menjaganya dengan baik. Bia juga tahu anak ini sangat berarti untuk Mbak Dhira dengan Mas Shaka."
Akhirnya panggilan dengan Bia berakhir. Perempuan itu menyerahkan ponselnya kembali pada Shaka karena Dhira meminta untuk berbicara lagi.
"Aku yakin Mama dan Kakek akan bahagia, Sayang. Kamu harus mengabarinya," Kata Dhira yang suaranya masih bisa didengar oleh Bia.
"Iya, Sayang. Itu terserah kamu," Ujar Shaka dengan berjalan masuk.
"Cepat kembali ke Indonesia. Cepat pesan tiket kalian dan kita akan datang ke dokter ber sama-sama. Aku ingin segera bertemu dengan anak kita, Mas. Aku ingin melihatnya melalui layar usg!"
"Iya. Aku akan mencari penerbangan ke Indonesia besok oke. Aku akan segera pulang. Aku juga sangat merindukanmu!"
Tanpa keduanya sadari. Tanpa Shaka dan Dhira ketahui. Air mata Bia mulai mengalir. Tangannya bahkan berkeringat dingin saat suara dan ucapan Dhira terngiang terus di kepalanya.
Anak kami.
Anak kami.
Anak kami.
"Kamu harus sadar, Bi. Kamu harus sadar posisimu. Kamu tak boleh mencintai Mas Shaka terlalu dalam. Kamu hanya rahim pengganti disini. Kamu ada disini karena dibutuhkan. Kamu ada disini untuk menjadi istri pengganti ketika istri utama tak bisa."
__ADS_1
~Bersambung
Tetot iya mulai-mulai gak tuh. Sakit sakit hemm sesuatu.