
...Terkadang perhatian yang berlebihan membuat seorang wanita berharap lebih. Namun, ketika kenyataan itu muncul, Rasa Bahagia itu terasa dijatuhkan. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Shaka menyipitkan matanya. Dia menelan ludahnya seakan membayangkan di malam hari makan karbo dan juga ikan laut seperti ini.
"Kamu serius, Bi? Mau makan itu?" Tanya Shaka dengan pelan.
Dia hanya ingin memastikan. Memastikan jika makanan itu yang diinginkan ibu hamil satu ini. Dia ingin membelikan makanan itu untuknya.
Ya. Dia tak mau anaknya ngeces. Dia tak mau aap yang dimau anaknya tak dituruti dan membuat anaknya meneteskan air liur terus menerus.
"Iya, Mas. Aku ingin itu!"
"Aku akan membelinya," Ujar Shaka dengan serius.
"Beneran?" Tanya Bia dengan matanya yang berbinar.
"Tentu. Untukmu dan anakku. Apapun akan aku belikan!"
Mata Bia berkaca-kaca. Dia merasa terharu dalam hati. Jujur dirinya tahu Shaka sedang lelah. Dia sadar Shaka pasti mengantuk. Namun, ternyata antusias pria itu masih begitu besar.
Shaka masih mau menuruti keinginannya. Shaka masih sangat bersemangat memenuhi keinginannya.
"Aku berangkat ya!" Pamit Shaka pada Bia.
"Aku ikut. Boleh?" rengek Bia meminta ikut.
Shaka terdiam. Dia mengalihkan tatapannya dan melihat jarum jam yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
"Ini sudah malam, Bia. Kamu disini aja yah?" Kata Shaka membujuk.
Kepala Bia menggeleng. "Aku ingin makan di tempatnya, Mas. Please!"
Bia menatap suaminya dengan pandangan penuh harap. Dia mengedipkan matanya berulang kali mencoba bernegosiasi. Dia ingin ikut, bahkan ingin ikut seperti anak kecil yang merengek minta permen.
"Baiklah. Ayo!"
Shaka beranjak berdiri. Dia berjalan ke dalam kamar. Mendekati lemari pakaian untuk mengambil dua jaket dan kaos kaki untuk ibu hamil satu ini.
Dengan penuh ketelatenan. Dengan penuh perhatian, Shaka mulai memakaikan jaket itu ke tubuh Bia. Dia menghadiahkan satu kecupan di dahinya saat jaket itu sudah membalut tubuhnya dengan hangat.
__ADS_1
Indonesia terkadang memiliki suhu yang tetap. Meski cuaca sedang panas kadang di malam hari akan menjadi sangat dingin.
"Duduk dulu, Bi!" Kata Shaka dengan tegas. "Kamu harus jaga tubuh kamu biar hangat. Ingat! Kalau kamu dingin. Anak aku juga kedinginan!"
Bia menurut. Dia melihat bagaimana Shaka memakaikan kaos kaki di kakinya. Jujur perilaku pria itu sekarang semakin membuat perasaan Bia terbang.
Dia bahkan merasa diperhatikan. Ya merasa dicintai. Bia bahkan berharap perhatian yang diberikan oleh Shaka adalah kode jika pria itu sudah menaruh hati padanya.
Keduanya langsung melesat meninggalkan rumah Bia untuk mencari makanan yang diinginkan ibu hamil satu ini. Keadaan jalanan lumayan ramai. Masih banyak lalu lalang kendaraan dan beberapa toko yang masih berjualan.
"Kamu tau tempatnya dimana, Bia?" Tanya Shaka pada Bia.
"Aku akan mencarinya di tempat biasa ibu dan ayahku makan!"
Shaka melirik matanya ke arah Bia. Untuk pertama kalinya dia mendengar istri sirinya itu membicarakan tentang keluarganya.
"Ibumu suka beli makanan begini?" Tanya Shaka pelan dan penasaran.
"Sangat. Bahkan warung ini langganan ibuku. Semuanya suka karena sangat enak," Kata Bia yang semakin membuat Shaka menelan ludahnya sendiri.
Bayangan lalapan udang dibakar dengan sambal terasi yang enak untuk dimakan dan digigit oleh dirinya kini berputar di kepalanya. Rasa pedes, manis yang dominan dan menyatu itu semakin membuat air liurnya rasanya ingin menetes.
"Kok aku jadi pengen!" Celetuk Shaka yang membuat Bia menahan tawa.
Bia menatap jalanan dengan perasaan bahagia. Dia benar-benar menikmati perjalanan malam ini. Dirinya bahkan sedikit membuka kaca jendela mobil lalu mengeluarkan kepalanya sedikit.
"Jangan terlalu lama, Bi. Udara malam gak baik buat kamu," Kata Shaka dengan tegas.
"Siap, Bapak Komandan poligami!"
Shaka menoleh. Dia mendengar ucapan itu tapi tak berniat menjawab. Apa yang dikatakan oleh istri sirinya itu memang benar.
Tak lama perjalanan itu berakhir. Senyuman di bibir Shaka mulai terlihat saat warung kesukaan dia dan keluarganya itu masih buka. Keduanya segera turun dengan Shaka mulai membantu istrinya itu turun dari mobil.
"Selamat malam," Sapa seorang wanita yang berdiri melayani keduanya.
"Mau pesan apa?" Tanyanya dengan bahasa Inggris yang sangat jelas.
"Apa udang bakarnya ada?" Tanya Shaka to the point.
Entah kenapa perasaan Bia bergetar. Matanya menatap gerobak itu dan tak melihat tusukan udang yang dia inginkan.
Biasanya udang bakar itu ada di bagian atas sendiri. Ikan yang sangat dia inginkan malam ini.
__ADS_1
"Udang bakar kami habis."
Senyuman yang mulanya melengkung ke atas perlahan surut. Bia merasa kecewa mendengar itu. Bahkan dia mulai terlihat pasrah saat pelayan itu meminta maaf.
"Kita cari di tempat yang lain, Bi," Kata Shaka mencoba menghibur.
Shaka menghidupkan mesin mobil lalu dia kembali melanjutkan perjalanan.
"Jangan sedih. Aku yakin di tempat lain masih ada," Kata Shaka menghibur sambil mengusap kepala Bia dengan pelan.
"Tapi ini udah malam. Pasti semua pada habis," Kata Bia dengan putus asa.
"Kita coba cari dulu, Bi. Oke? Aku yakin masih ada!"
Wajah Bia yang mulanya muram perlahan berbinar. Dia mencoba meletakkan harapannya di tempat warung yang lain yang menjadi pilihan dari suaminya itu. Dirinya sangat ingin memakan udang bakar dengan cocolan sambal itu sekarang juga.
Namun, saat mata Bia melihat bagaimana Shaka menguap sambil menyetir mobilnya membuat sesuatu dalam hati bumil itu merasa bersalah. Karena keinginannya, ia membuat suami sirinya tak bisa tidur dan malah kelayapan.
"Bia!" panggil Shaka pelan.
"Hah!"
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Shaka dengan pelan.
Shaka sedikit khawatir. Dia sesekali menatap ke arah Bia dengan fokus juga menyetir. Bia menghela nafas berat. Dia merasa kasihan pada Shaka tapi dia juga tak bisa menahan keinginan anaknya.
"Jujur!" kata Shaka saat Bia masih diam.
"Maafin aku ya, Mas. Gara-gara aku kamu gak bisa istirahat total. Malam-malam gini kamu harus keluar dan cari makanan…"
Perkataan Bia terhenti saat Shaka menutup bibirnya dengan jari telunjuknya. Mobil mereka memang berhenti bersamaan dengan lampu lalu lintas. Tangan itu diam di sana dengan berlangsung lumayan lama hingga pria itu melepaskannya saat merasakan istrinya mulai tenang.
Shaka menatap Bia dengan lekat. Dia merapikan beberapa rambut Bia yang keluar dari kerudungnya.
"Aku tak suka dengan ucapanmu itu, Bia. Apapun itu, jika untuk anakku. Aku rela melakukan apapun!"
"Jadi untuk anak ini?" Tanya Bia dengan perasaan yang semakin tak karuan.
"Tentu, Bi. Demi anak ini, aku rela melakukan apapun yang terpenting kebutuhan kalian berdua tercukupi!"
~Bersambung
Duh bibirnya Mas Shaka bener-bener. Baru aja manis ternyata manisnya karena si bayi.
__ADS_1