
...Ternyata menutupi sesuatu yang bukan merupakan keinginan kita merupakan hal berat. Apalagi jika dihadapkan dengan beberapa orang yang sangat kita cintai dan sayangi....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Kedatangan Almeera dan keluarga tentu membuat suasana rumah yang telah lama dihuni oleh para pelayan kini kembali ramai. Rumah yang penuh akan kenangan, rumah yang penuh akan coretan kisah di masa lalu yang penuh makna. Rumah yang penuh dengan canda, tawa, sedih dan luka yang terjadi dan mengajarkan banyak hal.
Rumah yang membuat saksi bisu Almeera dilihat dan dirasakan oleh semua orang. Disinilah mereka kembali, rumah yang penuh mengandung makna yang besar.
"Selamat datang kembali, Nyonya," Kata seorang pelayan yang dipercaya Almeera menjaga rumahnya.
Kepala pelayan yang dia tinggal khusus untuk menjaga rumah ini. Kepala pelayan yang diberi tugas untuk merawat, membersihkan dan tinggal di rumah ini agar aman dan selalu bersih.
"Terima kasih banyak, Bi. Terima kasih sudah menjaga rumah ini dengan baik," Kata Almeera dengan tulus sambil melepaskan pelukannya.
Tak ada hal yang mengejutkan untuk seorang Almeera memeluk seorang pelayan. Hal yang selalu diajarkan Almeera sejak dulu. Tak membedakan semua orang. Antara pelayan dan mereka, Almeera selalu mengajarkan bahwa mereka itu sama.
Status sosial tak membedakan mereka. Kaya miskin, cantik jelek, atau apapun semua di mata mereka adalah sama.
"Non Aya," Kata Bibi dengan mencubit pipi Athaya yang begitu cantik dan manis.
Aya mencium punggung tangan Kepala pelayan yang masih sangat dia ingat. Dulu ketika mereka kembali ke Indonesia hanya beberapa hari. Mereka akan datang ke rumah ini untuk melihat saja dan selalu bertemu dengannya.
"Bibi sehat?"
"Alhamdulillah sehat," Kata Kepala pelayan dengan ramah.
"Ayo masuk!" Ajak Abraham yang selesai mengangkat dan mengeluarkan kopernya bersama papanya.
"Sini aku bantu, Kak," Kata Bia dengan menarik sebuah koper di tangannya.
"Bi!"
"Ini hanya koper, Kak. Satu juga. Gak bakal bikin aku capek. Ya?"
__ADS_1
"Tapi kamu harus ingat. Jangan egois. Pikirkan dia juga!" Ujar Abraham dengan pelan saat menyebut kata dia.
Biar mengangguk. Perlahan dia menarik koper itu dengan pelan dan mulai berjalan memasuki rumahnya.
Sedangkan Abraham, dia langsung membawa tas punggung satu dan dua buah koper di tangannya lalu menyusul langkah kaki adiknya. Tanpa keduanya tahu, tanpa Abraham sadari, jika ada sosok Bara yang masih berdiri di samping mobil untuk mengeluarkan tas kecil yang ada di bangku tengah.
Pria itu perlahan bergerak ke belakang mobil. Menatap langkah kaki kedua putra putrinya dengan mata penuh tanda tanya.
"Apa yang dimaksud, Abraham? Apa yang terjadi dengan putriku?" Kata Bara dengan pelan dan menatap ke arah kedua anaknya yang mulai hilang di balik pintu utama rumahnya.
...****************...
Akhirnya setelah meletakkan semua koper di ruang tengah. Biar berjalan ke arah kamarnya. Kamar yang dulu menjadi kamar masa kecilnya. Kamar yang dulu menjadi tempatnya menangis bersama kakaknya.
Dia memang tak pernah tinggal disini selama tinggal disini. Bia tak pernah tinggal di rumah penuh kenangan ini selama pendidikan, koas atau bekerja. Dia akan tinggal di rumah Abraham atau rumahnya sendiri karena Bia berjanji akan menunggu keluarganya kembali untuk tinggal disini.
Ditambah rumah ini sangat jauh dari tempatnya bekerja dan membuatnya lebih memilih tinggal di jarak terdekat daripada harus bolak balik.
"Akhirnya," Lirih Bia sambil membuka jilbabnya dan meletakkan di atas sofa yang ada di ruang kamarnya.
Penuh perjuangan, penuh lika liku dan penuh akan air mata serta kebahagiaan yang nyata.
Bia hendak berjalan ke arah ranjangnya. Ingin merebahkan punggungnya sebentar. Namun, entah kenapa perutnya terasa ingin naik. Rasa mual dan muntah ia rasakan dan membuatnya memutar arah menuju kamar mandi.
Uekkk uekkk.
Dan benar saja. Bia mengeluarkan semua makanan yang ia makan. Dirinya benar-benar merasa ingin memuntahkan semua isi di perutnya. Sampai akhirnya, sebuah pijatan lembut di belakang kepalanya membuat Bia terkejut dan tegang.
"Keluarkan dulu, Nak. Agar perutmu lega!" Kata suara seorang pria yang sangat Bia tau dan Bia ingat.
Pemilik suara yang sangat dia cintai melebihi ibunya. Sosok yang lebih dekat dengannya. Mungkin Bia sudah sangat dekat dengan ibunya. Namun, masa kecilnya yang sangat menempel pada Bara. Membuat mereka juga lebih menempel daripada dengan Almeera.
"Sudah?" Tanya Bara lalu membantu putrinya untuk berjalan ke arah sofa dan mengambilkan tisu untuk putrinya.
Bia merasa jauh lebih lega. Dia menerima uluran tisu itu dan mengusap bibirnya bekas muntahan.
__ADS_1
"Udah, Ayah," Jawab Bia dengan menarik nafasnya lebih berat.
Bia terdiam. Dia menunduk dengan mencoba menenangkan dirinya. Sampai akhirnya sebuah elusan di pipinya membuat Bia mendongak.
"Kenapa, Yah?"
"Kamu tambah tembem, Bi. Berat badan kamu naik?"
Jantung Bia mencelos. Dia menelan ludahnya paksa saat menatap kedua bola mata ayahnya yang entah kenapa terlihat lebih penasaran daripada seperti biasanya.
Seakan kedua tatapan mata itu penuh tanda tanya dan keraguan.
"Emm itu, Yah," Kata Bia berusaha terlihat normal. "Bia lagi naikkin berat badan karena berat badan Bia kemarin terlalu kurus kata teman dokter, Bia. Jadi Bia ikut program menaikkan berat badan. Aap terlihat?"
Bia benar-benar berusaha tetap tenang. Dia bahkan memaksakan senyumannya dan menyentuh kedua pipinya dengan jarinya.
"Apa berhasil program Bia?" Tanya Bia lalu menatap ke arah cermin panjang dan besar yang ada di dekat lemarinya
"Berhasil. Ayah pikir terakhir kali kita ketemu. Pipi kamu tak sebesar itu," Kata Bara dengan ekspresi wajah yang tenang.
"Ah jadi bagus dong yah. Kalau gini, Bia bakalan pertahanin program, Bia. Bia juga belum timbang lagi sih. Kemarin berat Bia kurang 5 kiloan untuk sesuai dengan standar berat badan dan tinggi badan."
Bara mengangguk. Dia perlahan mengusap kepala putrinya dengan sayang dan tanpa kata yang membuat Bia semakin menelan ludahnya paksa seakan dia sulit untuk melakukan kebohongan yang lain.
"Lakukan apapun yang adek ingin lakukan tapi ingat! Jangan sampai menyakiti adek sendiri, okey? Ayah tak akan memaafkan siapapun jika ada yang menyakiti Adek. Oke?"
Bia mengangguk. Dia berusaha tersenyum meski jantungnya benar-benar berdegup dengan kencang. Dia terasa lebih takut akan kata-kata itu tapi mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Iya, Ayah."
"Dan katakan pada Ayah jika membutuhkan sesuatu. Jangan menyembunyikan apapun, Oke? Ayah tak mau kamu melakukan semuanya sendiri. Jika butuh bantuan Ayah, ayah akan siap disini buat bantuin kamu."
~Bersambung
Kira-kira yang bakal tahu dulu siapa yah? hayoooo
__ADS_1