
...Ketika belum waktunya tiba maka apapun itu pasti akan tersembunyi dengan baik dan tak akan tercium sebelum waktunya tiba. ...
...~JBlack...
...****************...
"Kau selalu wangi, Sayang," Kata Arthir dengan memeluk istri dari adiknya itu.
Saat ini dua sejoli itu sedang ada di ruangan Arthir. Ya Dhira sengaja datang ke kantor untuk bertemu dengan suaminya tapi sebenarnya dibalik itu. Ada kedok sembunyi untuknya yang ingin menemui kakak dari suaminya itu.
"Kau tau. Aku kemari beralasan untuk bertemu dengan Shaka," Kata Dhira membiarkan kekasihnya mengecupi lehernya itu. "Entahlah, apa Shaka masih di rumah Bia?"
Arthir tak menjawab. Pria itu hanya fokus mencium mengecup dan menghirup aroma tubuh kekasihnya itu. Aroma tubuh Dhira yang sangat dia sukai sejak dulu. Aroma yang tak pernah berganti dan selalu menjadi wangi kesukaannya.
"Aku tak peduli pria itu ada dimana yang pasti bukan bersamamu!" Kata Arthir dengan serius.
"Bagaimana bisa denganku. Aku sekarang bersamamu!"
"Maka dari itu. Kau hanya boleh bersamamu, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Bisakah aku membawamu kabur? Aku tak mau berbagi dengan Shaka, Sayang!"
"Gombal!"
"Aku tak gombal!" Kata Arthir lalu menarik lengan Dhira pelan sampai keduanya berhadapan.
Wajah keduanya berhadapan. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Dengan pelan tangan Arthir menarik dagu wanitanya itu sampai akhirnya wajah keduanya dan hidung mereka kini bersentuhan.
"Aku serius ingin bersamamu, tinggal denganmu dan pergi jauh dari Shaka. Aku selalu menjadi anak tiri di keluarga. Shaka selalu menjadi anak kesayangan. Dia yang selalu pintar di sekolah. Dia yang bisa dibanggakan daripada aku oleh Mama dan Papa. Terutama kakek!" Kata Arthir dengan nafas naik turun.
Dhira bisa melihat kedua mata Arthir penuh luka, penuh dendam dan sakit hati. Dia bisa merasakan apa yang pria itu rasakan.
"Masih ada aku, Sayang. Aku disini sama kamu," Kata Dhira dengan sedih dan mengusap lengan Arthir.
Pria itu mengangguk. Dia perlahan kembali menatap mata Dhira. Pria itu menatap bibir seksi yang sangat menggodanya.
Sampai akhirnya, saat wajah mereka kembali berdekatan tiba-tiba…
"Sayang!" Panggil suara seorang pria dengan bersamaan dibukanya pintu ruang kerja Arthir.
...****************...
"Apa yang kalian lakukan?" Seru Shaka dengan mata terbelalak atas apa yang dia lihat.
"Aww mataku!" Lirih Dhira memegang matanya dan menutupnya.
Perempuan itu melirik ke arah arthir. Mencoba mencari cara agar pria itu tahu apa yang dia maksud.
__ADS_1
"Sakit!"
"Dhira ada apa?" Tanya Shaka yang mulai khawatir.
"Mataku kelilipan, Mas. Sakit terus perih," Kata Dhira mengusap matanya dan menggosoknya.
Tentu hal itu membuat Shaka mulai teralih. Dia menarik tangan Dhira yang menggosok matanya sampai merah.
"Diamlah, Dhir!" kata Shaka membentak.
Pria itu akhirnya membawa istrinya itu ke kamar mandi. Dia tak mungkin memaksa istrinya membuka mata dan meniupnya karena mata Dhira sudah terlihat merah.
"Dibasuh dulu sama air, Sayang. Biarkan matamu terbuka didalam air itu."
Akhirnya Dhira menurut. Dia sebenarnya baik-baik saja. Ini hanyalah akting. Dia tak mungkin menyia-nyiakan waktu untuk semuanya terungkap.
Dia belum mendapatkan apapun. Dia belum membeli apapun yang dia mau. Dhira masih tak siap kehilangan semuanya. Dhira tak mau kehilangan sedikitpun apa yang dia punya sekarang.
Dirinya akan melakukan segala cara untuk mempertahankan apa yang dia punya. Dia akan mencoba untuk memegang semuanya sendiri. Mengendalikan dua pria yang sama-sama bucin dengannya.
"Ka, maafin Kakak. Aku hanya ingin membantu Dhira. Aku tadi mau meniup matanya tapi kamu… "
"Maafin Shaka, Kak. Shaka udah mikir macem-macem sama, Kakak. Maafin Shaka udah curiga sama kalian berdua," Ujar Shaka yang lagi-lagi terkecoh. "Harusnya Shaka berterima kasih karena kakak udah mau bantuin Dhira."
"Aku tau, Ka. Kau mungkin takut istrimu berpaling darimu dan lari padaku kan?" Goda Arthir dengan menaik turunkan alisnya. "Apa kau sekarang sedang ragu dengan ketampananmu? Apa kau ragu aku bisa bersaing denganmu?"
Shaka tertawa. Dia membalas merangkul pundak kakaknya dan menepuknya.
"Jangan berharap untuk mengambilnya dariku, Kak! Untuk yang satu ini, aku tak bisa berbagi!" Kata Shaka dengan tegas. "Jika barangku, aku bisa memberikan untukmu bahkan kuberikan tanpa kau minta tapi yang ini. Tidak sama sekali!"
"Tentu. Siapapun tak akan pernah ikhlas memberikan wanita yang dia cintai pada orang lain. Aku juga begitu!"
"Waww!" Shaka membelalakkan matanya. Dia menatap kakaknya dengan tak percaya.
"Katakan padaku, Kak. Wanita seperti apa yang bisa meraih hati, Kakakku. Wanita mana yang bisa membuat kakakku jatuh cinta?" Kata Shaka dengan heboh.
"Kau yakin ingin tahu?" Tanya Arthir yang ternyata sejak tadi didengar oleh Dhira.
Wanita itu sudah mencuci mukanya lalu mulai menatap ke arah Arthir yang juga tengah menatapnya.
"Tentu, Kak. Siapa?" Tanya Shaka dengan tak sabaran.
"Wanita itu…."
"Mas" Pekik Dhira dengan cepat dan membuat Shaka menoleh.
__ADS_1
"Sayang," Kata Shaka lalu segera mendekati istrinya itu. "Gimana? Udah baikan?"
Dhira mengangguk. "Tapi bajuku, Mas. Basah!"
Dhira merengek. Namun, matanya sambil melirik ke arah Arthir dengan pandangan tak suka.
"Di ruanganku ada bajumu, Sayang. Ayo!" Akhirnya Shaka membantu istrinya keluar dari kamar. "Aku kembali dulu ke ruanganku ya, Kak. Aku mau membantu Dhira berganti pakaian."
"Membantu apa membantu?" Sindir Arthir yang membuat Shaka tertawa.
"Gak boleh iri!" Kata Shaka sambil menuntun istrinya. "Aku keluar ya, Kak. Makasih sudah mau direpotkan!"
Tanpa sepengetahuan Shaka. Dhira mengedipkan salah satu katanya ke arah Arthir dan dibalas kecup jauh oleh pria itu.
Pria dengan wajah tampan dan mempesona itu melipat kedua tangan di depan dada. Tubuhnya dia sandarkan di dinding dengan menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup rapat.
"Apapun milikku selalu bisa menjadi milikku, Shaka. Bukan hanya barangmu tapi istrimu juga bisa menjadi milikku. Milikku, milik Arthir!"
...****************...
"Serius ada bajuku, Sayang?" Tanya Dhira saat keduanya sudah ada di ruangan Shaka.
"Iya. Apa kamu lupa pernah membawa lebihan baju lalu diletakkan di lemari sini," Kata Shaka sambil berjalan ke ruangan rahasianya lalu membuka lemari pakaian.
Bibirnya tersenyum bahagia saya melihat satu dress milik istrinya tergantung di sana.
"Pakailah bajumu, Sayang. Aku takut kamu masuk angin kalau terus pakai baju basah," Kata Shaka dengan khawatir.
"Iya, Mas. Tapi sebelum itu… " Jeda Dhira yang membuat Shaka terdiam.
"Beri aku satu ciuman. Aku merindukan ciumanmu, Sayang," Rayu Dhira yang membuat Shaka malu bukan main.
Jujur bagaimanapun juga Dhira memang pandai merayu. Hal itu kadang membuat Shaka berusaha mengimbangi kemampuan istrinya itu.
Dia berusaha menjadi sosok yang hangat, sosok yang bisa menggombal demi Dhira dan berhasil.
Shaka perlahan mengecup bibir itu lalu menyesapnya dengan pelan dan dalam waktu beberapa detik saja.
"Aku sudah memberikan ciuman. Sekarang, pakai bajumu dulu, Sayang. Nanti kamu sakit. Aku gak mau kamu sakit karena ini!"
~Bersambung
Yah yah pasti kecewa yakan? huhu sabar bakalan ada waktunya kok.
BTW mau kasih info, insya Allah cerita abang Abra bakalan aku rilis di novel toon setelah semuanha beres dengan urusan di sebelah yah. jadi tungguin aja info terbaru aku.
__ADS_1