Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Tempat Tinggal Bia


__ADS_3

...Terkadang penyakit dalam hidup adalah hal yang kita cari sendiri. Namun, mungkin kita belajar dari rasa sakit itu bahwa banyak sekali hal baik di dalamnya yang mampu kita ambil....


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


"Kamu tunggu di luar dulu ya, Bi. Aku dan Mas Shaka mau ngobrol dulu sama dokter," Kata Dhira dengan mengusap lengan Bia.


Bia mengangguk. Dia akhirnya keluar meninggalkan Shaka dan Dhira yang mulai duduk dan menatap dokter yang memeriksanya tadi.


"Kalian… " Seru dokter itu dengan menatap keduanya tak habis pikir.


"Gak ada jalan lain. Gue gak mau nunggu terlalu lama. Lo mau Shaka nikah dan ceraiin gue?" Seru Dhira dengan kesal pada wanita di depannya ini.


"Gue tau, Dhir. Tapi wanita itu gak bersalah! Dia punya masa depan panjang. Muka dia juga gak asing buat gue!"


Shaka hanya diam. Dia hanya bisa melihat sepasang teman itu saling berdebat. Jujur dirinya bingung ada di pihak mana. Bagaimanapun dia mencintai Dhira. Tak mau cerai dengannya. Tak mau berpisah dengannya.


Namun, di sisi lain, dia juga tak bisa menolak permintaan Dhira. Adanya Bia juga demi hubungan keduanya. Perkataan mamanya tak main-main. Dia yakin jika mamanya nekat akan memisahkan keduanya.


Apalagi dengan alasan, anak belum ada di antara keduanya.


"Gue gak mau tau. Lo harus dukung gue! Gue akan bilang ke keluarga Shaka, kalau gue hamil. Lu harus bantu gue. Yah… " Kata Dhira memohon dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Plis gue mohon! Bantu gue yah!" Kata Dhira dengan menangis.


Dokter itu menghela nafas berat. Dia kenal Dhira sejak lama. Dia tau bagaimana Dhira dan sikapnya.


"Gue… "


"Plis. Gue cuma punya Lo disini. Cuma Lo doang yang bisa bantu gue. Gue bener-bener butuh dukungan Lo!"


Perempuan itu yang usianya sama dengan Dhira melepas tangannya. Dia terlihat menarik nafasnya berulang kali. Mencoba mengusap dahinya yang basah.


"Gue bakalan ke rumah mertua gue besok. Jadi Lo harus siapin jawaban bagus kalau mertua gue tanya!"


"Ayo, Mas!"


"Dhir!" Serunya dengan bingung. "Gue… "

__ADS_1


"Lo temen gue. Lo jahat gak mau bantuin gue, gitu?"


"Bukan gitu, Dhir. Tapi ini tentang sumpah gue. Gue gak bisa menipu orang. Gue…"


"Berarti lo mau lihat pernikahan temen lo hancur? Iya?"


Dhira terlihat bingung. Dia menunduk, wanita itu benar-benar berada di tengah jurang sepertinya. Di sisi lain dia tak mau pernikahan sahabatnya hancur tapi di sisi lain, di posisi Bia. Dia bisa merasakan apa yang Bia rasakan.


"Lo gak pernah mikir gimana perasaan wanita itu? Dia hamil anak Shaka, Dhir! Tapi dia gak bisa dapetin apapun. Belum lagi anak dia nanti bakalan kalian bawa. Apa kalian berdua gak pernah mikir itu?"


"Gue cuma mikir pernikahan gue!" Seru Dhira kekeh.


Berbeda dengan Shaka. Pria itu seakan mendapat tamparan. Perkataan teman istrinya itu seakan membuatnya sadar. Ya sadar akan posisi Bia. Posisi istri keduanya yang mungkin tak ada untungnya sama sekali.


Sudah dinikahi siri olehnya, menikah rahasia, mengorbankan tubuhnya untuk hamil anaknya, lalu setelah melahirkan, mereka akan mengambil anaknya.


Hal hal yang benar-benar tak ada keuntungan apapun untuk Bia. Malah keuntungan sepenuhnya ada pada dirinya dan Dhira.


"Ayo, Mas. Kita keluar!" Kata Dhira menarik tangan Shaka yang sejak tadi diam. "Dan lo! Harus bantu gue!"


Setelah mengatakan itu pasangan suami istri itu keluar. Shaka spontan menatap ke arah Bia yang duduk dengan tenang sambil memainkan kedua kakinya.


"Ayo, Bi!" Ajak Dhira pada Bia.


Bia berjalan di samping Dhira. Perempuan hamil itu menerima uluran tangan Dhira. Dua wanita itu berjalan bergandengan tangan dengan Shaka yang berjalan di belakangnya.


Pandangan Shaka tertuju pada Bia. Pada wanita yang memakai gamis menutupi dirinya. Penampilan yang sangat amat tertutup dan membuat Shaka benar-benar bangga dan salut padanya.


"Kita mau kemana, Sayang?"


"Kita pulang ke rumah ya, Mas. Kita bawa Bia tinggal bersama kita," Kata Dhira yang membuat Bia spontan menegakkan tubuhnya.


"Aku gak mau, Mbak!"


...****************...


Akhirnya disinilah mereka. Di sebuah cafe depan rumah sakit. Ketiganya duduk bersama berhadapan dengan Dhira dan Shaka yang menatap Bia dengan lekat.


Pasangan suami istri terkejut saat Bia mengatakan dengan cepat penolakan untuk tinggal dengan keduanya. Maka dari itu, Dhira membawanya kesini. Duduk bersama untuk membahas tentang ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak mau tinggal dengan kami, Bi?"


Bia terlihat seperti di sidang. Dia menunduk dengan tangan terlihat di bawah meja. Perempuan itu juga bingung memberikan alasan.


Jujur salah satu alasan dalam hatinya adalah dia tak mau melihat lebih banyak kemesraan keduanya!


Dia tak mau mati sakit atau cemburu. Menurut Bia lebih baik tak tahu dan tak melihat apapun meski berjauhan daripada harus melihat apa yang membuatnya sakit.


Dia hamil, dia dokter. Dia tahu suasana apa yang harus didapatkan oleh ibu hamil.


"Begini, Mbak. Rumah Mas Shaka dan Mbak Dhira jauh dari rumah sakit. Nah Bia gak mungkin pulang pergi dari rumah Mbak ke rumah sakit."


"Bia takut kecapekan, Mbak. Jadi Bia putusin buat tinggal di rumah Bia sendiri. Yang jaraknya hanya beda beberapa bangunan sama rumah sakit."


"Tapi kamu sendirian disana, Bi. Kamu gak ada temennya. Kalau kamu butuh sesuatu atau terjadi sesuatu sama kamu gimana?" Tanya Dhira dengan khawatir.


"Bia busa jaga diri baik-baik kok, Mbak. Rumah Bia gak terlalu luas kok. Cukup banget buat Bia tinggal. Jadi gak bakal terjadi apapun," Kata Bia mencoba bernegosiasi.


"Aku gak mau, Bi. Aku gak mau terjadi sesuatu sama anak aku ini. Aku ingin melihat perkembangan dia. Aku mau nemenin dia terus," Kata Dhira kekeh.


Bia terlihat bingung. Dia menunduk mencoba memutar otaknya. Bagaimanapun dia harus bisa meminta izin tinggal di rumahnya. Dia tak mau mencari sakit sendiri. Lebih baik seperti ini. Tinggal sendiri dengan membuat kenangan di rumahnya bersama anak yang dia kandung.


"Mbak Dhira bisa tinggal di rumah Bia sesekali. Bahkan setiap hari boleh. Plisss, Mbak. Bia juga gak bisa tinggal di rumah orang lain. Susah adaptasinya, Mbak. Yah?"


"Kamu boleh tinggal di rumah kamu dengan syarat, ada salah satu asisten rumah tangga yang aku utus buat nemenin kamu. Gak ada bantahan! Aku gak menerima alasan apapun. Kamu harus mau menerima pelayan itu jika ingin tinggal sendiri!"


"Mas!" Seru Dhira tak terima.


"Kita masih bisa lihat Bia tiap hari, Sayang. Ingat! Bia hamil, gak boleh stress. Kamu mau terjadi sesuatu sama anak kita?" Seru Shaka menatap istrinya dengan lekat.


Dhira terlihat menghela nafas berat. Namun, tak lama dia mendongak dan menatap ke arah Bia.


"Baiklah. Kamu boleh tinggal di rumah kamu. Tapi ingat! Jaga anak ini dengan baik ya, Bi?"


Bia mengangguk. "Pasti, Mbak. Bia bakalan jaga anak ini karena Bia tahu. Dia berarti banget buat Mbak Dhira dan Mas Shaka."


~Bersambung


Tinggal bareng, bisa bayangin aja ntar Mbak Bia gimana huhuhu. Ini tinggal berbeda aja nanti udah bikin huru hara ehhh.

__ADS_1


Spoiler dikit aku tuh hehe.


Kemarin aku gak update maaf yah. Ketiduran banget hiks.


__ADS_2