
Percayalah sebesar apapun kebohongan akan ditutupi. Maka suatu saat nanti akan ada masa untuk terlihat semuanya.
~JBlack
***
Akhirnya setelah perjalanan panjang, mobil yang dikendarai oleh Shaka mulai masuk ke parkiran villa. Sebuah villa yang dipesan oleh Arthir untuk ketiganya selama melakukan pekerjaan disini.
Shaka langsung turun dari mobil dan disusul oleh Arthir. Pria itu lekas membuka bagian bagasi dan mengeluarkan koper koper mereka disana.
"Dhira, jangan lupa obat hamil kamu di dalam mobil!" Kata Shaka dengan wajah yang datar lalu lekar menarik dua koper yang merupakan milik Shaka dan Dhira.
Wanita yang berbadan dua itu dan masih duduk dengan tenang di kursi tengah menatap kepergian suaminya dengan kening berkerut. Entah kenapa semenjak kembalinya Shaka dari minimarket. Pria itu semakin irit bicara.
Suaminya itu semakin banyak diam dan hanya bicara sekedarnya. Namun, Dhira tak peduli akan hal itu. Dia bahkan menaikkan kedua bahunya tak acuh karena tak peduli apapun yang pria itu lakukan.
"Jangan terlalu memikirkan Shaka. Aku cemburu!" Lirih Arthir saat pria itu menarik kopernya dan pura-pura membantu Dhira membawakan tas kecil yang diletakkan di tempat duduk tengah.
"Kamu apaan sih! Ingat, jangan aneh-aneh. Ada Mas Shaka disini!"
__ADS_1
Dhira lekas berjalan lebih dulu. Dia meninggalkan Arthir yang masih berdiri disana dengan tersenyum ke arahnya. Pemandangan yang benar-benar menjijikkan.
Seorang istri yang masih bisa melakukan hal romantis dengan pria lain bahkan ada sosok suami di dekatnya terlihat begitu tenang
"Mas!" Panggil Dhira pada suaminya yang berjalan lebih dulu.
Dia mencoba mengejar langkah kaki Shaka. Sampai akhirnya pria itu berhenti tepat ketika seorang pria datang pada Shaka dan bersalaman.
"Ya. Tuan Arthir adalah kakak saya. Atas nama dia yang memesan vila ini," Ujar Shaka menjelaskan.
Pria itu mengangguk. Perlahan dia menyodorkan kunci vila itu pada Shaka.
"Tuan Arthir memesan satu rumah ini, Tuan. Jadi vila ini benar-benar private untuk keluarga anda."
"Mas!" Panggil Dhira saat perempuan itu berhasil menyusul Shaka. "Kamu kenapa sih! Kenapa tinggal aku disana?"
Dhira mengomel. Perempuan itu benar-benar kesal pada suaminya.
"Bukankah ada Kak Arthir disana? Jadi kamu tidak sendirian kan?" Seru Shaka dengan tenangnya yang membuat jantung Dhira hampir saja lepas dari tempatnya.
__ADS_1
Pria itu bahkan sampai mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Shaka dengan pandangan tak percaya.
"Apa maksudmu, Mas? Suamiku itu kamu. Kenapa kamu bawa-bawa Kak Arthir di antara kita?" Seru Dhira dengan menaikkan nada suaranya.
"Aku hanya mengatakan ada Kak Arthir saja. Kenapa kamu jadi kaget begitu?" Todong Shaka dengan mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Dhira yang terlihat khawatir.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Dhira?"
"Gak ada, Mas! Gak ada!" Sahut Dhira dengan cepat.
Jujur jantung ibu hamil itu tak aman. Degup jantung itu naik dua kali lipat saat ini. Bahkan Dhira merasa susah untuk menelan ludahnya.
"Jika tak ada apapun. Untuk apa kau tegang dan gugup?" Ujar Shaka dengan menaikkan alis matanya ke arah istrinya.
"Aku gak papa. Aku cuma capek aja!" Bela Dhira dengan berusaha tetap tenang.
"Yaudah. Kamu masuklah dan istirahat. Setelah ini aku harus segera mengecek ke lapangan," Kata Shaka dengan suaranya yang naik beberapa oktaf.
"Tapi, Mas. Aku… "
__ADS_1
"Kamu diam di villa. Aku kesini bukan untuk liburan Dhira. Aku kerja! Jadi aku langsung berangkat setelah mandi!"
~Bersambung