
Ketika rasa cemburu menyerang. Maka pikiran yang semula tenang akan mulai goyah.
~JBlack
***
"Apa yang kalian lakukan!"
Deg.
Jantung Bia seakan berhenti berdetak. Dia dan Semi yang saat itu hendak mengobati kaki Bia tentu spontan menoleh. Disana, di ambang pintu rumah Bia berdiri Shaka dengan wajah memerah menahan amarah.
Bia tentu langsung menurunkan kakinya. Dia beranjak berdiri diikuti oleh Semi yang juga terkejut dengan kehadiran Shaka yang tiba-tiba.
"Brengsek!" Umpat Shaka yang langsung berjalan dengan amarah yang menguap.
"Mas.. Tunggu, Mas. Bia bisa jelaskan!"
"Awas!" Kata Shaka dengan menggeser istrinya dan lekas menarik kerah baju Semi dengan kuat.
Bug.
Akhirnya satu pukulan mendarat di pipi Semi sampai membuat pria itu menoleh.
"Kau tau, Bia itu istriku," Teriak Shaka dengan memukul wajah Semi lagi dengan kuat.
Semi seakan pasrah. Ya, pria itu membiarkan temannya yang sudah lama dia kenal membabi buta.
__ADS_1
Bia tak tinggal diam. Ya, wanita itu tentu takut. Takut jika Shaka akan semakin kalap dan membuat Semi meninggal.
"Mas, berhenti, Mas! Cukup!" Kata Bia dengan jantung berdebar.
Jujur baru kali ini Bia melihat kemarahan Shaka. Bagaimana pria itu memukul Semi dengan kalap. Seakan suaranya saja tak cukup membuat Shaka berhenti.
Bia tentu nekat. Daripada dia berpikir Shaka terus membabi buat dan membuat Semi terjadi sesuatu maka masalah akan semakin rumit.
"Mas Shaka! Cukup!" Teriak Bia sambil menarik tangan Shaka dengan kuat dan membuat tubuh pria itu mundur beberapa langkah.
Shaka tentu mulai dipenuhi emosi. Dia menatap ke arah Bia yang terlihat menarik nafas begitu kuat.
Dadanya kembang kempis. Amarah itu sudah memenuhi pikiran Shaka. Apa yang dia lihat, apa yang dia pandang tadi cukup membuat otaknya yang sudah diracuni dari rumah semakin meledak.
"Kau tak terima, iya?" Teriak Shaka dengan memandang Bia. "Kau khawatir padanya? Kau takut dia akan mati ditanganku. Begitu?"
Apa yang dirasakan oleh Shaka. Apa yang dia pikirkan membuat pikiran jernihnya hilang.
"Kau takut, dia… " Tunjuk Shaka pada Semi dengan tajam di hadapan Bia. "Selingkuhanmu itu mati ditanganku!"
"Mas!" Teriak Bia yang mulai terpancing.
"Jangan pernah berteriak padaku!" seru Shaka yang mulai gelap mata.
Cemburu itu tentu begitu kejam. Jika seseorang tak bisa mengaturnya maka dia akan menjadi seperti ini.
"Memang benar bukan, wanita murahan selamanya akan menjadi murahan!"
__ADS_1
Plakk.
Bia menampar Shaka dengan kuat. Dia benar-benar merasa dilecehkan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Bayangan trauma itu muncul di depan matanya.
"Kenapa? Kau marah kusebut murahan?" Tanya Shaka dengan mata berkilat marah.
Bia yang masih terbayangi kejadian masa lalu itu tentu melakukan semuanya dengan spontan. Ya dia menampar Shaka agar pria itu tak semakin membuat dirinya ingat akan masa lalu.
"Kau dengan mudah mengangkat kakimu di atas pria lain selain suamimu. Lalu selain kata murahan. Kata apa yang pantas untukmu?"
"Shaka!" Teriak Semi dengan amarah yang ikut terpancing.
Pria itu mendekat. Dia menarik kerah baju Shaka dengan kuat.
"Jangan pernah menghina Bia karena mulut busukmu ini tak cocok dengannya!" Seru Semi dengan marah. "Apa yang kau katakan itu benar-benar salah!"
"Salah?" Ulang Shaka dengan terkekeh pelan. "Dia mau menjadi istri kedua saja itu sudah menjadi pertanda. Bahwa dia…"
Shaka menunjuk Bia. Dia melepaskan cengkraman tangan Semi di kerahnya dengan kuat dan sampai terlepas.
"Bukan wanita tak baik!"
"Brengsek!"
"Stop, Sem!" Pekik Bia menahan saat Semi hendak memukul Shaka.
~Bersambung
__ADS_1