
...Sebesar apapun bangkai yang akan ditutupi dengan setebal baja. Jika waktunya mulai tercium maka akan tercium dengan begitu pekat....
...~JBlack...
...****************...
"Salad terbaik dari Papa untuk anak tercinta," Kata Shaka dengan bangga dan menepuk dadanya.
Bia tak bisa melawan atau menolak saat pria itu memaksa ingin membuatkan salad itu untuknya. Shaka benar-benar kekeh untuk membuatnya sendiri dan mau tak mau membuat Bia membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau.
"Selamat makan," Kata Shaka sambil meletakkan semangkuk salad di atas meja lalu mengusap kepala Bia yang memakai jilbab.
"Makasih, Mas," Kata Bia dengan tak enak hati.
Namun, bagaimanapun wanita itu memang suka dengan salad. Sejak dia hamil, salad buah adalah salah satu makanan yang harus ada di meja makan. Makanan yang wajib selalu ada untuknya.
"Tumben kamu pakai jilbab di rumah, Bi? Biasanya kamu lepas?"
"Jelas aku pakai. Ada kamu di rumah! Aku takut kamu berubah jadi harimau ganas!" Kata Bia dalam hati yang meronta.
"Kamu nggak kepanasan?" Tanya Shaka yang entah kenapa menurut Bia semakin cerewet.
Perempuan yang tengah berbadan dua itu tak menjawab. Dia menikmati saladnya dengan diiringi ocehan pertanyaan dari Shaka.
"Kalau kepanasan, buka aja jilbabnya, Bi. Gapapa! Toh kita kan halal!"
"Aku tau kita halal, Mas! Tapi aku gak mau terus terjatuh dengan pesonamu dan pasrah!" Sahut Bia dalam hari yang terus berceloteh.
"Jangan diam terus, Bi. Jawab dong!" Bujuk Shaka merengek.
Bia tetap mencoba tak menggubris. Dia hanya ingin membentengi dirinya dari perasaan yang menurutnya semakin besar. Ya cintanya pada Shaka, sayangnya pada pria itu ternyata semakin hari, semakin besar.
Bukannya sakit hati karena masalah suara semalam. Ternyata bertemu dengan Shaka mampu meruntuhkan semua yang ia kuatkan dari semalam. Dirinya berusaha untuk benci, dirinya berusaha untuk tak menggubris. Namun, perasaan kasihan ternyata lebih besar daripada perasaan teganya.
"Bi!"
"Aku sedang makan, Mas!" Kata Bia dengan kesal. "Bagaimana aku jawab kalau gini?"
Shaka terkekeh. Dia memang sengaja membuat istri sirinya itu kesal padanya. Menurut Shaka, wajah mengesalkan Bia sangat amat candu dan semakin membuat wanita itu terlihat cantik.
"Jangan… Mas!" Lirih Bia terkejut saat sebuah usapan tangan di sudut bibirnya.
Tatapan mata itu saling tatap. Ya, Shaka menatap wajah Bia yang terlihat berbeda. Begitupun dengan Bia, wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu padanya.
"Aku tau kamu lapar dan suka banget sama salad. Tapi kalau makan gak usah belepotan juga, Bi. Aku gak bakal ambil!"
Bia hanya tertawa dengan terpaksa. Lalu dia kembali menunduk dan melanjutkan makannya.
"Aku boleh minta gak, Bi?"
__ADS_1
"Nggak!" Jawab Bia dengan ketus.
"Dikit aja, Bi. Yah… Yah?" Bujuk Shaka merengek.
"Nggak, Mas!"
"Kamu jahat banget sih. Kamu rela liat aku ngiler terus. Mandangin kamu makan doang tanpa dikasih iya? Pelit banget sih," Sindir Shaka yang membuat Bia tentu merasa tersindir.
Perempuan itu segera menyendokkan sendok salad yang sama dengannya lalu menyodorkan tepat di depan bibir Shaka.
"Buka,,, akh!"
Shaka yang pura-pura marah itu spontan menoleh. Dia menatap sendok yang berisi salad buah itu dengan pandangan berbinar. Bibirnya terasa kering dan dia sampai menelan ludahnya sendiri.
"Gak mau!" Balas Shaka yang balas dendam.
Bia tak memiliki kesabaran yang besar kali ini. Dirinya berusaha tetap tenang. Bia mencoba menarik nafasnya begitu dalam lalu dihembuskan secara kasar.
"Ayo, Mas. Maafin Bia yah. Ayo buka mulutnya. Bia akan menyuapi Mas Shaka," Kata Bia membujuk.
Bagaimanapun dia tak mau durhaka dengan suami. Apapun itu, Bia paham akan bagaimana bersikap. Namun, Bia mencoba untuk tetap sadar akan posisinya. Dia juga harus mencari jalan nikmat dari ridho suaminya.
Bagaimanapun keduanya menikah. Bagaimanapun kelanjutannya nanti. Mereka tetaplah suami istri sekarang. Pernikahan mereka juga sah di mata agama.
"Nggak!"
"Nggak, Bi!"
"Mas ayo buka!"
"Nggak!"
"Mas," Kata Bia yang mulai habis kesana.
Wanita itu lekas kedua sisi wajah Shaka. Dia menarik dagu pria itu sampai akhirnya keduanya saling tatap.
"Ayo makan salad ini, Mas. Katanya mau nyobain," Bisik Bia lalu dengan pelan, dirinya menggigit buah yang ada di atas sendoknya. "Udah. Ayo akhh… "
Berhasil.
Ya salad itu ternyata dimakan oleh suaminya. Hal itu menandakan jika Shaka benar-benar ingin makan dengan bekas bibirnya.
"Alhamdulillah," Ujar Bia mengusap perutnya.
"Anak Papa kenyang?" Tanya Shaka lalu menarik kursinya agar dekat dengan kursi yang diduduki Bia dan mengusap perutnya.
"Tentu. Sebanyak itu aku habisin sendiri. Gimana gak kenyang, Mas!" semprot Bia yang sepertinya moodnya sangat jelek. "Kamu gak ke kantor. Ini udah siang banget loh!"
"Kamu ngusir aku?" Tanya Shaka yang membuat Bia menaikkan pundaknya ke atas.
__ADS_1
"Aku cuma gak mau terjadi salah paham, Mas. Oke! Biarkan aku hidup tenang selama beberapa bulan saja!" Kata Bia dengan pandangan memohon. "Aku tak mau mencari masalah dengan siapapun."
Shaka spontan menoleh. Dia menatap ke arah mata Bia yang menghindari tatapannya.
"Tatap mata aku, Bi? Ada apa?"
"Lepasin, Mas! Berangkatlah ke kantor! Ini sudah sangat siang!"
Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Waktu yang lumayan cepat dengan Bia yang selalu menjaga dirinya agar dia tak semakin merasuki hati.
Shaka yang ingat akan rapatnya. Spontan berdiri.
"Aku ke kantor dulu yah, Bi. Hati-hati."
Bia mengantar sampai teras rumah. Saat Shaka hendak pergi. Bia lekas meraih tangannya dan mencium punggung tangan Shaka di bibirnya.
"Semangat bekerja, Mas. Dan jangan mengebut!"
Ada sesuatu dalam hati Shaka yang terusik. Namun, dia berusaha tetap tenang dan mengangguk.
"Siap, Bu Bos. Saya akan mendengar nasehat Anda!"
Akhirnya Shaka mulai masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangannya ke arah Bia lalu segera melajukan kendaraan roda empat itu. Pria dengan pakaian rapi itu sesekali melirik ke arah pergelangan tangannya.
"Bagaimana aku bisa lupa!" Seru Shaka dengan pandangan yang penuh fokus ke depan lagi.
***
"Selamat siang, Tuan," Sapa seorang sekretaris yang mulai mengikuti langkah kaki Shaka ke dalam ruangannya.
"Apa saja jadwalku siang ini?" Tanya Shaka pada wanita yang merupakan asistennya itu.
"Anda akan kedatangan tamu dan juga melakukan rapat dengan petinggi kantor!"
Shaka mengangguk. Dia lekas meletakkan jasnya di meja. Namun, pandangan dirinya curiga saat anak buahnya seperti ini mengatakan sesuatu padanya.
"Ada apa?" Tanya Shaka menuntut.
Tatapan pria itu tak main-main. Dia menatap ke arah sang sekretaris yang sangat dia percaya.
"Nona Dhira ada disini, Tuan!" Kata seorang pria yang membuat Shaka terkejut.
"Istriku?" Ulang Shaka dengan tak yakin. "Lalu ada dimana Dhira sekarang!"
"Nyonya ada di ruangan Tuan Arthur, Tuan."
~Bersambung.
Akhh next bab? mau adegan apa hayo mas Shaka masuk ke ruangan Arthir dan terjadi perkelahian atau ya langsung bilang habis hehe
__ADS_1